Zetta Sonic

Zetta Sonic
Turbulance


__ADS_3

Sudah kepalang tanggung kalau Alex tak percaya pada Cody. Rasa penasaran membuatnya tak bisa melupakan panggilan tersebut. Setelah memberikan perintah pada White, panggilan pada Customer Service Nile App pun tersambung. Alex membiarkan White membantunya melewati sekian pertanyaan dari sistem hingga akhirnya benar-benar tersambung pada manusia.


Suara di seberang sana adalah suara perempuan lembut dan ramah. [Nile App Customer Service. Halo, selamat malam. Apakah ada yang bisa kami bantu perihal aplikasi yang sedang kamu gunakan?]


Ada sedetik keraguan ketika Alex menjawabnya. “Aku mencari keranjang bayi.”


Tak ada jawaban untuk beberapa saat. [Mohon tunggu sebentar.]


Sambungan komunikasi itu memasuki jeda. Nile App memutar nada sambung riang. Bukannya membuat senang, Alex malah gusar. Dia berpikir jangan-jangan ‘keranjang bayi’ yang dimaksud adalah semacam kode darurat bila Cody dalam bahaya. Kalau itu benar, maka sekarang dirinyalah yang ada dalam bahaya.


[Halo, terima kasih telah menunggu.] Suara wanita itu pun mendadak riang. [Selamat! Kamu telah menemukan fitur tersembunyi dari game kami. Hadiah akan segera dikirimkan ke email. Bisakah kamu sebutkan alamatnya?]


Alex terjebak antara ragu dan senang. Sepertinya itu bukan kode kalau Cody dalam bahaya. Lalu, apa? Setelah memberikan alamat emailnya, sambungan pun dimatikan. Giliran White yang bicara.


[Ada pesan baru masuk ke email milik Killer Bee. Apa kamu ingin aku membantu memeriksa kalau ada virus di dalamnya?]


“Ya, lakukan.”


White terdiam. Panel layarnya yang kini bertuliskan nama hanya berkedip pelan.


Selagi menunggu, Alex telah keluar dari tol. Dia sebenarnya tidak benar-benar tahu harus menuju ke mana. Awalnya, dia berpikir untuk kembali ke tempat kejadian perkara, sekolahnya, Wood Peak. Di jalan, dia pun ragu. Masih teringat jelas di benaknya pemandangan dan kengerian itu. Jantungnya berdegup lebih kencang setiap kali kenangan itu naik ke permukaan. Tahu-tahu, matanya basah.


Kemudian, Alex berpikir untuk ke bandara. Di sana, dia bisa membeli tiket ke mana pun untuk mengejar Baron. Namun, itu perbuatan bodoh. Di markas Special Force, ada pesawat khusus yang bisa membawanya tanpa perlu tiket.


Kemudian, Alex berpikir untuk mengunjungi penjara khusus ICPA. Sebelum ke sana, Alex menelepon Cody. Rencananya pun berubah.


White kembali aktif. [Pemeriksaan selesai.]


“Apa itu aman? Apa isinya?”


[Sebuah program pelacak.]


“Apa maksudmu?” Alex kembali dilanda khawatir. Kalau itu ternyata adalah program untuk melacak keberadaannya, maka kondisinya tidak menguntungkan.


[Maaf. Sistemku melarang untuk mengaktifkannya. Program ini bisa saja berbahaya untuk sistemku dan sistem ICPA. Apa kamu ingin aku menghubungi Jayden untuk membantu?]


“Tidak. Tidak perlu. Jangan hubungi dia.”

__ADS_1


[Itu sedikit sulit dilakukan Alex. Jayden sudah mendengarkan pembicaraan ini sejak awal.]


“Tunggu. Apa?” Alex mendesah. Sambil memutar bola matanya, Alex pun menepi di jalan yang gelap dan sepi. Dia sendirian di jalan besar pada pinggiran kota. Alex menarik napas dalam-dalam, menenangkan hatinya. “Jayden. Kamu di sana?”


[Yup.] Suara Jayden akhirnya terdengar.


Layar pun kembali aktif. White menghilang di belakang. Di layar tersebut kini muncul wajah Jayden. Dokter Vanessa ada di belakangnya. Satu tangannya memegangi punggung kursi Jayden.


Alex mendesah. Dia membawa kepalanya mendekat ke kemudi. “Aku tahu kalian akan marah padaku.”


Dokter Vanessa menimpali. [Ya. Tentu saja. Kami semua khawatir padamu. Aku sempat bilang pada Nadira tadi. Aku menyesal. Seharusnya tadi memberimu obat tidur saja.]


Alex tak berani menjawab.


[Kami takut kamu akan melakukan hal nekat, Alex. Kejadian tadi pagi bukan sesuatu yang normal untuk siapa pun. Bahkan, untuk seorang Zetta Sonic.] Dokter Vanessa pun melembut. [Tolong. Kembalilah ke sini. Kita susun bersama rencananya.]


“Nadira tidak punya rencana.”


[Begitu pula denganmu.]


“Tidak,” sahut Alex cepat. “Aku punya rencana.”


[Benar.] Jayden ikut bicara. [Tapi, itu memang rencana yang baik.]


Dokter Vanessa mengernyit padanya, begitu pula Alex. Keduanya menunggu Jayden menjabarkan dengan seringai di wajah.


[‘Keranjang bayi’ ini adalah semacam parasit yang menempel pada setiap sistem Nile App. Aplikasi, games, bahkan website. Dia  menyebarkan bayi — dalam tanda kutip — sebagai parasit. Si bayi menempel erat pada pengguna. Karena tidak merugikan dan ukurannya kecil, bayi ini tidak dianggap sebagai virus.]


“Tunggu. Apa maksudmu Nile App membuatnya sebagai cikal bakal virus?”


[Aku tidak tahu soal itu. Ini lebih seperti sisa data yang terlupakan. Lalu, ada yang menempatkan cara aktivasinya dalam game. Mungkin ini hanya iseng-iseng programer Nail App dan Cody. Ini seperti game di dalam game. Entahlah. Intinya, sekarang kita bisa memakai keranjang bayi ini.]


Dokter Vanessa buru-buru menyela. [Ini bukan bidangku. Tapi, apa ini aman untuk sistem ICPA?]


Jayden, masih menyeringai. [Jangan cemas, dok. Aku jauh lebih baik dari siapa pun yang membuat keranjang bayi ini. Bahkan, dia bukan tandingan Killer Bee.]


[Kenapa mereka memakai istilah bayi?]

__ADS_1


[Mungkin karena ukurannya yang kecil?] Jayden tertawa kecil. [Tenang, dok. Aku akan menjaga kita semua.]


[Bagaimana cara menggunakan keranjang bayi ini? Aku tidak bisa membayangkan apa hubungannya dengan rencana Alex—]


“Menemukan Baron,” sahut Alex.


[Jadi, menurutmu Baron bermain game seperti Alex?]


“Tidak. Nile App membuat banyak aplikasi. Dia juga punya banyak anak perusahaan. Kemungkinan besar Baron pernah mengunduh salah satunya.”


[Maksudmu, dia sudah terinfeksi? Semacam itu?]


“Iya, anggap saja begitu.”


Dokter Vanessa menggeleng. [Aku tidak mengerti. Kenapa harus bersusah payah seperti ini? Caitlin sudah memberitahu kita di mana lokasi Baron dan hotelnya. Lagipula, dia tidak ada di sini. Dia ada di bandara semalam dan memang meninggalkan negara ini. Emil sudah memeriksanya, bukan?]


“Tidak. Dia pasti ada di sini.”


[Bagaimana kamu tahu, Alex?]


“Aku tidak tahu sampai tadi pagi. Ledakan di Wook Peak. Aku yakin dia ada di sini. Baron tidak akan membiarkan Caitlin berada di dalam markas ICPA setelah kita mengetahui identitasnya. Dia mau membunuhku. Pertama dengan racun lalu dengan bom.”


Jayden membuka jendela baru di panel layar mobil Alex. [Dugaanmu tepat. Aku menemukan ponsel Baron di tengah kota.]


Alex mulai menggerakkan kemudi. Mobilnya kembali ke jalan raya dalam kecepatan tinggi. “Di mana dia?”


[Hei, bukan berarti kamu bisa langsung ke sana. Aku akan mengirimkan lokasinya padamu setelah robot kita sampai di sana.]


“Kamu belum memberinya nama?”


[Memang itu masalah besar?] Jayden pun mendesah. [Dengar, kalau Baron memang ada di sana, dia pasti punya kejutan lain untukmu. Jangan berbuat nekat. Untuk sementara ini, berhentilah di tempat yang cukup aman.]


Alex berdecak kesal. “Katakan saja di mana dia, Jayden!”


“Sabar! Aku sedang memeriksa ulang lokasinya. Kupikir si bayi sedikit ngaco karena dia mendeteksinya ada di dekatmu.”


White kembali aktif. [Peringatan tumbukan dalam tiga detik.]

__ADS_1


Belum sempat memahami apa maksud ucapan White, Alex melihat Zet-Arm bereaksi. Seragamnya kembali aktif.]


__ADS_2