
Alex berharap akan disambut oleh ucapan ‘kamu aman di sini’. Itu kalimat yang sering dia dengar dari Jayden. Alex penasaran apa Jayden sering bicara itu pada adiknya, pada Jason yang asli. Mungkin mereka sering berada dalam kondisi berbahaya dan satu-satunya cara Jayden menenangkan adiknya adalah dengan kalimat tersebut.
Tentu saja, dia tidak disambut dengan itu. Dia disambut cahaya putih memilukan yang terus bergerak. Hingga akhirnya dia sadar bahwa dialah yang sedang bergerak. Dia sedang berada di atas kereta yang tengah menggelinding mulus. Ketika pemandangan di atas kepalanya berubah menjadi rendah dan kekuningan, Alex tak mengenali di mana dirinya berada.
Dia tidak terbangun berada di ruang Zetta Sonic, melainkan di ruangan lain yang lebih mirip ruang ICU rumah sakit besar lengkap dengan aneka peralatan dan dinding kaca. Hal pertama yang dilakukan Alex adalah memeriksa tangannya. Tangan itu terikat perban yang terhubung pada bahunya. Alex tidak perlu memeriksa bahunya, dia hanya perlu memastikan kalau tangannya ada di sana, masih tersambung ke badannya.
Sembari menghela napas pelan, kenangan akan pertarungan itu datang kembali. Kobaran api, reruntuhan serta puing-puing bangunan, juga Damon dan profesor. Perutnya mual ketika kenangan itu mengapung di permukaan.
“Alex,” suara lembut dokter Vanessa membuatnya menoleh ke tepi ruangan. Dia bisa melihat dokter Vanessa bergegas mendekat. Dia berada dalam busana sweater merah jambu serta jas dokter putih.
“Dokter?” Sapaan balas Alex terdengar seperti pertanyaan. Suaranya begitu lirih bahkan dia sendiri tak mendengarnya jelas.
“Oh, syukurlah. Kamu membuat kami ketakutan,” kata dokter Vanessa.
“Ya, aku juga.” Alex harus mengakui kalau dia sendiri ketakutan terhadap kondisinya sendiri. Setidaknya, bagian tubuhnya masih lengkap dan dia masih hidup. Alex berdehem untuk membuat tenggorokannya terasa lebih baik. “Di mana kita?”
“Markas utama ICPA.”
Itu artinya mereka tidak sedang berada di markas Special Force. Mereka berada di markas ICPA yang dipimpin oleh Fergus. Sesuatu telah terjadi yang membuat mereka tidak bisa kembali ke markas Special. Alex takut untuk bertanya, namun perasaan itu terkalahkan oleh rasa ingin tahu.
“Apa yang terjadi, dok?”
“Kamu pingsan. Kehilangan cukup banyak darah dan mengalami luka bakar. Tapi, untung saja ada seragam pelindung juga Dragon Blood. Kekuatan itu membuatmu pulih jauh lebih cepat.”
Alex merasakan rasa panas dan menusuk di bahunya masih dalam batas toleransi. Alex menduga dari obat-obatan penghilang rasa sakit juga. Selain itu, Alex juga merasakan sekujur tubuhnya sakit. Mengingat dia habis dihajar, itu hal wajar. Badannya terasa berat. Mungkin Dragon Blood sendiri telah kehabisan seluruh energinya.
“Apa kita kehilangan dia?” Alex bertanya lagi tanpa berani menyebut nama.
__ADS_1
Dokter Vanessa terdiam sesaat. Tak ada jawaban darinya selain senyum tipis. “Itu bukan salahmu.”
“Apa itu alasan kenapa kita tidak bisa kembali ke markas Special Force?” tanya Alex lagi. “Karena Damon ada di luar sana? Dia tahu di mana lokasi markas kita. Sekalipun kita telah membuatnya seolah dipindahkan, lebih aman kalau menjauhi tempat itu untuk sementara waktu. Begitu?” Alex menjabarkan persis seperti apa yang diutarakan Nadira beberapa saat lalu pada dokter Vanessa. Anak itu menerkanya dengan benar.
“Hal terpenting saat ini adalah pemulihanmu.”
“Di mana Tiger?” Alex menatap lekat-lekat dokternya. “Dia masih hidup, ‘kan?”
Dokter Vanessa hendak menjawab namun pintu ruangan telah terbuka. Emil masuk mendorong kursi roda. Tiger duduk di sana. Badan besarnya tampak sesak di atas kursi tersebut. Tangannya diperban hingga ke bagian jari.
Alex memaksakan diri bangun untuk melihat lebih jelas. Ada beragam sapaan serta sedikit lelucon pada benaknya. Namun, tak satu pun keluar dari sana. Dia mendapati dirinya hanya terdiam. Tenggorokannya terasa perih, pipinya terasa panas. Alex menahan apa pun yang hendak keluar dari matanya.
“Kamu bertanya pada waktu yang tepat bocah,” sahut Tiger. “Aku masih hidup dengan beberapa tulang retak dan satu gigi tanggal. Aku pernah mengalami yang lebih buruk. Dulu. Di ring pertarungan bebas.”
Dokter Vanessa menggelengkan kepala. “Aku enggak ingat memberimu izin meninggalkan ranjang, Tiger. Dan, kamu, Emil. Apa yang kamu lakukan di sini? Kupikir Nadira menyuruhmu membantu para peneliti menemukan soal bakteri itu.”
“Itu bukan berita buruk?” tebak dokter Vanessa lagi.
“Oh, itu berita buruk. Hanya saja, Fergus sudah mengirim agen lain untuk memeriksanya. Aku ke kamar Tiger. Dia ingin ke sini.”
Tiger melirik pada Emil yang beranjak ke tepi ranjang Alex. “Bakteri apa yang sedang kita bicarakan?”
“Bukan hal besar.” Emil mendekatkan wajahnya pada bahu Alex yang sedang diperban. “Ini pertama kalinya aku melihat kejadian semacam ini. Kebanyakan orang pasti sudah tewas. Itu senjata laser. Kekuatannya bisa menghancurkan dinding bata. Tapi, kamu masih kelihatan baik-baik saja. Dragon Blood memang mengerikan.”
Merasa diabaikan, Tiger bertanya lagi. “Bakteri apa maksudmu tadi?”
“Ingat Rando? Cairan yang dia bawa berisi bakteri.”
__ADS_1
“Bakteri apa itu?”
“Bakteri beracun. Kita belum menerima permintaan tebusan. Tenang saja.”
“Huh? Jadi, mereka pikir bisa minta tebusan, ya? Trik lama. Semoga saja Fergus bisa menghentikannya cepat. Kalau tidak, Nadira bisa mengganti posisinya. ICPA tidak bernegosiasi dengan para penjahat, ‘kan?
Alex bergantian melirik Tiger dan Emil. Pembicaraan telah berubah pada topik yang tidak dia pahami. “Tebusan? Apa yang sedang kalian bicarakan?”
“Beberapa penjahat berusaha menjadikan kota kita ini sebagai sandera. Misalnya, dulu ada bom yang dipasang di gedung pemerintah. Mereka minta tebusan kalau tidak ingin tempat itu dihancurkan,” ujar Tiger.
“Di sini? Ibu kota? Aku enggak ingat ada kejadian seperti itu.”
“Memang. Itu gunanya ICPA. Kita bertugas mencegah kejahatan terjadi. Aku ingat waktu itu Jayden meretas sistem mereka. Mereka tidak bisa menggunakan jaringan telepon dan internet. Tidak ada surat permintaan tebusan yang diterima pemerintah. ICPA membalik kondisi. Kami membuat para penjahat itu seperti tikus dalam perangkap.” Tiger tersenyum simpul. “Kalau kupikir-pikir, waktu itu aku sempat kagum pada Jayden juga. Dia benar-benar cekatan.”
Ucapan Tiger membuat suasana di ruangan itu berubah. Mereka tidak lagi memiliki Jayden, sekarang mereka juga tidak memiliki profesor Otto. Mereka bahkan tidak bisa kembali ke markas mereka yang seharusnya jadi tempat teraman di ibu kota.
Saat itu, Alex teringat pada anggota lain mereka. “Di mana Jason?”
Emil menepuk dahinya. “Astaga.”
“Jangan bilang kalau kamu meninggalkannya di markas.”
“Memang. Aku meninggalkannya di sana. Dia sedang sibuk. Membuat sesuatu. Sementara kita dapat tugas. Jadi, aku meninggalkannya di sana.”
Alex merasakan napasnya memburu karena cemas. “Kalau begitu, cepat bawa dia ke sini!”
“Tenang sedikit. Jason bisa menjaga dirinya sendiri.”
__ADS_1