Zetta Sonic

Zetta Sonic
A Visitor


__ADS_3

Alex terbangun di kamar yang sama. Hari telah berganti. Nyatanya, hari itu telah berlalu dengan tenang. Kalau boleh jujur, ini sedikit mengejutkan buatnya. Pertarungannya dengan Damon terasa berlalu begitu saja. Selain mereka tidak bisa kembali ke markas Special Force, semua berlalu begitu saja.


Membolos sekolah karena masih berada di markas ICPA, pembicaraannya secara daring bersama Leta dan Willy, juga ketenangan sehabis badai. Semua berjalan biasa buatnya. Terlalu biasa. Alex bertanya-tanya kalau kemampuan berbohongnya patut disalahkan.


Begini. Selama ini, dia bisa berbohong dengan begitu mudah dan semua orang percaya. Tidak ada yang meragukannya. Dia mampu menyembunyikan berbagai hal. Dia membuat hal besar terpendam dengan rapi. Dia melenyapkan hal kecil seolah tak pernah terjadi. Dia penasaran bila dia telah berhasil membohongi dirinya sendiri.


Alex lelah. Dia tahu sedang tidak baik-baik saja.


Dia terjebak dalam dua kondisi berbeda. Dia ingin beraksi di lapangan dan menemukan Jayden kembali. Di sisi lain, dia takut harus berhadapan dengan orang semacam Tiger atau lebih buruk lagi. Alex menghela napas panjang. Bosan akan kebosanannya sendiri. Dia pun memutuskan melompat turun dari ranjang. Bahunya protes. Ada rasa perih yang tajam ketika dia mengayunkannya.


Alex berdiam sebentar, membiarkan rasa sakitnya pergi. Kemudian, barulah dia memutuskan keluar dari kamar. Tak seorang pun menyuruhnya untuk berdiam diri dalam kamar seharian. Tidak seorang pun melarangnya keluar. Sekalipun ada risiko ketahuan agen lain, Alex yakin bisa lolos dari dugaan gila. Tidak ada agen waras yang akan menebak kalau dia adalah Zetta Sonic.


Di balik kamar, dia mendapati lorong panjang bernuansa putih dengan aksen hijau muda. Seperti biasa, ICPA selalu menggunakan warna hijau di setiap fasilitasnya. Lampunya bersinar terang tapi tidak sampai menyilaukan.


Alex menyusuri lorong dalam setelan balutan baju tipis kelabu dan sandal putih. Dia tidak tahu ingin ke mana. Dia bosan di dalam kamar. Dia ingin melihat seperti apa kondisi markas ICPA yang sesungguhnya.


Lorong itu nampak cerah dan membosankan di saat bersamaan. Deretan pintu cokelat lebar berjajar pada dindingnya. Ada nama yang tertulis di sana, nama pasien. Jendela di samping setiap pintu tertutup rapat oleh tirai. Kecuali satu.


Tirai itu sedikit tersingkap. Di dalamnya, ada dua orang dokter dan beberapa perawat. Mereka mengelilingi tempat tidur pasien. Apa pun yang mereka lakukan sepertinya cukup gawat. Ekspresi mengernyit dan dahi berkerut membuat Alex mengigit bibirnya. Dia juga bisa melihat bagaimana indikator di samping ranjang mulai menyerah. Garis naik turun itu akhirnya berhenti menjadi garis lurus disertai bunyi denging.


Alex menelan ludah. Dia terpaku di sana.


Tim medis menolak menyerah. Mereka masih berusaha melakukan sesuatu. Salah seorang perawat buru-buru keluar. Dia bahkan tidak mempedulikan Alex berada di sana. Sementara orang-orang di dalam terlihat sedang bicara dengan cepat.

__ADS_1


Alex mengerjap. Dia melirik nama asing yang tertulis di pintunya. Sebagian hatinya penasaran apakah nama yang tertulis adalah nama asli. Dia juga penasaran bila keluarga agen tersebut tahu apa yang sesungguhnya terjadi pada orang tersebut. Alex sempat teringat pada kamarnya sendiri. Dia yakin tidak ada namanya tertulis pada pintunya. Tentu saja, terlalu berbahaya bila mereka menuliskan namanya sendiri di pintu itu.


“Alex?”


Alex berjingkat. Dia mendengar namanya sendiri dipanggil. Jantungnya berdegup terlalu cepat dan badannya bergeming. Spontan, dia menahan napasnya. Setelah beberapa saat, barulah dia berpaling menghadapi sosok di baliknya.


“Caitlin?” Alex menyebutkan nama itu dengan tak percaya. Gadis yang menyapanya adalah orang yang berusaha dia temui beberapa saat lalu. Agen terlatih sekaligus mantan asisten profesor Otto.


Seperti biasa, Caitlin nampak menawan sekaligus mengintimidasi. Rambutnya diikat ekor kuda. Sekarang, rambutnya lebih panjang daripada yang terakhir diingat Alex. Mata lebarnya menatap Alex lekat-lekat seolah ingin minta penjelasan. Sebaliknya, Alex juga penasaran akan penjelasan kenapa mantan agen itu bisa berkeliaran di dalam markas ICPA.


“Temanmu?” Gadis di samping Caitlin bertanya.


Caitlin jelas tidak bisa berbohong secepat Alex. Dia hanya bisa menjawab “Ya.” Hanya itu, tak ada penjelasan, tak ada tambahan.


“Benar. Satu misi. Tidak berakhir dengan baik.” Caitlin buru-buru berpaling pada temannya. “Kamu bisa duluan. Nanti kususul.”


Setelah teman Caitlin pergi, Alex langsung melempar senyum tipis. “Sekarang aku tahu kenapa kamu masih bisa dapat banyak informasi soal ICPA.”


Caitlin mendengus. “Aku akan sangat menghargai kalau kamu melupakan kenyataan dia menemaniku di sini. Aku hanya kebetulan lewat.”


“Melihat profesor?”


“Jenazah profesor, maksudmu?” Caitlin menarik napas dalam-dalam. Dia memelankan suaranya. “Aku mencoba keras untuk enggak menyalahkanmu. Tapi, apa pedulimu? Kamu bertarung dengan konyol. Damon mempermalukanmu. Dia mempermalukan di kita semua. Aku salah berpikir kalau kamu bisa berbuat lebih baik dari itu.”

__ADS_1


Alex tak berminat berdebat sama sekalli. “Terserah,” jawabnya singkat dengan suara yang cukup pelan pula. Dia tidak ingin beradu argumen di depan kamar pasien yang tengah meregang nyawa.


“Waktunya terlalu singkat,” sahut Caitlin sembari melempar pandangannya ke dalam kamar. “Tidak semua orang punya waktu panjang.”


Alex mengernyit, tak yakin siapa yang dibahas Caitlin. Dirinya, Caitlin sendiri, profesor Otto, atau si pasien. Tampaknya kata-kata itu cocok untuk semua orang.


Caitlin melanjutkan. Dia meletakkan pandangannya pada Alex lagi. “Kamu seharusnya bisa berbuat lebih baik dari itu. Kamu hanya butuh waktu yang lebih panjang. Sayangnya, itu bukan hal yang bisa dipelajari dalam waktu singkat.”


“Aku enggak tahu kamu sedang memuji atau menghinaku sekarang.”


“Keduanya.” Caitlin menghela napas.


“Sayangnya, waktu adalah kemewahan yang tidak kumiliki saat ini.”


Caitlin mengangguk sekali. “Memang. Sayang sekali. Apalagi tanpa profesor, Zetta Sonic tidak akan bisa berkembang.”


Entah kenapa, kalimat itu terasa pedih dalam hati Alex. “Itu sudah bukan urusanmu. Aku bisa berkembang kalau aku mau. Dan, akan kulakukan.”


“Jangan paksakan dirimu. Kamu belum siap. Tidak ada latihan yang benar, tidak ada sepak terjang yang baik. Pengalaman menjalankan misi nol besar. Anehnya, tak seorang pun menyadari hal itu. Nadira, profesor, Jayden. Semua. Mereka berpikir kalau kamu bisa menjadi sosok yang diandalkan umat manusia. Itu konyol. Semoga dengan pertarungan kemarin, mereka bisa membuka mata lebih lebar.”


Alex membuka mulut untuk bicara namun mengurungkannya. Dia sadar tidak ada gunanya bersitegang dengan gadis itu. Namun, Alex tak bisa bohong kalau dia ingin membuktikan dirinya sendiri pada Caitlin, pada dunia, dan terlebih pada dirinya sendiri. Dia tahu apa yang harus dia lakukan.


“Jadi, menurutmu, aku hanya kurang pengalaman? Kalau begitu, akan kuhiasi sepak terjangku lebih baik dari dirimu.”

__ADS_1


__ADS_2