
Kembali tapi tidak benar-benar kembali. Alex berpikir kalau Nadira akan meminta mereka berjaga di dalam markas selagi menanti serangan yang akan datang. Nyatanya, mereka hanya mengintai di dekat sana saja. Bahkan tidak terlalu dekat. Mereka berada dalam sebuah minivan berkedok jasa ekspedisi.
Berbeda dengan minivan pada umumnya, tentu saja. Milik ICPA diperlengkapi komputer canggih yang menempel pada panel-panelnya. Mereka memakan lebih banyak ruang, mengorbankan kenyamanan. Hanya ada bangku mungil berlapis kulit imitasi. Di bagian ujung ada bangku lain berupa tonjolan besi yang dilas agar menempel pada dinding. Alex berusaha membuat dirinya nyaman meski tak ada bantalan pada bangku tersebut. Matanya mengamati Emil yang santai memperhatikan panel-panel layar.
Kabin depannya tergolong normal. Setir kurus yang besar, dashboard kusam, hiasan dadu yang menempel pada spion, serta kotak senjata tersembunyi di bawah jok sederhana. Dua agen ICPA yang bertugas mengantar mereka ke sana sedang duduk di pinggir jalan setelah membeli kopi dari kedai kecil.
Tempat parkir mereka memang tidak persis di depan bendungan. Setidaknya dari posisi tersebut, mereka bisa melihat ke arah bendungan. Dari panel-panel layar komputer, mereka juga bisa mendeteksi pergerakan di jalanan terdekat. Emil sudah meretas kamera pengawas. Mereka juga punya radar inframerah untuk mendeteksi panas.
Alex ikut mengawasi layar. Tatapannya terarah pada dua agen ICPA yang ada di luar. Keduanya hanya tahu kalau dia asisten Emil, tidak lebih. Mungkin mereka juga tidak akan menyangka kalau saat ini Zetta Sonic sedang terluka seperti itu. Tangannya masih diperban. Alex bisa memantau kondisinya sendiri dari Zet-Arm.
Setelah beberapa menit berlalu dalam keheningan, Alex memutuskan mengutak atik tablet PC yang disediakan Emil untuknya. Dia teringat akan tugas hukumannya. Menghabiskan waktu sembilan ratus jam untuk belajar dari misi para agen lain. Dia bahkan belum menyentuh dua puluh empat jam. Masih ada banyak waktu yang harus dia habiskan sebelum hukumannya usai. Belum lagi dia masih harus membuat laporan.
Alex mendesah pelan.
“Dokter Vanessa minta aku menjagamu. Seperti. Kalau kamu kesakitan.” Emil bicara tanpa mengalihkan perhatiannya.
“Aku baik-baik saja. Hanya bosan.”
Emil mengangguk. “Bisa saja Rando di sini karena kebetulan. Fergus mengirim agen untuk memantaunya.”
“Tunggu. Jadi, sebenarnya kita tahu di mana dia berada? Saat ini?”
Emil mengangguk lagi. “Motel di dekat sini.”
__ADS_1
“Kenapa mereka tidak mau langsung menangkapnya?”
Emil berpaling. “Ini bukan masalah mau. Ini masalah mampu. Rando berbahaya. Sudah banyak agen tewas karenanya. Kamu bisa lihat sendiri di sana.” Emil melirik tablet PC di tangannya. “Tiger dan Caitlin pernah bertemu dengannya langsung. Mereka punya kesempatan konfrontasi. Mereka memilih mundur. Pilihan bijak.”
Alex mengetuk tablet PC di pangkuannya. Dia menemukan misi yang dimaksudkan Emil tidak semudah itu. ICPA telah berulang kali berurusan dengan Rando. Alex pun memasukkan tiga kata kunci. Rando, Tiger, dan Caitlin. Seperti kata Emil, mereka menghindari Rando. Setelah meringkus senjata selundupan, mereka kabur dari Rando.
“Rando sering gonta ganti bos, ya?” gumam Alex.
“Lebih dari Jayden. Dia pemilih. Tidak hanya sekadar melihat uang. Dia melihat keseruan di balik misinya. Kadang dia bertugas melindungi si bos. Kadang dia hanya bertugas mengirim barang. Seperti saat ini. Fergus berpikir dia hanya bertugas mengirim cairan itu saja. Tidak lebih.”
Alex melanjutkan menonton misi yang lain. Setelah melihat misi Caitlin bersama Tiger, Alex pun melanjutkan menonton misi Caitlin yang lain.
Caitlin pernah ditugaskan di bawah laut. Dia jadi satu-satunya agen wanita saat itu. Bersama tiga orang lainnya, mereka menyelam ke dasar laut. Di sana, mereka meringkus gerombolan penjahat yang merakit bom dan rudal.
Alex kembali teringat pada tugas utama ICPA. Mereka bukan bertugas menangkap penjahat saja. Pada dasarnya, mereka bertugas mencegah terjadinya kejahatan. Sekalipun bukan berarti semua kejahatan bisa digagalkan semudah itu. Misalnya saja ancaman skala global. Alex teringat pada angka-angka yang diterima ayahnya beberapa saat setelah kejahatan terjadi. Dugaannya, ayah mendapat bonus setelah berhasil menangani kejahatan tersebut sebelum jadi lebih buruk.
Alex melanjutkan menonton video. Kali ini dia menemukan Caitlin berurusan dengan misi penculikan lagi. Caitlin bertugas mengawal seorang menteri saat itu. Terjadi kerusuhan di dekat sana. Si menteri berhasil tertembak. Ambulance datang tidak sampai lima menit kemudian. Ketika tim medis hendak membawa si menteri, pertarungan terjadi. Alih-alih membiarkan si menteri dibawa pergi, Caitlin malah bertarung dengan mereka. Pertarungan disertai tembakan tak terelakkan lagi. Para bodyguard beradu dengan tim medis. Usaha penculikan digagalkan. Caitlin, sebagai satu-satunya agen ICPA saat itu, mendapat kenaikan pangkat dengan cepat.
Saat itu, Alex merasakan bulu kuduknya berdiri. Misi di akuarium. Misi bom dan rudal bawah laut. Misi penculikan menggunakan kedok tim medis. Semuanya sama. Ternyata, semua memang berhubungan.
“Itu memang dia…”
Emil mengernyit. “Alex? Kamu kelihatan pucat. Ada yang salah?”
__ADS_1
“Itu dia!” Alex mencengkeram tablet PC dan kembali berseru pada Emil. “Itu memang dia! Caitlin. Dia terlibat penculikan Jayden. Ju— Juga semua misi— Kasus ini— Semua! Akuarium, bawah laut, penculikan, semua!”
“Tenang dulu. Apa maksudmu?”
“Semua kasus yang kita lewati barusan. Semuanya sama dengan misi Caitlin. Kita mungkin enggak menyadarinya karena itu misi lama Caitlin.”
“Maksudmu, kita menghadapi misi lama Caitlin? Seperti reka ulang? Itu maksudmu?”
“Seseorang membuat ulang misi-misi yang pernah dihadapi Caitlin lalu menempatkan kita di posisinya.” Alex menarik napas dalam-dalam, menenangkan dirinya sendiri. Dia menyerahkan tablet PC pada Emil. “Lihat! Semua misinya sama!”
Emil berdiam sebentar, memeriksa ulang misi yang ditunjukkan Alex padanya. “Kalau memang benar, ini gila! Untuk apa membuat ulang misi ini? Apa tujuannya?”
“Untuk menunjukkan kalau kita enggak bisa melakukannya sebaik Caitlin.”
“Tetap saja. Itu enggak masuk akal. Caitlin sudah keluar—”
“Justru itu!” sahut Alex. “Justru karena Caitlin sudah keluar. Kalau Caitlin masih jadi anggota Special Force, tidak ada gunanya mempermalukan kita seperti ini. Pelakunya ingin kita—” Alex berhenti, meralat ucapannya sendiri. “Pelakunya ingin aku sadar kalau Caitlin akan jadi Zetta Sonic yang lebih baik dariku.”
Emil menarik napas dalam-dalam. “Jadi, Caitlin ingin kamu sadar kalau dia lebih baik darimu?”
“Sebenarnya…” Alex menggeleng. “Kupikir bukan Caitlin pelakunya.
“Lalu siapa?”
__ADS_1
“Seseorang yang sangat dekat dengan Caitlin dan ingin membalas dendam untuknya. Baron. Tunangan Caitlin. Dia ada di balik semua ini.”