
Ketika matahari pagi menyapa ibu kota, ada kedai kopi bernuansa minimalis yang telah mendapat pengunjung pertama mereka. Latar belakang putih, tanaman di pot gantung, kopi enak dan aneka pilihan roti. Tempat itu sempurna untuk pembicaraan santai sekaligus serius dengan sedikit godaan.
“Kamu pernah jadi dokter bedah?” Vanessa mengulang pertanyaannya lagi. Wanita itu duduk berseberangan dengan Jeremy. Di antara mereka, telah tersedia dua cangkir kopi hitam juga roti isi dan sup.
“Sudah kubilang padamu,” balas Dominic. “Satu bulan di rumah sakit pemerintah, hampir dua tahun di medan tempur. Aku tidak tahan dengan banyaknya peraturan rumah sakit. Aku lebih cocok di lapangan.”
“Bagaimana dengan ICPA? Kita punya banyak peraturan.”
Dominic berhenti sebentar. Dia mengurungkan niatnya membuat gigitan lain pada roti isinya. “Dengan dokter-dokter cerdas dan agen terlatih berkeliaran di kantor…” Dominic berdecak. “Kupikir itu sama sekali bukan masalah. Kalau itu harga yang harus kubayar agar punya rekan kerja seperti kalian, itu harga yang sangat murah.”
“Berapa banyak peraturan yang sudah kamu langgar?”
“Ah, aku tidak menghitungnya. Jariku kurang banyak untuk itu.” Dominic malah terkekeh.
Vanessa menarik dirinya agar lebih dekat dengan lawan bicaranya. “Apa berada di sini termasuk salah satunya atau justru sebaliknya?”
“Bagaimana menurutmu?” Dominic balas bertanya. Dia ikut maju agar bisa lebih dekat. Mata kecilnya menatap wajah menawan Vanessa dan tersenyum. “Apa menurutmu aku di sini setelah melawan perintah atasan atau justru aku berada di sini karena perintah?”
“Pendapatku? Keduanya.”
Dominic mengerjap. “Menarik. Mungkin kamu mau menjelaskan teorimu untukku?”
“Kamu bilang kamu memberi bantuan pada ICPA di sini. Artinya, kamu berada di sini karena perintah seseorang. Tapi, kamu berada di kedai ini bersamaku adalah sebuah pelanggaran.”
“Menurutmu atasanku melarang?”
Vanessa tersenyum. Dia menyesap kopinya, melempar pandangan ke luar jendela, lalu kembali menatap wajah bingung Dominic. “Aku tahu kamu mengirim email padaku bahkan sebelum kita bertemu di konferensi. Kamu memberikanku banyak saran. Aku tidak berniat menurutinya. Sama sekali.”
__ADS_1
“Tapi, akhirnya kamu menurutinya?”
“Aku mencoba salah satu di antaranya. Komposisi mineral dan vitamin. Itu bekerja untuknya.”
Dominic tersenyum lebar, sama sekali tidak berniat menyembunyikan kesenangannya setelah Vanessa mencoba formulanya dan memberikan itu pada Zetta Sonic. “Setelah kamu sadar kalau saran yang kuberikan itu memang manjur, kamu mulai membalas email dan mau meneleponku. Benar begitu, dokter Vanessa? Kupikir kamulah yang melanggar peraturan di sini.”
Vanessa terkekeh. “Kita di sini untuk menyelamatkan nyawa.”
“Setuju.”
“Aku menghubungimu untuk menyelamatkan nyawa.”
“Apa Zetta Sonic selalu dekat dengan bahaya?” Spontan, Dominic memelankan suaranya. Kedai itu sepi. Tak ada musik, tak ada suara obrolan orang. Meski mereka berada cukup jauh dari counter, Dominic tak ingin pembicaraan mereka didengar orang luar.
“Jauh lebih sering dan lebih dekat dari yang kamu pernah pikirkan.”
“Bagaimana kondisinya saat ini? Dari data yang sempat kamu jabarkan, setahuku dia cukup muda dan sehat. Dia bisa pulih dengan cepat akibat formula itu dan semua berjalan relatif cepat. Melihatmu bisa sarapan santai seperti ini, aku yakin dia sedang baik-baik saja.”
Dominic pun mengernyit. “Aku tidak paham maksudmu.”
“Formula itu mengubah seseorang. Selalu. Para relawan, Damon, juga Sonic saat ini. Mereka berubah. Beberapa berubah drastis dari segi fisik bukan hanya daya tahan tubuh. Ada juga yang sampai kehilangan akalnya.”
Dominic mengangguk. Nama Damon terlintas dan dia sama sekali tidak berniat menyebutkannya. Dominic melihat rekaman pertarungan Zetta Sonic dengannya. Itu membuatnya terperangah dan ngeri. Damon yang terekam di sana bukanlah manusia. Dia benar-benar kelihatan seperti monster.
Itu bukan pertama kalinya ICPA berhadapan dengan monster. Di Regis, ada beberapa penjahat yang melakukan eksperimen. Agen ICPA Regis pernah berhadapan dengan hewan yang dijadikan monster untuk melakukan kejahatan. Ini pertama kalinya ada monster dari manusia. Nadira tampaknya berusaha menutupi rekaman pertarungan tersebut namun berhasil didesak untuk mengeluarkannya. Kalau boleh jujur, pertarungan itu membuat ICPA dari benua lain sadar kalau masih banyak hal buruk bisa terjadi.
ICPA senantiasa berlomba membuat peralatan dan mencari berbagai metode untuk mencegah tindak kejahatan. Mereka bergerak lebih cepat dari polisi biasa. Masalahnya, penjahat pun melakukan hal sama. Para kriminal itu berlomba membuat ancaman demi uang, ketenaran, bahkan menguasai dunia.
__ADS_1
Vanessa melanjutkan, “Kupikir ini hanya masalah waktu.”
“Kamu pikir agen yang jadi Zetta Sonic saat ini akan mengalami hal yang sama dengan mereka?”
Vanessa mengangguk sekali dengan pelan. “Aku tidak tahu apa bisa percaya pada hasil laboratorium atau gelang indikatornya. Energi yang disimpan dalam tubuhnya kadang habis dengan cepat, kadang bisa meledak melebihi kapasitas. Dia—”
“Tidak stabil.” Dominic bisa menebak lanjutan kalimat Vanessa.
Vanessa mengangguk lagi beberapa kali. “Sebagai satu-satunya dokter yang menanganinya sejak awal, ini membuatku takut. Kasusnya berbeda jauh dengan kebanyakan pasien. Aku takut terjadi sesuatu yang tidak bisa kutangani. Dan, kenyataannya, itu telah terjadi berulang kali.”
“Dia masih hidup hingga saat ini. Kerjamu bagus.”
“Salah satunya berkat bantuanmu.”
“Aku selalu siap jadi asistenmu kalau kamu membutuhkan.” Dominic terkekeh. “Sekalipun aku tidak yakin bagaimana Nadira dan Mark akan bernegosiasi.”
Vanessa menarik bibirnya. “Sudah kuduga kamu dekat dengan Mark. Kebanyakan agen akan bilang nama pimpinan tingkat negara atau kota tempat mereka berada bukan tingkat benua.” Mata indah Vanessa terasa mengintimidasi sekarang.
Dominic memaksakan tawa. Sebuah tawa garing yang membuatnya lebih canggung. “Aku tahu kalau Special Force Zetta Sonic berada di bawah perintah Nadira langsung. Itu luar biasa. Kalian berada di bawah pimpinan ICPA tingkat benua. Itu seperti berada di bawah perintah langsung sepuluh orang tertinggi di dunia. Jadi, kalau mau mengambil agen dari benua lain, dia harus bernegosiasi dengan pimpinan benua juga. Orang yang sama-sama berpengaruh.”
Vanessa menggeleng. “Kamu pembohong yang payah, kamu tahu itu?”
Dominic berusaha mengalihkan pembicaraan. “Apa kamu selalu menyelidiki orang yang berusaha mendekatimu, Vanessa?”
Vanessa menggeleng lagi. “Aku tahu kalau kamu dekat dengan Mark. Aku juga tahu kalau kamu berusaha mendekatiku agar bisa lebih dekat dengan Zetta Sonic.”
“Apa? Itu tuduhan tidak beralasan. Aku sama sekali tidak berniat—”
__ADS_1
“Dominic, bagaimana kalau kamu jujur saja?” sahut Vanessa. “Sejauh apa kamu tahu soal Zetta Sonic?”
Dominic berhenti sejenak. Dia menjauhkan diri dari meja. Matanya mengamati jalan yang masih kosong. Tak banyak orang berlalu lalang di pagi cerah tersebut. Dia ingin kembali mengalihkan pembicaraan namun itu memang tidak mudah. Akhirnya, dia pun menjawab, “Lebih dari yang kamu duga. Jauh lebih banyak dari yang kamu duga.”