
Alex tahu dirinya sedang terlelap. Meski begitu, dia merasakan semuanya. Dia bisa mengenali cahaya terang di atasnya sebagai lampu ruang operasi. Dia juga mengenali perubahan cahaya terang tersebut menjadi garis-garis putih biru. Dia tahu bagaimana mereka sambar menyambar mengisi kembali kekuatannya. Terakhir, dia juga mengenali garis silang hijau yang menyala di atasnya saat ini, ruangan Zetta Sonic.
Sepanjang dirinya terlelap, Alex samar-samar mendengar semua percakapan di sekelilingnya. Dia mengenali suara profesor Otto, suara Nadira, juga suara dokter lembut dokter Vanessa. Sang dokter seolah mengerti kalau dia bisa mendengar suaranya. Dokter Vanessa mengajaknya ngobrol dan bercerita. Alex tak bisa ingat apa saja yang dikatakan dokter Vanessa padanya, tapi itu membuat Alex merasa tenang. Dia juga ingat bagaimana dokter Vanessa bernyanyi untuknya. Suaranya begitu merdu.
Alex teringat pada Leta. Untuk sejenak, pikirannya mengelana pada momen-momen yang dia habiskan bersama si gadis. Suara Leta lebih indah dari dokter Vanessa. Alex akan melakukan apa pun untuk mendengarnya saat ini. Namun, itu jelas tak lebih dari angan-angan semata. Setelah keinginan itu berlalu, Alex sadar kalau tak ingin Leta ada di sana. Leta sangat tidak cocok berada di ruang Zetta Sonic. Dia milik dunia yang sama sekali berbeda.
Seperti ibunya. Hingga saat ini, Alex tak sempat menghubungi ibunya. Dia tak tahu bila ibunya telah datang ke ibu kota. Dia hanya tahu satu hal. Berbeda dengan orang lain. Alex justru tak ingin ibunya ada di saat dia sedang terbaring seperti saat ini. Ibunya tak akan memahami dunianya yang telah berubah drastis.
Alex sadar menginginkan ada orang di sampingnya tapi sama sekali tak punya ide siapa yang cocok hingga dia benar-benar membuka matanya.
Cahaya ruangan itu terasa ramah di matanya. Alex mengerjap pelan. Dia menarik napas dalam-dalam, memastikan kalau dirinya memang masih hidup. Orang mati tak membutuhkan oksigen. Dia membutuhkannya. Dadanya terasa perih. Itu tak lebih dari tanda kalau dirinya telah kembali pada kenyataan.
“Hei. Alex.” Jayden bergerak mendekat ke ranjangnya.
Alex sudah mulai terbiasa dengan kondisi itu. Kondisi di mana dia terbangun dalam ranjang yang bisa menutup bak kapsul dan alat-alat aneh menempel di tubuhnya. Setidaknya, Alex bersyukur kapsulnya tak sedang menutup saat ini. Berada di dalam kapsul tertutup berdinding kaca membuatnya seperti berada di dalam peti mati.
“Bagaimana perasaanmu?” tanya Jayden lembut.
“Aneh.” Alex menjawab jujur. “Berapa lama aku tak sadar?”
“Seharian penuh. Apa ada sesuatu yang kamu inginkan atau perlukan?” Jayden tersenyum sebelum melanjutkan. “Rover, mungkin?”
Alex menghela napas pelan. Tangannya meraih respirator di hidung. Dia melepaskannya dibantu Jayden. Mereka berdua siap diomeli dokter Vanessa, tapi Alex merasa jauh lebih baik tanpa alat itu. Dia bukannya ingin ngobrol banyak dengan Jayden, dia hanya ingin lebih bebas.
“Aku ingin roti isi,” kata Alex lirih. Dia terkekeh dengan jawabannya sendiri. “Aku lapar.”
__ADS_1
“Kalau kuingat-ingat, aku masih belum mengajakmu makan roti kismis di Hummingbird. Cafe yang ada di perkantoran. Kamu ingat?”
“Aku ingat kamu menarik kita pergi saat ada agen ICPA lain.” Alex berhenti sebentar, teringat akan agen dari benua lain yang sedang bersama mereka. “Bagaimana Gavin dan Silvy? Mereka baik-baik saja?”
Jayden bergumam sebentar. “Ya, berkatmu. Mereka baik-baik saja, maksudku, secara fisik mereka baik-baik saja.”
Alex tahu ada yang salah. “Dia tidak dipecat, ‘kan?”
“Tidak, tidak. Nadira berpolitik, seperti biasa. Gavin dianggap membantu Special Force kita mengungkap human trafficking. Pekerjaannya aman. Aku lebih khawatir pada hubungan mereka. Maksudku, tidak semua orang bisa menerima pasangan seorang agen rahasia. Banyak masalah yang bisa terjadi.”
Alex tak perlu Jayden untuk menjelaskan hal itu padanya. Dia sangat paham. Orang tuanya adalah contoh sempurna dari masalah agen rahasia. Setidaknya, kini Alex tahu kalau ayahnya begitu disegani oleh bawahannya di Regis. Dia juga tahu kalau ibunya bebas dekat dengan pria lain, mondar mandir di pesta, tanpa perlu lapor padanya.
“Hei, kamu baik-baik saja?” Jayden membuyarkan masalah Alex. “Kalau kamu kesakitan, aku bisa memanggil dokter Vanessa. Atau, kamu sedang memikirkan yang lain? Soal ibumu, mungkin?”
Jayden terkekeh lalu melanjutkan. “Sebenarnya, saat kamu tidur, ada pesan masuk dari kepala pelayanmu. Preston bilang kalau ibumu pulang. Dia ingin kamu segera pulang dari rumah pohon pak Tiger.”
“Kamu bilang aku menginap di rumah pohon instruktur perkemahan palsu?” sahut Alex.
“Setidaknya, itu berhasil.”
Alex mengernyit, tak percaya apa yang dia dengar.
Saat itu, keduanya mendengar pintu terbuka. Gavin masuk seorang diri. Dia tak lagi mengenakan seragam ICPA. Dia hanya mengenakan kaus putih di bawah jaket jeans dan celana coklat.
“Apa dia sudah sadar?” Gavin bertanya selagi mendekat.
__ADS_1
“Lihat saja sendiri.” Jayden minggir agar Gavin bisa melihat lebih jelas.
“Hai, Alex! Senang melihatmu bisa terbangun seperti ini. Kamu membuat kami semua khawatir.” Gavin tersenyum, lalu berpaling pada Jayden yang mendengus. “Apa menurutmu aku berlebihan? Itu pertama kalinya aku melihat seseorang disetrum listrik tegangan tinggi.”
“Bukan salahmu. Tenang saja.” Jayden tertawa kecil. Alex pun mengernyit.
Gavin kembali pada Alex. “Aku hanya mau berpamitan sebelum kembali ke Regis. Pesawatku akan kembali sebentar lagi. Aku juga mau berterima kasih. Kamu menyelamatkan Silvy dan pekerjaanku. Jujur saja, aku tidak berpikir semuanya bisa berakhir sebaik ini.”
Alex tak tahu definisi baik dari Gavin. Dia sendiri tak bisa bilang kalau semua berakhir baik. “Kuharap Silvy akan tetap bersamamu. Lalu, Filip? Aku enggak membunuhnya, ‘kan?” Alex hanya ingin memastikan.
“Silvy tetap bersamaku. Dan, Filip akan tetap diam di penjara sampai dua puluh tahun ke depan. Setidaknya, para robot pembunuh tidak akan berkembang cepat bila dia mendekam di sana. Semuanya berkat dirimu.”
“Masih banyak yang harus kupelajari. Kupikir aku justru bisa belajar banyak darimu. Tiger dan Jayden setuju kalau kamu agen yang bagus. Aku sependapat dengan mereka.”
“Wow... Aku tersanjung...” Pertama kalinya, Gavin terlihat canggung. Dia tertawa kecil sembari tatapannya menyapu lantai, tangannya menggosok leher. Setelah momen itu berlalu, Gavin menatap mata Alex lekat-lekat. “Kamu tahu? Sebenarnya, kamu bisa jadi jauh lebih baik dariku. Aku sudah melihat banyak agen pemula. Kamu salah satu yang cukup menjanjikan. Semua potensi di dalam darahmu. Bukan Dragon Blood. Dari garis keturunanmu.”
Alex terdiam sebentar sebelum melempar pertanyaannya. “Apakah kamu akan menemui pemimpinmu setelah ini?” Pertanyaan itu keluar dari dalam diri Alex dengan penuh keraguan. Dia bahkan sempat ingin menelan semuanya kembali setelah itu terlontar. Bukan pertanyaan yang ingin dia lemparkan.
“Tentu saja. Aku harus melaporkan setelah memberikan bantuan pada ICPA Sinde tanpa direncana. Tenang saja, rahasiamu aman bersamaku. Seperti rahasiaku aman bersama kalian.” Gavin mengulurkan tangan. “Kita akan bertemu lagi, Alexander Hill. Semoga saat itu tiba, tidak ada robot pembunuh lagi. Mereka menyebalkan.”
“Setuju.” Alex menjabat tangan itu dan tersenyum. “Sampai ketemu, Gavin River.”
Gavin juga bersalaman dengan Jayden. Setelah itu, barulah dia berbalik menuju pintu. Sebelum benar-benar keluar dari ruangan, Gavin menyempatkan diri untuk berpaling lagi pada Alex. “Hei, Alex. Aku sangat berharap suatu hari nanti, dia akan tahu kalau anaknya sungguh luar biasa.”
“Ya, aku juga.”
__ADS_1