Zetta Sonic

Zetta Sonic
For Peace


__ADS_3

Alex kembali melihatnya. Mimpi buruk. Dia melihat dirinya lagi dengan kulit sepucat mayat. Darah merah segar menggenang di bawah kakinya dan kian melebar. Teriakan pilu terdengar dari berbagai arah juga ada erangan dalam dirinya yang tak dia kenal. Erangan serupa hewan buas. Tenggorokannya terasa kering, begitu pula lidahnya. Kalau ada yang bisa memuaskannya, maka itu adalah cairan yang makin melebar di bawah kakinya saat ini. Perutnya mual. Jijik akan dirinya sendiri.


Bagian terparah adalah ketika dia melihat Damon dan Naray berjalan ke sosok Alex tersebut. Ini membuatnya teringat kalau Naray bukan orang pertama. Alex ingat pernah menghabisi Damon dalam wujud monster. Dia tak ingin mengingat-ingat lagi apakah ada korban sebelum Damon.


Alex merasa lelah. Terlalu lelah bahkan untuk ketakutan.


Dia membuka mata tanpa ada teriakan. Keringat dingin membasahi wajahnya dan mulutnya terasa asin. Alex menyeka bibirnya. Darah. Dia mimisan lagi. Darahnya mengalir hingga ke bibir. Alex terpaku pada noda darah yang telah berpindah ke tangannya. Sejak mengenal Dragon Blood, dia tak lagi mengenal tubuhnya sendiri.


“Dan… dia terbangun.”


Suara serak memancing perhatian Alex. Anak ini bergeser dengan hati-hati. Punggungnya masih terasa nyeri dan kepalanya sedikit pusing. Dia mengangkat sedikit kepalanya ke arah sumber suara. Di sana, seorang pria berbadan besar berkulit cokelat dan rambut keriting tengah mendekat. Wajahnya punya beberapa bekas luka di bagian dagu. Bibirnya ditutupi kumis tebal dan matanya berada di balik kacamata hitam bulat.


“Hai.” Pria itu kembali menyapa. “Aku kapten di sini. Kamu bisa memanggilku Amigo. Teman, paham ‘kan?” Pria itu tertawa oleh leluconnya sendiri sementara Alex tak membalas. Tanpa merasa canggung, dia melanjutkan. “Tenang saja, kamu aman di sini. Mereka enggak akan menemukanmu selama kamu di bawah perlindunganku.”


Alex mengamati kondisi sekelilingnya. Ruangan sempit itu punya dinding dicat cokelat muda dengan pintu sempit dan rendah yang pas untuk dilewati satu orang. Ada jendela di tengahnya. Bentuknya bulat seperti sepasang jendela lain yang ada samping ranjangnya berada. Hanya ada kegelapan di balik jendela itu. Selain ranjang, ruangan tersebut juga memuat meja kecil dan sepasang kursi.


“Di mana ini?” Alex akhirnya bertanya.


“Samudra terluas di dunia.”


“Apa kita ada di dalam… kapal selam?” tanya Alex lagi.


“Tepat sekali! Ini cara paling aman untuk bepergian asalkan kamu punya orang dalam pemerintahan.” Pria itu terkekeh, memperlihatkan keriput-keriput pada kulit wajahnya. “Ngomong-ngomong, berapa usiamu? Enam belas? Kamu terlihat terlalu muda untuk dikejar-kejar para polisi.”


Tebakan tersebut meleset setahun dan Alex tak repot-repot membenarkannya. Ada yang mencegah percakapan itu berlanjut.

__ADS_1


“Cukup. Kamu hanya punya kesempatan menawarkan diskon.” Gavin baru saja melangkah masuk dalam ruangan. Pemuda itu telah berganti pakaian kemeja biru muda longgar dan celana putih.


Amigo menoleh pada Gavin. “Aku tahu. Aku hanya berusaha ramah pada para pelangganku.” Kemudian, dia kembali pada Alex. “Aku menjamin semua keselamatan pelangganku. Semua anggota timku profesional. Kalian tidak perlu mencemaskan. Semua privasi dijaga. Dan, yang terpenting, aku selalu memberikan diskon untuk pemakaian jasa selanjutnya.”


“Terima kasih.” Gavin bergeming di samping pintu yang dibiarkan terbuka.


“Baik, baik. Aku keluar sekarang. Akan kuberi tahu kalau kita sudah tiba di pulau. Seharusnya tinggal beberapa jam lagi.” Amigo beranjak keluar. Pria itu berhenti sebentar sebelum menutup pintu dan memberikan salam terakhirnya. “Sampai nanti tuan River, tuan Garnet.”


Mereka menunggu sebentar dalam keheningan, sekadar memastikan Amigo sudah pergi.


“Dia memanggilku apa?” tanya Alex.


“Jason Garnet. Nama samaran. Kamu enggak suka?” Gavin menarik kursi. Dia meletakkan kantong kertas di meja dan mulai mengeluarkan isinya. Air minum, roti isi, sebuah apel, dan pisau.


“Tidak.” Jelas tidak. Alex memaksa dirinya bangun. Ternyata itu lebih mudah dari dugaannya. Ketika hendak bergerak lebih lanjut, Alex menyadari tangan kanannya tertahan. Ada borgol di sana. Tangan kanannya terborgol dengan pinggiran ranjang. “Apa yang kamu katakan padanya?”


“Dia enggak curiga saat kamu memborgolku?”


“Dia tidak peduli asalkan dibayar.” Gavin mengangkat bahu. “Borgol itu pasti enggak membuatmu nyaman. Sayangnya, aku perlu memastikanmu enggak menyerang kami dalam tidur sekalipun aku enggak yakin kalau borgol itu cukup kuat buat menahanmu.” Gavin bicara jujur.


“Aku merasa seperti kriminal.”


“Lukamu pulih jauh lebih cepat dari dugaan. Kamu membuatnya meleleh. Jadi, aku harus berhati-hati agar kamu enggak melelehkan yang lain.”


Alex mengerjap. “Apa? Melelehkan apa?”

__ADS_1


“Peluru. Sedikit menakjubkan melihat bagaimana darahmu atau darah apa pun itu membuat pelurunya meleleh. Kupikir kekuatanmu berusaha menghancurkan ancaman sebelum membantumu menyembuhkan diri. Itu luar biasa menakutkan tapi juga menakjubkan.”


Spontan, Alex meraba lukanya. Ada suatu benda tipis menutupi lukanya di balik kaosnya. Luka itu tak lagi terasa nyeri seperti sebelumnya, hanya ada rasa panas yang ganjil. Panas yang cukup untuk melelehkan peluru. Bukannya senang, Alex tak bisa mengekspresikan perasaannya saat itu. Benaknya campur aduk. Di antaranya yang paling menonjol adalah kesedihan.


“Ini hanya masalah waktu,” kata Alex lebih kepada dirinya sendiri. “Kehilangan kemanusiaan dan…” Alex tak sanggup melanjutkan. Dia menatap lawan bicaranya lekat-lekat. “Masih ada jalan, ‘kan? Kamu membawaku ke sana untuk mencegah itu.”


“Sebenarnya, aku tidak tahu apa yang ada di sana.” Gavin, sekali lagi, jujur. Dia tengah mengupas apelnya dengan cekatan. “Aku enggak pernah ke sana dan tidak pernah berharap ke sana. Para anggota suku sering bertindak seenaknya. Sejak hubungan mereka dengan ICPA renggang, mereka enggak akan ragu menyerang agen.”


“Mereka membunuhnya?”


“Belum. Sejauh ini, mereka hanya membunuh orang-orang tertentu seperti…”


“Para penjahat?” tebak Alex.


“Mereka suka main hakim sendiri.” Gavin mendengus. Dia telah selesai mengupas apelnya. Berikutnya, dia melemparkan apel tersebut pada Alex yang diterima dengan mudah. “Reflekmu masih bagus. Pendarahanmu sudah berhenti. Tidak ada dokter di sini, tapi kupikir kondisimu hampir pulih sepenuhnya.”


Alex terdiam dengan buah apel dalam genggamannya.


“Makan itu lalu istirahat. Kamu membutuhkannya,” pinta Gavin lagi.


“Kenapa kamu membawaku ke sana kalau mereka bisa saja menyerangmu? Kenapa mengambil risiko?” Alex menoleh pada si agen yang hendak beranjak.


“Aku enggak mau dunia melawan sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.” Gavin melempar senyum setelahnya. “Tapi,” imbuhnya, “itu selalu terjadi. Jadi, tetaplah bersama kami. Dunia ini membutuhkan Zetta Sonic.”


Di luar dugaan Gavin, Alex justru menggeleng. “Dunia ini membutuhkan kedamaian bukan Zetta Sonic.”

__ADS_1


“Kamu tahu maksud ucapanmu sendiri, Alex?”


“Iya.”


__ADS_2