Zetta Sonic

Zetta Sonic
Upcoming


__ADS_3

Apakah dia merindukannya? Alex mengawali perjalanannya melewati gerbang sekolah dengan pertanyaan ganjil. Ada masa-masa yang membuatnya malas ke sekolah, misalnya musim ujian. Ada pula masa-masa yang membuatnya bersemangat, sebut saja seperti field trip. Sekarang dia sedang menganalisis mana yang lebih tepat buatannya.


“Alex.”


Alex menoleh ketika namanya dipanggil. Seorang gadis berambut panjang hitam mendekatinya dari sisi jendela besar. Sinar mentari pagi membuat wajahnya yang lembut berbinar bak mutiara. Mata lebar itu indah, seolah menghipnotisnya agar tak bisa mengalihkan pandangan. Dan, senyum itu selalu membuat hatinya berdebar lebih kencang.  Bahkan tanpa sadar, Alex telah menarik napas dalam-dalam.


“Leta! Hai!” Alex berhenti di tempatnya. Dia berusaha sebisa mungkin agar tidak canggung begitu berhasil memulihkan diri akibat pesona si gadis.


Dia tahu telah menghilang cukup lama namun aktor pengganti dari ICPA telah mengambil tempatnya selama beberapa saat. Tidak ada seorang pun yang tahu kalau itu bukan dirinya — seharusnya, begitu. Preston masuk pengecualian.


“Bagaimana kabarmu?”


Pertanyaan Leta membuat Alex mengernyit. Sampai kemarin pun, si aktor dari ICPA masih masuk untuk menggantikan dirinya. Hari ini, dia mendapat pertanyaan dengan kesan kalau Leta sudah lama tak bertemu dengannya. Padahal, seharusnya mereka bertemu kemarin.


“Baik,” jawab Alex, setenang mungkin.


Leta menghela napas pendek. “Kamu tahu, kamu selalu bisa bicara padaku kalau ada yang mengganggumu. Maksudku, berita itu cukup menghebohkan belakangan ini dan semakin menjadi. Kamu menghindari teman-teman dan kami semua paham.”


Alex sadar kalau Leta membicarakan ibunya. Itu buka pertama kalinya ada orang tua siswa yang terlibat skandal semacam perselingkuhan. Berada di sekolah Wood Peak yang terkenal karena isinya mayoritas anak dari pengusaha kaya, selebritis, atau pejabat, membuat sekolah itu sering mendengar skandal. Dua skandal yang paling sering menerpa, masalah uang atau pernikahan. Entah berapa banyak yang berakhir di penjara atau berakhir dengan perceraian.


“Terima kasih sudah mencemaskanku. Aku baik-baik saja. Itu hanya rumor,” kata Alex lagi, menenangkan dirinya sendiri.

__ADS_1


“Kamu semakin tinggi,” ujar Leta.


“Ya. Sepertinya begitu.”


Alex juga menyadarinya. Kepala gadis itu kini hanya sedikit di atas bahunya. Dia juga menyadarinya ketika memeluk Preston beberapa waktu lalu. Kepala pelayannya itu terasa makin kurus dan pendek. Fakta justru sebaliknya. Alex yang lebih besar dan lebih tinggi.


“Jadi, kamu akan datang Sabtu ini?” tanya Leta lagi.


“Tentu saja. Itu akan menyenangkan. Aku tidak akan melewatkan kesempatan bertemu denganmu.” Alex tersenyum, mencoba menggoda gadis favoritnya.


“Sempurna! Aku juga tidak sabar.” Leta menoleh ketika melihat salah satu teman perempuannya melambai. “Aku ke sana dulu. Sampai nanti di kelas.”


Begitu Leta beranjak, Alex langsung berpaling agar gadis itu tak melihat muka bingungnya. Ada apa di hari Sabtu? Belum sempat berpikir harus bertanya pada siapa, Alex sudah dikejutkan hal lain. Dia sampai berjingkat karenanya.


Willy langsung terbahak-bahak dibuatnya. “Hahaha… Ayolah, tidak ada yang lebih mengejutkan daripada kecelakaanku di gym.”


Alex berusaha keras tak menanyakannya. Dia tahu sahabatnya sudah baik-baik saja. Dia tidak melihat gips di sana. Dia juga bisa melihat bagaimana Willy berjalan dengan normal sambil membawa ransel seperti biasa.


Sambil melanjutkan perjalanan ke kelas, Alex pun memancing pembicaraan. “Jadi, soal hari Sabtu…”


“Oh, ya! Pool party itu. Bagaimana? Jadi mau ikut cari kaca mata renang bersamaku?”

__ADS_1


Alex mengangkat bahu. “Enggak. Punyaku masih bagus. Tapi, aku bisa menemanimu kalau kamu mau.”


“Besok sore sepulang sekolah?”


“Boleh. Akan kuberitahu Preston supaya enggak perlu menjemputku.”


“Bagaimana dengan Tetra gala dinner? Kamu akan datang ‘kan?”


Alex mengenali acara tahunan yang diselenggarakan Production House Tetra. Dia sendiri telah menantikannya sejak berbulan-bulan yang lalu. Makanan yang tersedia bukan hanya lezat namun juga banyak orang ternama yang akan hadir, bahkan selebriti internasional yang biasanya hanya bisa dia lihat di layar kaca. Pihak penyelenggara biasanya juga akan memberikan suguhan acara yang menarik.


“Tentu saja!” Alex tak bisa menyembunyikan semangatnya.


“Berarti ibumu juga akan hadir, ya? Dia beberapa kali bekerja sama dengan Tetra, ‘kan?”


“Ya, dia akan hadir. Tentu.” Alex tak bisa mengatakannya dengan semangat seperti sebelumnya. Dia tak tahu bagaimana harus bertemu ibunya setelah skandal yang terus menerus memanas.


Menyadari reaksi Alex, Willy langsung mengangkat bahu. “Ups, maaf. Kupikir itu bukan sesuatu yang cocok dibahas sekarang. Lupakan soal itu. Semuanya akan baik-baik saja.”


“Tidak masalah. Itu hal biasa. Skandal, fenomena panjat sosial, rating popularitas. Itu selalu menghiasi ibuku.”


“Itu sebabnya kamu ingin jadi pengusaha seperti ayahmu?”

__ADS_1


Alex tertawa kecil pada kalimat yang akan dia ucapkan. Kebohongan bercampur lelucon. “Pekerjaan ayahku lebih sederhana. Keliling dunia, memastikan semaunya aman. Kalau ada masalah, tinggal mengirim orang untuk menyelesaikannya.”


“Benar. Sederhana.”


__ADS_2