
Jayden mengerjap dalam ruangan yang remang. Bukan, bukan ruangan. Dia menyadari kalau ruangannya bergetar. Bukan, bukan bergetar. Ruangan itu sedang bergerak. Lebih tepatnya, dia berada dalam suatu benda yang bergerak. Bukan mobil. Ruangan itu terlalu luas untuk jadi bagian dari mobil. Bisa jadi dari dalam truk atau bus. Tapi, pergerakan ruangan itu jelas terlalu mulus.
Itu sebuah pesawat.
Jayden mengerang ketika menggerakkan leher. Dirinya merasa sangat tidak nyaman. Selain rasa nyeri, ada pusing yang menusuk. Kenangan mengingatkannya pada serangan tak terduga dari penjaga. Bukan hal menyenangkan. Apalagi ketika dia ingat kalau saat ini penyerangnya bisa berada di sana juga.
Kakinya bisa bergerak bebas, tangannya tidak. Borgol masih membelenggunya. Kali ini ada tambahan. Borgolnya terhubung oleh rantai. Rantai itu tersambung pada ranjang tempatnya berbaring, sementara ranjang itu sendiri menyatu pada dinding. Badannya berbaring di atas alas keras. Dia bahkan tidak bisa membedakan apakah sedang berbaring di atas matras atau ranjangnya langsung.
Hidungnya terasa membeku. Udaranya terasa dingin. Baunya aneh, seperti campuran karat dan bau amis. Ini mengingatkan Jayden pada kapal laut. Bedanya, kapal laut tidak bisa terbang. Kalau tidak sedang mengenakan baju hangat, dirinya pasti menggigil saat ini.
Cahaya datang dari sepasang lampu yang menempel pada dinding. Dia sendirian dalam ruangan itu. Tidak ada barang apa pun di sana selain ranjangnya. Satu-satunya pintu berada berseberangan dengan posisinya saat ini. Ketika memaksa duduk, Jayden meringis. Rasa nyeri itu makin terasa. Mungkin ada memar di sana.
Saat itu, pintu pun terayun ke dalam. Seorang gadis yang dia kenali pun masuk.
“Kamu bangun cukup cepat.” Camellia menutup pintu di belakangnya. Di tangannya ada sebotol air.
“Sebenarnya, aku berharap disambut teh hangat.”
“Jangan memaksakan keberuntunganmu, Jayden.” Camellia berdiri di depannya. Tangannya membuka botol itu lalu menyerahkannya. “Aku yakin kamu bisa minum sendiri.”
Jayden telah duduk. Dia memang bisa menerima botol itu dengan mudah. Sayangnya, air itu terlalu dingin. Bukannya menyegarkan, Jayden merasa kerongkongannya dimasuki cairan tak ramah.
Camellia bergerak maju hingga wajahnya begitu dekat. Tangannya menggapai leher Jayden. Jemari dingin dan lentik itu memberi sensasi tak ramah lain. Ini membuat Jayden spontan bergerak. “Berhenti bergerak!” pinta Camilla dalam bisikan. “Biarkan mereka berpikir aku sedang menciummu.”
Jayden mengernyit. “Mencium siapa?”
__ADS_1
“Tidak sulit membuat mereka percaya. Kamu tampan. Cukup menggoda.”
Itu memang bukan pertama kalinya Jayden mendengar pujian semacam itu meski kata ‘menggoda’ terasa tak nyaman buatnya. Kemudian, dia menyadari alasan kenapa Camellia melakukan itu semua. “Kamera? Di belakangmu?”
“Di atas pintu.” Camellia membelai leher belakang Jayden. Itu membuatnya menggigil, campuran dingin dan geli. “Jangan khawatir, Jayden, kamera itu hanya menangkap gambar bukan suara. Sekarang, tetaplah diam.”
“Apa kamu sedang… mengoles salep?”
“Kamu lebih memilih aku mengoles racun?”
“Tidak, aku lebih memilih kunci borgolku.”
“Percayalah, aku juga ingin memberikannya padamu. Sayangnya, kunci itu ada pada mereka. Mengambilnya akan sangat mencurigakan. Bersikaplah baik dan kita akan lewati masa-masa kelam ini bersama.”
“Tidak tahu. Tempatnya selalu berubah. Keuangan ditransfer dari berbagai bank di belahan dunia. Jumlah besar selalu tunai. Para pekerja digilir dari satu tempat ke tempat lain setiap bulan. Kamu beruntung aku di sini.”
“Kamu sengaja menempatkan dirimu di sini.”
“Mungkin. Aku mencoba tidak terlalu jauh dari rumah.” Camellia menarik dirinya lalu melempar senyum tipis. “Jangan terlalu jauh atau kamu akan tersesat. Tidak seperti saat ini. Kita lebih dekat dari yang kamu pikir.”
“Apa yang dia mau?”
“Untuk saat ini, hanya satu hal yang bisa kukatakan. Zetta Sonic.” Camellia berbalik.
“Banyak orang menginginkan kematian Zetta Sonic.”
__ADS_1
“Kupikir dia tidak ingin membunuhnya. Mungkin hanya ingin mencuri teknologinya.”
“Sejauh yang kutahu, teknologi itu belum berhasil dibuat lagi. Lagipula, kalau itu benar, dia seharusnya menangkap Zetta Sonic selagi bisa. Aku cukup yakin, dia punya banyak kesempatan kalau dia mau. Dia punya agenda lain.”
“Kupikir kamu punya banyak waktu untuk memikirkannya.” Camellia menyunggingkan senyum simpul. “Selama kita terus mengudara, maksudku.”
Jayden terdiam sebentar. Dia bisa menebak arti tersembunyi dari ucapan Camellia dan itu jelas bukan sesuatu yang menguntungkan buatnya. “Berapa lama penerbangan ini?”
“Selama yang diperlukan, Jayden. Seperti yang kubilang, kamu punya banyak waktu untuk memikirkan semuanya.”
Camellia berbalik dan keluar dari ruangan. Jayden tertinggal seorang diri lagi. Dia melihat botol air di tangannya. Air di dalamnya berguncang pelan. Embun di bagian luar botol mengalir pelan, membasahi jemarinya.
Jayden memejamkan mata sejenak. Selalu ada alasan untuk berpikir positif. Setidaknya, saat ini dia tidak sendirian. Sejak awal Camellia datang padanya, Jayden tahu kalau gadis itu punya agendanya sendiri. Dia memang tidak sampai berpikir kalau Camellia ada di pihaknya. Jadi, ketika melihat gelagat mencurigakan dan tulisan aneh pada video yang dia tonton, Jayden merasa gadis itu bak malaikat penolongnya.
Saat ini, ICPA pasti tahu kalau dirinya masih hidup. Mereka akan mencarinya. Sayang sekali, ketika dia mengetahui di mana lokasinya disekap pertama kali, mereka memindahkannya. Mereka memberinya pakaian tebal. Tempat barunya pasti memiliki suhu tak bersahabat. Suhu yang membelai kulitnya saat ini saja terasa membekukan. Mungkin tidak sampai di bawah nol derajat celcius atau belum.
Dalam ruangan tertutup tak berjendela itu, Jayden tak bisa mengenali di mana dirinya benar-benar berada. Benua Sinde memang bukan benua terluas di dunia. Meski begitu, ada banyak sekali tempat berbeda, mulai dari padang gurun hingga padang salju. Menurut Jayden sendiri, kecil kemungkinannya kalau dia dibawa keluar dari benua itu.
Ketika sibuk menebak-nebak, Jayden mulai bisa merasakan kalau pesawatnya bergerak turun. Ini terasa jelas di telinganya. Dengung tak nyaman terasa. Air di botolnya beriak tak tenang. Namun, itu hanya terjadi sebentar.
Berikutnya, dia mendapati dua orang berbadan besar membuka pintu di depannya. Bukan membuka, tapi membanting. Keduanya bukan orang yang pernah dilihat Jayden. Mereka petugas yang berbeda, bicara dengan logat berbeda, mengenakan pakaian yang berbeda pula. Keduanya menyuruhnya keluar. Tanpa niat melawan, Jayden menurut. Dia disambut lorong muram, bau karat, jendela mungil dengan pemandangan langit kelabu, dan untaian tali yang menyerah dari ikatan. Dia berada di dalam pesawat kargo.
Mereka berjalan melintasi lorong sempit dan tiba di depan sebuah pintu. Pintunya telah terbuka. Udara tak ramah menerpa masuk. Dinginnya menusuk. Anginnya membawa pula butiran salju serta debu. Jayden sempat mengira kalau mereka akan melemparnya keluar. Setelah dia melihat apa yang ada di balik pintu, Jayden menyadari itu lebih buruk lagi.
“Serius? Kamu pasti bercanda!”
__ADS_1