
Seiring berakhirnya ucapan Jayden, Alex kembali mendapati lawan di depannya. Robot biru itu ada di sana. Mereka berdiri di atas peti kemas yang sama. Robot itu berdiam sejenak. Kedua bola matanya mengamati lawan. Mungkin sedang memastikan apakah Alex benar target mereka atau bukan.
Sebelum ada serangan apa pun, Alex memberikan serangan lebih dulu. Dia mencabut pistol lasernya. Tanpa membuang waktu, dia pun melepaskan tembakan. Dua sinar laser meluncur di udara. Alex mengira si robot tak akan mampu menggagalkan serangan ini atau menghindar. Ternyata tidak.
Si robot biru tak perlu bergerak. Entah bagaimana tapi tembakan itu tak pernah mencapai lawan. Sebaliknya, si robot itu malah mengulurkan tangannya ke depan. Setiap jemarinya terbuka, menyingkap lubang tembakan. Deretan peluru mungil pun keluar dari sana. Ini memaksa Alex menghindar lewat jalur udara.
[Hati-hati. Kecepatan anginnya berubah.]
Aex terbang agar bisa terhindar dari tembakan. Terbang dia atas kapal yang tengah berlayar seperti itu memang punya kesulitan tersendiri. Dorongan anginnya saja membuat Alex kesulitan menjaga keseimbangan. Seperti kata Jayden, Alex memang mendapati kalau anginnya makin kencang. Begitu pula ombak di sekeliling mereka. Tak heran kalau kapal berguncang lebih hebat.
“Beritahu aku kalau ini bukan ulahnya?”
[Si robot? Bukan. Ini dari alam.]
“Senang mendengarnya.”
Alex paham kalau mau melukai lawan, dia harus mendekat. Dia pun turun dengan kecepatan tinggi ke arah si robot. Tangan kanannya mengayunkan pedang dengan cepat. Tiger sudah mengajarinya dengan benar. Dia belajar bagaimana mengayunkan pedang untuk melukai lawan bukan sekadar bertahan.
Giliran si robot mengudara. Tapi, lawannya tak mengudara tinggi. Dia hanya mengudara pendek untuk mundur. Cukup untuk menghindari serangan Alex. Gerakan ini dilakukan bukan untuk kabur melainkan bersiap untuk serangan selanjutnya. Si robot melemparkan beberapa pisau dengan senar.
Alex menghindari dengan sempurna. Sekalipun dia harus mengakui kalau sedikit terkejut. Ada dua hal. Satu, pisau-pisau itu bisa terlempar dengan mulus, seolah tak terpengaruh dengan angin. Dua, pisau-pisau yang gagal mengenainya itu kembali pada si robot. Persis seperti mainan yoyo. Hanya saja, ini pisau.
Layar dalam helm Alex mendeteksi pisau-pisau yang tadi terlempar padanya. Dia tak begitu paham apa artinya, tapi dia menangkap simbol tanda seru dan warna merah di sana. “Jayden. Apa pisau itu bisa menembus seragam tempurku?” Alex merasakan peluh di dahinya menetes ketika bertanya. Ada kenangan yang tak ingin dia ingat.
__ADS_1
Justru Jayden membantu Alex mengingatnya dengan jelas. [Ingat serangan robot sebelumnya? Cakram-cakram kecil dan pisau itu terbuat dari bahan yang sama. Kalau mereka mengenai satu titik secara terus menerus, ada kemungkinan mereka bisa menembusnya.]
“Punya saran?” Alex bertanya sambil melayang lagi.
Si robot masih melemparkan pisau-pisau padanya. Alex menukik turun, berusaha melukai lawan dengan pedang. Namun, dia tak punya kesempatan menyerang bila masih ada deretan pisau terlempar padanya.
[Aku memang punya saran. Bukan hal yang ingin kamu dengar, pastinya. Hindari senar pisaunya juga. Mereka sama tajamnya.]
Alex terbang berputar sambil menodongkan senjata lasernya. Dia berusaha menembak lagi. Hanya sekali, cuma sebagai uji coba. Seperti sebelumnya, serangan itu mengenai benda yang salah. Bukannya mengenai si robot, serangannya malah melubangi atap peti kemas. Tembakan dari ketinggian dan jarak sejauh itu memang tidak akan berhasil melukai lawan. Alex ingin sekali melemparkan bom peledaknya. Tapi, jelas itu tidak akan efektif. Dia perlu ide baru.
“Jayden, apa yang ada di bawah peti kemas itu?”
[Kenapa kamu tanya?] Jayden melakukan pengecekan sambil bertanya pada Alex. [Isinya dakron. Kamu tahu, ‘kan? Benda yang biasanya ada di dalam bantal.]
“Aku perlu sesuatu yang lebih berbahaya.” Alex terbang menjauh.
Si robot berhenti sebentar di udara. Alex bisa melihatnya tetapi si robot sepertinya kehilangan dirinya. Itu tidak akan berlangsung lama. Setidaknya, ada cukup waktu bagi Alex mencari isi peti kemas yang lebih berbahaya.
[Alex, ada kumpulan orang di depanmu.]
“Para kru bersenjata?” tebak Alex.
[Aku yakin kamu tahu sedang berlari ke arahku.]
__ADS_1
Titik kumpul! Kalau Jayden belum mengudara, artinya Gavin dan para gadis yang diculik itu belum naik ke kapal. Dia ingin sekali membantu mereka lebih dulu. Baru setelahnya, bertarung bebas dengan si robot biru pelempar pisau. Masalahnya, kalau robot itu menemukannya di sana, bisa-bisa pesawat mereka malah kena serang.
Dia juga ingat bagaimana bisa melompat dengan muda dari pesawat ke kapal. Sedangkan, untuk kembali, caranya sedikit sulit. Skenario yang sudah disiapkan meliputi tali pengaman, penjepit, dan alat-alat lainnya. Ketika membahas itu, Alex sedang tenggelam dalam pemikirannya soal si robot. Dia tak paham detailnya.
Alex tahu kalau dirinya mengubah arah. Dia hendak berbelok di persimpangan depan. Sekelompok kru berdiri di sana. Mereka hendak mencegah kaburnya para gadis tersebut. Ketika mereka berpaling dan mendapati Zetta Sonic di sana, mereka pun melepaskan tembakan padanya.
“Mereka enggak pernah belajar!” gerutu Alex.
Dirinya menerjang orang-orang itu tanpa takut. Dijatuhkannya satu per satu dengan mudah. Sayangnya, itu membuat posisinya ketahuan si robot. Alex mendapati ada tembakan dari atas. Beberapa peluru menggores seragamnya. Setelah peluru, ada pisau-pisau terlempar padanya. Dibantu kekuatan Dragon Blood, Alex berlari ke belakang gang peti kemas lain.
Si robot kembali kehilangan dirinya.
Alex bersandar pada peti kemas, beristirahat sebentar. Dadanya naik turun dengan cepat. Jantungnya berdegup tak karuan. Sejauh ini, tak satu pun dari mereka unggul dalam pertempuran. Alex lebih sering bertahan, si robot lebih banyak menyerang. Sembari mengatur napasnya, Alex melihat tumpukan peti kemas di depannya.
“Apa isinya?” Dia bertanya pada Jayden.
[Kalau kamu mencari peti berisi mesiu atau senjata, kamu enggak akan menemukannya di atas sini. Mereka disembunyikan di bawah. Mungkin di antara barang-barang yang lain. Sebenarnya, apa yang kamu cari?] Jayden tetap bertanya sambil melakukan pemindaian pada peti kemas tersebut. [Dimulai dari yang paling bawah. Ada kain, benda-benda plastik, gula.]
“Coba deretan di sebelahnya.”
[Tunggu sebentar.] Jayden kembali melakukan pemindaian. Saat itu, dia paham. [Kurasa aku menemukan apa yang kamu cari. Tapi, itu ada di tumpukan yang paling atas.]
“Bagus. Setidaknya, korbannya akan lebih sedikit.” Alex menengadah ke tumpukan teratas dari peti kemas. Sebuah peti kemas hijau. Warnanya sedikit lebih gelap dari warna khas ICPA. “Ngomong-ngomong, dia menemukanku di saat yang tepat.”
__ADS_1
Alex mendengar suara samar dari ujung gang. Si robot tak lagi terbang melainkan berdiri di lantai yang sama dengannya. Ketika lawannya mengulurkan tangan, bersiap menembakkan pisau lagi, Alex sudah menukik lagi. Pisau-pisau itu pun menancap di lantai. Alex mendekat ke peti kemas hijau. Masing-masing tangannya menempelkan bom di sana. Ketika Alex sudah berada di langit bebas, si robot masih terbang di antara peti-peti kemas. Tepat ketika lawannya berada di samping peti kemas hijau, Alex meledakkan bomnya.
DUAAARRRRR!