
Apa yang terjadi memang sudah bisa ditebak Alex. Dokter Vanessa dan dirinya menyusuri lorong panjang yang berlanjut pada semacam belalai. Belalai ini menjulur keluar dari kapal selam yang mereka tumpangi ke kapal selam SM-204. Dia sedang berada ditransfer dari satu kapal selam ke kapal selam lain.
Pemandangan itu mengingatkan Alex pada belalai yang biasa dipakai di bandara. Dindingnya seluruhnya terbuat dari kaca. Bentuknya silinder seperti sedotan raksasa. Ada papan-papan yang terbentang di bagian bawah, membuat mereka tidak perlu kesulitan berjalan di atas lantai melengkung.
Sesekali gelombang air menerpa, membuatnya sedikit berguncang. Selain itu, perjalanannya terasa mulus. Tekanan air tak membuat terowongan tersebut oleng.
Fergus berjalan paling belakang. Setelah memastikan kalau dokter Vanessa dan Zetta Sonic sudah menaiki kapal selam kecil, dirinya pun melangkah kembali. Emil menutup pintu SM-204, menutup jalur terowongan. Tak lama setelahnya, terowongan tersebut pun terlepas, menarik dirinya kembali ke kapal selam yang lebih besar.
Alex baru menyadari kalau kapal selam yang dia naiki tadi ukurannya jauh lebih besar dibandingkan semua kapal selam yang ada di sana. Ukurannya bisa dua kali lebih besar dari SM-204. Badannya memanjang seperti peluru. Warnanya hitam legam dengan hiasan garis hijau terang serta lambang ICPA.
“Setidaknya mereka tidak mengecatnya putih.” Pikiran Alex menjelma jadi komentar verbal.
“Jayden bilang itu sekali,” sahut dokter Vanessa.
Alex melirik keluar lewat jendela. Sambil berjalan menuju ke ruang kokpit, dirinya menghitung berapa kapal selam yang ada. Setidaknya ada empat kapal selam dengan tipe SM-204 selain mereka dan dua kapal selam lain berukuran sedang.
“Kamu belum melihat semuanya,” tambah Emil.
Emil memandu mereka kembali ke kokpit di mana Tiger telah menanti. Setelah mereka semua masuk, dia pun menjalankan kembali kapal selamnya. Setidaknya, Tiger menggerakkan kapal itu dengan nyaman, bukan mengebut seperti yang biasa dia lakukan di jalan raya.
“Kamu kelihatan berantakan,” kata Tiger pada Alex. Dia terkekeh, menertawakan penampilan konyol Alex. Seragam tempur itu masih menempel pada tubuhnya, kecuali pada bagian tangan. Seolah ada yang merobek bagian tangan itu darinya. “Tanganmu sepertinya kedinginan. Perlu kupinjami sarung tangan?”
“Ayolah, Tiger. Tanganku menyelamatkan kita semua,” balas Alex. Dia senang mendapat sambutan dari Tiger meskipun itu hanya celetukan. Alex mendapati dirinya menerimanya sebagai pengganti pelukan hangat.
Emil kembali ke posisinya. Sementara, Alex kembali pula pada kursinya sebelum keluar tadi. Dokter Vanessa duduk di tempat kosong lain, tempat itu juga berhadapan pada sederet panel kontrol. Tempat itu bisa dibiarkan kosong, bisa pula dijalankan secara otomatis oleh pilot. Dalam hal ini, Tiger.
__ADS_1
“Jadi, aku berhutang nyawa padamu?” Tiger menyempatkan diri untuk berpaling pada Alex.
“Traktir aku makan siang. Kuanggap impas.”
“Setuju, bocah!”
Alex berpaling pada Emil. Pemuda itu sibuk dengan panelnya sendiri. Dia memeriksa sesuatu. Pastinya berhubungan dengan kedatangan transmisi di dalam sana. Alex ingin bertanya bila Jayden ada di dalam. Namun, dia mengurungkan niat karena takut pada jawaban Emil.
Kapal selam mereka bergerak perlahan dan tenang. Tiger membawa kapal mereka berjalan tanpa kendala. Kapal ini masuk ke dalam lorong gelap. Cahaya dari tepi-tepi tak membantu. Apalagi setelah adanya monster dinosaurus sebesar itu. Sebagian dinding tepinya hancur. Kabel dan selang putus menjuntai, beberapa bola lampu pecah, rusuk-rusuk peyok, dan serpihan yang mengambang. Salah satu bagian robot Zetta Sonic baru saja mereka lewati.
Lorong itu sedikit menyempit. Terlihat cahaya dari datang dari permukaan. Tiger pun membawa kapal selam mereka bergerak ke atas. Di sana, mereka menemukan sebuah ruangan luas dengan dinding kelabu dan langit-langit tinggi. Ada garis hijau membentang di tengah sebagai aksen. Desain tersebut langsung mengingatkan Alex pada markasnya sendiri.
Komentar pertama pertama kali keluar dari Emil. “Mereka benar-benar meniru. Mirip markas ICPA. Untuk apa?”
Tiger keluar lebih dulu sambil membawa senapan. Emil mengikuti di belakangnya. Dia membawa Jason bersamanya. Alex terakhir. Sementara mereka memeriksa, dokter Vanessa berjaga di dalam kapal seandainya terjadi hal-hal di luar rencana.
“Untuk apa?” Emil mengulang kembali pertanyaannya.
“Aku hanya… tahu.” Alex tak bisa menjelaskan dengan baik firasatnya. Mungkin itu insting atau indera keenamnya. Selama tak bisa dia jelaskan, Alex tak mau melanjutkan. Dirinya malah bergerak lebih dulu. Memimpin di antara ketiganya.
Emil bicara lagi. “Aku mendeteksi nihil. Tidak ada orang. Sama sekali. Selain kita. Ini aneh. Transmisinya berasal dari sini. Dan, itu bukan transmisi otomatis. Itu transmisi manual.”
“Cek kamera pengawasnya,” pinta Alex.
“Rusak. Sudah dimatikan. Tidak bisa diakses.”
__ADS_1
Alex sudah menduganya. Mereka merusaknya karena takut kalau Emil akan melacak ke mana rekaman itu menyeberangi dunia maya. Kalau bisa menemukan jejaknya, Emil bisa tahu di mana penculik berada.
Di depan mereka membentang lorong panjang. Lorong yang begitu serupa dengan lorong markas ICPA. Warna putih, sinar lampu terang, garis hijau, penunjuk jalan, semua begitu mirip. Di ujung lorong, ada sebuah pintu pada sisi kiri. Pintu itu dibiarkan terbuka. Siapa pun yang meninggalkannya, memang sengaja melakukan hal tersebut.
“Seseorang baru pergi dari sini.”
Alex berdiri di depan pintu. Dia mengenali ruangan tersebut. Itu merupakan ruangan tempat Jayden berada. Lebih tepatnya, rekaman pembicaraan Jayden dan Camilla diambil di ruangan itu. Perabotannya dibiarkan sama, kecuali satu. Komputer di seberang tempat tidur masih menyala, bahkan berkedip merah. Ada rekaman video di sana. Alex pun memutarnya.
[Halo, Zetta Sonic. Aku Roban.]
Sosok pria tua muncul di sana. Suara dari video itu langsung menyita perhatian Emil dan Tiger. Ketiganya berkumpul di sana. Alex menduga Roban jugalah yang meneleponnya beberapa waktu lalu.
[Selamat! Kalau kamu melihat rekaman ini, berarti kamu telah berhasil mengalahkan Koolasuchus. Benar-benar luar biasa.]
Alex mengabaikan video tersebut. Dia tak berminat mendengarkannya. Emil, sebaliknya, malah merekam video itu menggunakan kemampuan Jason. Tiger juga menyimaknya dengan baik. Alex muak. Dia tahu Jayden tidak ada di sana.
Alex pun menyusuri setiap tepi ruangan, berusaha mencari petunjuk. Dia juga mencoba duduk di ranjang tempat Camilla duduk. Pikirannya membayangkan bagaimana Camilla dan Jayden bicara juga apa topiknya. Matanya menangkap kilau dari kejauhan. Kilau kedip lampu dari kamera lain yang dipasang di langit-langit. Itu pasti kamera yang digunakan Camilla untuk merekam mereka.
Didorong rasa penasaran, Alex mendekatinya. Kamera itu dipasang di bawah smoke detector. Ada semacam bekas pengait di sana. Apa pun yang tadi menutupinya telah terbuka. Alex melihat plastik menyembul di sana. Dia pun melompat cukup tinggi untuk mendapatkannya. Plastik buram kelabu dengan tulisan singkat.
JANGAN PUTAR VIDEONYA! KALAU KAMU PUTAR, LARI! CEPAT!
__ADS_1