Zetta Sonic

Zetta Sonic
Locked System


__ADS_3

Caitlin masih tak percaya Alex malah membelanya di saat terakhir. Dia tak bisa melupakan ekspresi anak itu. Dia terlihat ragu tapi di saat yang sama juga yakin akan keputusannya. Untuk anak berusia lima belas tahun yang mendadak terjebak dalam dunia melawan kriminalitas, Caitlin mulai kagum. Dia sadar mungkin selama ini kekagumannya tertutupi oleh rasa iri.


Tiger benar. Hingga saat ini, dia masih ingin jadi Zetta Sonic. Dia ingin menggantikan posisi Alex. Alex juga benar. Lenyapnya profesor Otto membuatnya mustahil menjadi Zetta Sonic. Dia sendiri tahu benar berapa rumit dan lamanya waktu yang dihabiskan profesor Otto hingga menemukan formula yang pas. Formula bernama Dragon Blood.


Dia mengingat kembali masa-masa di mana Alex berhadapan dengan Damon pertama kali. Sebuah ruangan yang dilindungi berlapis-lapis sistem keamanan. Asap dan tembakan. Tabung yang pecah. Cairan hijau. Aliran listrik tak terkendali. Kekacauan yang tak pernah disangka. Selama ini, dia hanya melihat rekamannya saja. Caitlin penasaran bagaimana jalan ceritanya akan berbeda bila dia ada di lokasi kejadian. Mungkinkah dia yang akan jadi Zetta Sonic? Kalau dipikir lagi, profesor belum benar-benar mengungkap misteri kenapa Alex bisa bertahan.


Profesor adalah orang yang cermat dan sangat sistematis pada penelitiannya. Formula yang dia buat setelah Alex menjadi Zetta Sonic juga bisa dipastikan formula yang sama. Anehnya, semua cerita yang beredar dalam lingkungan agen ICPA membuatnya bergidik ngeri. Semua relawan tewas oleh formula tersebut.


Selain Alex, orang yang juga terkena formula tersebut adalah Damon. Profesor pernah membahas itu dengannya. Menurutnya, kondisi Damon lebih mudah dijelaskan. Jumlah Dragon Blood yang masuk dalam tubuhnya sudah diperiksa. Angkanya jauh di bawah jumlah Dragon Blood dalam tubuh Alex. Tidak banyak yang tahu kalau Damon mengalami masa-masa kritis cukup lama. Pada akhirnya, dia berhasil bertahan meski mendapat bekas memilukan di tubuhnya.


Berbagai pertanyaan timbul ketika membandingkan Damon dengan Alex. Anak itu tak memiliki luka berarti. Masa kritisnya relatif singkat. Puncaknya, Alex bahkan bisa menggunakan kekuatan Dragon Blood. Caitlin tak percaya pada kebetulan. Dia yakin ada penjelasan di balik ini semua. Sayangnya, profesor Otto tidak bisa mendapatkan jawabannya di akhir hidupnya. Ketamakannya berakhir ketika dia justru dibunuh oleh Damon.


“Jadi,” kata gadis itu, “kamu Caitlin?”


Lamunan Caitlin buyar oleh sapaan gadis lain. Dia berpaling dari pesawat tempur megah di depannya ke pilot perempuan di sampingnya. Gadis itu punya kulit kuning kecokelatan dan rambut keriting serta mata lebar.


“Dan, kamu Smith?” sahut Caitlin.


Dia mengulurkan tangannya, “Kara Smith. Aku pilot yang akan membawamu ke lokasi.”


Caitlin mengangguk. Dia berusaha agar tak menyelidik Kara dengan tatapannya. Dia tidak mau Kara merasa diragukan atau — lebih parah lagi — diremehkan. “Kuharap kita bisa segera menyelesaikan semua ini. Aku mempercayakan diriku ke tanganmu.”

__ADS_1


Kara melemparkan tangannya ke udara. “Oh! Aku tahu. Semua tahu. Aku tidak biasa mengendalikan pesawat terbang. Aku hanya pilot pesawat barang. Tapi, kamu tahu ‘kan ada banyak kasus belakangan ini. Jadi, mereka menyuruhku yang baru naik pangkat ini untuk membantu kalian. Bajuku kedodoran dan tanganku sekarang ikut gemetaran.” Overall hitam dengan garis hijau itu memang terlihat kebesaran.


Caitlin malah terkekeh. “Enggak akan seburuk itu. ICPA pasti melihat sesuatu di dalammu.”


“Menurutmu begitu?”


“Potensi besar.” Caitlin mulai melangkah.


Ucapan Caitlin membuat Kara tersenyum lebar. Keduanya pun memasuki pesawat tempur ICPA. Pesawat itu punya ruangan cukup luas dibanding pesawat tempur pada umumnya. Ada tiga panel kendali di sana. Satu di depan, dua lagi di belakangnya. Panel depan adalah posisi bagi si pilot. Caitlin menempati posisi di kanan belakang, menyisakan posisi kosong di sampingnya. Dia akan bertugas untuk menembak. Sekalipun itu keahliannya, Caitlin berharap dalam hati agar tak terlibat dalam tembak-tembakan sungguhan. Dia lebih suka memegang senjata sungguhan daripada tombol.


Seperti pilot ICPA lainnya dan pesawat tempur lainnya, mereka bisa mengudara dengan kecepatan tinggi. Si robot lebah berada di depan, di atas panel Kara. Dia telah terhubung dengan sistem pesawat. Lokasi pencarian mereka kini bisa terlihat jelas di layar. Tanpa perlu menunggu lama, mereka telah melihat sosok fisik dari titik pemancar tersebut.


“Pesawat barang?” Kara melongo. “Seharusnya aku tahu! Aku melihat pergerakan beberapa pesawat aneh di daerah ini.”


“Aku pernah jatuh di sini. Sonic menolongku. Apa itu dihitung?” Kara terkekeh pada dirinya sendiri. “Jadi, mari kita coba hubungi mereka sekarang.”


Caitlin bertugas menghubungi pesawat barang di depannya. Begitu suara radionya terdengar, Caitlin tak berbasa basi lagi. “Kalian punya yang kami inginkan. Mendaratlah di koordinat yang kami tentukan atau kami akan menembak kalian.”


Kara mengernyit sambil menoleh ke belakang. “Hei,” bisiknya, “kita tidak bisa menembak pesawat dengan sandera di dalamnya.”


“Mau taruhan? Pesawat itu akan menurut.”

__ADS_1


Kara masih mengernyit. Dia belum mendengar balasan jawaban sama sekali. Pesawat itu terlalu kuno untuk menampilkan video komunikasi. Sejauh ini, mereka hanya sempat mendengar suara saja. Sekadar sapaan. Si pilot pesawat barang mungkin sadar kalau telah salah menerima hubungan komunikasi itu dan kini memilih diam.


“Sungguh?” balas Kara. “Kalau tidak, bagaimana?”


“Kalau tidak, maka mereka akan menyerang kita. Yang mana pun, kita akan dapat jawaban.


“Seperti sekarang?!” Kara nyaris berteriak.


Radar mereka meraung, memberi peringatan. Dua pesawat tempur lain datang dari sisi depan. Ketika serangan datang, Kara membawa pesawatnya melakukan manuver menghindar. Dibandingkan dua pesawat lawan, pesawat ICPA jauh lebih canggih.


“Kita diserang, nona manis. Mulailah menembak!” pinta Kara. Dirinya masih melakukan beberapa manuver, meliuk-liuk di udara, menghindar dari tembakan lawan.


“Sudah kucoba. Sistemnya dikunci!” Caitlin sempat menggebrak meja panel di hadapannya.


Kara pun melapor pada ICPA pusat. “Kami menemukan lokasi agen Jayden Garnet. Sekarang kami sedang diserang. Izin menembak.”


[Konfirmasi.]


Begitu ada jawaban dari pusat, Caitlin mendapati kalau panelnya bergeser. Ada bagian polos yang tadinya hanya seperti meja biasa kini terbuka. Dia menunjukkan layar sentuh dengan garis rumit dan aneka pilihan tembakan pada bagian samping.


“Kenapa mereka selalu mengunci keseluruhan sistem saat berhubungan dengan laser?” Caitlin menggerakkan jemarinya di atas layar sentuh untuk membuka panel senjata. Dia ingin melontarkan rudal kecil untuk meminimalisir risiko salah tembak.

__ADS_1


“Lakukan saja!” sahut Kara.


Caitlin sekarang meletakkan telunjuknya pada tombol tembakan. “Ayo bermain kembang api!”


__ADS_2