
Mobil Alex meraung ketika memasuki landasan. Ia berhenti dengan suara berdecit di tengah ruangan. Di hadapannya, ada Tiger sambil membawa senapan panjang. Tak jauh di belakangnya ada Jayden beserta robotnya. Wajah keduanya jelas tidak senang.
Alex turun lebih dulu. Rambutnya masih rapi, begitu pula pakaiannya. Mobilnya sedikit baret, tapi Jayden tidak akan mempermasalahkannya. Dia mempermasalahkan hal lain.
“Kamu membawa dia ke sini?” tanya Jayden dingin dan datar.
Alex tidak melihat Emil di sana. Berani taruhan kalau Emil ada di ruang komando, bersiap meluncurkan serangan atau melakukan tindakan preventif yang diperlukan karena dia membawa Caitlin bersamanya.
“Dia dalam bahaya.” Alex menutup pintu mobilnya.
Caitlin akhirnya ikut membuka pintu. Gaun gadis itu tak seindah beberapa jam sebelumnya. Ada robek besar di bagian paha karena tersangkut ketika lari.
“Kenapa aku enggak terkejut melihatmu di sini?” Tiger melemparkan tangannya ke udara. “Kamu baru saja kabur dari pacarmu sendiri,” kata Tiger sambil menoleh pada Caitlin, “dan kamu malah membawanya masuk ke dalam markas Special Force?” lanjut Tiger sambil mengangguk pada Alex.
“Kukira kita sepakat kalau harus menolongnya,” sahut Alex. “Dia terluka.”
“Hanya lecet.” Tiger mendengus. “Kami berusaha menyelamatkanmu, bocah. Bukan gadis itu. Dia tidak seharusnya berada di sini. Pacarnya pasti sedang mencarinya dan kita adalah tempat yang pertama kali dicurigai.”
“Kita tidak sedang menculiknya.”
“Ini terlihat seperti penculikan.”
Caitlin yang baru keluar dari sisi lain mobil tak berani menatap siapa pun yang ada di sana. Dia membelai lengannya, sedikit kedinginan dan takut. Sudah lama dia meninggalkan bendungan yang jadi markas Zetta Sonic. Semua terasa canggung. Tiger dan Jayden yang biasa bersamanya kini tak lebih dari orang asing. Mereka tidak menginginkan kehadirannya.
Caitlin akhirnya bicara. “Terima kasih kamu sudah menolongku, Alex. Aku akan menghubungi Baron agar dia tidak panik.”
Jayden menggelengkan kepala. Di tangannya ada tablet PC dan di belakangnya ada robot ICPA yang masih belum bernama. “Aku akan coba menjelaskan ini pada Nadira. Semoga dia tidak kena sakit jantung gara-gara ini.”
“Kamu pikir kita bisa mempercayai Caitlin lagi?” Tiger masih menodongkan senjatanya pada Caitlin. “Ini bisa saja salah satu trik Baron untuk menghancurkan Special Force.”
“Tidak!” Caitlin langsung membantah. “Kalau aku ada di pihaknya, untuk apa aku memberikan chip berisi data itu pada kalian bahkan mengambil risiko seperti tadi?”
__ADS_1
Jayden tak berhenti di sana. “Kalian meninggalkan area pesta ketika makanan penutup itu datang. Kenapa? Menghindari makanan manis?”
“Tidak. Baron akan pergi ke luar negeri dengan pesawat malam. Dia harus segera kembali ke bandara—“
“Lalu, kamu?”
“Aku bilang akan berada di sini agar bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama teman. Ini bukan pertama kalinya aku ditinggalkan sendiri saat Baron punya urusan di kota lain.”
“Kalian berpisah setelah meninggalkan ruangan?”
“Iya. Aku seharusnya kembali ke hotel dan dia ke bandara. Lalu, aku melihat Alex berlari keluar gedung. Sementara ada orang-orang bersenjata di sana lalu—“
“Kamu menolongnya?”
Gadis di depannya melempar tangannya ke udara. “Ya, benar. Aku menolongnya. Apa ada yang salah dengan itu? Alex tidak melihat orang-orang bersenjata di dalam mobil itu. Aku melihatnya.”
“Alex adalah Zetta Sonic. Dia bisa mengatasi ini. Kami juga bersama dengannya. Kamu pikir kami tidak bisa menolongnya?”
“Apa tujuanmu kalau begitu? Kenapa kamu menolong Alex?” Jayden melangkah mendekat. Robotnya ikut melangkah agar tak tertinggal di belakang. Gerakan tegasnya menunjukkan bahan yang kokoh dan suara denging pelan menunjukkan robot itu dalam kondisi waspada.
“Seseorang memanfaatkan Baron, dia tidak bersalah.”
Jawaban Caitlin spontan membuat Tiger mendesah panjang dan Jayden mengernyit. Gadis di depan mereka masih percaya kalau Baron bukan dalang dari semuanya.
“Kalau seandainya ada kamera di terowongan itu, aku akan menunjukannya padamu, Caitlin,” kata Jayden. “Dia mengakui perbuatannya. Dia bahkan mengancam Alex dengan menanam bom di kamar ibunya.”
“Pasti ada penjelasan di balik itu.”
“Jadi, siapa yang menciptakan ramuan itu?”
“Aku tidak tahu, justru karena itu aku di sini. Aku ingin menolong kalian sekali lagi menangkap dalangnya—“
__ADS_1
“Untuk membuktikan Baron tidak bersalah?” tebak Jayden.
“Ya, karena dia memang tidak bersalah.”
“Kalau begitu, kenapa kamu memalsukan semuanya? Kamu berpura-pura bertemu dengan temanmu hanya untuk memberikan kami petunjuk. Kalau Baron memang tidak bersalah, kenapa kamu tidak langsung saja cerita padanya?”
“Kurasa ada orang yang memanfaatkan Baron. Dalang asli di balik semua ini mengawasi kami dua puluh empat jam. Kalau aku mau mengecohnya, aku harus mengecoh Baron dulu.”
Tiger masih menggenggam senjatanya. “Katakan, Alex. Kamu percaya teori yang diucapkan Caitlin? Kamu yang ada di terowongan itu bersama Jayden. Kamu bertemu Baron. Kamu melihat dia dan mendengarnya. Apa menurutmu Baron yang kamu temui saat itu dan Baron yang ada di pesta adalah orang yang sama?”
“Ya.” Alex menjawab singkat.
Caitlin memelototinya. “Kukira kamu ada di pihakku!”
“Ya,” jawab Alex lagi. “Aku percaya kamu melakukan hal baik dan benar dengan memberikan data itu pada kami. Aku juga ingin percaya kalau Baron itu baik. Tapi, yang kulihat di terowongan saat itu, aku yakin itu Baron.”
“Kalau begitu, kenapa kamu membawaku ke sini?”
“Untuk menyelamatkanmu!” tukas Alex. “Dengar, aku tidak tahu mana yang benar. Hal yang kutahu tadi adalah kamu akan mati kalau tidak diselamatkan. Cuma itu. Jadi, aku membawamu ke sini. Jangan buat aku menyesal!”
Caitlin terdiam. Tiger masih waspada. Jayden menggaruk kepalanya. Dia melihat insiden yang terjadi beberapa waktu lalu. Caitlin menolong Alex lalu Alex ganti menyelamatkan Caitlin agar gadis itu tidak tewas. Itu hanya insting semata untuk menolong orang lain. Jayden tidak ingin menyalahkan Alex. Tapi, Caitlin lain cerita.
Akhirnya Jayden berkata lagi. “Baiklah, aku akan menghubungi Nadira. Tiger, kamu awasi Caitlin. Alex, sebaiknya kamu pulang. Kami akan hubungi kamu kalau dapat sesuatu.”
“Mobil ini yang akan mengantarku pulang?” tebak Alex. “Bagus, J! Sekarang kamu punya dua tugas. Memberi nama robot pembunuh ICPA dan memberi nama mobil itu.”
“Kita tidak punya robot pembunuh, Alex.”
“Tidak, selama dia ada dalam kendalimu.
“Haha… Benar.” Jayden tertawa kecil. Dia melihat Alex melambai sebelum masuk ke dalam mobil. Perlahan, mobil itu berputar dan meninggalkan markas. Jayden menghela napas pelan sebelum berbalik untuk menuju ke dalam. Bisiknya pelan pada diri sendiri, “Atau, selama aku masih dalam kendali ICPA.”
__ADS_1