
Itu terjadi lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Alex sendiri tidak mengingatnya dengan jelas. Berbeda dengan ayahnya. Ketika itu, Mark Hill hanyalah agen lapangan yang sedang naik daun. Pikiran tajamnya, kemahirannya berkelahi, kecepatannya mengambil keputusan, serta banyaknya misi terselesaikan menghiasi sepak terjangnya. Dia agen muda dengan masa depan cerah. Sedikit aneh rasanya mengingat dia mau mengajukan diri dalam misi itu.
Bertolak belakang dengan kemampuannya, misi menemani seorang profesor ke hutan hujan terasa membosankan. Selain hewan buas dan bahasa lokal suku setempat, tidak ada ancaman berarti. ICPA bahkan telah memiliki perantara, seorang wanita mandiri dari suku tersebut dan telah menjadi pekerja di ICPA.
Ketiganya tengah berada di atas perahu motor yang dikemudikan seorang penduduk suku. Pria itu tak berniat bicara, bahkan dengan wanita yang sesuku dengannya. Sementara si wanita menyembunyikan wajah di bawah topi lebar, menyibukkan diri dengan membaca. Dua orang lainnya, si agen dan si profesor, melewatkan waktu sambil bermain.
“Jadi, apa yang memaksamu ikut misi ini, agen Hill?” si profesor membuka percakapan kembali. Tangan kurusnya memindahkan kuda putih ke petak hitam, berusaha memberikan ancaman pada si raja.
“Tidak ada yang memaksaku.” Mark Hill mengenakan setelan cokelat muda berbahan tebal serta sepatu bot. Postur tegap, rambut hitam cepak, serta tatapan tajam itu bisa dengan mudah mengintimidasi lawan. Kecuali profesor yang ada di depannya saat ini. “Aku mengajukan diri, profesor English.”
“Panggil aku Dominic,” sela profesor dengan cepat. Dia berpaling ke arah lain kapal, lebih tepatnya ke arah anak kecil yang tengah terlelap di bawah selimut. Anak kecil itu tersamarkan dengan baik dekat tumpukan barang bawaan mereka. “Tidak ada agen yang leluasa membawa anak dalam misi.”
“Tidak banyak misi yang mengizinkan hal ini. Aku hanya memanfaatkan kesempatan langka.”
Profesor Dominic terkekeh. “Tidak. Sesuatu memaksamu. Ayolah. Siapa namanya? Alex, ya? Di mana ibunya? Sibuk dengan sesi pemotretan?”
Mark tidak lantas menjawab, hanya menyipit pada lawan bicaranya. Kemudian, dia memindahkan benteng hitam, menjatuhkan pion putih di ujung papan. “Kamu suka mendengarkan rumor, prof?”
Lagi-lagi si profesor terkekeh. “Ini bukan rumor. Aku mendengarnya langsung dari pimpinan kita. Karir cemerlang, istri menawan, anak lucu. Kami semua penasaran bagaimana kamu menyeimbangkan waktu. Kamu tinggal di Sinde, tapi memilih jadi agen di Regis. Saat istri dan anakmu berkunjung, kamu membawa anakmu jalan-jalan ke hutan hujan. Kalian bertengkar. Atau…”
Mark pun melanjutkan kalimat yang tak diselesaikan tersebut. “Dia ngotot aku perlu menghabiskan waktu ayah dan anak dengan Alex.”
“Istri yang baik. Jadi, sementara dia punya jadwal pemotretan di sini, kamu membawa putra kalian jalan-jalan. Hati-hati dengan orang di sekeliling istrimu. Mereka bisa jadi orang ketiga. Itu menyebalkan.” Profesor Dominic melanjutkan permainannya. Dia menyadari tatapan tajam Mark padanya. “Hei, aku hanya mencoba bersahabat, oke? Ini hanya saran dari pria yang dicap playboy sepertiku. Aku berpengalaman.”
__ADS_1
“Sebagai orang ketiga?”
Kali ini, profesor tertawa. Berikutnya, dia malah berbisik. “Dengar, kalau kamu mau tahu apa yang diteliti seorang profesor gila kerja, dekati istri mereka. Wanita itu akan bicara banyak. Sangat banyak.”
“Itu alasan kamu belum menikah hingga saat ini, prof?”
“Aku hanya belum menemukan yang pas. Lagipula, kenapa harus terburu-buru?” Profesor melirik papan di depan mereka. “Giliranmu, agen.”
Mark tersenyum simpul. “Seperti yang dikatakan pemimpin kita, dia bilang kamu suka bercerita.”
“Tidak, tidak. Aku suka ngobrol bukan cerita soal diriku. Aku lebih suka dengar cerita orang lain. Dan, saat ini aku penasaran kenapa kamu memilih jadi agen di Regis. Kamu bukan hanya tinggal di kota yang berbeda dengan keluargamu, ini beda benua.”
Mark melirik pada si pengemudi perahu mereka.
“Katanya, dia cucu kepala suku.”
“Memang. Itu membuatnya lebih berat. Jadi, bagaimana denganmu? Apa alasanmu jadi agen di sini, terjebak di tempat terpencil bersama orang aneh sepertiku, sambil membawa anak umur lima tahun itu?”
“Aku lahir di sini dan aku melihat banyak kesempatan di sini.”
“Kamu mengincar posisi pimpinan?”
“Kita semua butuh ambisi, prof. Seperti dirimu. Kamu mencari mata air suci, aku mencari prospek baik di pekerjaanku.”
__ADS_1
“Itu yang ingin kudengar dari seorang Mark Hill. Aku yakin dalam sepuluh tahun, kamu bisa jadi pimpinan ICPA tingkat benua.” Profesor mengangkat kaleng birnya pada Mark. “Jangan lupakan aku kalau sudah berada di puncak.”
Mark mengangkat kalengnya juga.
Saat itu, Alex kecil di sisi lain kapal mengerjap. Dia menguap. Tangannya menyibakkan selimut sambil memanggil ayahnya. Ketika matanya melihat sang ayah berada di bagian tengah perahu, kakinya mulai melangkah. Gelombang sungai membuat perahu mereka bergoyang-goyang. Tak lama, Alex pun tersandung. Untung ayahnya sudah ada di sana, dia menahan putra kecilnya sebelum terantuk lantai kapal.
Sebelum Mark sempat bicara, profesor telah melambaikan tangan pada mereka. “Hei, Alex. Bisa bermain catur?”
Mark membawa Alex kembali ke permainan. “Aku pernah menunjukkannya. Sekali,” ujar Mark. Dia membiarkan Alex memindahkan pionnya ke posisi yang salah.
“Itu langkah yang buruk.” Profesor mendengus geli. Ini membuat Alex ikut tertawa kecil.
“Dan,” lanjut Mark, “pekerjaanku adalah membetulkan kesalahannya.” Mark mengambil pion tersebut lalu memindahkannya ke posisi yang benar. “Pion ini hanya bisa melangkah satu kotak, nak.”
“Kamu enggak bisa membetulkannya sepanjang waktu,” sahut profesor.
Alex mengerjap pada ayah penasaran reaksi sang ayah. Dia pun menyadari kalau Mark tidak lagi menatapnya. Ayahnya sudah berdiri, malah sedang mengedarkan pandangannya berkeliling dengan mata terbelalak. Profesor perlahan juga ikut berdiri, melupakan permainan mereka.
Si wanita perantara melepaskan topinya. Rambut cokelat keemasannya dipotong pixie cut, membuatnya tak mudah tergoyahkan oleh angin. Kepalanya menghadap sungai yang menyempit. Pepohonan dari setiap sisi sungai kini saling merapat sebuah gerbang alami seakan ingin melindungi apa pun di baliknya.
Suara burung-burung liar pun terdengar. Merdu sekaligus mencekam. Mark tidak ingat pernah mendengar suara burung demikian. Ada pula suara gemerisik dedaunan berpadu dengan motor perahu yang mulai dipelankan.
Suasananya berbeda. Udaranya terasa lain, begitu pula aroma serta kelembabannya. Meski tak bisa melihatnya, dia tahu kalau mereka diawasi. Para suku Kloster mengamati mereka di balik pepohonan dan semak yang semakin lama semakin lebat. Tidak akan mengejutkan kalau mereka melakukannya sambil membawa panah yang telah dibidik. Tanpa sadar, pegangannya pada bahu Alex mengencang.
__ADS_1
“Kita sampai,” bisik Mark.