
ZETTA SONIC
Third Arc : Wreak Havoc
Sekalipun telah berulang kali menjalankan misi dan melakukan latihan intensif, semua itu tak lantas membuat Alex jadi kebal tinju dan peluru. Bahkan dalam keadaan memiliki Dragon Blood dan dilindungi seragam tempur pun, Alex tak mau kena serang. Dia harus berlari dari serangan kalau tidak mau terluka. Apalagi bila kondisinya tak mendukung seperti saluran pembuangan air di ibu kota. Udaranya lembab, suhunya tak bersahabat, udaranya memuakkan, belum lagi warna airnya yang menjijikan. Tempat yang sangat tidak cocok untuk putra tunggal dari aktris papan atas.
Alex tak mau bertarung di sana. Dia hanya ingin segera meninggalkan tempat itu.
Ibu telah kembali ke luar negeri lagi, entah kemana. Alex tak begitu memperhatikan ketika ibunya berpamitan. Tidak lagi. Dulu, dia selalu menanti-nanti kabar dari ibu, mengingat negara mana yang akan dikunjungi sang ibu, juga berbagai acara yang ada di jadwalnya. Sekarang, Alex bahkan tak yakin bisa menelan semua ucapan ibu. Dia meragukan semua kebenarannya sama seperti ketika dia meragukan ayah.
Alex berdecak kesal, mengusir distraksi mengenai keluarganya. Dia sedang berada di tengah-tengah misi. Badannya tertutupi oleh seragam tempur. Kakinya menapaki jalanan kecil di tepi saluran air. Sempit dan lumayan licin. Lumut tumbuh di antara satu batu dengan batu lain yang menjadi penyusun jalan. Terpeleset adalah satu hal, terjatuh ke dalam air kotor jelas hal lain. Keberadaan Zetta Sonic di saluran pembuangan air tengah malam begitu memang bukan idenya. Salahkan Emil. Itu idenya. Menurut Emil, jalur pelarian sempurna selalu lewat bawah tanah.
Tangan Sonic meraba silinder logam yang tergantung di sabuknya. Dia tidak mau sampai silinder tersebut lepas lalu merosot ke dalam air. Itu alasan utama kenapa misi ini ada sejak awal. Silinder tersebut memuat plat uang palsu.
Awalnya, Alex mengira kalau itu akan jadi misi paling damai yang dia lakukan. Tidak ada masalah berarti ketika dia menyusup dan mencuri plat tersebut. Tempatnya hanya rumah biasa di pinggiran kota. Para pekerjanya sudah pulang sementara dua orang penjaga sedang asyik nonton pertandingan bola. Alex bahkan tak perlu menggunakan bom asap tidur ketika melewati mereka.
Ternyata dia salah. Jalannya keluar dari tempat tersebut tidaklah semudah masuknya. Ketika keluar dari pintu belakang, Alex mendapati ada lampu mobil tengah menyorot padanya. Itu murni kebetulan. Dia ketahuan oleh salah satu pekerja yang ketinggalan barang.
Alex pun langsung lari ke halaman belakang. Tanah landai itu tersambung ke pintu menuju saluran pembuangan air. Sekarang, dia pun menyerahkan dirinya pada panduan Jayden dan Emil dari markas bendungan. Mereka seharusnya menuntun Alex kepada Tiger.
__ADS_1
Alex melirik ke sisi kanan dan kiri. Matanya memantau pergerakan dalam helm. Garis-garis hijau mengikuti arah bola matanya. Fungsinya sebagai pemantau agar dia tahu harus berlari ke arah mana. Kalau bukan karena helm itu, dirinya pasti sudah kehilangan arah.
Bukan.
Ralat. Kalau tidak ada helm dan seragam tempur tersebut, dia bahkan tidak akan sudi melarikan diri lewat saluran bawah tanah. Desain helm berfilter berhasil menahan sebagian besar bau menyengat yang mengiring perjalanannya.
[Sebentar lagi ada perempatan di depanmu, tetaplah lurus.] Suara Jayden terdengar dalam helm. Sangat jernih. Bersama Emil, Jayden melakukan banyak inovasi termasuk pada teknologi komunikasi mereka.
Sesudah Jayden memberikan peringatan, Alex mempercepat larinya. Dan, begitu tiba di ujung jalan, Alex mendapati parit terbentang selebar empat meter. Berenang jelas bukan opsi. Alex harus melompat. Dia tahu pasti bisa melakukannya. Bersama Dragon Blood, itu perkara mudah. Meski begitu, sebisa mungkin, Alex ingin menghindari menggunakan kekuatan itu.
Terakhir kali, ada kejanggalan dalam dirinya akibat Dragon Blood. Sebelum profesor Otto bisa menjelaskan pada dirinya, Alex memilih mengandalkan teknologi ICPA daripada eksperimen yang kini mengalir dalam darahnya.
Alex berhenti sebentar kemudian berpaling ke belakang. Dia penasaran apa para pengejarnya bisa sampai di sana juga. Tak perlu waktu lama, dia bisa melihat sekelompok orang dewasa berpakaian hitam itu mendekat. Mereka masing-masing membawa senapan panjang. Hanya ada satu orang membawa senjata lain, sebuah bazooka.
[Menyesal melihat ke belakang?] Suara Jayden terdengar lagi.
“Aku enggak dengar apa pun soal bazooka,” balas Alex sengit.
[Aku juga. Sepertinya mereka punya perlengkapan lebih baik daripada dugaan kita semula. Coba pikir, dengan semua uang palsu itu, mereka bisa membeli apa pun termasuk bazooka dan amunisinya.]
__ADS_1
“Bazooka bisa merusak plat ini. Apa mereka enggak berpikir sejauh itu?” Tanpa buang-buang waktu, Alex berlari lagi. Di belakangnya, orang-orang tersebut berteriak memaki. Mereka mengumpat mendapati adanya parit besar. Itu membuat mereka harus memutar dan kehilangan dirinya.
Alex cukup yakin kalau mereka tidak akan repot-repot mencari jalan memutar. Alex tahu si pembawa bazooka akan segera menembak. Mereka akan melakukan apa pun untuk mendapatkan kembali plat yang dicuri Zetta Sonic dari mesin mereka.
Benar saja. Sensor di dalam helm Alex menangkap pergerakan suara. Segera saja, kaca helm depan menunjukkan peringatan akan adanya serangan dari belakang. Semua teridentifikasi lengkap. Jenis bazooka, ukuran peluru, hingga berapa waktu sebelum tembakan mencapai dirinya. Waktu yang dibicarakan di sini jelas dalam hitungan detik.
“J! Tempat berlindung?”
[Negatif. Itu jalan satu arah.]
“Sial!”
Alex pun berhenti. Dirinya berbalik ke arah peluru bazooka. Hanya ada beberapa detik. Dia punya ide bodoh yang membutuhkan akurasi waktu tingkat tinggi. Alex memejamkan mata. Dragon Blood dalam dirinya bereaksi. Kilat itu datang lagi dalam pandangannya.
Dalam sepersekian detik, semuanya melambat dalam pandangan Alex. Peluru bazooka yang sedang mengarah padanya juga reaksi para pengejarnya. Alex memanfaatkan saat itu untuk menjatuhkan dirinya di tanah. Peluru bazooka besar melayang lurus melewati kepalanya. Ledakan baru terjadi ketika peluru menabrak dinding di ujung lorong tersebut.
Para pengejar menanti sebentar, mengamat-amati. Beberapa detik berlalu dalam hening. Kontras sekali dengan suara ledakan yang tadi memekakkan telinga. Untuk memastikan, orang-orang itu pun terpaksa mengambil jalan memutar. Mereka ingin memastikan sasarannya tewas kalau tak mau diri mereka sendiri tewas di tangan bos besar.
Beberapa menit yang terbuang ketika orang-orang itu memutar tak cukup untuk membuat asapnya hilang. Ketika mencapai titik ledakan, orang-orang harus menyipitkan mata, mencari korban mereka atau plat tersebut. Namun, mereka hanya bisa menemukan reruntuhan dinding di jalanan yang basah. Aromanya sama sekali tidak mengundang. Bekas hangus hitam terlihat di mana-mana. Mereka mendapatkan kehancuran yang diharapkan tapi tidak menemukan pencuri mereka.
__ADS_1