
Alex kembali ke perkemahan bersama Tiger. Honey Lemon telah menyelesaikan lagunya. Dia kembali bersama para pengawalnya, jelas sekali tak akan bermalam bersama mereka. Alex lelah dan ingin tidur. Sayangnya, acara masih saja berlangsung. Alex bisa menebak bagaimana akhirnya. Begitu menyentuh bantal, dirinya pun terlelap.
Sisa acara perkemahan mereka berakhir baik. Sangat baik. Pertarungannya dengan robot pembunuh kemarin seperti hanya ilusi. Setelah makan siang, mereka bergegas kembali ke ibu kota. Tak ada banyak hal yang menarik sepanjang perjalanan. Dia duduk bersama Leta. Mereka ngobrol dengan santai. Keduanya sadar kalau sama-sama menantikan acara di universitas. Sementara kebanyakan penghuni bus lain telah terlelap.
Tak lama kemudian, Leta terlelap. Alex berharap gadis itu akan terlelap di pundaknya, sayangnya Leta justru terlelap ke arah lain, ke arah jendela. Perjalanan itu memang mengundang kantuk.
Alex mengintip dari posisinya yang dekat gang. Setidaknya, dia menemukan orang lain yang masih kuasa menahan kantuk. Tiger tak terlelap. Pria berbadan besar itu senantiasa waspada sepanjang perjalanan. Jemari Alex mengusap Zet-Arm. Sepulang dari acara sekolah ini, dia tidak akan langsung pulang ke rumah melainkan ke markas. Dirinya perlu diisi ulang. Ada baiknya tidak membiarkan Dragon Blood kehabisan daya.
Meski begitu, Alex baru ngobrol dengan Tiger setelah mereka tiba di sekolah. Itu pun setelah hampir semua orang pulang. Tiger pergi lebih dulu ke mobil yang diparkir di belakang sekolah, Alex menyusul setelahnya.
“Jadi, apa aku harus mengaktifkan seragam tempur sebelum ke markas?” tanya Alex sambil mengenakan sabuk pengaman.
“Kamu hanya akan membuat kehebohan kalau berjalan-jalan di markas dengan seragam Zetta Sonic. Lagipula, kamu pikir kita akan ke mana? Markas ICPA yang ada di ibu kota?” Tiger mendengus geli sembari menjalankan mobil.
“Tunggu! Kita akan ke waduk?”
“Sejauh ini, ruang generator hanya ada di sana.”
“Iya, aku tahu.” Alex melemparkan pandangannya keluar jendela, mengharapkan yang lain. “Kupikir markas barunya sudah jadi.”
“Apa kamu tahu sedang berurusan dengan organisasi macam apa?”
__ADS_1
Alex langsung paham. Dia tak bisa menyembunyikan kesenangannya. “Jadi, markas itu sudah jadi? Sungguhan?”
“Hanya perbaikan sederhana dengan sedikit tambahan ruang.”
Sekalipun Tiger berusaha membuatnya terdengar mudah, Alex paham sekali kalau prosesnya tidak semudah itu. Dia tak bisa bohong kalau telah menantikan saat ini sejak lama. Dia ingin tahu markas baru Special Force Zetta Sonic. Dia juga berharap bisa berkeliling. Kenangannya dengan markas lama tak begitu baik. Hanya rasa sakit, pingsan, dan semacam itu. Kali ini, dia merasa kuat untuk berkeliling.
Salah satu perbedaan mencolok dari markas baru mereka tentu saja soal pintu masuk. Untuk masuk ke markas ini, mereka harus masuk dari bawah jembatan. Markas ini terhubung dengan berbagai pintu rahasia di bawah jembatan. Tempat yang jauh lebih sepi. Lokasinya pun dipilih yang cukup jauh dari waduk itu sendiri.
Tiger menekan tombol yang ada di mobil mereka. Sebuah tombol polos tanpa simbol apa pun. Mobilnya melaju pelan di bawah jembatan lalu berbelok ke dinding. Mereka menembusnya seolah tak ada apa pun di sana. Alex dibuat menoleh ke belakang oleh rasa penasaran. Di balik mereka, Alex melihat pintu besi geser mulai menutup.
Di depan mereka ada lorong besar remang. Pencahayaan hanya berasal dari bulatan-bulatan lampu di sisi kanan dan kiri atas. Lorong itu terasa lapang. Alex cukup yakin mereka bisa memuat truk di dalamnya atau mungkin kendaraan lain yang lebih besar. Perjalanan itu terasa cukup cepat apalagi ketika Tiger dengan santai menaikkan kecepatannya. Mereka akhirnya tiba di sebuah ruangan bulat dengan enam mulut besar yang terhubung ke lorong berbeda dan pintu-pintu lain.
“Ada pesawat di sini? Helicopter? Tank?” tebak Alex.
“Masih dalam tahap perkembangan.” Tiger tak mau memberikan informasi detail. Dia mengambil tasnya sendiri dari jok belakang lalu berjalan ke arah lift. Lift itu kelihatan mungil dibandingkan ukuran pintu yang lain, seperti lubang tikus di samping pintu rumah. Pintu lift sendiri terbuat dari sejenis kaca. “Ada dua lift di sini. Fungsinya sama. Naik turun dalam markas.”
Alex mendengus geli, paham benar apa fungsi lift. Dia memperhatikan bagaimana Tiger menempatkan telapak tangannya di panel pada dinding. Pintu lift pun terbuka. Isinya seperti lift pada umumnya. Ukurannya cukup lengang. Di dalam lift ada panel lain di bawah deretan tombol lantai.
“Semuanya diaktifkan dengan sistem keamanan ketat. Enggak sembarang orang bisa keluar masuk dengan mudah. Mau coba?” tanya Tiger seiring tertutupnya pintu lift tersebut.
“Aku bisa mencobanya?”
__ADS_1
Tiger mengedikkan bahu. “Seharusnya Jayden sudah memasukkan datamu.”
Alex meletakkan tangannya di panel. Saat itu, barulah setiap tombol lift pun menyala.
“X-05. Ruang generator,” ujar Tiger.
Alex menekan tombolnya. Lift pun bergerak turun. Tak ada pandangan memukau. Meski begitu, Alex menikmati pemandangan bagaimana lift bergerak dari satu lantai ke lantai lainnya. Semuanya terasa mirip dengan lorong putih dan lampu garis. Lift pun berhenti di lantai yang mereka inginkan tanpa waktu lama. Lantainya berwarna sedikit kelabu dengan aksen hijau di dekat lift disertai nomor lantai. X-05.
“Di sini ada laboratorium profesor Otto, ruang generator, juga ruang medis.”
Tiger memimpin perjalanan. Tak banyak persimpangan di sana. Alex yakin akan menghafal tempat itu dengan cepat. Mereka berjalan lurus ke arah pintu besar terbuat dari kaca. Pintu itu bergeser otomatis ketika mereka mendekat. Ruangan itu tak banyak berubah. Begitu pula dengan penghuninya. Masih ada banyak rangkaian mesin rumit dan deretan komputer. Profesor Otto berdiri tengah, tepat di samping kapsul putih yang tengah terbuka.
“Hai, Alex. Merasa hebat setelah menghancurkan robot pembunuh?” Profesor memberikan senyum lebar.
Alex ingin menyatakan persetujuannya. Namun, senyum profesor selalu membuatnya merasa tak enak. Akhirnya, dia hanya mengangguk. “Aku merasa sehat. Aman.” Alex tak perlu disuruh, dia melepas jaketnya lalu naik masuk ke dalam kapsul. “Aku enggak akan pingsan, ‘kan?” Alex menelan ludah.
“Lebih baik kalau kamu tertidur.”
Alex tak suka jawaban itu. Setelahnya, kapsul pun tertutup. Alex merasakan kapsulnya bergerak. Dia melihat langit-langitnya berubah dari gelap ke terang. Ruang generator itu terasa jauh lebih terang dan putih dibanding sebelumnya. Dia bisa melihat adanya tiang-tiang hijau menjulang di atas ruangan berbentuk kubah tersebut. Juga bagaimana aliran listrik putih biru bergerak di dalam tiang-tiang.
Seperti kata profesor, lebih baik kalau dia tidur.
__ADS_1