Zetta Sonic

Zetta Sonic
Hot Tea


__ADS_3

Mobil sedan biru Gavin melaju cepat di jalan raya sepi tanpa berani menyalakan lampu. Dipandu Jason si drone, Gavin menjauhi jalan-jalan ramai. Sesekali, dia melirik sosok yang duduk di sampingnya. Anak yang tak lagi mengenakan seragam tempur itu kini tergolek terpejam. Di mata Gavin, wajahnya makin pucat saja.


Jason terbang ke bawah jembatan. Dia menanti mobil Gavin mendekat sebelum menembus dinding di sebelah kiri. Gavin tak mempertanyakan semua petunjuk tersebut. Tanpa sedikit pun keraguan akan menabrak, Gavin membawa mobilnya ke arah yang sama.


Pemandangan pun berubah. Ada lorong besar disinari lampu-lampu. Kondisinya cukup remang hingga dia mencapai ujung lorong. Gavin memarkir mobilnya di tengah ruangan bulat raksasa. Tanpa perlawanan, dia turun sambil mengangkat tangan. Si drone sudah bergabung dengan keluarganya. Di depannya, kini berdiri beberapa orang. Ada seorang pria membawa senapan besar, seorang pemuda membawa tablet PC, seorang pemuda lain, dan wanita menawan membawa buntelan kain besar.


“Bisakah aku mendapatkan handuk dulu sebelum kalian menembak?” tanya Gavin.


Sang wanita, dokter Vanessa, menyahut tanpa menghiraukan kesepakatan skenario yang telah disusun Jayden sebelumnya. “Tentu saja!” Dia menghambur pada Gavin. Diberikannya buntelan kain yang ternyata selimut coklat tebal. “Kami juga punya teh hangat di ruang rapat.”


Gavin tak tahu bagaimana harus bereaksi.


Dokter Vanessa melanjutkan. “Aku dokter Vanessa. Tolong bekerjasamalah dengan kami, Gavin. Aku enggak terlalu suka punya banyak pasien.”


Berikutnya, dokter Vanessa berlari ke jok belakang mobil. Emil menghampirinya sambil membawa tandu beroda warna putih. Keduanya memindahkan Alex dari dalam mobil ke atas tandu tersebut. Mereka memasangkan respirator. Gavin melihat anak berwajah pucat itu dibawa menjauh. Jayden mengikuti hingga Alex lenyap di balik lift.


Tiger berdehem sambil menurunkan senapannya.


“Jadi, kita aman?” Gavin sadar kalau tidak lagi mengangkat tangan. Laki-laki itu telah mengenakan selimut menutupi badannya. “Kalian tahu siapa aku. Tapi, aku enggak tahu siapa kalian. Mungkin.” Gavin yakin mengenal wajah di balik topeng Zetta Sonic.


Jayden mendesah pelan. Dia mengulurkan tangan, membiarkan Jason mendarat di sana. Malam ini jelas tak berlangsung sesuai rencananya. Baginya, lebih baik Jason rusak daripada Alex terluka. Kemudian, dia melihat agen tersebut. Meski jarak mereka cukup jauh, Jayden tak perlu berteriak. Perintahnya cukup jelas. “Ikut aku. Kita perlu bicara banyak.”


Bersama Tiger, ketiganya pergi ke ruang rapat di lantai satu. Ruangan itu cukup sederhana. Ada meja besar di tengah ruangan dengan kursi-kursi putar di sekeliling. Tanaman palsu di ujung ruangan, pantry di sudut ruangan, juga sepasang lemari pendek. Jayden mengambil posisinya lebih dulu.


“Dokter Vanessa bilang untuk memberimu waktu ganti baju dulu,” kata Jayden, melirik ke tumpukan setelan kelabu yang biasa dipakai agen pemula untuk latihan. “Aku bisa memberimu waktu beberapa menit. Toilet ada di sebelah.”

__ADS_1


Gavin menyipit. Matanya berusaha menyelidiki wajah si pemuda. “Kamu tidak takut kalau aku melakukan hal yang lain?”


Tiger di belakangnya langsung mencibir. “Biar kuberi peringatan, Gavin River. Kamu ada di markas Special Force Zetta Sonic. Kamu enggak tahu kejutan seperti apa yang kami miliki.” Tiger membuat seringai, lalu berdiri di belakang Jayden.


“Kalau aku jadi kamu,” lanjut Jayden, “aku akan kembali ke sini secepatnya.”


“Kenapa?”


“Aku punya informasi yang kamu inginkan. Silvy Eleanor.”


“Di mana dia?” Gavin mendadak berteriak. Ketenangannya lenyap. Selimut di bahunya terjatuh, menyingkap tuxedo yang masih basah kuyup.


Jayden bersandar di kursinya dengan santai. “Kuberi waktu lima menit.”


Gavin paham kalau dia tak akan dapat informasinya secepat itu. Sesuai arahan, dia pun buru-buru berganti pakaian. Tak sampai lima menit, dirinya telah kembali ke ruang rapat. Wajahnya kini lebih mirip dengan data agen yang ditemukan Jayden sebelumnya. Laki-laki berkulit pucat, rambut ikal cokelat, bintik-bintik di wajah dan bibir tipis. Di bawah pakaian training, tubuhnya kelihatan kurus tapi berotot.


Jayden sedang berada di pantry. Dia menuangkan air panas ke dalam dua mug keramik. Di dalamnya masing-masing telah ada kantung teh. Jayden membawanya kembali ke tepatnya. Satu mug untuknya, satu mug lagi diletakkan di meja dekat kursi kosong. Jayden menunjuk ke kursi kosong tersebut. “Sebelumnya, ada beberapa ketentuan yang harus kita sepakati.”


Gavin paham. “Apa mau kalian?” tanyanya sambil duduk.


“Kita harus memahami kondisi satu sama lain lebih dulu. Di sini, aku bertanggung jawab dengan teknologi dan informasi yang beredar. Aku tahu kalau kamu tidak ditugaskan di sini. Kamu sedang berlibur bersama kekasihmu. Suatu malam, kekasihmu mendadak hilang. Kamu melakukan penyelidikanmu sendiri lalu menemukan Filip Shah ada di baliknya.”


Gavin mengepalkan tangannya di atas meja. “Aku butuh informasi yang tidak kutahu.”


Jayden menghiraukan perintah tersebut. “Kamu membawa senjata laser ICPA dengan alasan mengejar buronan. Tapi, itu bukan berarti kamu bisa menggunakannya dengan bebas. Apa yang kamu lakukan di dalam pabrik merupakan sebuah pelanggaran besar. Melihat pengorbanan yang kamu lakukan, aku yakin gadis itu sangat berarti buatmu.”

__ADS_1


“Langsung saja ke intinya! Apa yang sebenarnya kalian inginkan sebagai ganti informasi keberadaan Silvy?”


Jayden tersenyum lalu dengan santai menjawab. “Tidak ada.”


Jawab itu membuat Gavin spontan melongo. “Aku enggak paham.”


Jayden menggeser tablet PC di depannya ke arah Gavin. “Kita bisa bekerja sama. Kasus human trafficking yang terjadi sebenarnya bukan agenda untuk ditangani. Kami butuh sedikit bantuan. Kupikir, kita bisa bekerja sama. Menyelamatkan kekasihmu, menyelamatkan orang lain, menyelamatkan kariermu.”


Gavin tak langsung menjawab. Ada keheningan sebentar sebelum dia bicara. “Maksudmu, kamu akan menutupi kesalahan yang kulakukan di sini?”


Jayden mengangguk. “Tawaran menarik?”


Gavin tak menjawab lagi.


Jayden melanjutkan lagi. “Kamu butuh bantuan kami kalau mau bertemu dengan kekasihmu lagi. Saat ini dia ada di atas kapa barangl, jauh di tengah lautan. Mereka sedang berada dalam pengiriman ke luar negeri. Bukan di Sinde, bukan pula di Regis. Kalau tidak cepat, kita bisa kehilangan mereka. Ini kesempatan baik selagi mereka selama di perairan bebas. Risikonya lebih kecil.”


“Kamu ingin aku beraksi bersama Zetta Sonic?”


Jayden menggeleng. “Special Force Zetta Sonic menawarkan bantuannya padamu.”


“Zetta Sonic … Dia terluka.”


“Justru karena itu, kita membutuhkan satu sama lain. Kalau kasus ini ditangani Zetta Sonic, Nadira bisa menutupi aksimu. Bagaimana pun, Zetta Sonic punya aturan main sendiri. Misi ini menambah daftar sepak terjang Zetta Sonic.”


Tiger yang sedari tadi diam akhirnya ikut bicara. Dia masih berdiri di samping pantry, baru menghabiskan tehnya sambil ngemil sebungkus keripik kentang. “Gavin, anggap saja kamu jadi asisten pahlawan super. Tidak perlu mencari sorotan. Kamu hanya ingin gadismu kembali, bukan?”

__ADS_1


Gavin melirik ke arah pria besar itu lalu kembali ke pemuda di depannya. Dia sudah paham meski tak seorang pun mengatakannya dengan gamblang. “Tak pernah ada kesalahan yang dibuat di pabrik. Tak pernah ada penyelamatan di sungai.”


__ADS_2