
Apa yang tidak Alex dengarkan? Alex ingin sekali protes. Namun, dia mengurungkan niat setelah mengingat momen saat meninggalkan markas Special Force. Dia juga teringat telah mengabaikan panggilan dari sang dokter. Semua itu membuatnya duduk diam tertunduk di jok belakang mobil SUV.
Matanya mengamati jalanan yang berlalu dengan cepat. Tiger selalu mengabaikan batas kecepatan ketika duduk di balik kemudi. Satu atau dua klakson mobil tak lantas membuatnya mengerem. Sejauh ini, Tiger tidak pernah menabrak karena lalai. Dia hanya menabrak bila diperlukan. Dalam dunia penanggulangan kriminal, hal seperti itu sudah dianggap biasa. Alex ingat Jayden pernah mengatakannya.
Atmosfer mobil terasa lebih buruk sekarang. Udaranya menyesakkan. Beban kasat mata menekan bahunya. Mentari hangat tak membantu. Sudah kesekian kalinya dalam minggu ini, Alex merasa buruk. Matanya mengamati interior mobil. Bukan hal istimewa. Jok kelabu. Tombol-tombol mungil di bagian depan. Ada pula beberapa yang menempel pada tempat tak wajar, misalnya di belakang jok supir.
Mungkin memang dirinya tidak mendengarkan.
Alex ingat kalau Jayden pernah cerita. Setidaknya, dia menyinggung beberapa hal terkait mobil. Ada pula soal teknologi ICPA pusat yang sedang dikembangkan. Lalu, ada juga mengenai trik ICPA membereskan kekacauan soal identitas rahasia. Alex melepaskan desahan panjang. Emil benar, dia tidak mendengarkan. Beberapa hal berlalu begitu saja dari telinga dan pikirannya. Alasannya mudah. Dia memang tidak menganggap hal-hal tersebut penting. Namun, apakah itu masuk kategori tidak mendengarkan?
“Aku…” Ucapan Alex terhenti. Kalimat pembelaannya lenyap. Dia pun terpaksa mencari kalimat pembelaan lain. Alex yakin kalau semua hal dia lakukan dengan pemikiran cermat. Penjelasan akan makan waktu lama. Sangat lama. Alex membuka mulutnya lagi. Sebelum kalimat itu keluar, kalimat yang sama persis telah terdengar dari sang supir.
“Kita perlu bicara. Banyak.” Tiger menggeram.
Alex melihat mata Tiger dari spion tengah. Meski hanya dari pantulan, Alex bisa merasakan mata tajam itu seolah sedang menyelidiki dirinya. Geraman Tiger memberi rasa gentar menuruni setiap jengkal tubuhnya serta menusuk tulang belulangnya. Meski begitu, dia menyembunyikannya dengan baik. “Bicara? Soal apa? Soal Melodiza?”
“Soal bagaimana kamu menyusup ke penjara bawah tanah ICPA.” Tiger menjawab sembari memberi lirikan tajam lagi melalui spion. “Jadi, bicara!”
Alex tak percaya kalau lelaki besar yang pernah dia tumbangkan ketika pertama kali menyusup ke bendungan bisa membuatnya gemetar sekarang. Gemetar dalam arti sesungguhnya meski tidak begitu kentara. Saat pertama bertemu, mereka jelas merupakan musuh. Tiger berperan sebagai sisi bertahan dan Alex di sisi penyerang. Seingat Alex, dia tidak gentar saat itu. Dia lebih gentar saat ini.
Memang alasan utama kegentarannya bukan sorot mata Tiger melainkan lebih kepada tindakan terlarang. Sesungguhnya dia tidak terkejut sama sekali ketika aksinya ketahuan. Menjadi seorang anggota ICPA, bukan berarti Alex kebal hukum. Dia sadar benar kalau dirinya bisa saja masuk penjara karena menyusup ke penjara. Situasi itu membuatnya seperti naik mobil polisi sebagai tersangka alih-alih rekan.
Baiklah, mungkin tidak sampai dipenjara. Nadira pasti akan melakukan sesuatu terhadap itu. Tapi, tetap saja Alex akan dapat hukuman penggantinya. Dan, kabur, jelas bukan hal yang dia lakukan.
__ADS_1
Tak kunjung mendengar Alex bicara, Tiger pun membentak. “Bicara, bocah!”
“Aku— Aku hanya mau menolong Jayden.” Alex menyadari suaranya bergetar. Dia tidak berniat menceritakan bagaimana detailnya bisa tiba ke sana. Menurut Alex, dia lebih perlu menekankan alasannya berada di sana. Lagipula, Alex khawatir Tiger akan membuat mereka terjebak kecelakaan lain kalau terlalu banyak bicara dengannya.
Tiger mendengus keras.
Alex menelan ludah. Dia pun terpaksa melanjutkan setelah hening menyesakkan. “Aku tahu itu salah. Aku hanya… Aku hanya ingin tahu di mana Jayden--”
Emil yang merespon. “Dan, kamu pikir dia tahu? Penjahat lain?”
“Mereka… punya jaringan.”
“Apa yang dia katakan padamu?”
Tiger langsung memotong. “Damon tidak punya bos. Dia hanya sekadar dapat informasi dari orang lain. Tapi, dia tidak punya atasan. Kamu jelas-jelas termakan kebohongannya kalau dia bilang punya bos.”
Alex mengerjap. “Tunggu. Kalian sudah tahu? Kenapa tidak bilang padaku?”
Emil menoleh sedikit hingga Alex bisa melihat keraguan di wajah pemuda itu. Di saat bersamaan, pemuda itu kelihatan ingin bicara tapi juga enggan. Tiger malah melirik Emil lalu mengeluarkan desahan panjang.
“Kenapa tidak bilang? Aku anggota Special Force!” Alex mulai menuntut.
Tiger menggeleng. “Kamu belum siap jadi agen ICPA sungguhan.”
__ADS_1
“Aku sudah berlatih.”
“Itu enggak lantas membuatmu siap.”
“Kalau begitu, beri tahu aku! Apa yang kurang?” Nada Alex meninggi. Matanya memelotot. Pandangannya bertemu dengan Tiger. Kalau dia berharap Tiger akan gentar, itu jelas tidak terjadi. Apa yang terjadi, justru sebaliknya.
“Kamu tahu apa yang kurang darimu? Banyak!” seru Tiger. Tekanan berubah. Tiger mulai memaki. Puncaknya, dia berteriak lebih kencang. “Kamu bukan hanya membahayakan dirimu sendiri! Kamu membahayakan operasi ini! Kamu hanya bocah yang terjebak dalam dunia orang dewasa!”
Alex bergetar. Bahunya, tangannya, jemarinya gemetar. Alisnya bertautan. Bibirnya tertarik. Tenggorokannya terasa panas, begitu pula wajahnya. Dia bisa melihat bagaimana pipinya memerah. Seluruh otot dagdi lehernya menegang. Ini pertama kalinya Alex berusaha menahan air matanya sampai seperti itu.
“Dan, kalau ada hal yang jelas-jelas kurang darimu,” lanjut Tiger, “itu adalah kebulatan tekad!”
Ucapan Tiger tak membuat ketegangan dalam diri Alex lenyap, namun jelas mengusik rasa ingin tahunya.
“Kamu pasti tidak menyadarinya, tapi kami semua tahu,” kata Tiger. “Kamu menganggap semua ini permainan. Enggak ada satu misi pun yang kamu anggap serius. Selalu seenaknya sendiri. Kamu pikir dirimu pahlawan dengan kekuatan super. Selalu di atas awan. Selalu menang. Lihat kondisimu sekarang!”
Alex bergeming. Pada pantulan spion, dia melihat Tiger bersiap bicara lagi. Ketika pandangan mereka bertemu, Tiger menghindarinya. Apa pun yang hendak dia ucapkan juga lenyap bersamanya.
Tangan Alex mengepal sekarang. Semua ucapan Tiger benar. Dengan Dragon Blood, Alex merasa bisa melakukan apa pun. Termasuk mengabaikan perintah Nadira juga menyusup ke dalam penjara ICPA. Akhirnya, dia malah terjebak dengan Melodiza. Kalau tidak ditolong Emil dan Tiger, bukan hanya identitasnya yang terancam, tapi juga nyawanya. Tentu saja, hal tersebut akan berimbas pada Special Force. Kalau dia lenyap, ICPA Sinde tidak akan punya ujung tombak melawan para kriminal.
“Aku… hanya ingin menolong Jayden.” Suaranya begitu lirih. Alex tak peduli bila dirinya tak kedengaran. Kalimat itu lebih ditujukan pada dirinya sendiri. Bukan lagi sebagai sebuah pembelaan, lebih kepada permohonan.
“Hei.” Emil sudah menoleh padanya. “Alex. Kita akan menemukannya. Pasti.”
__ADS_1