Zetta Sonic

Zetta Sonic
S11 - (Spring) Lunch Hall


__ADS_3

Ketujuh ICPA tingkat benua memiliki pemimpin yang kompeten dan tegas. Mereka tentunya punya cara memimpin berbeda satu sama lain. Meski begitu, mereka berhasil mengamankan benuanya masing-masing.


Dua di antaranya yang cukup terkenal tentu saja Nadira dari Sinde dan Mark dari Regis. Kedua memimpin benua besar dengan ribuan agen handal serta teknologi yang terus menerus dikembangkan. Karena wilayahnya luas, tingkat kriminalitas yang terjadi pun juga sama banyaknya. Tak heran kalau kedua wilayah itu juga yang tak pernah berhenti membuat inovasi untuk mencegah terjadinya kejahatan.


Terlepas dari Sinde dan Regis, bukan rahasia pula kalau setiap cabang tingkat benua biasanya saling melihat pengembangan yang dilakukan benua lain. Hal ini, secara tidak langsung, ini membuat mereka bersaing satu sama lain. Persaingan yang sehat membuat mereka semakin berkembang. Ada beberapa kasus di mana sebuah teknologi tiruan dari benua lain justru terbukti lebih sempurna. Sayangnya, ada pula beberapa kasus di mana mereka justru saling menjegal satu sama lain.


Dengan pembagian benua yang ada, tidak seharusnya pemimpin dari luar ikut campur permasalahan sebuah benua. Ini meliputi penyelesaian kasus hingga mengambil sumber daya dari benua tersebut. Permasalahan ini hampir selalu memakan waktu terbanyak ketika rapat para pemimpin terjadi.


Ketika Zetta Sonic muncul, bersamaan dengan itu pula timbul banyak pertanyaan. Mereka berusaha mengorek informasi dari Nadira. Dalam waktu singkat Zetta Sonic dianggap sukses menekan teror yang terjadi di Sinde. Para pemimpin lain berusaha mencari tahu apa saja yang dilakukan Nadira. Seperti bagaimana mereka menciptakan formulanya, menyiapkan peralatan dan persenjataan, hingga mencari agen yang memadai.


Nadira selalu beralasan kalau Zetta Sonic belum sempurna jadi dia belum siap membagikannya dengan dunia. Biasanya alasan itu membuatnya lolos dengan mudah. Biasanya. Namun, ketika sebuah benua menghadapi masalah penjahat berteknologi tinggi, mau tidak mau si pemimpin harus mencari cara.


Hari itu, seorang pemimpin dari benua dingin memaksa Nadira membocorkan sedikit rahasianya. Ketika Nadira tetap bergeming, pemimpin itu malah meminta bila Nadira bisa meminjamkan Zetta Sonic padanya. Pertanyaan tersebut hanya mendapat desahan napas panjang oleh Nadira. Menyusul setelahnya, ada istirahat makan siang. Kalau ada yang bisa memotong rapat para pemimpin, itu adalah perut kosong.


“Kupikir kamu tidak akan semudah itu meminjamkan agenmu.” Mark Hill membuka percakapan. Pria besar itu sedang mengambil kopinya ketika Henrietta mendorong Nadira di atas kursi roda lewat di belakangnya.


“Aku?” balas Nadira. Wanita itu pun melambaikan tangan.


Henrietta pun mengangguk dan pergi. Sebagai asisten, dia hanya diizinkan mendampingi ketika makan siang bukan rapat. Dan, ketika pemimpinnya minta waktu, dia harus segera mematuhinya. Banyak hal yang sebaiknya dibicarakan oleh para pemimpin saja.

__ADS_1


Mark berbalik. Di tangannya ada cangkir putih berisi kopi hitam. Dia selalu suka kopi pahit kapan pun dan di mana pun. Terlebih kopi hitam buatan hotel ternama seperti itu. Ruangan tempat mereka rapat dan makan siang berada di lantai teratas. Ada jalur udara dan pintu rahasia yang bisa digunakan untuk berjaga-jaga. Hotel itu sendiri merupakan kolega dari ICPA.


Rapat mereka biasanya berganti tempat dari satu benua ke benua lain. Rapat selalu diadakan di tempat seperti ini. Mewah, nyaman, makanan lezat, kopi, dan -- hal terpenting -- keamanan tingkat tinggi. Jalur kabur adalah hal wajib mengingat mereka selalu diincar setiap waktu. Tempat rapat harus dinyatakan steril setidaknya satu hari sebelum dan sesudah rapat. Selama itu, setiap pemimpin bisa mengirim agennya ke area tersebut untuk alasan keamanan sekalipun jumlah yang berada dalam gedung tetap dibatasi.


Para pemimpin tetap bisa mengundang mereka untuk makan siang bersama seperti yang dilakukan Nadira. Mark juga demikian. Dia memiliki beberapa agen terpercaya di ruangan tersebut. Salah satunya pernah berkunjung ke Sinde dan bertemu langsung dengan Zetta Sonic baru-baru ini.


“Hmm… Biar kupikir sebentar. Menolak meminjamkan Zetta Sonic untuk mengatasi krisis penjahat bersenjata bom racun. Kamu pikir aku sepelit itu?” Nadira memberikan pertanyaan sebagai jawaban pertanyaan Mark. Dia tidak perlu sungguh-sungguh menjawab pertanyaan Mark tadi. Para pemimpin biasanya tahu ada penolakan di balik desahan panjangnya.


“Yang ini istimewa.” Mark meniup kopi panas, membuat asap tipisnya terbang menjauh, sebelum menyesapnya perlahan.


“Zetta Sonic? Tentu saja.” Nadira berdehem. “Dia agen terbaikku saat ini.”


“Kita perlu yang terkuat demi keamanan dunia.”


Mark mengedarkan pandangannya pada ruang makan mewah tersebut. Ada lampu gantung kristal di atas langit-langit berlukis pemandangan. Karpet tebal berornamen melapisi lantai. Pilar tinggi dengan ukiran rumit serta jendela tinggi dan tirai melambai. Ruangan itu terlihat makin luas apalagi saat ini hanya ada segelintir orang saja. Mata Mark berhenti pada seorang pria pendek berjas di ujung sana, si pemimpin dari benua dingin.


“Sekalipun harus mengambil dari yang lain?” Tak ada perubahan ekspresi di wajah Mark ketika dia bertanya dan melanjutkan. “Salah satu peneliti terbaikmu tewas baru-baru ini. Beberapa agenmu juga dinyatakan tewas oleh eksperimen yang salah. Lalu, kemunculan monster.”


“Kecuali kamu punya poin yang lain, kupikir kamu sedang mengulang laporan yang tadi kubacakan. Kamu tidak berpikir kalau aku yang membunuh mereka, bukan? Kematian selalu jadi risiko pekerjaan kita, Mark.” Nadira memicing. “Apa yang ingin kamu katakan, Mark?”

__ADS_1


“Kamu harus sangat berhati-hati dengan penelitian. Kita sulit memastikan pengembangannya. Terlebih ketika kita berhadapan dengan makhluk hidup.” Mark tersenyum. “Aku teringat ketika menjadi pengawal untuk profesor Dominic. Hutan hujan, mata air murni, suku eksotis.”


“Itu salah satu perjalanan pertamamu ketika menjadi agen. Kamu menyebutnya sebagai perjalanan yang gagal,” tebak Nadira.


“Kadang kuharap perjalanan itu tidak pernah ada.” Mark menyesap kopinya. Dia mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan sekali lagi sebelum mendarat pada Nadira lagi. “Tapi, kupikir perjalanan itu membentuk kita semua. Profesor Dominic, aku, juga putra tunggalku, Alex.”


“Kalau begitu, itu bukan perjalanan yang gagal.”


“Tidak di atas kertas.” Mark tersenyum lagi. “Boleh kuberi saran?”


Nadira tak menjawab, hanya mengangkat bahu.


Mark pun bicara lagi, “Jaga wilayah dan orang di sekitarmu baik-baik. Bukan kamu satu-satunya yang bisa masuk ke wilayah orang, Nadira. Permisi. Aku ingin menikmati makan siangku dulu.”


Mark menjauh pergi. Henrietta yang berjaga di ujung ruangan pun mendekati pemimpinnya. Dia bisa melihat bagaimana raut wajah wanita itu berubah makin cemberut. Apa pun yang diucapkan Mark padanya tidak berdampak baik.


“Sebuah ejekan?” tebak Henrietta, separuh berbisik.


“Bukan. Sebuah ancaman. Carikan aku laporan misi pertamanya di hutan hujan Kloster bersama profesor Dominic Jeremy English. Aku ingin tahu semua yang terjadi di sana.”

__ADS_1


__ADS_2