Zetta Sonic

Zetta Sonic
Flower Bouquet


__ADS_3

Alex berpikir kalau Jayden akan bertanya di mana dirinya berada saat itu. Nyatanya, pemuda itu hanya mengerjap dalam hening. Dia tidak sekalipun berusaha menoleh atau mengangkat tubuhnya padahal Alex yakin Jayden tak bisa melihatnya. Alex duduk di sofa cukup jauh dari ranjang. Dari posisinya, dia bisa melihat Jayden sadar.


Tak berapa lama, ada senyum tipis terkembang pada wajah Jayden. “Sudah lama aku enggak berada di sini, Alex.” Jayden tahu Alex ada di sana.


“Aku enggak tahu kalau operator sepertimu sering… terluka.”


Jayden mendengus geli. “Jauh lebih sering dari yang bisa kamu bayangkan.” Dia menoleh, melempar senyum lebih lebar. “Senang melihatmu baik-baik saja.”


“Kupikir aku seharusnya yang bilang begitu.” Alex bangun dari kursinya perlahan. Dia tak ingin Jayden sampai tahu kalau seluruh tubuhnya masih terasa sakit. Sekalipun tenaga Dragon Blood sudah diisi kembali dan dia telah tidur nyenyak, fisiknya tak bisa berbohong. Asalkan dia melakukannya perlahan, dia akan terlihat baik-baik saja.


“Aku ditembak lebih banyak darimu,” kata Jayden, “dan merasa ngilu lebih sering darimu.” Lagi-lagi, Jayden tahu.


“Bagaimana dengan pemancar itu?” Alex ikut tersenyum geli. Dia telah tiba di samping ranjang Jayden. Dia bisa melihat bagaimana Jayden terlihat kusut namun air wajahnya nampak lebih baik. “Kudengar itu melibatkan peluru dan tulang patah.”


“Dokter Vanessa cerita padamu?”


“Dia menjelaskannya padaku dengan banyak istilah kedokteran.” Alex mendesah. “Dia sendiri bilang kaget kalau kamu sempat menanamkan sejenis pemancar pada tulangmu, yang katanya cukup istimewa, tiada efek samping juga radiasi. Cara cerdas.”


“Sebut saja memanfaatkan kesempatan dalam kesakitan.”


“Setidaknya kamu enggak kehilangan selera humormu.” Suara lain menyusul setelah terdengar suara pintu geser pintu terbuka. Tiger menghampiri mereka, masih di atas kursi rodanya. “Padahal kukira kamu akan kehilangan selera humor payah itu bersama banyak darah.”


Di belakang Tiger, ada Emil yang mendorongkan kursi rodanya. Ada pula dokter Vanessa. Wanita menawan mengenakan setelan lembayung yang lembut, cocok dengan aroma parfum lavender yang sedang dia pakai. Rambutnya digelung sempurna ke belakang. Ini membuat anting dan kalung mutiaranya terlihat mononjol.


Emil di belakang Tiger mengangguk pelan. “Kamu kehilangan banyak darah.”


“Kamu menguras persediaan darah ICPA sampai seseorang harus mendonorkan darahnya untukmu,” sahut Tiger.


“Biar kutebak. Kamu bukan orangnya.” Jayden terkikik.


“Tentu saja bukan.” Tiger langsung tertawa.

__ADS_1


“ICPA mengambil cadangan darah dari palang merah. Bukan hal besar. Aku sempat khawatir kami akan kehilanganmu,” tambah dokter Vanessa. “Kami semua merindukanmu. Senang melihatmu kembali, Jayden.”


“Sungguh?” Jayden menoleh pada Alex.


Anak itu hanya mengangkat bahu. Kemudian, dia malah mengedarkan pandangannya sekeliling. Ruangan itu sebesar ruangan VIP rumah sakit ternama, lengkap dengan sofa serta televisi besar. Warna kuning pucat dipadukan coklat itu mengundang kenyamanan di hati Alex. Terlebih lagi dengan selamatnya Jayden.


“Lihat, dia malu.” Tiger menggoda.


Mereka pun ngobrol santai. Dokter Vanessa berpamitan duluan, meninggalkan keempat laki-laki itu di sana.


Tiger berdehem. “Cuma perasaanku atau—”


“Dokter Vanessa?” tebak Emil.


“Ya. Dia jelas-jelas akan pergi kencan,” ujar Jayden. “Sejak kapan dia suka memakai perhiasan?”


“Pertanyaannya,” kata Alex, “dengan siapa?”


Keheningan langsung melanda tanpa diduga. Dan, Tiger, yang membenci tekanan semacam itu, memecahkannya secepat keheningan itu datang. “Ayolah, itu bukan urusan kita sekalipun kita penasaran. Lagipula lebih dari selusin peneliti ICPA tertarik padanya.”


Anggukan datang bersamaan.


Jayden menambahkan. “Kalau tidak salah, dokter Vanessa punya seorang putri. Ayah anak ini memenangkan sidang perceraian dan membawa anak gadis mereka. Setelah itu, dokter Vanessa fokus pada pekerjaannya hingga bergabung dengan ICPA. Dia punya banyak kolega juga tergabung dalam forum penelitian.”


“Mengorbankan keluarganya demi pekerjaan?” gumam Alex.


“Kita tidak tahu soal itu.” Jayden tak suka komentar Alex. Dia mendapat kesan kalau anak itu sedang berusaha mencari persamaan ayahnya dengan sang dokter. “Ketika pertama kali bergabung dengan Special Force, dia terlihat tertekan. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan padamu. Kamu… pasien yang sedikit berbeda.”


“Belakangan ini sepertinya dia tahu lebih banyak.”


“Dia punya rekan. Seorang peneliti lain sekaligus teman diskusi soal kondisimu.”

__ADS_1


Ucapan Jayden membuat ketiga orang lainnya spontan melotot. Mereka tahu jelas kalau Special Force bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan bahan diskusi dengan sesama peneliti atau rekan agen. Kalau Nadira tahu soal ini, mereka jelas akan kena sanksi. Jayden sudah tahu mengenai hal ini namun malah menyembunyikannya dari yang lain.


Jayden menghela napas pelan. “Mungkin aku enggak seharusnya cerita sebelum dapat bukti lebih konkrit.”


“Lanjutkan!” pinta Tiger.


“Dominic Jeremy English. Peneliti dari Regis, terkenal jenius dan playboy. Dia beberapa kali mengirim surel pada dokter Vanessa. Awalnya kukira itu ajakan kencan berkedok acara diskusi. Ternyata, dia juga mengirim surel serupa pada profesor Otto. Sangat banyak surel, bahkan sebelum Special Force didirikan. Sepertinya, dia begitu tertarik dengan Dragon Blood. Profesor English seharusnya bertemu dokter Vanessa di Konferensi Golden Brain.”


“Bagaimana kamu tahu ini?” Tiger mengernyit. “Saat Golden Brain berlangsung, seharusnya kamu sedang diculik.”


Begitu Jayden melirik Emil, dua pasang mata yang lain pun mengikuti. Emil bergumam pelan. “Aku melakukan tugas Jayden. Memeriksa semua jalur komunikasi.”


Jayden memuji. “Kamu melakukan tugasmu dengan baik. Lebih baik mencegah penyebaran rahasia Special Force ke luar. Kita tidak tahu darimana bahaya bisa datang. Kenyataannya, setelah konferensi Golden Brain, dokter Vanessa memang berkirim surel padanya. Isinya membahas masalah kesehatan Alex.”


“Mungkin dia memang hanya ingin teman diskusi,” ujar Emil. “Dokter Vanessa mengambil beberapa saran darinya. Itu bekerja untuk Alex.”


Alex tak ingin berkomentar. Dia kembali memperhatikan sekelilingnya. Kamar rumah sakit itu ada di lantai dua. Lokasi gedungnya hampir berada di tengah kompleks markas ICPA, bisa dikategorikan cukup aman.


Berselang beberapa menit, terdengar ketukan pelan di pintu. Seorang suster masuk membawa rangkaian bunga. “Selamat siang, Jayden.”


“Selamat siang, suster.”


“Coba lihat. Ada karangan bunga cantik untuk Jayden dari agen Caitlin. Seseorang yang istimewa untukmu?”


Jayden kehilangan setiap kegirangan yang ada dalam dirinya. “Sangat istimewa.”


“Baiklah, kuletakkan di sini, ya.” Si suster tidak memperhatikan Jayden atau ketiga laki-laki lainnya. Dia meletakkan bunga tersebut pada vas kosong dekat televisi lalu meninggalkan ruangan.


“Caitlin mengirim bunga? Kukira dia masih ada di sini?” bisik Alex.


“Ini membuatku berpikir kalau dia kabur setelah Jayden selamat.” Emil mengutarakan persis seperti pikiran Alex dan Jayden. “Sayang sekali padahal dia belum sepenuhnya membersihkan nama tunangannya. Juga namanya.”

__ADS_1


Alex bertukar pandangan dengan operatornya.


Setelahnya, Jayden menarik napas dalam-dalam. “Aku punya teori yang melibatkan Caitlin dan Baron.”


__ADS_2