
Jayden tak bicara banyak di depan Camellia. Kecantikan wanita itu memang memesonanya. Tapi, Jayden berhasil bersembunyi dengan baik di balik perasaannya. Dia hanya berharap wanita itu tidak menyadarinya.
“Akan lebih menarik bicara soal dirimu,” balas Jayden.
“Apa kamu sadar betapa banyak gadis yang membicarakanmu?”
Jayden menggeleng. “Aku lebih senang kalau mereka bicara di depanku dan tidak berhubungan dengan kriminal.” Jayden berusaha agar tak membuat banyak ekspresi. Dia pernah dengar ucapan seperti itu sebelumnya di markas ICPA. “Jadi, bisakah kita langsung saja? Apa yang sebenarnya kalian mau dariku? Siapa orang di balik Roban, siapa Mr. X ini?”
Camellia terkikik. “Kamu tak suka basa basi, ya.”
“Tergantung siapa lawan bicaraku.”
“Mr. X, ya? Sebenarnya nama itu cukup cocok untuknya.”
“Seorang laki-laki kaya. Umurnya mungkin sekitar empat puluh atau lima puluhan. Cukup tamak, semaunya sendiri, penggemar kekerasan, cinta uang. Misterius. Sangat menyebalkan.” Jayden membuat tebakannya. “Apa aku benar?”
“Kamu sangat menarik, Jayden. Sayangnya, aku tidak perlu menjawab apakah itu benar atau salah. Kecuali, bagian menyebalkan, aku harus bilang cukup setuju.”
“Lihat? Kita mulai cocok. Jadi, apa yang kalian mau dari aku?”
“Jujur saja, aku tidak tahu.”
“Kalau begitu, keluarkan aku dari sini.”
Gadis itu mengedikkan bahu. “Aku memang tidak tahu apa yang dia mau darimu. Tapi, aku harus melakukan tugasku. Mr. X ini mengirimku untuk bicara denganmu. Ini lebih soal kemampuanmu daripada Jason.”
Jayden mengernyit. Lagi-lagi, gadis itu mengulang nama Jason. Seharusnya adiknya tak ada hubungannya. Kenapa Camellia bilang kalau Jason bisa menyeretnya dalam masalah lagi? Nadira tahu masa lalunya. Dia tidak perlu khawatir soal itu. Atau, mungkinkah kalau Camellia bicara soal Jason yang lain?
“Seingatku, kalian merusak drone buatanku.” Jayden bicara soal drone yang dia buat sekarang.
__ADS_1
“Oh, itu? Ya, ya.” Camellia justru kelihatan terkejut kali ini.
Respon tersebut membuat Jayden sadar benar kalau bukan drone yang dimaksud Camellia. Tapi, Jason yang asli tidak mungkin terlibat penculikannya. Dia diculik di depan Alex, si Zetta Sonic. Meski tak bisa dijelaskan, Jayden merasa dia mulai mendapat titik awal untuk mencerna segalanya.
“Baik, jadi seperti dugaanmu tadi. Mr. X memang butuh bantuanmu,” lanjut Camellia. Sikap basa basinya lenyap entah ke mana. Dia juga tak lagi menyinggung nama Jason, malah menggunakan sebutan Mr. X yang dikarang Jayden. “Ada tempat di bawah laut yang perlu kamu lacak.”
“Harta terpendam bajak laut?”
Camellia menggeleng. Kuncir ekor kudanya ikut bergerak seirama dengan gelengan kepalanya. “Romansa para pria, eh? Sayangnya bukan. Ada tempat di dalam laut, kemungkinan besar ada di tepi tebing. Sebuah tempat tersembunyi. Terhalang dari mata manusia. Kamu harus menemukan di mana koordinat persisnya.”
“Tempat seperti apa?”
“Sejenis bunker bawah laut.”
“Apa isinya?” Jayden bertanya sambil berusaha menerka. Sejauh ingatannya, ICPA juga punya cukup banyak rahasia di bawah laut. Mulai dari markas rahasia, pertambangan minyak pribadi, sampai penyimpanan senjata.
Di luar dugaan Jayden, Camellia hanya angkat bahu. “Kuharap aku tahu.”
“Negatif, agen Jayden.” Camellia menirukan apa yang biasa Jayden dengar. “Kami membutuhkan bantuanmu dan kamu membutuhkan bantuanku.”
“Tidak. Kamu tidak butuh bantuanku. Jadi, bagaimana kalau kamu bicara pada Mr. X agar dia mau melepaskanku dan kalian semua tidak akan masuk penjara? Atasanku cukup baik dengan penjahat yang bertobat.”
“Dia lebih mencintai kekerasan daripada Mr. X.”
Jayden berhenti memainkan kursinya. Dia menyilangkan kaki. Matanya menelisik wajah Camellia. Semua yang dia dengar dari Camellia kini terdengar lebih seperti potongan-potongan petunjuk daripada perintah.
Camellia pun berdiri, berjalan melintasi Jayden, langsung ke meja komputer. Di sana, dia mengutak-atik sesuatu. Dalam sekejap, layarnya pun berubah. Ada sebuah artikel terpampang di sana. Asalnya dari sebuah situs konspirasi yang kini sudah ditutup. Isinya mengenai rudal yang disembunyikan di bawah laut.
“Temukan ini dan kamu akan ditemukan,” kata Camellia.
__ADS_1
“Itu palsu,” sahut Jayden.
“Kamu bilang itu palsu karena kamu orang yang berhasil meretas situs tempat artikel ini dimuat. Nadira cukup tajam, ya. Aku penasaran apa kamu setajam dirinya juga.” Camellia tersenyum simpul. “Rudal ini asli, kujamin. Mr. X menginginkannya dari orang yang salah.”
Jayden menangkap kesan kalau Camellia ingin memberi tahu bila Mr. X memesan rudal. Namun, karena satu dan lain hal, si pembuat tidak menyerahkan rudal tersebut malah menyimpannya di bawah laut. Kini, dia membutuhkan bantuan Jayden untuk menemukan barang yang seharusnya jadi miliknya.
“Kalau aku menemukannya, Mr. X akan memakainya untuk membunuh orang banyak.”
“Kalau kamu tidak berhasil menemukannya, Mr. X akan membunuhmu lalu mencari orang lain untuk menemukannya. Sayangnya, harus diakui, tidak banyak yang punya kemampuan seperti dirimu.”
“Kuanggap itu pujian.”
“Itu memang pujian.” Camellia melangkah maju sementara Jayden refleks menarik dirinya mundur dengar kursi putar tersebut. “Mr. X menyiapkan uang dalam jumlah besar. Jauh lebih besar daripada upah yang bisa kamu terima dari ICPA selama setahun. Setelah kamu menemukannya, Mr. X akan membebaskanmu. Kami akan mengatur skenario agar semua terlihat seperti penculikan biasa dengan tebusan. Kamu bisa kembali ke kehidupanmu yang biasa dan tidak ada yang terluka. Semua berakhir baik, bukan?”
Giliran Jayden tertawa. “Tidak ada jaminan semua akan berakhir sebaik itu.”
“Mr. X berbeda dari penjahat lain.” Tatapan Camellia berubah dingin. Ada sedikit tekanan pada setiap ucapannya tadi yang langsung lenyap pada kalimat berikutnya. “Percayalah, kamu tidak mau mengecewakannya.”
“Ayolah. Kenapa menurutmu aku mau melakukannya? Kalian tidak bisa mengancam nyawaku. Kalau kalian membutuhkanku, kalian tidak bisa membunuhku.”
“Tepat. Kalau kami benar membutuhkanmu.” Camellia menatap Jayden lekat seolah ingin menekankan kalau apa yang dia ucapkan kali ini benar-benar serius. Tentu saja itu berhasil. Jayden mengerjap ketika mendengarnya. Berikutnya, sikap Camellia berubah santai seperti biasa. “Perlu kuberitahukan padamu, Jayden, kami punya sandera.”
Jayden tergelak. “Aku enggak ingat punya teman yang bisa kalian sandera.”
“Sayangnya, itu benar.” Camellia mendesah.
Jayden bisa merasakan jantungnya mulai berdebar ketika Camellia mengambil ponsel dan mulai mengetikkan sesuatu di sana. Separuh dirinya berharap Camellia akan menunjukkan gambar Jason, adiknya, pada layar ponsel. Separuh lagi tak tahu harus berharap apa. Jayden sama sekali tidak punya bayangan soal sandera.
“Lakukan untuk mereka, Jayden.” Camellia memutar ponsel ke arah Jayden.
__ADS_1
Suara dari ponsel itu didominasi raungan keras, deru mesin, dan deburan ombak. Gambar di ponsel itu membuat bola matanya membesar. Jayden tak pernah mengira harus meretas sistem demi jadi pahlawan. Seharusnya, Alex pahlawannya bukan dia. Sementara dia? Dia seharusnya tak lebih dari pemeran pembantu atau justru biang masalah.
“Dengar, Jayden,” kata Camellia, “bagaimana pun caranya, Mr. X akan mendapatkan apa yang dia mau. Jadi, pakai otakmu!”