Zetta Sonic

Zetta Sonic
Last Gift


__ADS_3

Alex bersiap di lintasan lebar. Tempat itu terasa terlalu luas dan sepi. Tidak ada Emil apalagi Jayden. Dia hanya ditemani Fergus dan Tiger. Mereka telah membantu Alex bersiap sebelumnya. Mulai dari senjata hingga peralatan lainny.


Mobil Alex telah disiapkan. Sebuah SUV hitam legam dengan aksen garis hijau. Ada mobil-mobil lain terparkir rapi pada sisi kanan dan kiri lintasan. Ada pula peralatan lengkap seperti yang ada di bengkel, tapi ini lebih lengkap. Namun, tak ada orang selain mereka. Fergus sepertinya ingin Zetta Sonic mendapat privasi. Dalam artian lain, rahasia.


“Kamu tidak perlu benar-benar mengalahkannya sendirian,” ujar Fergus. “Ada agen bersiap dengan pesawat tempur juga akan ada penembak jitu.”


Alex teringat jelas pada pertarungannya dengan Rando beberapa saat lalu. Agen ICPA lain sepertinya tidak akan jadi bantuan melainkan beban baginya. Orang luar hanya akan jadi mangsa empuk bagi Damon. Kalau Alex harus menolong orang lagi sebelum berhadapan dengan Damon, itu jelas akan menyusahkannya. Dia pun menggeleng.


“Kupikir akan lebih baik kalau aku sendirian. Damon enggak akan segan-segan menyerang orang lain yang ikut campur,” katanya.


Tiger setuju. “Masuk akal. Dia bahkan sudah punya sandera banyak saat ini.”


“Memang benar. Tapi, aku akan tetap mengirim agen-agen untuk berjaga di area sekitar. Kita tetap butuh mereka seandainya terjadi hal tidak diinginkan. Dan, ya, para sandera itu harus segera dibebaskan.” Fergus melirik drone yang sudah lebih dulu ada di dalam mobil. Drone itu sedang tertidur nyaman di jok penumpang depan. “Lagipula, kupikir kamu enggak benar-benar sendirian.


“Jason bagian dari tim.” Alex tersenyum di balik helm seragam tempur yang telah ia kenakan kembali. Fergus tak perlu melihatnya.


“Mungkin hanya Jason yang akan bersamamu di lapangan hari ini tapi dia bukan satu-satunya.” Tiger melempar pandangannya pada Fergus.


Alex menangkap arti ucapan tersebut dengan cepat. “Aku tahu,” katanya, “ada orang-orang yang berjaga di belakang layar. Kamu dan Fergus akan jadi operator untukku. Itu sebuah kehormatan.”


Fergus berdehem. “Aku jelas tidak bisa membiarkan wajahmu terlihat oleh agen lain. Terlalu berisiko. Bukan begitu? Aku juga tidak bisa membiarkanmu berjuang sendiri. Selalu baik menyiapkan mata di atas langit.”


Alex mengangkat bahu. Situasinya rumit. Selalu begitu. Dirinya pun berbalik menghadap ke mobil.


“Hei, bocah. Kamu berpikir kami akan membiarkanmu pergi begitu saja?”

__ADS_1


Alex berbalik pada Tiger dan Fergus lagi. “Apa maksudmu?”


Tiger terkekeh. Dia melemparkan sesuatu yang ditangkap Alex dengan mudah. Alex mengernyit ketika benda tersebut nampak di bawah cahaya lampu terang. Benda tersebut hanya benda logam berbentuk persegi mungil. Ukurannya hampir sama persis dengan satu ruas jarinya. Warnanya hijau terang dengan garis-garis rumit yang mengingatkan Alex pada rangkaian sirkuit.


“Kejutan apa lagi ini?” Alex bertanya selagi tangannya membolak balik benda tipis tersebut. “Apa ini seharusnya ditempelkan pada Zet-Arm?”


Begitu Alex mendekatkan benda tersebut pada gelang di tangannya, benda itu pun menempel seolah ada magnet kuat di sana. Lebih tepatnya, benda itu menempel pada bagian pergelangan dalam. Ukurannya memang sangat pas dengan ukuran Zet-Arm. Alex menyadari kalau tak mendapat perbedaan ketebalan sama sekali di sana. Seolah benda tersebut meresap masuk di dalam gelang Zet-Arm itu sendiri.


“Itu dari Jayden,” ujar Fergus.


Alex mengerjap tak percaya. Tiger terkekeh lagi.


Fergus tersenyum. Dia bisa melihat gelagat kebingungan Alez di balik seragam tempur. “Jayden membuatkanmu perisai. Sayangnya, benda itu belum benar-benar selesai saat dia menghilang. Emil berusaha menyelesaikannya. Dan… Ya, kamu tahu.”


“Benar. Dia ahli mengelola data, memastikan data mana yang asli dan bukan.” Fergus kembali pada Alex. “Jadi, sampai di mana tadi? Oh, ya. Emil menunjukkan chip itu padaku. Aku mengirimkannya pada bagian teknisi. Mereka membantu menyempurnakannya. Jujur saja, aku tidak tahu seperti apa perisai yang dimaksud Jayden tapi seharusnya itu cukup.”


Tiger membusungkan dada seolah dia yang membuatnya. “Dia bahkan bisa menahan ledakan bom dan bazooka. Hanya tinggal memberi perintah dari otakmu saja.”


Alex mengamati chip hijau yang telah terpasang tersebut. Seolah memahami apa yang dia inginkan, data pun muncul pada layar helm di hadapannya. Dia melihat angka, beberapa indikator, dan juga perisai hijau bening bentuk segilima yang sepertinya bisa diatur besar kecilnya.


Fergus melipat tangannya di depan dada. “Sebenarnya,” katanya sedikit ragu, “aku enggak benar-benar ingin kamu menggunakannya. Begini—”


“Belum lulus uji coba?” sahut Alex. “Jangan cemas, aku sudah biasa dengan barang-barang yang baru keluar dari oven.”


Fergus spontan melongo dengan tebakan Alex.

__ADS_1


Tiger pun tertawa terbahak-bahak karenanya. “Sudah kubilang, ‘kan? Bocah ini punya insting yang tajam.”


Fergus hanya mengangguk sambil tersenyum simpul.


“Selesaikan Damon dengan cepat, bocah. Masih ada misi lain menunggumu,” ujar Tiger sebelum Alex berbalik. Dia tak perlu menjelaskannya. Alex sudah paham. Dia masih harus ke lokasi yang ditunjukkan si robot lebah.


Alex mengangguk sekali lalu melangkah ke mobil. Hatinya terasa sedikit lebih ringan. Mungkin dia bisa mempercayakan pencarian Jayden pada Caitlin lebih dulu. Seharusnya gadis itu bisa mencegah agar Jayden tidak berpindah tempat lagi.


Tidak! Alex menggelengkan kepala. Dia belum bisa mempercayai Caitlin. Dia lebih setuju dengan ucapan Tiger. Dia harus segera menyelesaikan pertarungannya dengna Damon. Semakin cepat, semakin baik. Dia harus merebut kembali apa yang telah direbut Roban darinya. Dia tahu tidak akan puas sampai menunjukkan kalau dirinya juga kompeten. Pembuktian pada Caitlin, Roban, juga dirinya sendiri.


Alex menyalakan mesin. Mobil itu pun melaju kencang di atas lintasan, melewati pintu gerbang otomatis yang disamarkan dalam gedung terbengkalai, menuju ke tengah kota yang masih ramai.


Jauh di belakang, di markas ICPA, Tiger melirik Fergus. “Jadi? Kamu sudah tahu banyak soal Alex. Dari Nadira?”


Fergus terlihat enggan menjawab. Dia malah mengedikkan bahu. “Selalu ada jalur untuk mendapat informasi saat kamu berada di posisi pimpinan.”


“Dokter Vanessa? Emil?” Tiger terus menebak. “Akan jadi lucu sekali kalau kamu ternyata suami dokter Vanessa atau ayah Emil.”


“Paman.”


“Tunggu! Apa?” Tiger tak percaya apa yang baru saja dia dengar.


“Sepertinya kamu juga punya insting yang cukup kuat. Aku paman Emil.” Fergus melempar senyum simpul. “Melihatmu melongo begitu, aku cukup yakin kami enggak mirip.” Fergus akhirnya malah tertawa. “Jadi? Bagaimana dengan Alex? Mirip seperti ayahnya?”


Tiger pun terkekeh. “Kamu bercanda? Dia lebih baik dari ayahnya.”

__ADS_1


__ADS_2