
“Rando?” Alex menyebutkan nama lawannya dengan tepat.
Lawannya tidak menjawab, tentu saja. Seingat Alex, Rando yang dia temui di pabrik pengalengan ikan adalah sosok yang jago berkelahi. Sangat jago sampai Alex berharap tak bertemu dengannya lagi. Memiliki sepasang tangan besi dalam arti sesungguhnya juga rambut gondrong. Sama seperti saat itu juga, peringatan singkat muncul pada tampilan layarnya : BERBAHAYA.
“Sayang sekali, aku tidak punya banyak waktu.”
Rando memang terlihat sekali tak ingin bicara dengan lawannya. Pria itu berlari menuju kotak yang terjatuh di antara mereka. Alex, entah bagaimana, tahu jelas kalau harus mengambil kotak itu darinya. Perebutan pun terjadi.
Rando mengayunkan kakinya begitu Alex mendekat. Bocah itu telah siap. Dia menahan tendangan tersebut dengan kedua tangannya. Sejak rutin berlatih, Alex sadar kini memiliki refleks jauh lebih baik. Selain itu, dia juga bisa membuat pertahanan dengan lebih baik. Serangan Rando tak membuatnya terhempas. Lawannya nampak terkejut. Bola matanya terbelalak menyadari kalau Zetta Sonic telah berkembang jauh lebih baik dari dugaannya.
Alex mengulurkan tangan demi meraih kotak. Tentu saja, itu tidak semudah kelihatannya. Rando yang tadinya menendang dengan kaki kanan malah berputar. Sementara Alex kehilangan separuh pertahanannya karena mengulurkan sebelah tangan. Tendangan berputar Rando mengenai kepala Alex. Kalau bukan karena seragam tempur, dia pasti telah kehilangan kesadarannya, bahkan lebih buruk dari itu. Untungnya, Alex hanya terjerembab ke belakang akibat serangan tersebut.
Selagi Alex berusaha memulihkan diri, Rando telah mengambil kembali kotaknya.
Alex tak membiarkannya. Menggunakan kedua tangannya, Alex menghentak dirinya. Badannya terlontar di udara, kakinya berhasil mengenai punggung lawan yang hendak kabur. Rando memang tidak sampai terjatuh. Dia hanya oleng sedikit lalu melanjutkan berlari. Alex tak memberi kesempatan. Kali ini, dia menghentakkan kaki ke tanah untuk menerjang lawan. Tangannya berhasil menggapai Rando, membuat mereka berdua jatuh ke tanah, dan — lagi-lagi — menyebabkan kotaknya kembali terlempar.
Sesuatu berkilau dalam gelap. Jaraknya begitu dekat dengan kepala Alex. Dia memang tak bisa mengenali benda apa itu, tapi sistemnya bisa. Sebuah pisau. Rando telah menggenggam sebuah pisau. Entah bagaimana, dia berhasil menggores lengan kanan Alex.
[Mundur! Itu beracun!] Peringatan Emil datang sedikit terlambat.
Alex sempat berniat protes. Dirinya mengenakan seragam. Racun tidak akan mampu menyentuhnya, kecuali kalau racun itu bisa menembus seragamnya. Kemudian, Alex menyadari kalau racun itu memang bukan untuknya. Racun itu untuk seragamnya. Dia melihat bekas yang tergores mulai mendesis. Apa pun racun yang dioleskan di sana berhasil membuat seragamnya meleleh.
Berikutnya, sesuatu memelesat di udara. Alex mengenalinya. Peluru ICPA. Tiger telah datang dan memberi bantuan. Rando menahan tembakan itu dengan tangannya dan segera saja ada ledakan kecil. Peluru itu pasti tidak berhasil melukainya karena Alex bisa mendengar suaranya dalam kepulan asap.
“Aku terkesan. “Kita akan bertemu lagi, Zetta Sonic. Pasti.”
Alex mengedarkan pandangan namun lawannya telah lenyap entah ke mana, begitu juga dengan kotak tadi. Sistem dalam helmnya pun tak berhasil mendeteksi ke mana sosok itu pergi. Alex melangkah, mendatangi tempat kotak tadi terjatuh dan berdecak kesal. Namun, kekesalannya tak bertahan lama. Dia melihat bekas cairan merah di tanah.
Tiger berlari ke samping Alex. Awalnya, dia hanya memicing. Setelah menyadari kalau cairan itu meletup-letup di tanah, dia pun berjongkok agar dapat penglihatan lebih baik. Cairan tersebut bak lava gunung merapi, hanya saja lebih cair dan kecil.
__ADS_1
“Itu bukan darah, ‘kan?” Alex bertanya, memastikan kecurigaannya.
Jason si drone melayang mendekat dan turun. Bersamaan dengan itu, suara Emil pun terdengar. [Akan kuambil sampel.]
“Itu jelas bukan darah Rando,” ujar Tiger.
“Kalau begitu, mungkin itu apa yang ada di dalam kotak.”
Tiger bergumam. Tidak berniat menjawab. Pria besar itu malah sudah berbalik. “Ayo, kembali.”
Alex menyempatkan dirinya melirik ke belakang sekali lagi. Si drone turun mendekat. Ada sebuah capit mungil dan tongkat mungil berbalut sejenis kapas. Meski tak membicarakannya dengan Tiger, Alex paham kalau hal semacam itu bukan berita bagus, baik bagi ICPA maupun dunia.
Dalam perjalanan pulang, Alex memilih tak banyak bicara. Begitu pula Tiger. Satu-satunya yang membuat mereka ngobrol adalah suara denting beruntun. Alex spontan menoleh ke belakang sementara Tiger melirik melalui kaca spion.
Tanpa diminta, Emil pun bicara. Hanya satu kata. “Wow.”
“Keduanya.” Emil menarik kakinya dan duduk bersila di atas mobil. Matanya terpaku pada layar laptop dalam pangkuan. Apa yang dilihatnya berhasil membuatnya terus terpaku. “Ini penemuan besar. Nadira akan suka. Juga kesal.”
Alex menyipit. Dia berhasil melihat sebuah benda persegi yang menancap di tepi laptop. Dia mengenalinya. Itu flash drive buatan ICPA. Benda yang pernah dilihatnya di kantor ayah juga benda yang berhasil dia dapatkan ketika berada di markas bawah air. Sepertinya Emil berhasil membongkar apa isinya.
“Konspirasi?” tebak Alex.
“Salah satunya.”
“Jadi, kita akan mengungkap banyak rencana jahat?”
“Mungkin. Menghentikan itu satu hal. Menyelesaikan itu hal lain.”
“Apa maksudmu? Kamu menemukan bukti?”
__ADS_1
“Sangat. Banyak. Bukti. Ada beberapa bukti yang bisa menyelesaikan beberapa kasus. Memberi alasan untuk menangkap beberapa orang. Mayoritas kasus korupsi. Juga menambah masa hukuman pada Nikola. Money laundry.”
Tiger langsung terkekeh. “Nadira akan suka itu.”
“Dia enggak akan suka ini.” Emil sekarang melempar tatapannya pada Alex. “Data lengkap para anggota Special Force.”
“Jangan bilang kalau penculik Jayden punya data—”
“Ya. Kita semua. Jayden Garnet. Emil Morgan Reed. Eugene Demarco. Caitlin Daniels. Otto Wilson. Vanessa Lilly. Dan, Alexander Hill.”
Alex merasakan napasnya tertahan. Dia tahu kalau rahasianya bisa saja terungkap. Dengan pengamanan ketat ICPA, dia mengira mungkin butuh setidaknya sepuluh tahun sampai hal itu terjadi. Dia tidak pernah mengira kalau rahasianya akan terbongkar secepat itu. Kemudian, dia menyadari hal lain. “Tunggu. Eugene? Namamu Eugene?”
“Diam, bocah!” Tiger menggeram.
“Itu nama yang bagus. Jangan tersinggung.”
“Mungkin buatmu.”
Alex tak melanjutkan.
Tiger kembali pada Emil. “Seseorang berhasil menyusup ke ICPA dan mendapatkan semua data kita, huh? Bukannya Nadira baru membuka keberadaan Zetta Sonic ke ICPA yang lain? Bagaimana datanya bisa bocor secepat itu? Sejak kapan penyusup itu masuk?”
Emil terdiam.
Alex justru punya dugaan. “Ada satu orang yang dulu bersama-sama dengan kita.”
“Tidak!” Tiger menyahut, menolak pikiran Alex bahkan sebelum anak itu selesai bicara. “Aku percaya dia tidak terlibat. Dia agen yang baik.”
“Bagaimana kamu tahu? Kita tidak bisa menebak isi hati orang, kan? Lagipula dia punya motif. Dia asisten profesor Otto, seorang agen yang terlatih, dan dia membenciku. Justru itu membuatnya makin mencurigakan. Aku yakin Caitlin terlibat dalam penculikan Jayden.”
__ADS_1