
Di dalam ruang tertutup seperti itu, satu jam bahkan bisa terasa seperti bertahun-tahun lamanya. Alex merasa bosan. Dia bahkan sudah bosan mengutak-atik drone yang ikut dengannya sejak kekacauan di dermaga itu terjadi. Jason, si drone, terus aktif. Dia menempel pada langit-langit ruangan, memantau perkembangan, sampai Alex memanggilnya. Alex sendiri penasaran bagaimana sesungguhnya cara kerja drone tersebut. Mulai dari sumber energinya sampai sistem komunikasinya. Sayangnya, Alex tak memiliki alat untuk membongkarnya saat ini.
Pemandangan di luar jendela berangsur berubah. Kalau awalnya hitam, sekarang ada gradasi warna kelabu di sana. Alex merasakannya. Kapal selam mereka mulai naik ke permukaan. Dan, benar saja. Tak lama kemudian, Amigo datang kembali.
“Kamu sebaiknya mengganti pengikatnya,” kata Amigo pada Gavin. Telunjuknya menunjuk borgol pada tangan Alex. “Kita hampir sampai.”
“Aku tahu.” Gavin melirik Alex yang menghindari tatapannya.
“Aku juga membawakan baju ganti.” Amigo melemparkan tas kantong kain. “Kutunggu di luar lima menit lagi.” Pria itu pun meninggalkan ruangan.
Gavin mendatangi Alex. Dia memberikan kaos hitam lengan panjang berikut celana panjang yang ada di dalam kantong. “Bukan pakaian desainer tapi ini seharusnya cukup hangat. Ngomong-ngomong, kalau kamu bersikap baik, kupikir aku enggak perlu memborgolmu.”
“Aku enggak berani jamin.” Alex jujur. Matanya mengawasi borgol di tangannya. “Tapi, aku bisa memberitahumu kalau aku merasa aneh.”
“Seperti apa? Haus darah?”
“Mungkin?” Alex memberikan jawaban yang lebih terdengar sebagai pertanyaan.
“Baiklah. Kupikir itu cukup aman.”
Lima menit selanjutnya, Alex sudah tak lagi terborgol. Dia sudah berganti pakaian dan membawa ransel dari bahan parasut warna hijau gelap seperti Gavin. Kata Amigo, ransel itu berisi makanan dan perlengkapan yang mereka butuhkan. Alex tak mendengarkan detailnya.
Amigo membuka katup kapal selam di tepi jembatan kayu sederhana. Di sana ada sebuah kapal motor kecil dengan seorang pria bertopi lebar.
__ADS_1
Alex tak bertanya meski ada banyak sekali tersimpan dalam benaknya. Amigo menghilang bersama kapal selamnya dalam permukaan air. Si pria bertopi lebar menyalakan mesin kapal sesudah bicara dengan Gavin. Mereka berbisik-bisik seolah tak ingin Alex mendengarnya. Setelahnya, kapal tersebut melaju.
Satu hal yang dipahami Alex adalah dia tak tahu keberadaannya. Mereka sedang meluncur mulus meninggalkan laut. Karang-karang curam terjal membentang di sisi kanan dan kiri. Bagian atasnya menjorok masuk seolah ingin menutupi langit melihat apa yang ada di bawah. Suasananya mirip dengan melintas dalam terowongan di siang hari. Bedanya, itu bukan terowongan di tengah kota dan Alex tidak berada di dalam mobil.
Semakin jauh mereka melaju, semakin erat Alex mendekat Jason. Hanya drone tersebut penghubung pada dunia yang dia kenal. Selain itu, Alex tak mengenal siapa pun. Dia bahkan tak tahu bila Gavin berniat buruk atau tidak.
Gavin duduk di seberang Alex. Kapal itu punya kursi penumpang saling berhadapan di bawah naungan sederhana atap plastik. Deru mesin kapal dan cipratan air melenyapkan keinginan ngobrol. Sesekali Gavin melirik Alex tanpa bicara. Dia mengambil rokok lalu mulai menghisapnya. Perbuatan itu memancing kerutan di dahi Alex tetapi Gavin tak peduli. Kondisi meresahkan itu pemicunya.
Alex paham. “Kamu tidak pernah ke sana?” tanya Alex, separuh berteriak.
“Tempat ini seperti rumor belaka.” Gavin membalas lalu membuat kepulan asap berbentuk donat. “Bukan tempat yang ingin dikunjungi untuk liburan,” imbuhnya.
Alex mengedarkan pandangan. Situasi sekelilingnya makin suram. Tebing bagian atas merapat dengan tebing di bagian seberang seolah ingin menghimpit mereka. Alex mengamati tepi-tepinya. Dia menyadari adanya ukiran samar yang diukir pada tepi tebing tersebut. Bentuknya seperti alfabet namun bukan alfabet yang biasa dia ketahui.
Entah karena situasi atau memang perubahan suhu, Alex mulai menggigil. Segera saja dia menyadari kalau mereka tidak sendirian. Dari ujung tebing, dia bisa melihat pergerakan. Seseorang atau sesuatu memantau mereka. Apa pun itu, dia bergerak cepat, menerobos pepohonan lalu lenyap.
“Kamu lihat itu?” tanya Alex gusar.
Gavin mengangguk. Dia tak bisa mendengar pertanyaan Alex dengan jelas namun bisa menangkap maksudnya. Dia sendiri tahu kalau mereka diawasi. Pelakunya jelas. Salah seorang anggota suku Kloster. Gavin membuang rokoknya. Sebagai ganti, dia berdiri lalu mengambil pistol.
Jason mulai mengudara. Dia melayang pelan di dekat kepala Alex. Mata tunggalnya berputar memeriksa kondisi sekeliling. Alex perlahan ikut berdiri.
Tahu-tahu saja pengemudi kapal merintih pendek sebelum jatuh ke lantai dengan suara keras. Kapal kecil mereka berjalan tanpa arah. Untung saja mereka melintas pada jalur sungai yang lurus.
__ADS_1
Ada suara-suara pekik dari berbagai sisi. Juga dentuman serta tabuhan gendang. Tempat itu cukup membuat Alex bergidik ngeri. Dia tak tahu di mana dia berada lagi. Dia juga tak memahami apa pekikan itu. Dia terlebih tak tahu apa yang menanti mereka di ujung sana, suku kanibal pedalaman atau kelompok pembunuh profesional.
“Kami datang dalam damai.” Gavin berteriak sekencang mungkin untuk mengatasi deru mesin kapal juga pekikan yang entah dari mana asalnya. Dia juga mengangkat kedua tangannya. “Aku akan matikan mesin kapal supaya kita bisa bicara.”
Gavin mengambil satu langkah maju lalu berhenti. Matanya melirik ke berbagai sisi, memastikan kalau dia tidak akan diserang seperti pengemudi kapal. Memang tidak ada serangan.
“Jaga drone itu!” pinta Gavin. “Jangan sampai dia melepas tembakan.”
“Ada apa ini?”
“Sambutan hangat. Atau panas. Tergantung bagaimana kamu melihatnya.”
Alex menelan ludah. Itu tidak mudah. Dia bahkan tidak tahu bagaimana cara memberi perintah Jason. Jadi, dia mulai melambai-lambaikan tangan hingga si drone menoleh padanya. “Turn off,” katanya, mencoba salah satu perintah suara.
Bukannya menurut, Jason malah mengabaikan Alex untuk kembali mengawasi. Lebih buruk, Jason mengudara lebih tinggi.
Alex pun melambaikan tangan lagi sembari memanggil. Otaknya memikirkan perintah suara lain. Kini, pilihannya hanya dua. Menonaktifkan drone itu atau memegangi drone agar tak berbuat seenaknya.
Gavin melanjutkan langkahnya ke sisi kemudi kapal. Si pengemudi tergeletak di dekat kakinya dengan panah menancap di leher. Mengabaikannya, Gavin segera mematikan mesin kapal. Ini membuat kapal mereka mulai melambat. Kondisinya mendadak hening karena pekikan itu pun ikut berhenti.
Alex bersyukur itu terjadi tepat dia berhasil menggapai Jason. Seolah bicara pada hewan atau bayi, Alex berbisik pada drone dalam dekapannya. “Jangan menembak! Situasi ini sudah cukup rumit, oke?”
Gavin meletakkan pistolnya di atas panel kemudi kapal lalu mundur selangkah. “Kami datang dari ICPA Regis. Kami tidak berniat jahat. Kami hanya perlu bicara dengan kepala suku. Anak yang bersamaku ini membutuhkan bantuannya. Bantu kami dan itu akan membantu kalian juga.”
__ADS_1