
Tidak sampai setengah jam setelah pembicaraan tersebut berakhir, Tiger datang ke kamar Alex dengan kandang besi besar berisi rottweiler hitam. Si anjing mengenali tuannya dan menyalak girang sambil menggoyangkan ekor. Ketika dia berpaling pada Jayden atau Tiger, si anjing menggeram.
Alex bergerak duduk di ranjangnya. Dia tak bisa menahan senyum melihat sosok yang dia kenali berada di sana. “Kalian enggak akan melepaskannya?”
Tiger melipat tangannya ke depan dada. “Kamu tahu, nak? Ini pekerjaan paling memalukan seumur hidupku. Menculik seekor anjing.”
“Kamu menggunakan peluru bius atau sengatan listrik?”
“Kamu lebih baik tidak tahu.” Tiger membungkuk ke pintu kandang. “Dengar anjing nakal, kalau kamu menggigitku, akan kutembak.”
Alex tersenyum. Perlahan, dirinya turun meski harus berpegangan ke ranjang. Begitu Rover mendapatkan kebebasan, Rover menghampiri Alex. Namun, langkahnya berhenti. Hidungnya mengendus berulang kali seolah ingin memastikan apakah Alex sungguh tuannya atau bukan.
“Dia mencium sesuatu yang enggak wajar.” Tiger memicingkan mata. Tangannya bersiap meraih pistol yang tadi dia sempat gunakan untuk melumpuhkan Rover.
Jayden mengerucutkan bibir. “Sebenarnya, itu wajar. Salahkan Dragon Blood.”
Alex perlahan duduk di lantai. Dia menunggu anjing kesayangannya mendekat lagi. Ketika sudah cukup dekat, Rover menyalak lagi sambil menggoyangkan ekor, lalu mulai menjilati sang majikan. Alex sebenarnya tidak suka itu, khusus kali ini, dia membiarkannya.
“Baik. Sekarang, duduk!” pinta Alex. Rover menyalak sekali lalu duduk sesuai perintah. Alex mengusap kepala si anjing. Rover malah meletakkan kepalanya di atas paha majikannya. “Dasar anjing manja!”
Tiger menggeram pelan. “Bocah laki-laki dan anjingnya.”
Jayden menyenggol pelan bahu Tiger, “Lihat sisi baiknya, tidak ada yang digigit.”
Alex hanya diberikan kesempatan sepuluh menit untuk bermain dengan Rover. Berikutnya, dokter Vanessa datang. Dia memberikan perkenalan singkat sebelum membawa Alex dalam kapsul ke ruang generator. Rover ikut pergi ke dalam kandang besi. Jayden tak mau sampai ruangan mereka rusak untuk ketiga kalinya.
Kali ini, tak ada Nadira di sana. Dia sedang rapat dengan para pemimpin lainnya. Dokter Vanessa, Tiger, dan Rover melihat dari ruang pengawas di lantai atasnya. Di ruang kontrol, hanya ada Professor Otto, Caitlin, juga Jayden. Pengisian daya kali ini seharusnya berjalan lancar. Itu memang terjadi. Prosesnya berjalan selama tiga puluh menit. Tidak ada masalah kelebihan kapasitas, percikan api, atau ledakan. Semuanya berjalan lancar.
Mungkin, terlalu lancar.
__ADS_1
Alex sendiri tak ingat apa-apa lagi setelah dia dimasukkan dalam kapsul. Dia hanya tahu setelah kembali ke ruangannya. Dirinya terbangun oleh suasana yang sama. Ruangan serba putih, lampu garis hijau, juga senyuman simpul Jayden. Kali ini, ada tambahan suara anjing. Rover di sana, menyadari kalau tuannya telah bangun.
“Dia menunggumu,” ujar Jayden.
“Aku tahu.” Alex bangkit perlahan. Badannya terasa segar saat ini. “Apa aku menghancurkan sesuatu tadi?”
“Enggak. Semua aman.”
“Bagaimana dengan Rover?”
“Aman. Sebenarnya, dia sempat mencoba menggigit Tiger lagi tadi. Tapi, Tiger balas menggeram padanya dan semua berakhir baik.”
“Sayang sekali.” Alex pun senyum-senyum.”
“Apa maksudmu? Kupikir kamu enggak suka menghancurkan barang.”
“Bukan aku kali ini. Dia.” Alex melirik Rover. Si anjing duduk tenang dengan ekor bergoyang. Dia tak ada di dalam kandang, melainkan tepat di samping ranjang. Hanya saja, karena posisi ranjang cukup tinggi, Rover tak bisa mencapainya. Alex teringat hal lain. “Ngomong-ngomong, kenapa orang itu dipanggil Tiger?”
“Kupikir dia mantan anggota militer atau apa.”
“Setelah Nadira merekrutnya, Tiger memang dapat latihan militer. Bukan dari pihak militer, tentunya. Kami juga punya pelatihan tersendiri. Sama sulitnya, sama beratnya. Kamu beruntung enggak perlu melewatinya untuk jadi agen ICPA.”
“Aku enggak mungkin ingin jadi agen organisasi yang baru kudengar.”
Jayden mengangguk. “Benar sekali. Tapi, jangan kira kalau kamu enggak akan mendapatkan pelatihan apa pun. Pelatihanmu justru akan dimulai. Biar kuberitahu dari awal. Pelatihanmu akan berbeda dari agen lain. Kamu perlu belajar semuanya dari dasar. Bela diri, menembak, semua. Selain itu, kamu juga harus belajar mengontrol Dragon Blood dalam dirimu. Menurutku, itu enggak akan mudah.”
Alex menyadari kalau di tangan kirinya sekarang ada sebuah gelang berwarna putih. Ukurannya cukup tipis seperti fitness tracker. Polos, tanpa tombol. Ketika Alex mendekatkan jarinya, muncul jam, tanggal, serta indikator baterai seperti jam tangan pada umumnya. Alex yakin kejutannya belum berakhir.
Saat Alex menggeser jemarinya tanpa sedikit pun menyentuh jam, sekarang muncul indikator besar dengan simbol perisai dan bintang hijau di bagian atas. Indikator ini menunjukkan daya penuh. Alex menarik jemarinya turun. Sekarang, muncul layar hologram bernuansa hijau melayang di atasnya. Di sana terlihat siluet badannya sendiri lengkap dengan informasi dan beberapa menu lainnya.
__ADS_1
“Wow! Ini baru menarik.”
Jayden tersenyum simpul. “Jam tangan bertenaga surya. Tahan ledakan dan api, juga tentu saja, anti air. Kamu bisa meretas sistem sederhana dengannya atau mengakses CCTV mana pun di kota ini. Kita akan mempelajarinya nanti. Tapi, aku yakin kamu akan suka.”
“Apa aku bisa menelepon lewat sini?”
“Kamu bisa menghubungiku. Lebih tepatnya, kamu bisa menghubungi markas ini. Aku akan selalu berjaga di ruang komputer. Jangan sekali-sekali mencoba menelepon orang rumah, teman, atau pacarmu dengan itu. Tidak akan berhasil.”
“Aku enggak punya pacar.”
“Baiklah. Jangan menghubungi gebetanmu dengan itu.”
“Apa? Bagaimana--”
“Data, Alex. Aku tahu ada seorang gadis di sekolahmu yang cukup menarik. Namanya, Leta. Kamu pernah meretas situs penjualan tiket untuk membelikannya tiket VIP band favoritnya bahkan sebelum penjualan dimulai. Dia pasti sangat terkesan dengan aksimu saat itu.”
“Apa datamu enggak menunjukkan kalau akhirnya kami semua pergi nonton bola karena ada teman yang bertanding?”
“Eh?” Jayden pun melongo. Dia pun buru-buru memperbaiki wajahnya. “Lihat? Banyak hal tidak tercantum di data.”
Alex tersenyum geli. Dia turun dengan mudah. Tidak ada alat pernapasan, selang infus, atau apa pun yang menempel pada dirinya kali ini. Begitu turun, Rover menyalak girang. Alex mengulurkan tangan untuk bermain dengan anjing kesayangannya. Saat itulah, kesalahan terjadi. Ketika tangannya menyentuh kepala Rover, percikan hijau kecil menyambar. Rover menyalak kesakitan. Si anjing jatuh, mengejang, bergeming di lantai.
“Rover? Rover!” Alex berteriak panik. “Jayden, apa yang terjadi!?”
Jayden ikut berjongkok di lantai. “Mundur sebentar.” Alex pun mundur selagi Jayden memeriksa si rottweiler. Setelahnya, dia menghela napas pendek. “Berita baiknya, dia masih hidup, hanya terkena sedikit sambaran listrik dari Sonic. Berita buruknya, lebih baik kamu segera belajar mengontrol kekuatanmu sebelum jatuh korban lainnya.”
Alex menarik kedua tangannya ke depan wajah. “Aku... menyakitinya dengan kekuatanku sendiri? Kekuatan Zetta Sonic?”
“Semacam itulah.” Jayden memasukkan Rover kembali ke kandang. “Aku akan membawanya pada dokter Vanessa. Dia pasti bisa melakukan sesuatu. Selama itu, mungkin kamu mau coba bermain-main dengan gelangmu. Banyak fitur di sana.”
__ADS_1
Alex terdiam. Tangan yang biasa dia lihat itu kini terasa berbeda.
“Dan,” tambah Jayden, “cobalah tidak meledakkan apa pun di sini. Aku serius.”