Zetta Sonic

Zetta Sonic
Other Man


__ADS_3

Itu jelas tidak akan berakhir mudah, tapi soal berakhir baik adalah hal lain. Tanpa diketahui Alex, Jayden tidak sendirian di kamarnya.


“Kamu jelas tahu cara masuk yang elegan, Gavin,” ujar Jayden pada pria lain di kamar.


“Aku enggak menodongmu.”


“Langsung saja ke topik utama. Apa maumu? Bukan. Biar kuralat. Apa yang Mark Hill mau sampai mengirimmu ke sini? Kamu bukan dikirim untuk menghentikan Kloster. Kalau mau, ICPA Regis bisa melakukannya dengan mudah di wilayah mereka.” Jayden meletakkan PC tablet ke pangkuannya lalu melipat kedua tangannya di depan dada. “Atau aku terlalu menilai kalian terlalu tinggi?”


Gavin mendengus. Itu benar di satu sisi dan salah di sisi lain. Dia berada jauh dari ranjang, bersandar pada satu dinding tanpa berniat mendekat. Pakaiannya sudah diganti dengan jumper longgar kelabu dan celana kain. Penampilannya lebih mirip tipikal hacker yang sedang begadang daripada agen berpengalaman.


Jayden melanjutkan. “Kalian membiarkan itu terjadi terus menerus. Banyak rumor beredar di ICPA. Kloster tidak pernah dihabisi bukan karena kalian tidak mampu tetapi karena kalian tidak mau. Teori yang paling populer mengatakan Kloster adalah pengalih isu.”


“Sejauh yang kutahu, ICPA tidak berafiliasi dengan pembunuh. Mereka kriminal, kita penegak hukum.”


“Jadi, apa tujuanmu ke sini? Kupikir Mark Hill terlalu baik hati mengirim hanya satu anggotanya untuk meringkus sekelompok pembunuh itu. Menolong Alex?” Jayden mengangkat alisnya. “Aku enggak akan kaget kalau kamu menemui Mark Hill secara pribadi setelah insiden di sini beberapa waktu lalu.”


“Dia memang memanggilku secara pribadi. Dia tahu aku membawa senjata tanpa izin. Aku dapat hukumanku. Cuma itu, enggak lebih. Kita tidak membahas Alex sama sekali. Dan, kupikir…” Gavin berhenti. Sebagai gantinya, dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang gelap. Jendela lebar di sisi kanan ruangan sengaja ditutup untuk menghalangi apa pun dari luar melihat ke dalam sekalipun mereka ada di lantai teratas.


“Bicara!” pinta Jayden, tak sabar.


Gavin sekali lagi mengedarkan pandangannya. Kali ini ke arah pintu masuk kamar tersebut. Kamar itu cukup besar untuk menampung sofa dan tempat tidur, juga memiliki cukup banyak celah untuk dipasang penyadap.


Seolah bisa memahami pemikiran Gavin, Jayden pun menyahut. “Bicaralah,” katanya lebih lembut. “Tempat ini gua pribadiku. Kamera pengawas, penyadap, semua di bawah kendaliku.”


“Akan lebih masuk akal kalau Mark tahu identitas Alex.”


“Kenapa?”


“Kenapa?” Gavin mengulang pertanyaan Jayden. “Kalian memalsukan semua kegiatannya selama beberapa bulan terakhir. Orang tua macam apa yang tidak sadar keanehan pada anaknya kecuali kalau dia—”

__ADS_1


“Terlalu sibuk mengurus benua lain,” sahut Jayden. “Semua penyamaran yang diberikan Nadira sangat baik. Apakah semuanya masuk akal? Sangat. Mengundang kecurigaan? Mungkin sedikit. Alex terlihat sibuk mendadak? Enggak juga. Dia punya segudang aktivitas mulai dari les sampai pesta untuk mewakili orang tuanya. Kalau ada yang mencium keanehan Alex, aku yakin itu pelayan rumahnya bukan orang tuanya.”


“Baiklah, mungkin dia tidak seakrab itu dengan orang tuanya.” Gavin terdiam lagi.


Meski tak bisa melihat wajah lawan bicaranya dengan jelas, Jayden menangkap keraguannya. “Apa menurutmu lebih baik jika Mark tahu soal Alex?”


Gavin mengangguk tanpa bicara.


“Tapi, kamu enggak memberitahunya,” lanjut Jayden. “Apa poin pembicaraanmu?”


“Kupikir Mark ingin Kloster mendapatkan Zetta Sonic.”


Jawaban Gavin membuat Jayden spontan menarik napas dalam-dalam. Sesuai dengan analisanya tadi, dia tahu itu memang bisa saja terjadi. Tanpa tahu identitas sesungguhnya dari Zetta Sonic, wajar kalau Mark membiarkan Kloster berkeliaran di sana. Jayden membiarkan dirinya bersandar selagi berpikir.


“Jayden, jujur saja aku tidak suka saat kamu bilang Kloster di bawah kendali kami. Tapi, aku setuju kalau kamu menilai kami membiarkan mereka berkeliaran, berbuat seenaknya di negara lain, benua lain. Itu memang terjadi.”


“Kamu dikirim ke sini bukan untuk menangkap mereka,” kata Jayden, “tapi hanya untuk mengawasi mereka.”


“Sampai mereka menyerang tempat persembunyianmu.”


Gavin tak menjawab.


“Kamu mencoba menyelamatkan Alex?” tanya Jayden. “Masih merasa berhutang budi karena kami menyelamatkan—”


“Aku melakukan hal yang benar,” sahut Gavin. Kemudian, dia melepaskan ******* napas panjang, bersiap melepaskan fakta yang lain. “Aku tidak suka terlibat perang dingin antar pimpinan. Aku juga tidak berniat ikut campur dalam pembiaran atau balas dendam. Apalagi kalau itu melibatkan orang tua dan anaknya. Ini menyedihkan. Jadi, kamu harus tahu kalau ini terjadi gara-gara kalian.”


Jayden langsung mengernyit. “Aku menyalahkan Nadira. Sudah kubilang kalau membiarkan Alex jadi Zetta Sonic itu bukan ide cemerlang.”


“Bukan. Aku tidak akan menyalahkan Nadira. Itu keputusan terbaik di antara yang terburuk. Kalau ada yang harus disalahkan, menurutku itu adalah—”

__ADS_1


“Otto!” sahut Jayden. “Tunggu!”


Kegelisahan merambati Jayden dengan cepat. Dia menyahut tablet PC di depannya, memeriksa berkas-berkas yang telah dia ambil tanpa sepengetahuan Nadira. Dia melihat setiap tanggal lalu lokasi lalu kode-kode. Sesuatu telah luput dari pengamatannya. Dan, seperti kata pepatah. Sebaik apa pun kebusukan disimpan, baunya tidak akan bisa disembunyikan. Tidak selamanya.


Jayden akhirnya terbelalak. Matanya mendapatkan bukti yang dia inginkan. Catatan perjalanan profesor Otto. Beberapa kali ke tempat yang sama pada waktu yang cukup dekat dengan tanggal asli berkas-berkas itu. Nama tempat itu kosong, hanya ditandai oleh titik-titik koordinat. Entah kenapa Jayden tak terkejut lagi ketika mendapati koordinat tersebut berada di wilayah Regis.


Dari pantulan cahaya tablet PC, Gavin bisa melihat bagaimana raut wajah Jayden berubah. Pergerakan tubuhnya terhenti. Pemuda itu pasti telah menyadari sesuatu. “Nadira membiarkan Otto berbuat seenaknya di wilayah kalian,” ujar Gavin lirih. “Sekarang giliran Mark membiarkan Kloster berkeliaran di sini.”


Di luar dugaan Gavin, Jayden menggeleng. “Mungkin… lebih dari itu.”


“Apa maksudmu?”


“Kupikir ini bukan hanya soal Mark membiarkan Kloster ada di sini. Kupikir ini soal balas dendam pribadi. Kamu tahu ke mana saja profesor Otto selagi berada di Regis?”


Gavin mengangkat bahu. “Aku bukan hacker. Aku hanya mendengar kalau Mark Hill mengirim agen khusus untuk menemani Otto selagi berkunjung ke sana untuk semacam studi banding atau apa pun itu.”


“Kloster.”


“Apa?”


“Dia ke pulau Kloster beberapa kali dalam waktu berdekatan. Kalau kamu tanya padaku, aku yakin ini sangat dekat kaitannya dengan masalah hari ini.”


“Menurutmu profesor Otto mencuri sesuatu dari Kloster?”


“Mungkin. Kenapa tidak? Dia profesor gila yang hanya peduli pada percobaannya.”


Gavin mendesah. Satu tangannya mengusap wajah. Dia tak suka membahas berbagai teori di balik sebuah kejadian. Dia lebih suka berkelahi langsung dengan penjahat. “Sayang sekali kita tidak bisa bertanya pada orang mati.”


“Kita bisa tanya pada profesor lainnya.”

__ADS_1


“Apa yang kamu bicarakan?” Gavin bertanya berlambat-lambat, cukup yakin dia tak akan suka jawaban Jayden.


“Selama di pulau Kloster, profesor Otto ditemani peneliti lain. Mau tau namanya? Dominic Jeremy English. Seharusnya aku tahu! Profesor ini mendadak berusaha mendekati dokter Vanessa. Sekarang aku setuju dengan Alex, ini enggak akan berakhir baik.”


__ADS_2