Zetta Sonic

Zetta Sonic
S2 - (Winter) Dim Light


__ADS_3

Jayden mendapat telepon dari Alex akibat ide spontan Willy. Padahal saat itu, dirinya baru saja akan memulai hubungan komunikasi dengan atasan mereka, Nadira. Secara teori, Nadira merupakan pimpinan ICPA tertinggi di benua mereka Sinde. Special Force Zetta Sonic berada di bawah langsung kendalinya, bukan ICPA negara.


Jarang-jarang Nadira memanggil mereka pada jam segitu. Biasanya, Nadira mengontak pada malam hari. Kalau dia mengontak pada jam kantor seperti itu, hanya ada satu alasan. Misi darurat.


Bersama Emil dan Tiger, Jayden berkumpul di ruang komando mereka. Tak satu pun dari mereka duduk. Ketiganya lebih senang melihat Nadira dari lantai atas ruang komando. Mereka bisa melihat wajah Nadira dan Henrietta di belakangnya dengan jelas. Gambar mereka terasa kontras di ruangan remang.


“Kalian pasti sudah tahu kenapa aku menghubungi.” Nadira membuat wajah cemberut. Wajahnya memang tidak pernah ramah ketika menghubungi mereka untuk menyampaikan misi. Misi berarti masalah. “Emil?” Nadira seolah memberi anggota baru mereka kesempatan menjawab. Seperti guru menguji murid.


“Kecelakaan pesawat.” Emil mengedikkan bahu. “Itu pesawat biasa. Bukan pesawat tempur. Lokasi jatuhnya dekat laboratorium ICPA, Torado.”


Nadira tak terlihat terkesan sekalipun jawaban tersebut sebagian tepat. “Pesawat yang jatuh itu adalah pesawat ICPA. Pilotnya, Smith, juga anggota resmi ICPA. Dia membawa pasokan untuk Lab Torado. Smith sempat melaporkan ada masalah pada mesinnya saat sebelum akhirnya hilang kontak dalam badai.”


Untuk hal-hal tertentu, ICPA memang tidak melulu menggunakan pesawat canggih mereka. Beberapa misi, seperti pengiriman barang ini, menggunakan pesawat biasa. Meski memang ada beberapa fitur tambahan di dalamnya.


“Jadi, itu murni kecelakaan, bukan serangan?” tanya Jayden sambil mengusap dagunya.


“Seharusnya bukan.”


“Lalu? Apa itu ada hubungannya dengan kita?” Jayden bertanya lagi. “Lab Torado bukan laboratorium tempat profesor Otto menciptakan Dragon Blood, ‘kan?”


“Bukan. Itu hanya laboratorium biasa dengan peneliti biasa juga yang suka dengan beruang. Banyak dari mereka yang mengambil cuti akhir tahun. Begitu pula dengan agen-agen kita.” Nadira mendesah. “Dan, entah bagaimana, sejak kemunculan Zetta Sonic, jumlah kriminalitas malah bertambah bukan berkurang. Agen kita sibuk.”


Sebagai anggota ICPA, tanggal merah bukan hal besar. Mereka diwajibkan tetap bekerja karena kriminalitas pun tak mengikuti hari libur. Sebagai gantinya, setiap anggota punya cuti dengan durasi cukup panjang. Kebanyakan dari mereka mengambilnya saat akhir tahun. Untuk menghindari kekurangan agen, ICPA punya peraturan ketat soal ini.

__ADS_1


Namun, seperti kata Nadira, jumlah kriminalitas di berbagai belahan dunia justru bertambah. Para pemimpin ICPA berlomba mencari cara untuk mengatasi kriminalitas yang terjadi. Para kriminal semakin canggih saja. Di Sinde, misalnya, ada Filip Shah dan robot pembunuhnya. Ini membuat ICPA memikirkan berbagai cara untuk membuat agen-agen berkemampuan khusus.


“Kamu butuh tim penyelamat?” Jayden memicingkan mata.


Sejauh ini, tugas utama ICPA adalah mencegah kejahatan yang terjadi sesuai kepanjangannya. International Crime Prevention Agency. Misi penyelamatan tidak termasuk dalam tugas utama mereka meski bukannya tidak mungkin.


Nadira mendesah lagi.


Sebelum menjawab, Emil sudah lebih dulu menyahut. “Dia sudah menemukan tim penyelamat. Dia mau kita. Tim penyelamat. Menemukan bangkai pesawat. Mengevakuasi Smith. Menutupi rahasia pesawat dan lab Torado.”


Kali ini, Nadira tersenyum lebar. Bukan senyum cantik tapi cukup bisa membuat bawahannya merasa sedikit lebih lega. “Aku suka anak ini. Namamu Emil, ‘kan? Jayden memilih orang yang kompeten untuk jadi pengganti Caitlin.”


Tiger malah tertawa. “Lelucon yang sangat bagus!”


“Aku tidak bercanda!” Senyum Nadira lenyap bagai asap. Bentakannya memenuhi ruang komando. Tiger langsung menutup mulut, bergeming. Ini membuat Nadira mendesah lagi. “Dengar baik-baik, aku sedang pusing karena stok agen yang terbatas. Kita enggak bisa sembarangan mengirim agen ke sana. Kita harus membuat tim SAR kita sendiri. Kalian.”


“Sudah sangat jelas, ‘kan? Kalian punya peralatan paling memadai di antara ICPA yang lain. Kalian bisa menyelesaikan misi ini jauh lebih cepat daripada yang lain. Sudah! Jangan bertanya lagi. Henrietta akan mengirimkan detailnya pada kalian. Aku mau kalian berangkat dalam waktu enam jam.”


Mendengar itu, gantian Emil mendesah. “Ini akhir pekan. Waktunya nonton. Membaca. Mendengarkan musik.”


“Baru beberapa menit, kamu sudah membuat rasa sukaku berkurang, agen Emil!” sahut Nadira. “Diamlah dan bantu Jayden mengatur semua.”


“Tunggu sebentar!” sahut Jayden. “Alex tidak di sini.”

__ADS_1


“Kalau begitu, jemput dia!”


Kebanyakan misi sama sekali tidak bisa diduga kedatangannya. Alex sudah terbiasa dengan panggilan mendadak. Nadira sendiri sebenarnya sebisa mungkin hanya menugaskan Alex untuk tugas berat. Zetta Sonic tidak perlu mengurusi misi-misi sederhana yang bisa ditangani agen biasa. Dia lebih baik fokus pada misi besar. Selain itu, Nadira sebisa mungkin menutupi rahasia Alex dari teman-teman dan juga keluarganya. Kalau sampai ayah Alex tahu identitas ganda putranya, bisa ada perang antara dua ICPA.


“Alex baru meneleponku. Dia sedang ada di rumah temannya. Ini masa liburan sekolah buat mereka. Mereka bahkan merencanakan pesta malam natal.” Jayden mulai menjelaskan.


“Langsung saja ke intinya sebelum aku kehabisan kesabaran.”


Mendengar hal tersebut, Tiger mendekat sambil melemaskan jemari. Nadira sering menjadikan Tiger perpanjangan tangannya. Di saat dia merasa perlu memberikan sedikit pelajaran pada agen lain, Nadira tinggal memerintahkan pada si mantan pegulat. Tiger akan melakukannya persis seperti permintaan Nadira.


Jayden bergeser sedikit, hanya untuk jaga-jaga. “Ini hanya misi sederhana, benar? Sebuah misi penyelamatan. Kamu minta Special Force ini hanya karena kami punya peralatan lebih baik bukan karena Zetta Sonic. Tidak ada ancaman penjahat di sana. Apa aku benar?”


“Sepertinya aku mulai paham ke mana arah pembicaraan ini, Jayden.”


Jayden mengangguk pelan. “Kupikir, kita tidak memerlukan Zetta Sonic di sana. Jadi, kenapa kita tidak membiarkan Alex mendapatkan liburan? Dia bekerja keras beberapa bulan terakhir. Kita bahkan belum menjelaskan secara detail hak-haknya sebagai agen.”


Nadira menarik dirinya sedikit menjauh dari layar. Dia menangkupkan kedua tangan, membawanya ke bibir, berpikir. Ada jeda sebentar sampai akhirnya Nadira bicara lagi. “Baiklah, aku setuju. Mungkin kita tidak memerlukan Zetta Sonic. Alex tidak perlu ikut kali ini. Profesor Otto juga sedang mengambil cuti. Kurasa, dia juga tidak akan suka kalau kita beraksi dengan Zetta Sonic tanpa sepengetahuannya.”


“Jadi, kami akan pergi berempat?”


“Berempat dengan dokter Vanessa. Benar.”


Jayden mengangguk.

__ADS_1


Emil pun menyela. “Ngomong-ngomong. Pasokan apa yang dibawa pesawat itu?”


Balasan Nadira datang cepat meski bukan sesuatu yang diharapkan Jayden. Ucapannya sama sekali bukan jawaban, justru sesuatu yang membuat ketiga orang dalam ruangan itu resah. “Aku tidak akan bertanya kalau jadi kamu.”


__ADS_2