Zetta Sonic

Zetta Sonic
Count


__ADS_3

Selagi Alex menyuruh James menyebutkan lokasinya, Jayden berhasil mengamankan mobilnya. Dia menemukan sederet kotak kecil dengan tombol mungil pada tepinya. Mereka berjajar rapi di bak belakang sebuah pick up warna hitam. Tertangkapnya James mempermudah pekerjaan Caitlin dan Tiger. Dalam waktu singkat, mereka telah berhasil menemukan semua bom asli.


Tiger dan Caitlin menjumpai Jayden di tempat parkir. Ketiganya baru menyadari kalau Alex tak ada bersama mereka. Jayden memeriksa laptop. Alex telah mengikat James seperti perintah Jayden sebelum mengamankan pergi untuk mengamankan bom yang lain. Sementara Alex sendiri ada di lantai lima.


Alex menyusuri ventilasi lorong-lorong ventilasi sempit. Dia masuk sesuai petunjuk dari James dan dibantu oleh peta gedung dari Jayden. Tempat itu bukan hanya gelap dan dingin, ada aroma amis bercampur pewangi ruangan yang sejak tadi membuatnya tak nyaman. Mau bagaimana lagi, tempat itu adalah tempat pengalengan ikan.


Setidaknya, dia bersyukur punya seragam yang menutup dirinya dengan sempurna. Alex memaksakan dirinya menghiraukan semua genangan cairan yang ada. Dia juga mengabaikan gumpalan-gumpalan yang menempel. Matanya fokus ke depan, badannya bergerak terus ke tujuan.


Tepat ketika dia berada di titik yang ada di catatannya, dirinya terperanjat. Sejak melihat keberadaan titik tersebut dan penjelasan dari James, Alex sadar kalau ayahnya memang diincar. Lokasi bom terakhir ada di lantai lima, lebih tepatnya ada di bawah meja ruang pertemuan lantai lima, di mana para pemegang saham sedang melakukan rapat. Total dua puluh empat orang. Termasuk ayahnya.


Ruangan itu punya ukuran sangat lega. Meja oval besar ada di tengahnya. Bagian lantainya dilapisi karpet beludru coklat dengan kesan hangat. Salah satu dindingnya merupakan dinding kaca dengan pemandangan laut. Tidak ada tirai di sana. Tidak perlu. Tempat itu selalu memerlukan kehangatan dari matahari.


Alex merangkak lagi, berpindah tepat di atas meja rapat. Di sana, hawanya terasa lebih hangat. Dari posisi ini pula, Alex bisa mengamati lebih jelas. Selain meja oval rapat, meja kecil di sudut ruangan, dan tanaman hias, tidak ada barang lain.


Alex bisa melihat ayahnya mengedarkan pandangan ke sekeliling termasuk ke atas, ke arah ventilasi di atas mereka. Spontan, Alex mundur merapatkan diri sebisanya ke dinding padahal dia yakin ayahnya tidak akan bisa melihat dalam kegelapan.


Rasanya sudah lama sekali Alex tak melihat ayahnya. Dia nampak gagah seperti biasa. Pilihan jas dan dasinya selalu cocok. Dia mengenakan kemeja biru muda dan jam tangan berbahan stainless steel persis yang diingat Alex. Rambut putihnya lebih banyak dibanding terakhir kali mereka bertemu. Meski begitu, sorot mata dan raut wajahnya sama. Sesuatu yang membuat Alex begitu mengenali dan merasa asing di saat bersamaan.


[Alex, di mana ka ...] Dari laptop, Jayden tak benar-benar bisa mendapatkan lokasinya dengan akurat. [Sinyalmu se … tinya agak … tus-putus di sini.]


“Aku bersama ayah,” bisik Alex.


[Baik.] Jayden mengganti saluran komunikasinya langsung ke helm yang dikenakan Alex. Wajahnya nampak jelas di sana, begitu pula dengan suaranya. [Coba ulangi. Kamu di mana? Bersama ayah?]


“Aku ada di saluran udara di atas ruangan tempat ayah berada. Bom terakhirnya di sini, Jayden. Aku bisa melihatnya.” Alex telah menggunakan fitur khusus dari helm untuk memeriksa seisi ruangan. Dia menemukan bom tersebut berada di bawah meja, persis seperti pengakuan James. “Kita harus mengeluarkan mereka lebih dulu kalau mau mengambil bomnya.”

__ADS_1


[Tunggu. Aku bisa mengirim drone ke sana.]


“Kamu enggak punya nama untuknya?”


[Kamu boleh menamainya nanti setelah kita selesai dari sini.]


Pemimpin rapat bergerak maju mundur dari meja besar mereka ke dinding belakang. Proyektor yang dipasang di langit-langit menunjukkan kurva dan tabel-tabel. Mark Hill melirik jam tangannya. Kemudian, dia kembali mengedarkan pandangannya secara menyeluruh termasuk ke langit-langit.


Kali ini Alex bergeming, lebih yakin kalau ayahnya tak akan menyadari keberadaannya. Lagipula, kalau ayahnya memang melihat seseorang di sana, itu tidak lebih dari sosok berpakaian serba hitam. Dia tidak akan melihat sosok Alex.


[Drone sudah ada di jalur menuju ruang pertemuan.]


“Jangan bilang kalau dia ada di belakangku.”


[Jangan khawatir, Sonic. Dia sedang melewati lorong yang lain.]


Alex mendengar bagaimana Caitlin terkesiap. “Kenal seseorang di sana?” tebaknya.


[Baron ada di sana.] Jawaban tersebut keluar dari Jayden. “Pacarmu juga salah satu pemegang saham di sini?]


[Aku enggak tahu soal itu. Kalau dia di sana, harusnya begitu.]


Drone bergerak ke sisi lain dinding, mulai mendekati pimpinan rapat. Dengan jarak yang lebih sempit, para peserta tidak menyadari ada robot serupa laba-laba bergerak di bawah meja mereka. Jayden memutar kamera drone agar mereka bisa melihat lebih jelas. Bom tersebut dipasang tepat di tengah meja. Ukurannya sama persis seperti bom lainnya. Begitu pula dengan angka pada timer. Berhenti di angka nol.


“Lakukan sesuatu!” pinta Alex.

__ADS_1


Jayden mengubah mode drone kecilnya agar bisa melayang. Dua kaki depan dan belakangnya terlipat ke atas, memunculkan baling-baling kecil. Benda itu mengeluarkan suara samar dan halus. Di tengah rapat, tidak akan ada yang menyadarinya. Bagian kaki lainnya bersiap memotong kabel.


Saat itu, Alex dan Jayden tahu jelas ada yang salah. Bom itu berkedip merah. Seiring dengan mulainya kedipan tersebut, angka pada timer berjalan. Hitungan mundur dimulai dari waktu dua menit.


Giliran Alex terkesiap. “Jayden! Bilang padaku kalau kamu enggak melihat yang kulihat!”


Caitlin menjerit. [Bom itu aktif! Apa yang kamu lakukan, Jayden?]


[Dua menit!? Keluar dari sana, Sonic! Sekarang!] pinta Tiger. [Kita bisa menyalakan alarm kebakaran untuk membuat mereka keluar ruangan.] Ide Tiger cukup bagus tapi tidak menjamin berhasil dalam waktu dua menit yang terus berkurang.


“Tidak! Aku enggak mungkin meninggalkan orang-orang ini!”


Caitlin lebih fokus pada Jayden. [Lakukan sesuatu, J! Potong kabelnya!]


Memotong kabel bom yang sedang aktif tidak bisa dilakukan sembarangan. Apalagi menggunakan drone yang dikontrol jarak jauh. Salah potong atau sedikit guncangan malah akan membuat semua orang tewas seketika.


Alex mengutak-atik fitur di helmnya. Dia bisa melihat berbagai data mulai dari cetak biru pabrik, aneka peralatan dan furniture lengkap dengan jenis serta harga, sistem pemadam kebakaran, hingga saluran listrik dan air dalam ruangan.


“Aku bisa melakukan sesuatu.” Tak ada keraguan dalam diri Alex.


Tiger sebaliknya. [Negatif. Keluar dari sana!]


[Alex!] Jayden akhirnya bersuara. [Hanya kamu yang bisa melakukan sesuatu sekarang. Apa pun itu, aku bersamamu!]


[Jayden!]

__ADS_1


Alex mencengkram penutup ventilasi di bawahnya. “Aku Zetta Sonic. Akan kulakukan tugasku dengan cara Zetta Sonic!”


__ADS_2