Zetta Sonic

Zetta Sonic
S9 - (Winter) Warm Meal


__ADS_3

Alex yakin mereka menanyakan pertanyaan sama persis di waktu yang sama pula. “Kamu baik-baik saja?” Alex lekas menambahkan, menghiraukan pertanyaan Jayden untuknya. “Maksudku, kamu baru diserang beruang.”


“Jangan khawatir. Tiger lebih menyeramkan dari beruang,” jawabnya santai. “Jadi, semua orang sibuk dengan keluarga mereka?” Jayden membuat tebakan terbaiknya untuk acara Alex yang batal.


Alex mengedikkan bahu. “Kurang lebih. Jadi, kupikir aku harus mencari kegiatan lain.”


“Bagaimana dengan latihan intensif?”


“Lagi?” Alex tertawa kecil setelahnya. “Sebenarnya itu kedengaran menarik. Tapi, aku perlu tahu satu hal. Apa aku harus tidur di ruangan Zetta Sonic, maksudku di dalam kasur kapsul itu?”


“Kamu bisa tidur dimanapun yang kamu mau, bahkan di ruang generator.” Jayden tak mengharapkan jawaban Alex. Dia tahu di balik helm itu, Alex sedang tersenyum padanya. Ketika melihat Emil memasang drone, dirinya pun bangkit. “Kurasa mereka sudah selesai. Kamu bisa pulang duluan.” Agar tak merasa kalau sedang mengusir, Jayden menambahkan, “Tapi, kalau kamu masih mau di sini, silahkan saja. Kami masih butuh perlindungan dari beruang.”


“Aku mau tahu cara kerja drone itu.”


Jayden dan Emil memasang sepasang drone pada terpal. Jadi, satu drone memegang dua ujung dari terpal. Mereka mengutak atik sesuatu pada tablet masing-masing guna menyeimbangkan kedua drone. Jangan sampai salah satu drone bergerak terlalu cepat atau terlalu tinggi lalu menjatuhkan semua. Setelah selesai, mereka pun bergerak mendaki bukit ke atas pesawat.


Di sana, mereka kembali memindahkan barang-barangnya secara manual. Barulah mereka bersama-sama mengantarnya ke laboratorium. Kara menumpang di pesawat ini dan kembali ke ibu kota. Alex mengendarai pesawatnya sendiri. Mereka baru berjumpa lagi di bendungan. Alex sampai lebih dulu.


Jayden berdecak kagum sembari menyeberangi landasan menuju Alex. Pesawat Alex sudah berada di dalam hanggar. Anak itu sendiri sedang menatap pesawatnya yang gagah. “Aku terkesan kamu bisa membawanya keluar masuk tanpa merusak apa pun,” katanya.


Alex mematikan seragamnya. Tanpa helm itu, dia bisa memberikan senyuman simpul pada Jayden. “Kamu berharap aku merusak sesuatu. Mungkin pabrik robot lagi?”


“Enggak. Jangan. Kupikir kita semua sudah bosan dengan robot pembunuh.” Jayden melambaikan tangan kanannya. Tangan kirinya berada dalam penyangga. Ketika Alex melirik tambahan yang diberikan dokter Vanessa dalam pesawat, dia pun berkata, “dokter Vanessa bilang supaya aku enggak banyak menggerakkan tanganku dulu.”


“Lihat sisi baiknya, itu tangan kiri.”


Jayden setuju, itu bukan tangan utamanya. “Baiklah, aku akan segera menyusun jadwal latihanmu. Kamu bisa ke sini besok malam.”


“Bagaimana kalau hari ini saja?” sahut Alex cepat. Dia berusaha terdengar antusias, berharap Jayden termakan kebohongannya.


Jayden berhenti sebentar. “Tentu. Tapi, latihanmu tetap baru akan dimulai besok. Aku enggak akan punya waktu untuk menyiapkan semuanya dalam waktu beberapa jam.” Jayden mendengus. “Baiklah, kalau begitu pulang dan bersiap-siaplah!”

__ADS_1


 


 


Alex akhirnya menginap di markas. Pertama kalinya, hanya untuk sekadar latihan, bukan misi apalagi tergeletak karena terluka. Alex diizinkan tidur di kamar agen yang tersedia di lantai dua bawah tanah. Dia mendapatkan kamarnya di sebelah kamar Tiger. Sementara di seberangnya, ada kamar Emil, Jayden, dan profesor Otto. Sejauh ini, hanya mereka yang menginap di sana.


Saat ini, posisi kamar profesor Otto kosong. Profesor sedang mengambil cuti. Begitu pula dengan kamar dokter Vanessa yang berada di lorong berbeda. Setelah misi mereka kemarin, dokter Vanessa juga mengambil cutinya. Selain kamar itu, ada pula kamar Caitlin sudah lama kosong. Markas mereka punya banyak kamar untuk ditempati. Alex penasaran bila Nadira akan segera menambah personel untuk Special Force tersebut.


Setelah menjalani latihan-latihan, malam itu Jayden menyuruhnya ke ruangan Zetta Sonic setelah mandi. Alex berjalan sendirian malam itu. Dia tidak bertanya apa yang akan mereka lakukan malam itu. Alex mengharapkan adanya fitur baru dimasukkan di Zet-Arm atau mungkin senjata baru, tetapi dia sama sekali tidak mengharapkan kemeriahan di sana.


 


 


In the meadow we can build a snowman


Will pretend that he is Parson Brown


We'll say: No man


But you can do the job


When you're in town


 


 


Ketika pintu ruangan tersebut terbuka lebar, matanya ikut melebar. Lantunan lagu memenuhi ruangan yang terang. Ada pohon natal berhiaskan bola-bola emas dan pita putih. Di meja bar, berderet aneka makanan. Mulai dari ayam panggang, pie, aneka roti, pudding, sampai panci besar berisi sup. Tiger sedang mengeluarkan es batu dari dalam kulkas. Emil sedang menata gelas bening di atas meja.


Aroma ruangan yang ganjil kini digantikan aroma mengundang. Hidungnya mencium aroma rempah yang menggoda. Dia juga menemukan aroma mint dan jahe. Sumbernya berasal dari meja lain di dekat komputer. Di sana, Henrietta sedang menutup stoples kue jahe lalu meletakkannya di samping stoples kue dan permen lainnya. Selain itu, ada juga cangkir-cangkir besar. Dokter Vanessa sedang menutupinya dengan krim kocok. Ketika melihat Alex masuk, sang dokter melemparkan senyum dan melambaikan tangan.

__ADS_1


Alex membalasnya dengan canggung.


Di sisi lain ruangan, ada meja rendah dikelilingi kursi. Ada bantal dan selimut di setiap kursi kecuali satu. Satu selimut sedang menutupi kaki Nadira yang duduk di kursi roda. Dia berada di samping profesor Otto.


Nadira berdecak kesal. “Biar kutebak, Jayden enggak memberitahunya.”


Profesor Otto mengangguk. “Sedikit kejutan tidak akan menyakitkan.”


Pembicaraan kedua orang itu membuatnya salah tingkah. Alex melintasi ruangan, langsung pada Jayden yang sedang berlutut di bawah pohon natal, menyalakan lampu kelap kelip pada pohonnya. Tangannya tak lagi mengenakan penyangga.


“Apa yang terjadi?” bisik Alex, separuh protes.


“Kita akan berpesta.”


“Pesta? Di sini?”


“Yup. Ruangan ini tidak terlalu besar. Cukup hangat. Dekat gudang juga, jadi kami enggak kerepotan memindahkan kursi dan meja ke sini.” Jayden bisa melihat bagaimana dahi Alex makin berkerut oleh ucapannya. Dia pun tertawa. “Waktu kudengar pestamu batal, aku berpikir kalau kita semua juga berhak menikmati pesta. Jadi, aku mengajukan ide ini pada Nadira dan yang lain. Sekarang, mereka semua ada di sini.”


“Itu mengagumkan dan gila!”


“Kamu tahu apa yang lebih gila lagi? Sebagian besar makanan di sini buatan Henrietta dan dokter Vanessa. Jadi, mari lupakan soal latihan intensif sejenak. Malam ini, kita akan bersenang-senang.”


Alex hanya bisa tersenyum. Itu pesta malam natal yang paling dia nikmati. Bukan karena makanan atau cokelat hangatnya, melainkan karena suasananya. Mereka mungkin bukan orang-orang terdekatnya, tapi dia telah menghabiskan banyak masalah bersama mereka. Momen itu justru dimanfaatkan Alex untuk semakin mengenal rekan-rekannya. Dalam lubuk hatinya, Alex tahu akan terjebak cukup lama bersama mereka.


Setelah Jason mengabadikan makan malam mereka, Nadira dan Henrietta pun pergi. Professor Otto ikut keluar setelah ngobrol dengan dokter Vanessa. Alex duduk bersama Jayden, Emil, dan Tiger dekat meja rendah. Dia melihat bagaimana Emil bisa terlelap cepat setelah makan. Tiger duduk di dekatnya, dengan botol bir di satu tangan, tatapannya terpaku pada kelap kelip pohon natal. Jayden memeriksa gambar yang diambil Jason.


Alex berpaling pada dokter Vanessa yang duduk sendirian di meja tinggi. Dia ditemani bacaan pada tablet PC dan secangkir cokelat hangat. Alex pun bergerak, duduk di seberangnya. “Terima kasih sudah datang,” katanya lirih. Rasanya kalimat itu tidak cocok diucapkan. Alex tak yakin kalau pesta itu dibuat untuknya. Namun, bagaimana pun juga, dokter Vanessa datang sekalipun sedang cuti. Dia bahkan membawakan makanan untuk mereka.


Dokter Vanessa mengulurkan tangan di atas meja yang kini tak ramai lagi dipenuhi makanan. Dia menggenggam tangan Alex dan memberikan senyuman hangat. “Terima kasih sudah berjuang bersama kami, Alex. Kamu sudah melalui banyak hal. Kalau ada yang bisa kulakukan untukmu, katakan saja. Kalau kamu butuh teman ngobrol atau pelukan, aku akan selalu ada.”


Alex merasakan bibirnya bergetar. Dia harus mengakui sedikit kecewa mendengar ucapan itu datang dari wanita lain bukan ibunya. Meski demikian, ucapan dokter Vanessa begitu lembut menyentuh hatinya. “Terima kasih, Dok. Itu berarti banyak. Sungguh.”

__ADS_1


__ADS_2