Zetta Sonic

Zetta Sonic
Noon Training


__ADS_3

Sekolah kini bukan hal yang sering dipikirkan Alex. Dia tahu kalau nilainya sedikit turun. Bukan berarti nilai itu membuatnya yang terburuk di kelas, hanya saja dia tak selalu jadi nomor satu di kelas. Dulu, itu penting buatnya. Dulu. Sekarang, dia lebih sering fokus pada hal lain. Terlebih setelah mengetahui ibunya menghiasi situs-situs gosip dengan dengan foto mesra bersama pria lain. Semakin hari, isu perselingkuhan terasa makin nyata. Alex penasaran apakah kemundurannya di sekolah merupakan bentuk protes pada ibunya.


Hari ini saja Alex berada di markas Special Force. Dia telah mengenakan setelan training kelabu dan bersiap melakukan latihan bela diri melawan Tiger. Pria besar itu telah pulih sepenuhnya.


“Apa yang kamu pelajari belakangan ini, Alex?” Tiger bertanya. Suara kerasnya menggema dalam ruangan luas nan kosong tersebut.


Ruangan itu seluas lapangan tenis pada umumnya. Ada perangkap pada dinding serta langit-langitnya. Mereka bisa memberi tembakan kejutan dan rintangan bila diperlukan. Namun hari ini, latihan Alex akan fokus pada pertarungan tangan kosong.


Alex berjalan perlahan menyusuri ruangan, menatap Tiger yang ada di tengah. Ukuran pria itu selalu membuatnya terintimidasi dulu. Sekarang tidak lagi. Dia pernah mengalahkan Tiger pada pertemuan pertama mereka. Dia mengalahkannya dengan akal bukan adu fisik. Setelah itu, Tiger beberapa kali membuatnya memar dari latihan. Dia mempelajari musuhnya dan mulai paham cara mengalahkannya.


“Aku belajar kamu tidak bisa percaya pada sesuatu yang terlalu instan,” jawab Alex sembari masih mengamati lawan.


“Kamu bicara soal latihan ini?”


“Aku bicara soal ambulans yang datang terlalu cepat.”


Spontan, Tiger tergelak. “Kamu bicara soal penembakan di universitas?”


Alex mengangkat bahu. Dia tahu bisa menyerang Tiger kapan pun, itu diizinkan saat latihan. Jadi dia melakukannya. Tanpa menjawab pertanyaan itu, Alex berlari pada lawannya yang bergeming di tengah. Kepalan tangan melaju begitu lawan ada dalam jangkauanya. Namun, tentu saja, tinju itu tak bisa mengenai lawan semudah bayangannya.


Tiger bergeser, membiarkan serangan tersebut mengenai udara kosong. Tatapannya bertemu dengan tatapan Alex. Anak itu lebih tenang. Tak ada ketakutan dan keraguan di sana. Kemungkinan besar, Alex telah memperhitungkan gagalnya serangan itu. Kemungkinan juga kalau akan ada serangan lanjutan.

__ADS_1


Tiger mengangkat kedua tangannya ke depan wajah. Serangan lanjutan Alex memang mengincar kepalanya. Alex menggunakan tangan berbeda dengan serangan pertama. Sayang, dengan adanya tangan Tiger melindungi wajah, serangan Alex pun digagalkan lagi. Anak itu tak lantas berhenti. Kakinya melompat ringan, membangun momentum untuk melakukan serangan lanjutan.


Rando tidak salah kalau terkejut pada perkembangan Alex. Tiger sendiri harus mengakuinya. Anak itu belajar dengan cepat. Ini bukan soal apakah dia memiliki Dragon Blood dalam darahnya atau tidak. Alex memiliki tekad untuk belajar. Dia serius. Saat itu terjadi, Tiger harus bersiap dikalahkan.


Serangan-serangan Alex bukan hanya lebih presisi tapi juga lebih cepat. Tiger menghindar dan menghindar. Dia menikmati menghindari serangan sambil menunggu waktu yang tepat untuk membalas.


Tiger mengayunkan kakinya ke depan. Dia mengincar dada lawan. Lututnya bisa mematahkan rusuk lawan bila tepat mengenai sasaran. Itu terasa sedikit berlebihan untuk sekadar latihan. Namun, mengingat Alex akan berhadapan dengan penjahat berdarah dingin, pertarungannya di lapangan akan jauh lebih berbahaya daripada arena pertarungan bebas. Lagipula, Tiger menduga serangan itu bisa diatasi.


Melihat gerakan kaki Tiger, Alex telah siap. Dia melompat mundur, menghindari serangan ke dadanya. Meski serangannya tidak kena, Alex terhuyung mundur. Dia berusaha menjaga keseimbangannya agar tak jatuh. Posisinya agak sulit apalagi sekarang Tiger merangsek maju. Serangan balasan datang bertubi-tubi.


“Ingat apa yang kuajarkan!” ujar Tiger. “Menunggu adalah bagian dari serangan.”


Tiger melangkah pelan, waspada. Dia bisa melihat Alex mengusap perutnya. Itu membuatnya geli. “Kamu berkembang, tapi tidak cukup,” katanya. “Itu bukan pujian,” tambahnya cepat-cepat.


Alex tak pernah mengharapkan pujian dari Tiger atau anggota Special Force yang lain. Mendengar ucapan Tiger tadi, dia hanya mendengus geli. “Kalau aku bisa mengalahkanmu, apa kamu akan memberiku salah satu sabuk kemenanganmu?”


Tiger mengerjap. Alex sudah bangkit, wajahnya mengulas senyum yang menyamarkan rasa sakit. Kesombongan anak itu membuatnya berdecak kagum dan kesal. “Jangan bermimpi!” sahut Tiger.


Latihan mereka pun dilanjutkan. Keduanya saling pukul juga saling menghindar. Tak ada pembicaraan lagi di antara keduanya. Alex belajar berkonsentrasi dalam pertarungannya. Seperti kata Tiger, menunggu juga termasuk dalam serangan. Dia ingin menerapkan ajaran itu dengan benar. Ketika baru pertama kali belajar, menunggu adalah hal yang paling susah. Dia cenderung menyerang lebih dulu, membiarkan lawan mendapat kesempatan membaca gerakan, lalu menyerang balik. Setelah dia cukup lama berlatih dengan Tiger, dia sadar kalau Tiger ada benarnya.


Tunggu saat yang tepat baru menyerang.

__ADS_1


Alex melihat kesempatan. Dia menunduk. Serangan Tiger meluncur di atas kepalanya. Saat itu, Alex mengayunkan tinju ke wajah lawan. Itu berhasil. Sekalipun serangannya tak begitu kencang, tinju tersebut mengenai pipi lawan.


Tiger melompat mundur. Dia buru-buru menjaga jarak. Tangannya mengusap pipi, memastikan rasa sakit di sana. Itu memang bukan pertama kalinya kena serang Alex, hanya saja setiap kali itu terjadi, Tiger selalu tercengang dibuatnya. Tiger tersenyum. “Sepertinya aku harus menaikkan level latihan ini.”


Alex melempar tangannya ke udara. “Kamu sudah menyerah? Kita baru mulai.”


“Ya, ya. Katakan itu pada robot pembunuh yang pernah kamu kalahkan.”


“Ha. Ha. Ha.” Alex memaksakan tawa.


Tiger mengambil remote kecil dari kantong celana. Dia menekan sebuah tombol yang membuat suara denging terdengar. Alex berpikir kalau Tiger akan mengeluarkan senjata dari dinding atau langit-langit. Namun, itu tidak terjadi. Pintu ruangan tersebut terbuka. Suara denging pun lenyap. Hanya itu.


“Emil!” Tiger berseru sementara Alex mengernyit. Tiger tahu Emil mengawasi mereka dari balik kamera pengawas. “Hei! Di mana paketku?”


Jawaban Emil pun bergema. [Dalam perjalanan. Jauh. Sabar.]


Alex melipat tangan di depan dada, meniru gerakan Tiger. Pria itu mencibirkan bibirnya. Alih-alih ikut mencibirkan bibir, Alex malah terkikik. Hanya sebentar. Kegeliannya lenyap digantikan ketidakpercayaan. Bibirnya melongo ketika melihat sosok robot terbang cepat ke arah mereka. Dia mengenalinya. Sebuah robot berwarna putih dengan garis hijau baru saja melintasi pintu lalu mendarat di samping Tiger. Sekalipun robot itu dicat ulang dan diberikan lambang ICPA pada bagian dada, Alex mengenalinya. Itu robot pembunuh Nikola dan Filip.


Tiger menyeringai. “Rindu padanya?”


 Alex menghela napas panjang. “Sama sekali enggak.”

__ADS_1


__ADS_2