
Ucapan Emil seolah menjadi pemicu keributan di dalam kokpit pesawat. Ketiga gadis yang baru mereka selamatkan malah mendadak menyerang para agen di sana. Salah seorang berlari pada Tiger yang sedang mengemudikan pesawat. Seorang lagi meninju Emil sampai pemuda itu terjatuh dari kursinya. Sementara seorang lain lagi mencabut belati dan menghunuskannya pada Jayden.
Siapa yang bilang kalau Filip Shah tidak mengganti rencana?
Begitu mengetahui kalau rencananya ketahuan, dia justru meletakkan model palsu sebagai pengganti gadis-gadis yang diculik. Mereka diletakkan di dalam penjara. Kapal itu sendiri dilengkapi dengan kru bersenjata serta robot pembunuh. ICPA harus mengakui kalau mereka kecolongan kali ini. Tapi, Filip sendiri seharusnya paham kalau ICPA tidak semudah itu dijatuhkan. Terlebih lagi bila berhadapan dengan Special Force Zetta Sonic.
Jayden menangkap tangan gadis yang berusaha menusuknya dengan belati. Si gadis terbelalak. Dia pasti tak menyangka orang seperti Jayden bisa mematahkan serangan tiba-tiba semacam itu. Bahkan, sebelum gadis ini sempat mengubah serangan atau melakukan hal lain, Jayden telah memutar tangannya. Gadis itu pun didorongnya ke atas meja dengan keras. Ini mengunci gerakan si gadis, membuatnya tak bisa lagi melakukan apa-apa.
Sementara itu, Gavin menangkap gadis lain yang menyerang Emil. Sebelum dia berhasil mengutak-atik meja panel Emil, Gavin sukses menariknya. Keduanya sempat terlibat baku hantam sebentar. Gavin jelas lebih berpengalaman. Dia tak ragu memukul lawannya beberapa kali hingga terjatuh ke tanah. Di akhir pertarungan, Gavin mengunci gerakan si gadis dengan menekannya ke dinding kokpit.
Selagi dua gadis lainnya berhasil dihadapi, seorang lagi sedang berusaha menyerang Tiger. Dia menghunuskan belati tipis ke leher Tiger tanpa memedulikan keributan yang tengah terjadi di belakangnya.
“Tembak Zetta Sonic!” pinta gadis tersebut.
“Kamu memberikan perintah padaku? Serius? Apa kamu paham situasi saat ini?” Tiger malah tersenyum.
“Kupikir kamu yang tidak paham kondisi saat ini, Sayang. Aku bisa merobek lehermu dengan sekali gores. Dasar para pria bodoh. Kalian benar-benar gampang tertipu, ya. Sekarang lakukan perintahku, Sayang!”
Tiger justru terkekeh. “Kamu akan membunuhku? Yakin? Dengan satu tombol saja, aku bisa mengirim kita semua ke neraka, kalau kamu paham maksudku. Tapi, mungkin kamu tidak akan paham karena sudah pingsan lebih dulu.”
“Apa maksud--”
__ADS_1
Protes si gadis lenyap seiring jatuhnya gadis tersebut di lantai. Di belakangnya, Jason terbang rendah. Jayden mengaktifkan Jason di saat yang tepat. Sengatan listrik membuat si gadis itu pingsan.
Gavin pun membereskan ketiga gadis penipu. Mereka bertiga diikatnya. Lantas mata mereka ditutup dan mulutnya dibungkam. Gavin menempatkan mereka berjauhan di dalam kabin pesawat. Ketika dia kembali, dia mendapati Alex tengah bertarung dengan si robot biru. Tampaknya Alex berhasil menghentikan pusaran angin dan sedang bertarung dengan pembuat pusaran itu sekarang.
“Suruh dia kembali, J! Situasi ini makin tak menguntungkanbagi kita.” pinta Tiger lagi.
“Sudah. Dia tidak merespon,” sahut Jayden. Kemudian, dia buru-buru meralat ucapannya. “Bukan, bukan. Alex seolah mengacuhkanku. Dia tidak mendengarkan.”
“Dia sedang bertarung dengan si robot,” imbuh Emil. Tangannya mengusap pipi yang tadi kena pukul. “Terlalu asyik. Sampai lupa pada kita.”
“Tidak, Emil. Dia kelihatan seperti sedang kerasukan.”
Alex berjalan santai ke depannya. Dia menodongkan pistol pada si robot. Tanpa dia sadari, ada senyum terkembang di sana.
“Sangat memukau, Zetta Sonic!” sebuah seruan terdengar dari sisi lain kapal. “Kamu benar-benar seperti senjata biologis sungguhan.”
Alex tak tersanjung oleh pujian yang bagai hinaan tersebut. Meski begitu, kini niatnya menembak si robot lenyap. Dia menodongkan pistol ke arah sumber suara. Alex tahu kalau dirinya terkejut. Dia mengharapkan matanya akan terbelalak. Tapi, kalau ada perubahan pada wajahnya saat ini, itu tak lebih dari sekadar perubahan kelopak setelah berkedip.
__ADS_1
Si sumber suara adalah seorang pria gagah. Dia mengenakan setelah jas kelabu bergaris. Tangan kirinya memeluk gadis di depannya sementara tangan kanannya menodong pelipis gadis itu. Si gadis sendiri berusaha tegar. Meski begitu, matanya yang merah dan hidungnya tak bisa menyembunyikan bekas air mata.
Alex mengenali keduanya dengan cepat. Si pria adalah Filip Shah dan si gadis tak lain adalah Silvy Eleanor. Keributan di jalur komunikasi tak lagi terhindarkan. Alex mendengar suara Gavin meski masih putus-putus.
“Bagaimana kalau kita adakan transaksi, Zetta Sonic?” Filip bertanya sambil terus mendekat, memastikan Alex bisa melihat lebih jelas. “Aku yakin kamu mengenali gadis ini. Anak buahku menculik gadis berambut pirang dan mata biru yang sangat langka. Aku sama sekali tidak menyangka kalau dia terlibat dengan kalian.”
“ICPA tidak bertransaksi dengan penjahat.” Alex dengan mudah mengulang kalimat Nadira. Dia bahkan tak yakin apa sempat berpikir sebelum kalimat itu meluncur keluar darinya. Kalimat itu seolah keluar begitu saja.
“Aku pernah dengar kalau senjata laser bergerak secepat cahaya. Jujur saja, aku penasaran mana yang lebih cepat. Pelurumu mencapai tubuhku atau peluruku menembus kepala gadis ini.” Filip terkikik. “Jatuhkan senjatamu!”
Alex tak berminat bernegosiasi sama sekali. Tak ada niat dalam dirinya menuruti permintaan orang gila itu. Meski demikian, dia sangat sadar kalau ada nyawa yang dipertaruhkan di sana. Dengan sangat enggan, Alex berusaha menurunkan tangannya. Ini tidak berlangsung cepat. Tangannya seolah berontak. Alex bisa merasakan tangannya gemetar ketika dia melakukannya.
“Lepaskan dia!” Alex mendapati kegeraman dalam suaranya. Suara itu seolah bukan miliknya. Bukan karena pengubah suara yang berada di dalam helm, melainkan lagi-lagi oleh sesuatu yang terlalu abstrak untuk dijelaskan. Sebagian dirinya ingin sekali menghajar Filip, sebagian lagi ingin melembut agar Silvy dilepaskan.
“Memangnya aku pernah bilang akan melepaskannya?” Filip Shah menyeringai. “Sekarang, habisi dia, robot!”
Alex terbelalak sungguhan kali ini. Dia tidak menyangka sama sekali kalau si robot masih bisa bergerak. Ketika dirinya berusaha lari, dia justru menyadari kalau itu kesalahan lain. Si robot meluncur padanya menggunakan roket. Dorongan roket si robot sudah tak sempurna. Namun, itu cukup untuk melontarkan tubuhnya pada Alex.
Satu-satunya tangan si robot menghunuskan belati yang tersisa. Si robot mengerahkan semua tenaganya untuk itu. Alex pun terjatuh ke lantai. Dorongan belati tersebut menggores seragam tempurnya. Tusukan pertama membuat kerusakan yang harus diperhitungkan. Peringatan muncul disusul seruan Jayden. Tusukan kedua berhasil merusak seragam tempur pada dada bagian kirinya. Alex berteriak. Dadanya sakit. Matanya berair. Tubuhnya basah oleh darahnya sendiri.
Ketika Alex berpikir kalau dia mungkin akan pingsan, dia justru mendapati pemandangannya berkilat hijau lagi.
__ADS_1