
Selagi Alex menikmati masa-masa tenangnya, Jayden justru sibuk. Dia berada di rumahnya yang tidak bisa dibilang rumah. Tempat itu tak lain adalah markas ICPA pusat.
Gedung itu tidak sebagus dam. Gedung itu seperti gedung pada umumnya. Dinding putih membosankan dengan sedikit aksen hijau, setidaknya lampu yang digunakan masih sama. Lampu yang ditanam pada langit-langit membuat garis futuristik di sepanjang lorong.
Jayden, Tiger, Henrietta, dan Nadira ada di lantai teratas gedung. Lebih tepatnya di ruangan meeting. Ruang tersebut bisa menampung lebih dari dua puluh orang. Ada meja melingkar dengan lubang di bagian tengah seperti donat. Satu sisi dindingnya merupakan dinding kaca. Sekalipun tidak tergolong gedung pencakar langit dan tidak terletak dekat lautan es, pemandangan kota dari sana cukup memukau.
Tidak begitu memukau, kalau Nadira ada di ruangan bersamamu. Keempatnya membahas mengenai kelangsungan Special Force Zetta Sonic. Nadira akan memarahi siapa pun yang menyebutnya operasi lagi. Dia lebih suka istilah Special Force.
Rapat bersama Nadira hampir selalu membawa kenangan buruk bagi Jayden. Biasanya dia akan kena marah, tak jarang bahkan kena pukul. Nadira punya Henrietta yang setia di sisinya. Dia bukan hanya bertugas melindungi sang pimpinan. Dia juga bertugas menjadi tangan kanan. Artinya, apa pun yang diperintahkan padanya harus dikerjakan tanpa kegagalan.
Kalau Henrietta sedang tak ada di tempat, Nadira akan menyuruh Tiger. Tapi, hari ini ada Henrietta yang jauh lebih patuh daripada Tiger. Jayden tahu dia akan kena pukul setidaknya sekali. Benar saja. Ketika Nadira menjentikkan jarinya, dia mendapatkan pukul telak di perut sampai terbatuk-batuk.
“Kuharap kamu sadar kesalahanmu, Jayden! Kenapa aku selalu dikelilingi orang-orang bodoh?” Nadira berdecak kesal. “Sekarang, semuanya duduk!”
Professor Otto mengambil tempat di sisi kanan Nadira sementara Jayden dan Tiger di sisi kiri. Henrietta tetap berdiri di belakang tuannya bak anjing penjaga yang setia.
Jayden tak melanturkan protes yang ada dalam benaknya. Nadira tak lebih dari nenek-nenek pecinta kekerasan. Dia bukan punya dendam tersendiri pada Jayden. Dia hanya suka melihat orang lain menderita. Apalagi orang seperti Jayden. Sejauh ini, Nadira belum mengubah pandangannya, seorang kriminal.
Mereka memulai diskusi mengenai perombakan besar-besaran pada markas di waduk. Nantinya akan ada ruang komando dengan komputer dan teknologi lebih canggih. Ukurannya tak bisa dibandingkan dengan ruang komputer Jayden. Ruang generator dan ruang kontrol baru, ruang latihan serta simulasi, gudang persenjataan lengkap dengan bengkel, serta laboratorium untuk profesor Otto. Akan ada peralatan medis lebih lengkap. Dan tentunya, setiap dari mereka akan mendapat masing-masing kamar.
__ADS_1
Hal terpenting di antara semuanya adalah pintu masuk baru dan beragam. Nadira tidak ingin ada yang mondar-mandir di depan waduk. Dia akan mengurus penyebaran informasi palsu guna membuat para kriminal berpikir kalau waduk telah ditinggalkan. Setidaknya, pintu rahasia di bawah jembatan akan dipertahankan. Sejauh ini, ini pintu masuk yang aman.
Ketika sang pimpinan berpaling pada Jayden, pemuda itu tahu ada berita buruk lainnya. “Caitlin mengundurkan diri dengan alasan tidak mampu bekerja sama. Menurut tebakanku, itu kamu atau Alex atau kalian berdua.”
Jayden tak menyangkal. “Kami memang punya beberapa perbedaan pendapat.”
Profesor Otto malah berulah. “Oh, ini bencana! Bencana besar! Di mana aku bisa mendapatkan seorang bodyguard seperti Caitlin dengan otak cerdas juga dedikasi seperti gadis itu? Seandainya saja dia minta pendapatku dulu, aku pasti akan mencegahnya.”
“Sepertinya dia tidak berpamitan denganmu, prof?” tebak Nadira.
“Hanya pesan singkat lewat ponsel.” Profesor Otto mengusap keningnya yang berkerut. “Aku berharap kamu punya beberapa calon pengganti, Nadira.”
Nadira malah melempar pandangannya kembali pada Jayden. “Aku yakin Jayden punya beberapa kandidat.”
Tiger terkikik. “Kamu yang membuat Caitlin keluar, setidaknya lakukan sesuatu. Kamu tahu kalau Caitlin bukan hanya cerdas, dia juga bisa berfungsi ganda sebagai pelindung untuk profesor. Carikan pengganti yang sebanding dengannya. Dalam segi kepandaian, kemampuan bela diri, dan penampilan.”
Jayden belum sempat menjawab, Nadira sudah menimpali. “Aku ingin tiga nama disetorkan pada profesor Otto minggu depan paling lambat. Biarkan profesor Otto memutuskan siapa yang layak jadi pengganti Jayden.”
“Tapi, kukira kamu mau aku memperbaiki sistem pertahanan ICPA Sinde pusat dan markas operasi Zetta Sonic--”
__ADS_1
“Special Force!”
“Special Force, maksudku. Profesor juga menyuruhku memeriksa ulang komponen seragam Zetta Sonic agar bisa dikembangkan.” Jayden menyebutkan beberapa pekerjaan besarnya. “Belum lagi, kamu mengambil komputer dan peralatanku.”
“Komputermu akan tiba di sini besok pagi. Lalu\, kalau yang kamu maksud itu adalah peralatan yang disimpan gudang waduk\, kusarankan kamu pakai yang ada di sini. Ruang perbaikan di sini jauh lebih besar. Dengan peralatan lebih lengkap.” Nadira mencibir\, “Lebih baik kamu segera selesaikan pekerjaanmu. Kelihatannya kamu sibuk!|
Jayden sadar kalau tak seorang pun di pihaknya. Dia hanya bisa memutar mata, mengabaikan kekesalan, dan menelan kembali protesnya. Rapat itu tidak berjalan baik. Dia selalu berada di pihak yang disalahkan. Sekalipun, mungkin dia memang punya andil dalam setiap masalah yang terjadi belakangan.
Rapat mereka selesai pukul setengah dua belas malam. Jayden melewatkan makan malamnya. Daripada itu, dia lebih membutuhkan tidur. Sejak pagi, dirinya membantu membereskan barang-barang di waduk. Sebagian dipindah ke sini, sebagian dipertahankan di wadur, di ruangan Alex.
Jayden dan yang lain biasanya tinggal di waduk. Karena markas mereka sedang diperbaiki, Tiger akan kembali ke rumah adiknya. Profesor Otto dan dokter Vanessa juga akan pulang ke rumah mereka masing-masing. Tinggal Jayden seorang. Dia sudah mendaftarkan diri untuk tinggal di asrama ICPA untuk sementara waktu.
Gedung asrama itu terletak di bagian belakang gedung utama. Bangunannya merupakan bangunan empat lantai dengan model seperti asrama kuno. Tidak ada bagian yang memberi kesan futuristik di sini. Jayden bisa membayangkan isi kamarnya. Sepasang ranjang susun, meja kursi dan lemari pakaian. Tidak ada kamar mandi dalam.
Asrama tersebut memang diperuntukkan untuk agen baru atau agen yang berasal dari luar kota. Kebanyakan dari mereka hanya tinggal selama beberapa bulan, tidak lebih. Mengingat kalau tempat tersebut memang hanya bersifat sementara, Nadira tak berniat sama sekali membuat perbaikan.
Jayden dulu juga pernah tinggal di sini bersama beberapa rekan. Mereka cukup dekat. Sekarang tidak lagi. Rekan-rekannya pindah ke cabang berbeda, sementara dirinya bergabung dengan Zetta Sonic. Kamar mereka sudah dipakai orang lain. Jayden mendapat kamar lain di lantai dua paling ujung bersama orang-orang asing.
Si pemuda berhenti di depan pintu kamar sambil mengambil kartu aksesnya. Nadira memasang kunci akses seperti pintu hotel. Canggih? Tidak juga. Tempat lain di markas mereka menggunakan kunci sidik jari atau scanner retina. Kunci semacam ini memang lebih praktis. Di saat Jayden menggesek kartunya, warna merah dan suara sumbang terdengar.
__ADS_1
Kartunya ditolak.
Jayden mendesah. “Lagi? Lelucon kuno.”