Zetta Sonic

Zetta Sonic
Dashboard


__ADS_3

Sementara itu, Alex sudah berada di tangga terakhir menuju kebebasan. Dia berhasil memanfaatkan kekacauan dan memanjat tangga ke atas. Lubang di atas kepalanya ternyata telah terbuka. Si pria besar, Tiger, sedang menantinya di atas ditemani sebungkus besar keripik kentang. Begitu melihat si Zetta Sonic keluar, ditendangnya tutup saluran air ke posisi semula, menutup jalan keluar dari saluran pembuangan air.


“Aku mau bilang kerja bagus, tapi baumu mengerikan,” kata Tiger sambil melambaikan tangannya ke udara.


Alex memutar bola matanya, yakin Tiger tak melihatnya. “Kalau kamu mau menunggu di dekat rumah, aku enggak perlu lari-lari sejauh ini,” balas Alex. Napasnya masih tersengal-sengal, antara lelah dan tegang.


Tiger mencibir. “Lingkungan rumah itu cukup padat penduduk. Kita tidak boleh mengambil risiko melibatkan warga sipil apalagi sampai membuat orang tak bersalah jadi korban. Lagipula, ini tempat menunggu yang sempurna.”


Alex menggelengkan kepala. Tiger berjalan ke tong sampah besar terdekat, membuang bungkus keripiknya di sana. Mereka ada di gang sempit, tepat di balik pertokoan tua. Kebanyakan toko telah tutup, hanya menyisakan satu mini market dan stasiun pengisian bahan bakar dekat perempatan.


“Ayo pulang!” Tiger melangkah ke arah mobil SUV putih.


Alex hingga saat itu masih heran kenapa ICPA membiarkan kebanyakan peralatan serta kendaraan mereka berwarna putih bukan hitam. Padahal, seluruh misi ICPA merupakan misi rahasia. Biasanya, warna hitam lebih identik dengan agen rahasia. Sementara warna putih terkesan mengolok-olok para penjahat.


Di dalam mobil, Alex telah mematikan seragam tempur. Dalam keadaan non-aktif, seragam itu tak lebih besar dari lencana polisi. Ini salah satu kecanggihan peralatan ICPA. Buatan profesor Otto dan Jayden. Seragam tiu terdiri dari kepingan kecil yang entah bagaimana bisa cukup tersimpan di balik lencana. Alex pun memakainya pada sabuk, persis seperti lencana polisi sungguhan.


[Berikan itu pada Tiger.] Suara Jayden beserta gambarnya muncul pada layar di tengah panel interior mobil SUV tersebut.


“Mau mencucinya?” tebak Alex.


[Untuk apa?] Jayden tergelak. [Aku merencanakan beberapa sentuhan baru untuk Zetta Sonic. Hal-hal yang kamu akan suka.]


Mendengar itu, Alex tak bisa menahan senyum simpul terkembang di wajahnya. Terakhir kali operatornya membuatkan roket, dia benar-benar mencintai inovasi tersebut. Seperti peralatan ICPA yang praktis dan canggih lainnya , roket tersebut hanya seukuran tas ransel. Lumayan ringan dan kokoh. Kecepatan terbangnya memang tak bisa menyamai pesawat terbang, namun lebih dari cukup untuk mengejar robot pembunuh.


Ngomong-ngomong soal robot pembunuh, Alex masih tak bisa melepaskan ingatannya dari misi terkhir di atas kapal barang. Terutama perasaan ganjil yang menguasainya di akhir misi. Sensasi ketika Dragon Blood seolah menguasai dirinya. ‘Seolah’ karena Alex masih memiliki kendali penuh atas tubuhnya namun tak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Setiap kali kenangan itu mengapung, Alex spontan menggerakkan bahu, seakan ingin mengusir beban yang ada di sana.


Jayden tahu sekalipun tak bicara apa pun.

__ADS_1


[Masukkan lencana itu ke kotak.] Si operator memberikan instruksi, membantu Alex melepaskan diri dari pemikirannya sendiri.


Alex pun mengedarkan pandangan. Tiger bergeming. Alex tahu kalau dia harus mencarinya sendiri. Tebakan pertama biasanya beruntung. Alex menemukan sebuah kotak kecil berlapis besi di dalam dashboard. Pandangannya teralihkan pada benda lain yang juga berada kalam kompartemen tersebut.


“Apa ini?”


[Aku enggak tahu. Aku enggak bisa lihat.]


Alex mengambil sebuah benda melingkar seperti yang sedang dia kenakan. Bentuknya mirip Zet-Arm, namun warnanya hijau metalik. Tanpa disinari lampu pun, gelang itu bercahaya. Ada motif sama yang baru nampak ketika Alex menggerakkannya di bawah kondisi remang. Dia menemukan kumpulan motif segienam tersusun dari garis hijau samar.


[Oh, ternyata ada di situ. Kukira aku sudah membuangnya.] Jayden akhirnya bisa berkomentar setelah Alex membawanya ke depan layar.


“Prototype apa?” Alex bertanya lagi. “Zet-Arm?”


[Bukan, bukan. Prototype seragammu.]


Alex melirik lencana yang masih ada di tangannya. Dia pun mengambil kotak berlapis besi dan menyimpannya di sana. “Kamu mau membuatku memakai dua gelang sekaligus?” Alex mendengus geli. Sejak bergabung dengan ICPA, dia tidak pernah melepaskan Zet-Arm sama sekali. Gelang itu membantu setiap anggota di Special Force agar bisa memantau kondisi tubuhnya.


“Ide profesor, huh?”


[Profesor bilang kamu bisa memakai gelang pertama di kanan, gelang lain di kiri. Ya, itu konyol. Tapi, itu gelang seragam pertama yang kami buat. Sangat rapi. Bahkan menurutku cara kepingannya tersimpan jauh lebih rapi daripada seragammu saat ini.]


“Jadi, apa masalahnya?”


[Kepingannya kurang tebal. Dia masih bisa ditembus dengan peluru biasa.]


Tiger akhirnya ikut bicara. “Peluru sembilan milimeter. Sig sauer. Tembakan di dada. Kamu akan tewas. Enggak perlu repot-repot mencari penembak jitu untuk membunuh agen di balik seragam itu.”

__ADS_1


“Kalian mengorbankan kerapiannya untuk bentuk?” tebak Alex. “Kalau boleh jujur, aku lebih suka gelang ini daripada Zet-Arm. Desainnya bukan fungsinya.”


Jayden tak berniat melanjutkan. [Kembalikan dua-duanya. Aku akan membuatkanmu barang yang lebih bagus dari itu.]


“Kamu berniat membuat desain seragam baru?”


[Enggak. Seragammu masih bisa digunakan. Sejauh ini aku juga bisa memperbaikinya dengan mudah. Kupikir aku akan membuatkanmu yang lain. Sebuah kejutan.]


“Senjata?” tebak Alex.


[Jangan melakukan hal sia-sia. Sudah kubilang itu kejutan. Jadi, sampai ketemu di markas.] Jayden mematikan sambungan komunikasi.


Alex menyimpan kotak berlapis besi di kompartemen. Dia juga melemparkan silinder berisi plat pencetak ke dalam kotak plastik yang ada di bangku kedua. Kemudian, barulah dia berpaling pada Tiger.


“Kamu harap aku akan memberimu jawaban?” Tiger tak sedikit pun melirik balik anak itu. Matanya terus terarah ke depan. Dia menyupir dengan aman dan cepat. Mobilnya menerobos gerimis pelan serta jalanan licin langsung ke arah jembatan layang di pinggiran kota.


“Tidak. Kamu buta teknologi.”


“Sangat lucu,” balas Tiger meski dia sama sekali tidak tertawa.


“Kamu tahu, aku enggak begitu suka ketika mereka membuat senjata baru untukku.”


“Kenapa?”


“Itu kebiasaan manusia. Mereka membuat sesuatu yang baru untuk mengalahkan yang lain. Paham maksudku? ICPA membuat Zetta Sonic ketika mereka merasa mulai banyaknya penjahat kuat. Kali ini pun demikian. Jayden membuat sesuatu karena ada ancaman penjahat baru. Sekarang, pertanyaannya, siapa penjahat yang kita hadapi?”


Tiger menyunggingkan senyum. Insting dan otak cerdas Alex tak pernah membuatnya bosan. “Kalau kamu ingin tahu, coba baca berkas terbaru yang ada di ICPA.”

__ADS_1


“Berkas apa?”


“Aku yakin kamu punya akses ke database ICPA lewat Zet-Arm. Lihat saja di sana. Kamu enggak akan percaya apa yang kami temukan.”


__ADS_2