Zetta Sonic

Zetta Sonic
Wild Shots


__ADS_3

Jayden berbalik sesuai perintah. Marcel mengernyit. Dia bisa melihat bagaimana tangan Jayden yang terborgol membentuk kepalan. Tangan itu berada di depan dada seolah dia sedang berdoa.


Marcel pun mendengus dan tak lama tertawa geli karenanya. “Sangat lucu, Jayden. Apa kamu akan bilang supaya aku enggak menyuruhmu membuka tanganmu juga?” Marcel mendekatkan moncong senjatanya pada dahi Jayden. Paras itu tertutup oleh rambut yang berantakan. “Buka tanganmu! Tunjukkan apa isinya!”


“Tidak!” Jayden menarik tangannya pergi.


Gerakan itu membuat Marcel mengarahkan tangannya untuk menarik tangan lawan. Namun, Jayden membawa tangannya agak rendah sampai Marcel harus menunduk. Saat itulah, Jayden memanfaatkan kesempatannya. Menggunakan lututnya, dia menendang wajah Marcel keras-keras. Marcel menjerit sambil mundur. Pistol yang tadinya ada dalam genggamannya pun terlepas. Kedua tangan Marcel memegangi wajahnya. Dari sela-sela jari dan ujung dagunya, menetes darah merah segar.


“Kamu mematahkan hidungku!” Marcel berteriak dengan suara sengau. Matanya berair. Dia mengumpat serta memaki-maki.


Jayden merasa dialah penjahatnya ketika tertawa geli. “Hahaha… Kamu benar-benar gampang tertipu. Bukan tipikal agen ICPA. Enggak heran kamu dipecat semudah itu.”


“Apa? Beraninya kamu bicara begitu!” Marcel protes sambil meringis kesakitan.


Jayden mengambil pistol yang tergeletak di atas lantai pesawat. Marcel terbelalak melihatnya. Bukan karena Jayden merebut pistol dan balik menodongnya sekarang, melainkan lebih kepada bagaimana tangan Jayden telah lepas oleh borgol.


“Tunggu! Bagaimana kamu—”


Jayden tersenyum simpul. Dia menunjukkan sebuah kunci mungil. Kunci borgolnya. “Aku menemukan kunci cadangan dalam kontainer.”


“Itu benda yang kamu sembunyikan tadi?” Marcel memaki lagi. Tangannya masih menutupi wajahnya. “Sial! Pasti gadis itu yang memberitahumu kalau kuncinya ada di sana. Seharusnya aku melemparnya lebih cepat dari sini.”


“Diam!” sergah Jayden. “Sekarang, berikan aku parasut!”


“Tidak ada parasut di sini—”


“Ayolah, aku tahu orang semacam kamu enggak akan mau pergi tanpa parasut. Kamu hanya seorang pengecut. Kalau benar di sini tidak ada parasut pun, kamu pasti membawa milikmu sendiri. Berikan padaku!”


“Tidak! Kalau terjadi sesuatu dan aku harus melompat keluar, aku bisa mati!”


“Rupanya kamu enggak pintar membaca situasi.” Jayden mendekatkan moncong pistolnya ke wajah lawan. “Yang mana pun, kamu akan tetap mati. Entah dengan kepala berlubang atau tubuh remuk akibat lompat dari pesawat. Mati sekarang atau nanti. Pilihan di tanganmu.”

__ADS_1


Marcel mendesah panjang lalu mengangguk dengan kaku.


“Bagus,” ujar Jayden. “Angkat tanganmu ke atas dan ambilkan aku parasutnya.”


Marcel tak berani protes. Ketika kedua tangannya tak lagi menutupi wajah, terlihat hidungnya yang berdarah-darah. Wajahnya berantakan dan matanya masih berair. Dia berbalik dengan enggan lalu berjalan pelan. Jayden mengikuti di belakang sambil tetap menodong kepalanya.


Mereka melalui deretan kotak-kotak barang lalu tiba di bagian ujung pesawat. Ada tumpukan yang ditutupi oleh kain serta jala. Marcel menyingkirkan jala dan menyingkap sebuah benda serupa ransel. Dia mengambilnya dan berhenti. Sempat terlintas di pikirannya untuk melemparkan parasut itu pada Jayden. Sementara Jayden sendiri begitu waspada. Moncong pistol itu nyaris menempel di kepalanya sekarang.


“Berbalik perlahan!” pinta Jayden. “Jangan berpikir aneh-aneh atau aku enggak akan ragu langsung menembak.”


Marcel berdecak kesal. Dia pun berbalik perlahan sesuai perintah. Jayden merebut ransel parasut tersebut begitu bisa. Ketegangan memuncak ketika mereka mendengar dering telepon. Marcel bahkan nyaris melompat. Kedua orang itu melirik ke sumber suara yang ada di saku Marcel. Berikutnya, mereka pun bertukar pandang.


Jayden mengangguk sekali. “Angkat teleponnya, nyalakan loud speaker, dan jangan berani macam-macam. Aku penembak yang baik apalagi dari jarak sedekat ini.”


Marcel tak punya pilihan. Dia melakukan seperti ucapan Jayden. “Halo?”


[Kalian sedang diserang. Laporkan situasinya.] Terdengar suara di seberang telepon. Bukan suara Roban. Jayden tahu dia bisa saja salah atau terlalu curiga, tapi dia cukup yakin kalau suaranya sangat mirip dengan suara Baron, kekasih Caitlin.


[Benarkah?]


Jayden memicing. Si penelepon pasti menyadari ketegangan pada suara Marcel.


Marcel buru-buru menambahkan. “Sungguh. Situasi terkendali. Kamu pikir aku akan membiarkan Jayden lolos begitu saja dan memukul hidungku? Hei, jangan berani lapor aneh-aneh pada bos! Semuanya terkendali di sini.”


[Baiklah kalau begitu, Marcel. Ada pesawat lain bersembunyi di balik gunung. Begitu kalian bisa meloloskan diri, kamu akan membawa Jayden berpindah pesawat. Mengerti?]


“Mengerti.”


Sambungan pun terputus di sana.


Jayden langsung menyahut ponsel Marcel dan memasukkannya ke dalam sakunya sendiri. Dia memastikan ponselnya aman dengan menutup resleting saku jaket tersebut. Dia pun bertanya. “Siapa tadi?”

__ADS_1


“Asisten pribadi Roban. Aku enggak tahu siapa namanya.” Marcel menjawab diakhiri desahan panjang. Ketika pistol Jayden didorong mendekat, dia pun langsung bicara lagi. “Sungguh! Kami tidak pernah bertemu. Roban juga tidak pernah memberitahu namanya apalagi dia sendiri. Kamu pikir aku hafal siapa saja anak buah Roban? ”


Jayden tersenyum simpul. “Sejak kapan nama asisten pribadi lebih dirahasiakan daripada nama si bos?”


Pertanyaan Jayden spontan membuat Marcel mengernyit.


“Dia bosnya,” tukas Jayden.


“Apa? Tidak mungkin. Selama ini, dia hanya menelepon kalau Roban berhalangan. Itu pun di saat yang benar-benar genting. Roban biasanya menggunakan video call dan dia…” Marcel berhenti sebentar sebelum melanjutkan. “Dia hanya menelepon biasa. Hanya suara. Tidak ada gambar.” Marcel menyadari ucapannya sendiri. “Dia bosnya!”


Jayden menggelengkan kepala, geli pada sikap Marcel. Selagi Marcel kebingungan, dia telah menggunakan parasutnya. Salah satu bahunya tertekan oleh ransel. Darah merembes keluar dai jaket dan membasahi pegangan ransel tersebut.


“Sekarang, diam di tempat!” Jayden memberi instruksi selanjutnya.


“Kamu mau apa? Lompat keluar pesawat dalam kondisi adu tembak seperti ini?” Marcel mencibir. “Kamu sama bodohnya denganku.”


“Sungguh? Coba lihat ke luar jendela!”


Marcel mengintip dari jendela terdekat. Pesawat ICPA terbang dengan tenang meski salah satu bagiannya mengeluarkan asap hitam. Dia sedang menghadapi satu pesawat lain. Hanya satu. Keduanya bermanuver dengan gesit di udara, saling mengejar, dan menembak. Adegan itu persis seperti yang sering dia lihat pada video training.


“Teknologi ICPA enggak bisa diremehkan.” Jayden tersenyum bangga. “Sampai bertemu lagi di penjara Marcel. Entah itu di penjara ICPA atau di penjara lokal. Saat ini, pasti para polisi sedang mencarimu karena transferan ilegal.”


“Apa? Tunggu!”


Marcel tak lagi melihat jendela. Dia melihat Jayden sudah berlari ke arah pintu darurat pesawat. Dalam waktu singkat, Jayden berhasil membuka pintu daruratnya. Itu tepat ketika pesawat tempur lawan tertembak dan meledak. Ledakan yang terjadi terlalu dekat membuat oleng semuanya.


“Sial!” Jayden tersadar kalau pistol di tangannya terlepas. Lebih buruk dari itu, pistolnya jatuh dan bergeser pada Marcel. Dia juga belum memberi sinyal pada pesawat ICPA. Melompat dalam situasi seperti itu sama saja seperti bunuh diri.


“Jayden! Kamu akan membayar ini!” Marcel berteriak geram. Dia sudah mendapatkan pistolnya. Tanpa pikir panjang, Marcel mulai menembak sambil mengabaikan pesawat yang miring.


Jayden sadar telah termakan ucapannya sendiri. Entah dia akan mati oleh tembakan lawan atau mati karena terjatuh dari ketinggian seperti itu. Pilihan yang mana pun, tidak baik untuknya. Jayden memilih untuk melompat.

__ADS_1


__ADS_2