
Kapal selam mereka bergeming di posisi. Tak ada pergerakan berarti, baik dari pihak Special Force maupun rudal. Hanya sensor dalam kapal yang memberi tahu kalau mereka telah ditarget. Kalau rudalnya dilepaskan, keenamnya akan langsung menuju kapal selam kecil yang mereka naiki.
“Tolong katakan kalau kapal selam ini dilengkapi dengan perisai,” ujar Tiger, lirih.
Emil tak menjawab pertanyaan tersebut. “Kita punya senjata. Beberapa rudal.”
“Tolong katakan kalau rudal kita sebesar itu.”
Alex menelan ludah. Dia bisa melihat moncong rudal yang nampak ukurannya hampir separuh ukuran kapal selam mereka. Tidak mungkin kalau kapal selam ini memuat rudal yang bisa menandingi keenam rudal tersebut. Belum lagi, ada enam rudal bersiap di posisi. Mereka kalah jumlah dan kekuatan.
“Kita masih bisa bermanuver, ‘kan? Lari dari semua ini?” tanya Tiger lagi.
“Dengan jarak sedekat ini? Negatif.”
“Mereka belum menembak, Emil. Sekarang kesempatan kita!”
“Justru itu. Kenapa mereka tidak menembak?”
Tak satu pun dari ketiga orang itu berani bicara lagi. Mereka bergeming. Di depan Tiger, ada panel senjata. Dia bisa menembakkan rudal kapan pun diperlukan sekalipun hasilnya diragukan. Di depan Emil, ada panel pengendali kapal selam. Dia bisa membawa mereka berbalik meskipun kecepatannya juga tidak menjanjikan. Sementara di depan Alex sendiri, ada panel dan layar. Salah satu lampu di dekatnya baru saja berkedip.
“Transmisi masuk,” ujar Alex.
Di depan setiap mereka, muncul tampilan hologram. Asalnya dari transmisi pesan yang baru saja masuk. Sebuah pesan singkat.
APA KAMU TAHU APA SESUNGGUHNYA ZETTA SONIC ITU? MASUKLAH.
__ADS_1
“Pertanyaan macam apa ini?” Tiger merespon lebih dulu.
Selanjutnya, Emil. “Transmisinya memang datang dari dalam sana,” kata Emil menunjuk pintu kembar yang sedang terbuka. Dia tak perlu melanjutkan, ketiganya sadar kalau itu tak lebih dari umpan jebakan.
Tiger memicingkan mata. “Dia ingin kita masuk? Jangan bercanda!”
“Bukan. Kupikir, dia hanya menginginkan Zetta Sonic. Jadi, kita akan memberikannya,” kata Alex. Emil hendak menggerakkan kapalnya, namun Alex lebih dulu bicara. “Tidak. Dia menginginkanku. Sendirian. Kalian tunggu di sini.”
“Itu ide terbodoh yang kudengar hari ini!” Tiger langsung protes. “Berhenti menggunakan kami sebagai cadangan! Kita ini tim!”
Alex terkejut mendengar semua yang diucapkan Tiger. Separuh hatinya senang, separuh lagi perih. Dia tahu kalau Tiger benar. Alex tidak mau bertengkar dengan siapa pun dalam kondisi seperti itu. Apa pun yang menantinya di dalam sana akan memberikannya jawaban akan keberadaan Jayden.
Menengahi pertengkaran yang bisa mencuat kapan pun, Emil pun menyentuh panelnya. “Kita tidak tahu soal itu. Mari kita coba.”
Baru saja kapal selam mereka bergerak pelan, ada gerakan di antara para rudal. Moncong mereka ikut bergerak menyesuaikan dengan posisi kapal selam. Suara mekanisme yang mengubahnya terdengar begitu mencekam. Gelembung-gelembung air kecil pun muncul, memberi bukti lain kalau rudalnya baru saja menyesuaikan arah.
Tiger mengumpat dibuatnya dan Emil hanya bisa mendesah panjang.
Tiger melipat tangannya ke depan dada sambil bergumam.
Emil dan Alex bertukar pandangan. Saat itu, Alex tahu jelas apa yang dipikirkan operator barunya. “Itu akan bekerja!”
“Apa?” Tiger menuntut jawaban.
“Biarkan mereka berpikir kalau Zetta Sonic masuk ke dalam sana.”
“Bagaimana caranya?” tanya Tiger. Kemudian, dia menyadari jawaban akan pertanyaan. “Tunggu! Kamu membawa robot palsu Zetta Sonic? Di sini?” Tiger akhirnya tertawa. “Kalau begitu, mari kita tipu mereka!”
Untuk berjaga-jaga kalau lawan bisa melihat lewat kaca kapal selam mereka, Alex berpura-pura keluar dari pintu ruang kendali. Kenyataannya, dia hanya menggunakan stealth mode dan kembali duduk di kursinya. Mode ini membuat Tiger dan Emil tidak bisa melihatnya juga. Jadi, mereka memberi sedikit jeda waktu sebelum Emil mengirim robot Zetta Sonic keluar dari kapal selam.
__ADS_1
“Apa menurutmu, rudal itu akan menembak robotmu?” Tiger bicara lirih seolah takut lawan mereka akan mendengar.
“Jangan. Dia terlalu muda untuk mati.”
Alex bergeming di kursinya. Kursi itu cukup nyaman. Besar dan empuk. Sayangnya tidak bisa membantu menenangkan hati Alex. Dia sama cemasnya dengan dua orang lainnya. Kalau sampai rudal itu benar-benar meluncur pada mereka, Alex tak yakin bisa lolos, apalagi Emil dan Tiger. Dia tidak mau melihat orang tewas lagi.
Beberapa menit selanjutnya berlangsung penuh ketegangan. Emil bisa memantau apa yang dilihat si robot lewat layarnya. Alex dan Tiger ikut mengintip.
Si robot melalui lorong panjang besar dan muram. Seluruh bagiannya tertutup air laut. Ada pipa dan struktur penyusun lorong. Kebanyakan bagian ini sudah ditutupi karat atau lumut. Tidak ada suara. Terlalu tenang dan gelap. Cahaya dari helm si robot juga tidak mampu menyorot jauh apalagi memecahkan kegelapan. Setelah menyelam cukup jauh, tampak sebuah bayang-bayang cahaya dari atas. Sepertinya lorong akan segera berakhir.
Sayangnya, bukan lorong buntu yang menanti di depan.
Emil terkesiap. Sebuah bayangan besar menerjang dalam kecepatan cepat. Sensor si robot mendeteksinya sebagai ikan besar, tapi ikan tidak memiliki kaki. Si robot menghindar dengan cepat. Ada pendorong pada kaki yang membuatnya bisa bergerak cepat dalam air. Spontan, Alex melirik Emil. Dia akan minta seragam tempurnya dilengkapi fitur yang sama nanti.
Sensor si robot kembali bekerja. Bentuk si monster mulai dikenali. Panel Emil menerima bentuk tersebut dalam siluet. Dua kaki depan, dua kaki belakang, kepala segitiga, ekor tebal. Panjangnya lebih dari lima meter. Lebih cepat dan lebih gesit. Makhluk amfibi yang lain. Seekor predator pula.
“Kita dalam masalah,” ujar Emil.
“Apa?” Tiger kelihatan cemas. Pertanyaannya keluar dalam bentuk bentakan.
“Ayo, pergi!”
Emil sama sekali tidak menunggu respon teman-temannya. Dia membawa kapal selam mereka menjauh. Guncangan pun terjadi. Alex terhuyung-huyung, memaksanya berpegangan pada kursi Emil. Sementara Tiger bertahan dengan berpegangan pada pegangan yang ada pada dinding kapal selam.
“Kamu gila!?” Tiger pun protes.
Kapal selam mereka bergerak dalam kecepatan maksimum. Berita baiknya, rudal itu tidak lantas bergerak mengejar mereka.
“Ada apa, Emil?” Alex ikut bertanya. Stealth mode miliknya telah lenyap, begitu pula helmnya, menyisakan seragam lengkap tanpa helm. Alex menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya sendiri. “Kamu bilang kita tidak akan bisa lari.”
“Itu hanya masalah waktu.” Emil bicara. Matanya terpaku ke depan.
__ADS_1
“Apa maksudmu?”
Alex mendapatkan jawabannya segera. Dia melihat pandangan si robot kini digantikan layar hitam dengan tulisan merah. Hubungan mereka dengan si robot telah lenyap. Monster raksasa tadi sudah berhasil menghancurkannya. Dan, hampir bersamaan dengan itu, radar mereka kembali meraung. Radar itu memberitahu mereka akan kedatangan enam rudal besar bermoncong kuning.