Zetta Sonic

Zetta Sonic
Face to Face


__ADS_3

Melodiza tahu. Hal itu sesungguhnya membuat Alex gentar. Namun, dengan adanya Emil dan Tiger di sisinya saat ini, Alex tak mau mengecewakan mereka. Tampak gentar tidak akan baik buatnya. Maksudnya, Alex ingin menunjukkan keyakinannya. Dia tidak sendirian kali ini. Sekalipun tanpa Jayden, ada anggota Special Force bersamanya.


“Apa rencananya?” tanya Alex. Pertanyaan itu keluar lirih, terjebak di antara keraguan sekaligus keyakinan kalau mereka punya rencana.


Tiger mendengus geli. “Belum paham juga?”


“Kamu harus ke sana. Menyelamatkan mereka. Teman-temanmu.” Emil melirik ke arah luar seakan bisa melihat gedung sekolah dan kelas Alex dari sana. “Sementara, kami… Kami akan menyelamatkanmu dan Sonic.”


“Apa?” Alex tak begitu paham. “Aku tidak bisa muncul ke sana dalam kondisi seperti ini.” Dia bisa melihat dirinya sendiri dengan lebih jelas saat ini. Bukan tampilan ideal untuk bertemu penjahat semacam Melodiza. Di bawah seragam tempurnya, seragam Alex bukan hanya kotor tapi bau dan ternoda darah. Ditambah lagi ada perban melilit pada tangan kirinya akibat gigitan si monster.


“Tentu saja kamu enggak bisa,” balas Tiger.


Tiger menarik sebuah barrel bag dari sisi yang tak diperhatikan Alex sebelumnya. Tas itu kelihatan seperti tas yang biasa digunakan untuk fitness, bahkan kualitasnya di bawah tas milik Alex. Tentu saja bukan tasnya yang dia maksud melainkan isinya. Mata Alex terbelalak ketika Tiger membukakan tas itu untuknya. Matanya menangkap warna hijau kain yang pernah dia pakai.


Setelan pakaian berlapis green screen.


Dia pernah menggunakan pakaian serupa ketika dulu pertama kali berkunjung ke markas di dalam bendungan. Tiger berusaha tak membuat ekspresi. Meski begitu, Alex tahu Tiger sama bersemangatnya seperti dirinya. Kalau dulu dia pernah mengecoh kamera pengawas, kali ini dia akan menguji kalau Melodiza bisa menyadarinya atau tidak.


Alex mengenakan pakaian tersebut langsung di atas seragamnya. Buatan ICPA ini tak lebih dari setelan atasan dan bawahan dengan resleting. Ukurannya pas, malah sedikit ketat. Barang yang Alex pakai saat itu — yang dia pesan lewat online — lebih nyaman dari itu. Berusaha menelan komentarnya, Alex bergegas memakainya.

__ADS_1


Begitu dia selesai mengenakan, Alex melihat seragam sekolah melekat pada tubuhnya bukan setelah hijau.


Tak lama setelahnya, dia sudah berjalan santai di lorong sekolah menuju kelas. Tak ada seorang pun di sana. Hal yang jelas-jelas sangat salah. Sisi baiknya, tak seorang pun juga bisa terlibat seandainya situasi memanas. Di atas kepalanya, agak sedikit ke belakang, ada Jason sedang terbang cukup rendah dalam kesunyian.


Begini inti rencana Emil, Jason nanti akan menampilkan gambar di atas pakaiannya. Gambar apa pun, sesuai dengan keperluan. Jujur saja, itu sedikit membuat Alex resah. Tentu saja, semua bisa berjalan salah. Sayangnya, dia tak punya banyak pilihan. Selama dirinya tak bisa membuat rencana, Alex memilih pasrah pada rencana operator dadakannya.


Alex melempar pandangan ke lapangan ketika melewati deretan dinding kaca. Pemandangan hijau biasanya membuat pikirannya lebih tenang. Tidak kali ini. Alih-alih bayangan akan padang rumput, Alex membayangkan seperti apa ruang kelasnya nanti. Pikiran itu terus membayanginya bahkan ketika Alex tidak di depan pintu kelas yang terbuka.


“Hai, Alex!”


Melodiza menyapa duluan. Guru itu berdiri di depan bawah ruang kelas. Tempat biasanya para guru mengajar. Untuk pertama kalinya, Alex merasakan kalau ruang kelasnya seperti gelanggang pertandingan. Hari ini, peserta pertandingan adalah dirinya dan Melodiza, disaksikan teman-temannya yang mematung. Mereka bahkan tak menoleh ketika Alex memasuki ruang kelas.


“Mau ke mana? Kemarilah, Alex.”


Alex memalsukan reaksi bingungnya. Dia pun menuruti perintah sang guru dengan berjalan pelan ke bawah. Wajahnya memasang tampang penuh pertanyaan. “Kuharap ini bukan semacam hukuman atau …” Alex membiarkan kalimatnya menggantung.


“Tidak. Sesungguhnya, aku sangat senang boleh bertemu denganmu di sini. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu Zetta Sonic secepat ini. Mereka kan iri padaku.” Melodiza membuat senyuman yang tak pernah dilihat Alex. Senyum tipis, matanya meyipit, dan lidah yang menjilat bibir atasnya. Dia tampak seperti vampir daripada pembunuh bayaran.


“Maaf. Apa?”

__ADS_1


“Kamu tahu, Alex, tidak ada gunanya kamu pura-pura tidak tahu. Kalau aku jadi kamu, aku akan bersikap baik. Berlututlah, mungkin aku akan berubah pikiran untuk tidak membunuhmu dan teman-temanmu.” Senyum di wajah itu terkembang lebih lebar.


Alex bergidik ngeri. Dia merekayasa refleksnya malah untuk tertawa kecil. “Apa ini semacam sandiwara? TV Show? Di mana kameranya?”


Melodiza berdecak kesal. Dia mengambil pistol yang disematkan pada pahanya di bawah rok magenta. Tanpa aba-aba, pistol pun meletus. Tembakan itu ditujukan pada kaki kiri Alex. Alex berteriak, terjatuh ke tanah. Paha kirinya ternodai warna merah. Melodiza beranjak maju dari posisinya.


“Cih! Sandiwara picisan! Mungkin memang kamu tidak semenakutkan kata orang.” Melodiza beranjak meninggalkan posisinya menuju Alex yang meringkuk. “Kamu tahu, namamu jadi salah satu target paling diincar di kalangan para pembunuh bayaran. Apalagi setelah kamu berhasil merusak robot Filip Shah.”


Alex tak merespon, sibuk meringis dan memejamkan mata.


“Beberapa bertaruh siapa yang akan lebih dulu mendapatkanmu, sang Zetta Sonic yang ditakuti oleh para penjahat. Mungkin, mereka terlalu melebih-lebihkan. Identitas rahasia? Peralatan canggih? Kamu tetaplah bocah!”


Melodiza sudah berada di depan Alex. Dia menendang bahunya, memaksa Alex berbaring di atas lantai keras dan dingin. Dia bahkan tak ragu ketika mengehentakkan kakinya ke atas dada Alex, membuat anak itu terbatuk dan kesakitan. Dengan kaki yang masih berada di atas dada korbannya, Melodiza pun membungkuk.


Alex merasakan matanya mulai berair. Aroma wangi sang guru kini tak lebih dari aroma yang membuatnya mual. Sisi asli Melodiza membuatnya tak percaya. Suaranya juga begitu berbeda. Suara Melodiza membuat kepalanya berputar. Perlahan, kesadarannya mulai ditarik menjauh dari dunia nyata.


“Di mana kekuatanmu, hai Zetta Sonic? Kalau tak segera mengeluarkannya, kamu akan langsung tewas. Saat ini. Di sini.”


Sepertinya itu kata-kata terakhir yang didengar Alex sebelum dunianya kembali dalam kegelapan. Kesadarannya tak hilang. Itu semua sesuai dengan rencana Emil. Pura-pura kena serang, pura-pura terkapar, pura-pura pingsan. Zetta Sonic akan datang menyelamatkannya. Hanya saja, Alex tak percaya kalau dia akan dengar suaranya sendiri datang dari sudut lain ruang kelas, diawali suara kaca pecah dan roket, lalu diakhiri oleh tembakan laser.

__ADS_1


Alex percaya, rencana hari itu adalah salah satu ide terkonyol yang pernah Alex turuti. Tampaknya, dia dan Emil akan punya banyak sekali perbedaan pendapat. Sebut saja, seperti rute pelarian lewat selokan dan membuat Zetta Sonic lain.


__ADS_2