Zetta Sonic

Zetta Sonic
Upside Down


__ADS_3

Alex tergantung.


Kakinya terikat gelang besi dengan tali panjang beraliran listrik. Berani menyentuh gelang atau talinya, kejutan listrik akan melanda. Dia sudah mencobanya ketika pertama kali gagal menyusup. Selain tergantung, Alex juga terperangkap. Dia berada di dalam sebuah kurungan besar berbentuk kubus dengan dinding kaca tebal. Tinju dengan tangan kosong akan membuat tangannya memar. Peluru biasa akan memantul. Bukan pilihan bijak. Dia juga pernah mencobanya. Bedanya, dia menggunakan seragam tempur saat itu. Saat ini, dirinya hanya memakai kaos hitam sederhana di bawah jaket biru gelap.


Emil datang. Mata sayunya menyapu keadaan Alex sekali. Tanpa banyak bicara, dia menyapukan jari pada tablet PC yang dia bawa. Tali dan gelang pada kaki Alex terlepas. Hampir bersamaan, kurungan itu pun terbuka. Setiap sisinya terlipat bak origami, kembali menempel pada langit-langit. Dalam kondisi tersebut, mereka tersembunyi dengan sempurna.


Alex mendarat di atas kedua kakinya. Dia sudah berlatih menjaga keseimbangannya. Ini menghindarkan dirinya dari cedera kepala. Kalau Tiger menyebutnya latihan keseimbangan, Jayden menyebutnya cara jatuh dengan anggun. Alex mengabaikan keduanya. Mau yang mana pun, tak membuat dia bisa tersenyum akan kegagalannya. Lagi.


Ini memang kali keduanya gagal menyusup. Dia bisa membayangkan cengiran Jayden. Setidaknya, itu juga pertanda kalau markas mereka aman. Jauh lebih aman daripada ketika Alex menyusup pertama kali.


“Di mana Jayden?” Alex bertanya sambil membenarkan bajunya.


“Di ruang latihan.”


“Bersama Tiger? Aku heran kenapa dia bisa bertahan melawan Tiger. Dia enggak perlu berlatih sampai seperti itu.” Alex mendengus geli. “Lebih baik dia mengawasi sistem pertahanan di sini. Bisa menjebakku bukan berarti tempat ini aman dari penyusup.”


“Aku setuju.”


Keduanya berjalan menyusuri lorong membosankan ke arah lift. Itu satu-satunya cara berpindah lantai di markas mereka. Sebenarnya, masih ada tangga darurat yang senantiasa dikunci dan, tentu saja, lubang angin. Alex bahkan tak akan repot-repot mencoba masuk lewat sana. Milik Special Force bukan hanya dikunci, ada jebakan laser di sana. Cara cerdas sekaligus kejam.


Ketika melewati lorong dengan satu dinding kaca, Emil spontan menoleh lagi. Alex sendiri sudah berlatih agar tak mudah terpengaruh oleh kondisi sekitar. Hal tersebut termasuk ikut menoleh seperti yang barusan dilakukan Emil. Kalau boleh jujur, area di dalam bendungan satu ini memang sangat menarik perhatian.


Tak nampak tapi ada. Kasat mata dalam kegelapan. Tempat yang sangat cocok untuk menyembunyikan sesuatu.


“Pernah ke sana?” Alex melempar pertanyaan tanpa sedikit pun menoleh. Dia berhasil menahan dirinya, berusaha tak tertarik.


“Tidak.”


“Enggak penasaran.”

__ADS_1


“Tentu saja. Aku akan tunggu undangan profesor.” Emil mengembalikan tatapannya pada tablet PC. Dia memutar ulang rekaman video ketika Alex menyusup. “Bagaimana caramu meretas lift ke bawah tanah?


“Belajar dari masa lalu.”


Melihat kalau Alex tak berniat memberikan penjelasan, Emil pun mengganti pertanyaan. “Bagaimana caramu ke sini? Kamu enggak menyetir’ kan?” Emil tidak melihat ada mobil terparkir di landasan mereka yang terhubung pada berbagai sisi kota. Hampir semuanya berakhir pada bagian bawah jembatan.


“Enggak. Aku lari.”


Jawaban tersebut membuat Emil mengernyitkan dahi. “Dari rumah?”


“Menurutmu?” Alex balik bertanya.


Emil tak merespon lagi. Banyak hal tidak bisa dipastikan kebenarannya ketika bicara dengan Alex. Umumnya anak lima belas tahun tidak akan berlari dari rumah ke tempat yang jauhnya hampir dua puluh kilometer di malam hari. Mengingat kalau Alex memiliki kekuatan dalam dirinya, itu membuat dia tidak masuk kategori umum. Lagipula, Alex terlalu mahir berbohong.


“Seandainya saja aku bisa terbang tanpa roket.” Alex terkikik oleh ucapannya sendiri. Dia masuk duluan ke lift yang baru saja terbuka. Di luar, Emil menatapnya lekat-lekat sebelum ikut masuk ke dalam.


Alex tersenyum sambil melemparkan pandangannya ke langit-langit. “Ya, itu akan sangat menyenangkan.”


“Aku enggak melihat kenapa itu mustahil.” Emil mengusap layar pada tablet PC, menampilkan bagan-bagan tak jelas. “Tapi, menurutku jauh lebih mudah bagimu menyemburkan api dulu sebelum terbang.”


Alex memutar bola matanya.


Mereka tiba di ruangan training ketika Jayden berhasil bangun. Seperti biasa, dia memegangi punggungnya, mengomel kalau akan ada memar lain. Kemudian, dia keluar dari arena bersama Tiger.


Arena yang berada dua anak tangga lebih tinggi dari lantai tersebut perlahan turun. Tiang-tiangnya yang tadi menjadi bingkai bagi kaca tebal terlipat ke bagian dalam beserta dengan dinding kaca mereka. Semua bagian dari arena ini menumpuk jadi satu dan terus turun hingga akhirnya tertutup oleh pintu. Arena pun lenyap menjadi rata dengan lantai.


Jayden melempar senyum pada Alex. “Sepuluh menit.”


“Akan kuselesaikan dalam lima menit.”

__ADS_1


“Jangan bertaruh akan sesuatu yang pasti kalah.


“Itu tantangan?” Alex membuat seringai. “Kalau aku selesai sebelum sepuluh menit, kamu harus membelikanku roti kismis.”


Jayden tertawa mendengarnya. Sepertinya Alex masih penasaran dengan roti dan kopi dari kedai itu. Bukan salahnya. Jayden sendiri membawa Alex ke sana. Sayangnya, mereka terpaksa pulang karena melihat agen ICPA lain. Waktu itu, Special Force belum diungkap ke permukaan. Jayden memilih membawa mereka semua pulang untuk meminimalisir risiko.


“Baik,” jawab Jayden. “Kalau lewat dari sepuluh menit, kamu harus mengajakku ke universitas untuk acara … Aku lupa apa namanya.”


“Apa? Dari mana kamu tahu?”


Emil menggelengkan kepala dan keluar ruangan bersama Tiger. Mereka tidak perlu berada di dalam sana untuk menyaksikan latihan Alex. Mereka bisa menontonnya dari mana pun lewat tablet PC. Biasanya, Emil memilih kembali ke ruang komando karena posisi yang nyaman. Sementara Tiger akan menyusul setelah mengambil camilan.


“Ambilkan aku soda jeruk!” sahut Jayden pada Emil sebelum pemuda itu sungguhan keluar dari ruangan. Mereka semua sepakat kalau sesi latihan Alex sama menariknya dengan tontonan film aksi. Kemudian, Jayden kembali pada Alex. “Aku enggak sengaja melihat percakapanmu dengan teman.”


Alex mendesah. “Leta.”


Terakhir kali, ayah Alex mendapat undangan melihat pameran hasil akhir mahasiswa. Kebetulan sekali ayah Leta juga diundang ke sana untuk bermain musik. Alex yang awalnya ingin mengajak Jayden ke sana pun membatalkan niat. Dia harus mengakui kalau keputusannya tepat. Di pameran tersebut, Leta banyak ngobrol dengan Alex.


Untuk sejenak, Alex penasaran bila perasaan nyaman itu bisa kembali.


Ayah Alex kembali mendapat undangan lain dari universitas lain pula. Universitas ini akan mempertunjukkan hasil inovasi dari jurusan robot mereka. Alex berniat mengajak Jayden dengan atau tanpa kehadiran Leta. Dia memang sempat mengontak Leta, bertanya bila dia akan datang. Ternyata tidak.


“Kamu harus memikirkan tempat kencan lain selain universitas,” goda Jayden.


“Saran yang sangat bagus dari jomblo lain.”


Jayden sudah melangkah pergi sebelum Alex protes karena dia mengintip percakapan teks tersebut. “Ngomong-ngomong, aku menambahkan beberapa pistol dan jaring di sini. Semoga beruntung.”


Alex protes tepat ketika pintu menutup di belakang Jayden. “Tunggu! Apa? Itu curang!”

__ADS_1


__ADS_2