Zetta Sonic

Zetta Sonic
Long Ago


__ADS_3

Jayden berlari di antara deru tembakan. Pandangannya dipenuhi warna coklat dan kelabu. Debu berterbangan tiada ampun di atas padang pasir. Hembusan anginnya lebih panas daripada kompor oven. Peluh mengucur deras melalui dahinya. Dia ingat sengatan matahari yang senantiasa membuat kulitnya memerah. Dia ingat pertempuran juga rasa sakit akibatnya. Dia juga ingat jelas kalau itu sudah berlalu di masa lalu.


Apa yang akan terjadi bagai film yang diputar. Jayden berhenti mendadak ketika melihat kendaraan datang dari samping. Bukan tank, melainkan semacam mobil jeep 4WD. Mobil itu datang tidak sendirian. Ada beberapa mobil lain. Setidaknya ada lima orang di atas mobil. Setiap orangnya menodongkan senjata padanya. Mereka menembaki semua orang yang ada kecuali dirinya.


Jayden mengangkat tangannya, gemetaran. Lututnya menyerah oleh rasa lelah. Dia berlutut di atas pasir. Setiap jengkal kulitnya lengket dan berpasir. Dirinya menunduk, bersiap merasakan sensasi yang dia takutkan, sebuah tembakan di kepala. Nyatanya, itu tidak pernah terjadi.


Pandangannya mendadak menggelap ketika orang-orang itu memasukkan kepalanya dalam karung. Baunya memuakkan. Rasa takut membuat perutnya serasa diaduk-aduk. Tangannya ditarik ke belakang dengan kasar seraya dililit tali. Bekas lecetnya tak hilang sampai berminggu-minggu.


Itu penculikan pertamanya.


Jayden mengerjap. Dadanya naik turun cepat. Napasnya tersengal. Dia berhasil keluar dari mimpi akan penculikan pertamanya. Peluh sungguhan membasahi dahinya. Sudah lama dia tidak melihat kenangan itu begitu jelas. Jayden menyalahkan penculikan terbarunya akan mimpi buruk itu.


Perlahan, dia pun bangun. Ruangan itu nyaris gelap dan begitu sunyi. Cahaya penerangan hanya berasal dari lampu mungil dekat monitor komputer. Suasana yang sangat dia nikmati untuk beristirahat. Kecuali, itu bukan kamarnya.


Dia sendirian. Penjaganya berjaga di luar saat dia beristirahat. Namun, itu bukan berarti kalau dia bisa menggunakan komputer sesuka hati. Listriknya dimatikan dari luar. Dia tidak bisa mengontrol apa pun dalam ruangan itu. Lampu pun tidak bisa. Semua diatur oleh orang lain. Besar kemungkinan, orang yang ada di balik kamera pengawas. Segala gerak geriknya diawasi.


Jayden menghela napas pelan. Degup jantungnya sudah kembali tenang. Kepalanya memikirkan langkah selanjutnya. Namun, alih-alih memikirkan bagaimana kabur dari sana, Jayden lebih tertarik mencari tahu siapa yang menculiknya. Dia punya tebakan. Banyak, malah. Satu per satu tereliminasi oleh perencanaan yang terlalu matang.


Lucunya, ketika sedang memikirkan hal tersebut, lampu di dalam ruangan semua menyala. Dua orang penjaganya masuk. Mereka, seperti biasa, mengenakan senjata lengkap juga pakaian hitam ketat. Keduanya tak bicara melainkan berdiri di depan pintu. Jayden tahu kelanjutannya. Komputer pun menyala. Dia melihat sesosok pria tua bertopi kelabu dengan setelan kelabu pula. Kulitnya pucat dan keriput meski wajahnya tak terlihat jelas, hanya kumis tebalnya yang terlihat. Pencahayaan di seberang sana dibuat remang untuk mengaburkan sosok tersebut.


Jayden tak perlu repot-repot memikirkan siapa orang tersebut. Dia palsu, Jayden tahu. Terlalu cepat bila bos kejahatan ini memunculkan wajahnya saat ini. Itu akan sangat bertentangan dengan perencanaannya yang rapi.

__ADS_1


“Hai, Jayden.” Pria tua itu menyapa.


“Hei, Roban.” Jayden ingat bagaimana pria tua itu mengenalkan dirinya. Tentu saja, itu nama palsu pula.


“Kamu hanya tidur selama beberapa jam. Mimpi buruk?”


“Setidaknya aku bisa tidur.” Lawan bicaranya selalu mengontaknya ketika dia terbangun. Orang itu menunggunya untuk memberi tugas baru. Hal yang menyebalkan.


“Aku punya tugas lagi.”


Jayden mendengus geli ketika ucapan itu keluar. Semua persis seperti apa yang ada dalam pikirannya. “Kali ini, kupikir bukan soal bank lagi. Kamu tahu siapa aku dan apa yang bisa kulakukan. Kenapa tidak langsung saja?”


“Kamu sama sekali tidak kelihatan ketakutan, Jayden.”


“Sudah kubilang, panggil aku Roban—”


“Ayolah, itu hanya identitas samaran. Beri tahu apa yang kamu mau. Daftar anggota ICPA? Otakku enggak hafal. Teknologi ICPA? Aku bukan pemegang tertinggi semua data penelitian dan teknologi. Kamu memerlukanku untuk melakukan sesuatu. Apa itu? Meretas sistem ICPA? Asal tahu saja, ada orang-orang lain di sana yang bisa mencegah hacker masuk.”


Jayden berusaha cukup keras agar tak menyombongkan diri. Dia bisa meretas sistem ICPA dengan sedikit trik, seandainya kalau dia mau. Dia jelas tak ingin Roban atau siapa pun di baliknya tahu soal hal ini.


“Kamu memang pintar. Kupikir akan lebih baik kalau dia yang bicara padamu. Bersenang-senanglah dengannya.”

__ADS_1


Jayden tak sempat merespon. Layar di depannya menggelap. Bersamaan dengan itu, pintu pun terbuka. Kali ini dua penjaga membukakan pintu untuk seorang gadis. Tubuhnya bak model. Dia mengenakan celana panjang jeans dan kemeja merah jambu yang dibuka cukup rendah. Rambut ikal cokelatnya dikuncir membentuk ekor kuda sempurna. Dalam kamus Jayden, gadis ini benar-benar menawan.


Si gadis memulas senyum lembut dan manis. Tahi lalat dekat bibir kirinya memperkuat kesannya, “Senang bertemu denganmu, Jayden. Namaku Camellia, asisten pribadi Roban. Bosku bilang kamu salah satu agen terbaik di ICPA. Kuharap dia tidak berbohong.”


Jayden sudah berbalik, menghadap gadis itu dengan sedikit niat untuk berdiri dan menghampiri. Namun, dia menahan diri. Dia mengamati baik-baik lawan bicaranya. Hal pertama yang terlintas adalah cemoohan. Gadis itu tidak cocok jadi asisten pribadi pria tua. Dia lebih cocok jadi sekretaris CEO muda dan kaya.


Camellia melangkah maju lalu berhenti tepat di depannya. Dia menoleh ke arah komputer. Jemarinya menyapu bagian komputer terdekat. “Aku di sini untuk membantu.”


“Mulailah dengan identitasnya,” kata Jayden. Dia berusaha mengalihkan tatapannya dari Camellia. Pesona gadis itu terlalu kuat untuk ditolak. Tubuh sempurnanya, bibir mewahnya, juga wangi mawar samar.


Camellia menarik jemarinya lalu menepuk pipi Jayden. “Mari mulai dengan dirimu.”


“Aku enggak berpikir kalau mengetahui tentang diriku akan membantu Roban.”


“Tentu tidak.” Camelia sudah menarik tangannya yang kini memainkan rambut. “Ayo bicara soal masa lalumu. Soal Jason.”


“Apa?” Jayden mengerjap.


Camellia menoleh ke belakang. Kedua pria penjaga pun meninggalkan ruangan. Gadis itu beranjak ke ranjang, menanti Jayden kembali berfokus padanya, lalu membuat tawa kecil. “Sudah kubilang, ‘kan? Aku di sini untuk membantu. Kita mulai dengan masa lalumu, Jayden. Kita tahu apa yang terjadi saat itu. Semuanya. Mari bicara soal Jason.”


Nama tersebut tak pernah gagal membuatnya tertegun. Jayden perlu sedikit waktu sampai dia bisa menyadarkan dirinya sendiri. “Apa yang kamu tahu tentang dia?”

__ADS_1


“Banyak, tapi tidak sebanyak dirimu. Jangan khawatir. Tidak ada yang mengenal adikmu lebih daripada dirimu sendiri, Jayden. Dia mungkin tidak ada di sini, tapi bukan berarti dia tidak bisa menyeretmu dalam masalah. Aku sangat yakin kalau kamu paham apa maksudku. Jadi, ayo kita mulai bicara.”


__ADS_2