
Nadira kelihatan lebih ringkih dan tua dari yang diingat Alex. Wanita itu duduk di ujung salah satu bangku mobil sementara Alex di sisi lainnya. Alex masih terengah-engah. Otaknya memroses apa yang dia lihat saat ini juga ucapan Nadira sebelum dia melompat dalam mobil. Tepat ketika Alex hendak bicara, Nadira sudah bicara lebih dulu.
“Kamu bau!” desah Nadira.
Alex memutar bola matanya. Nadira mungkin lebih banyak berada di belakang meja, jauh dari bau keringat juga darah. “Aku baru saja bertarung untuk menyelamatkan dunia—”
“Tidak!” Nadira memotong ucapan Alex. “Kita tidak menyelamatkan dunia. Begitu juga kamu. Kita hanya bertarung. Titik. Jangan pikir aku bicara soal darah atau keringat, aku bicara soal bau kematian.”
“Kita hanya bertarung? Hanya itu? Kalau begitu, apa gunanya aku melawan Damon sampai—”
“Kamu perlu menemukan alasanmu bertarung, Alex. Lagipula, memang itu yang mau kamu bahas sekarang?”
Alex membuka mulutnya dan segera menutupnya kembali. Nadira mengingatkannya pada hal yang lebih penting. Sekalipun kegelisahannya belum reda, nada ucapan Alex melembut. “Bagaimana kondisi Jayden? Dia baik-baik saja?”
Nadira mendesah. “Kita tidak tahu. Karena itulah kita perlu ke sana. Segera.”
“Dia ditangani dokter-dokter ICPA, ‘kan?”
“Ya, tentu saja. Aku meminta agar Vanessa diikutkan dalam operasi Jayden, tapi sepertinya ada sedikit masalah.” Nadira berhenti sejenak sambil menatap Alex lekat-lekat, memastikan kalau anak itu paham intinya. “Tim dokter ICPA tidak ingin Vanessa ikut campur. Semoga saja ini hanya masalah kecil. Mungkin mereka tidak tahu dia dokter yang handal.
“Fergus ada di sana, kan?”
__ADS_1
“Seharusnya.” Nadira mendesah lagi. “Percayalah padaku. Bergerak di bidang ini membuatmu sangat sulit memercayai orang.”
Menangkap kesan kalau Nadira meragukan pimpinan ICPA ibu kota itu membuatnya ikut resah. Wanita di sampingnya itu pasti paham pula. Dia melempar senyum yang jarang ada lalu menepuk bahu Alex. Tak ada hal lain terjadi hingga mereka tiba di markas ICPA.
Separuh berlari, Alex menyusuri lorong kosong yang dibanjiri cahaya putih. Lorong itu terlalu polos. Tidak ada aksen hijau atau hiasan lain. Di ujung lorong, ada pintu besar kelabu hampir sebesar lorong itu sendiri. Dekat di pintu tersebut, Alex melihat deretan kursi tunggu yang disusun berhadapan. Emil di sana dengan perban yang melilit dari tangan hingga ke bahu. Juga ada Tiger. Pria besar itu masih berada di atas kursi rodanya.
Melihat kedatangan Alex, Tiger hanya mengangguk sekali. “Kerja bagus, bocah. Sekalipun kamu kelihatan berantakan.”
Emil melihat bayangan Nadira dari kejauhan. Wanita itu masih cukup jauh dari mereka. “Ini pertama kalinya aku melihat Nadira. Secara langsung. Menjemput agen yang baru bertugas di lapangan.”
“Dia kasus khusus,” sahut Tiger.
“Tidak. Aku hanya…,” sahut Alex, masih terengah-engah.
Tiger mengangguk.
Alex mengedarkan pandangan. “Di mana dokter Vanessa? Bagaimana Jayden? Apa dia…”
“Tidak tahu. Kita di sini sejak tadi. Belum ada yang masuk atau keluar lagi sejak—” Ucapan Tiger terpotong ketika melihat pintu terbuka. “Sejak Dokter Vanessa berhasil masuk ke sana.”
Seseorang keluar dari ruangan dengan seragam dokter bedah kehijauan. Rambut dan wajah tertutup masker itu membuat mereka tak bisa mengenalinya dengan mudah. Orang ini mendekat sembari melepas semua penutup di wajahnya.
__ADS_1
Alex berlari begitu mengenalinya. “Dokter Vanessa, bagaimana Jayden.”
Wajah sang dokter kelihatan lelah, sedikit berminyak, namun tak sekalipun melenyapkan kecantikannya. Dia memulas senyum lembut. “Dia selamat, Alex. Berkat dirimu. Dia akan baik-baik saja.”
Nadira yang barus datang mengangguk pada dokter Vanessa. “Jadi, akhirnya mereka membiarkanmu masuk?”
“Aku siap menonjok siapa pun yang menghalangiku masuk ke sana.” Dokter Vanessa membuat kepalan lalu tersenyum geli. “Ada Fergus. Dia membantu membereskan sentimen dokter-dokter itu. Tanpa tonjokan, tentu saja.”
Tiger tertawa. “Kalau begitu, semua sudah beres. Benar, ‘kan?”
Emil spontan minggir saat Tiger hendak menepuk bahunya. Tepukan itu mungkin bentuk kesenangan, tapi bagi Emil itu tak lebih dari sekadar siksaan tambahan apalagi ketika bahunya sedang terluka. “Ya. Misi berhasil. Kamu seharusnya bangga pada dirimu sendiri, Alex.”
Alex sedari tadi bergeming. Dia hanya mampu mengalihkan tatapannya dari dokter Vanessa pada Emil dan Tiger yang tersenyum, lalu pada Nadira yang menangguk padanya, juga Henrietta yang memberi senyum simpul.
Alex tak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya saat itu. Kakinya terasa lemas sekaligus lega. Dokter Vanessa merentangakan tangan, memeluk anak di depannya yang mulai menangis. Alex yakin kalau dirinya bukan anak yang cengeng. Ini pertama kalinya dia menangis di depan orang asing. Lebih tepatnya, menangis dalam pelukan orang asing. Ada tepukan lembut di belakang punggungnya.
“Semua akan baik-baik saja, Alex. Tenang saja. Kamu melakukannya dengan baik.” Kalimat itu terus berulang terdengar di telinganya.
“Terima kasih…” Hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya saat ini.
“Tidak, Alex. Terima kasih. Kamu menyelamatkan Jayden dan orang-orang tak bersalah dari orang macam Damon. Kamu juga berhasil meringkus Rando. Kalau ada hal yang harus kamu lakukan saat ini, itu adalah istirahat.”
__ADS_1
Rasa lelah terasa jauh lebih menekan ketika dokter Vanessa mengatakannya. Tentu saja, dia butuh istirahat dan pengobatan. Masih ada banyak hal harus dia lakukan, termasuk mencari tahu kenapa Zet-Arm tidak berfungsi dengan baik juga siapa dalang di balik penculikan Jayden sesungguhnya. Tapi, saat ini, dia bisa membayangkan dirinya berendam dalam air hangat lalu tidur di bawah selimut empuk.