Zetta Sonic

Zetta Sonic
Sleepy


__ADS_3

Begitu tiba di waduh, Jayden mengikuti Caitlin ke ruang generator. Profesor Otto memberikan tambahan daya bagi Alex. Seharusnya itu cukup untuk membangunkannya. Namun, tidak demikian. Alex terlelap. Kondisinya juga makin melemah. Jayden berharap diizinkan ikut ke ruangan Zetta Sonic di lantai X-06 tapi dokter Vanessa mengusirnya.


Akhirnya, Jayden memilih istirahat, setidaknya tidur selama satu jam. Setelahnya, dia memberikan laporan resmi ke Nadira. Barulah dia memperbaiki peralatan yang rusak hari ini. Jayden menghabiskan waktunya di ruang peralatan, persis di samping ruang komputer.


Seperti ruangan-ruangan lainnya, ruangan ini pun didominasi warna putih dengan lampu garis. Ruangan ini luas. Ada ruangan utama di balik pintu, sisanya terbagi jadi beberapa ruang penyimpanan dengan sekat dan pintu geser dari kaca.


Jayden berada di ruangan utama. Dindingnya dipenuhi rak berisi peralatan. Meja besar membentang di tengah ruangan. Ada sepasang lampu tambahan mengapit di bagian tepi. Penerangan tambahan semacam ini selalu diperlukan ketika berhadapan dengan sirkuit mungil dan rumit.


Selagi memperbaiki, Jayden mendengar pintu geser ruangan terbuka.


“Ini jam dua pagi!” Tiger masuk. Dia tak lagi mengenakan seragamnya, melainkan setelan warna kelabu lengan panjang lengkap dengan sepatu bot.


“Kamu enggak istirahat?”


“Seharusnya aku yang bertanya,” balas Tiger. Dia bergerak ke seberang Jayden, duduk di kursi putar, mengamati bagaimana Jayden dengan cekatan merakit kembali pistol laser yang digunakan Alex tadi.


Sebenarnya, tidak banyak alat yang rusak hari itu. Baju Alex akan diperbaiki langsung oleh profesor. Jayden hanya diminta mengganti lapisan pelindungnya. Sisanya akan ditangani Caitlin. Jayden memang tidak dilibatkan ketika mereka membuat kepingan segienam sebagai bahan seragam. Selain baju Alex, barang lain hanya membutuhkan sedikit perawatan, seperti pistol laser tersebut.


“Kondisi Alex terus menurun. Kamu tahu itu?”


Jayden mengangkat bahu sambil melirik alat mungilnya yang tergeletak dekat peralatannya. “Aku bisa memantau kondisinya dari Flipad selama dia memakai gelangnya.”


Tiger mengernyit. “Flipad?”


“Dia menamai alat-alat di sekitarnya. Dia menyebut gelang Sonic itu dengan nama Zet-Arm. Seperti anak kecil saja.” Jayden tidak berniat menceritakan ejekan Alex soal kotak bedak. Tangannya menyimpan pistol laser di kotak busa. Kotak itu sendiri terbuat dari bahan plastik keras dan dikunci dengan kode. “Alex akan bertahan.”


“Kamu berharap Alex akan bertahan.”

__ADS_1


“Tidak. Aku tahu kalau dia akan bertahan.”


“Tak seorang pun menjamin itu. Tidak dokter Vanessa, tidak juga profesor Otto. Kamu menyembunyikan sesuatu dari kami.” Tiger mendekatkan wajahnya, berusaha melihat Jayden lebih dekat meski ada jarak lebar di antara mereka.


Jayden melempar senyum simpul. “Aku selalu menyembunyikan sesuatu.”


“Kamu tidak akan memberitahuku?”


“Tergantung kondisinya. Ada beberapa hal yang harus kupastikan lebih dulu. Misalnya, kamu sebenarnya ada di pihak siapa. Aku bukan mempertaruhkan pekerjaan di sini. Aku mempertaruhkan nyawaku di sini.”


Tiger memicingkan mata, hendak bicara tapi membatalkannya. Dia menanti apa yang akan dikatakan Jayden selanjutnya, tapi pemuda itu melanjutkan pekerjaan tanpa berniat melanjutkan pembicaraan.


Tiger pun beranjak. “Kuberi satu jam untuk meninggalkan ruangan ini. Kalau tidak, akan kuseret kembali ke kamarmu. Kamu butuh istirahat.”


“Manis sekali. Sejak kapan kamu jadi perhatian begitu?”


“Kenapa begitu?” Jayden memutar bola matanya. “Karena aku operatornya?”


“Karena kamu satu-satunya yang percaya kalau dia akan bertahan.”


Jayden tak perlu diberitahu lagi. Tiger jelas berada di pihak Zetta Sonic, yang berarti di pihak Alex, yang juga berarti di pihaknya. Setelah Tiger pergi, dirinya justru merasa lebih buruk. Jauh di dalam hati, dia tidak seyakin itu kalau Alex akan tetap hidup. Dia hanya punya beberapa kecurigaan terkait Dragon Blood dan mengapa Alex bisa bertahan.


Satu jam berlalu dengan cepat. Jayden akhirnya kembali ke kamar. Setelah memaksakan diri, akhirnya dia bisa kembali terlelap. Satu setengah jam, tidak lebih. Jayden bangun dengan kondisi lebih lelah daripada sebelum dia beristirahat. Dia pun ke turun ke lantai X-06 di mana Alex berada.


Sesuai dugaannya, dokter Vanessa berada di sana. Dia terlelap dengan kepala di atas meja tinggi, dekat meja komputer. Meja itu memang baru diletakkan di sana. Sebelumnya, meja itu ada di dapur. Entah apa alasan mereka memindahkannya di ruangan ini. Mungkin profesor Otto dan dokter Vanessa ingin ngobrol soal Alex dengan nuansa bar. Meja tinggi itu juga dilengkapi kursi putar tinggi seperti di bar.


Dokter Vanessa bergerak, menyadari kehadiran Jayden di sana. “Oh, jam berapa ini?” tanyanya seraya mengangkat kepala.

__ADS_1


“Hampir jam enam.” Jayden melirik arloji di tangannya meski tak benar-benar melihat berapa angka yang tertera di sana. Tindakan reflek.


“Aku tertidur cukup lama, sepertinya.” Dokter Vanessa menguap, tangannya menutupi bibirnya yang tak lagi dipulas lipstik. Meski demikian, dia tetap nampak menawan. “Aku jadi ingat masa-masa saat bertugas di unit gawat darurat.”


“Istirahatlah, dokter. Aku bisa menggantikanmu menjaganya, kalau boleh.”


“Matamu berkantung, Jayden. Kamu juga butuh tidur.” Dokter Vanessa mengawasi Jayden. “Tapi,” tambahnya, “mungkin aku bisa istirahat dulu. Satu atau dua jam tidak akan menyakitkan. Setelahnya, kita bisa gantian lagi. Bagaimana?”


“Aku sudah terbiasa begadang, dok. Jangan cemas.”


Sang dokter tersenyum. “Aku tahu. Hanya saja, ini semua baru bagi kita. Eksperimen ini. Kecelakaan itu. Relawan baru. Seorang remaja. Semua berjalan tidak terduga. Kuharap aku bisa mencerna sedikit demi sedikit. Kenyataannya, semua berlangsung cepat. Aku bahkan tidak tahu apa yang harus kulakukan agar Alex bertahan. Aku merasa berantakan.”


Jayden menggeleng. “Kamu sudah melakukan tugasmu dengan baik, dok.”


Dokter Vanessa tersenyum. Dia mengulurkan tangan menyentuh pipi Jayden yang sempat memar akibat dipukul Tiger. “Sembuh dengan sempurna. Manusia punya kemampuan menyembuhkan dirinya meski makan waktu. Aku penasaran dengan naga. Kenapa Dragon Blood tidak memberikan Alex kemampuan menyembuhkan diri malah menggerogotinya dari dalam seperti parasit.”


Jayden terdiam. Dia ingat kalau Alex pernah mengatakan hal sama. Parasit.


Seolah tersadar, dokter Vanessa menggelengkan kepala. “Apa yang kubicarakan?” Dirinya tertawa. “Aku mulai melantur. Pasti karena lelah. Kita semua tahu kalau Dragon Blood bukan darah naga sungguhan tapi sekadar nama dari cairan eksperimen. Professor Otto bilang kalau Nadira sempat mengusulkan nama Goblin Blood tapi itu kedengaran konyol.”


Tawa dokter Vanessa membuat Jayden ikut tersenyum geli. “Seandainya itu benar, aku memanggil Alex dengan Gob bukan Sonic.”


“Kalian berdua seperti kakak beradik.”


“Enggak,” sahut Jayden. “Kami seperti… partner in crime. Kami sama-sama hacker.”


Dokter Vanessa menggeleng. “Kamu berusaha melindunginya tanpa kamu sadari, Jayden. Sebenarnya, kurasa itu hal yang baik. Sekarang, tinggal seberapa besar niatmu untuk melindunginya? Kita tahu kalau Nadira berusaha memanfaatkannya.”

__ADS_1


Jayden tak menjawab. Dokter Vanessa benar. Nadira berusaha memanfaatkannya untuk menyelamatkan dunia. Tujuan mulia tapi cara yang sedikit kurang tepat. Jayden tidak mengkhawatirkan Nadira akan memanfaatkan Alex, dia mengkhawatirkan Caitlin. Gadis itu bisa lebih membahayakan Alex daripada Nadira.


__ADS_2