Zetta Sonic

Zetta Sonic
Gentle Touch


__ADS_3

Jawaban Emil membuat Alex mendengus kesal. Sebelum pertengkaran mereka sungguh terjadi, dokter Vanessa buru-buru menengahi.


“Ini alasan kenapa aku tidak suka obrolan kasus dibawa ke dalam kamar medis. Alex dan Tiger butuh istirahat. Tinggalkan sejenak kasus ini. Kita seharusnya aman di sini. Emil nanti bisa minta bantuan pengawalan untuk mengambil Jason di markas,” ujar dokter Vanessa.


Emil tidak mendengarkan ucapan tersebut. Dia sibuk melihat ponselnya. Ada kiriman berita terbaru. Berita tersebut membuat perubahan kecil di wajahnya. Dia mengerjap lalu terdiam sesaat. Kelihatan ragu apakah harus memberitahukan berita tersebut pada rekan-rekannya. Keraguannya lenyap ketika sadar kalau Tiger tengah memperhatikannya.


“Berita buruk?” sahut Tiger. “Kupikir tadi kamu bilang sudah selesai.”


“Memang.” Emil melirik dokter Vanessa yang baru menghela napas pendek. Dia jelas tidak suka saat pasiennya justru lebih memikirkan misi daripada istirahat. Emil hendak membuka mulut untuk melanjutkan namun dia mengganti kalimatnya. “Mereka butuh bantuanku. Aku harus kembali ke sana.”


“Kalau begitu, antar aku ke kamarku dulu,” pinta Tiger.


Emil dan Tiger meninggalkan Alex tanpa pembicaraan lebih lanjut. Dokter Vanessa menghampiri Alex kembali.  “Kamu tidak penasaran dengan yang diselidiki mereka, ‘kan? Kamu tidak perlu memikirkannya.”


Alex menghindari tatapan sang dokter. Dia bosan mengingat bagaimana orang-orang di sekelilingnya berusaha meyakinkan kalau kondisinya adalah prioritas utama. Dia bosan karena mereka terus menggunakannya sebagai senjata terakhir ICPA. Itu bukan yang menyenangkan bagi Alex.


“Tidak apa-apa kalau kamu merasa lelah,” ujar dokter Vanessa lagi. “Kamu meletakkan terlalu banyak beban di pundakmu.”


“Aku tahu. Aku harus segera pulih agar siap menghadapi Damon lagi.”


“Tidak.” Dokter Vanessa menggeleng cepat. Tangannya dengan lembut menyentuh tangan Alex. “Kami ingin kamu pulih karena kami peduli padamu.”

__ADS_1


Ucapan lembut itu dengan cepat menarik perhatian Alex. Dia menatap balik wanita yang sedang menatapnya sambil tersenyum. Lagi-lagi, Alex mendapatkan apa yang tidak pernah dia dapatkan dari ibu kandungnya. Padahal wanita itu belum banyak bicara, tapi tatapan dan sentuhannya terasa begitu menenangkan.


“Kenapa?” Alex balas bertanya.


Dokter Vanessa terdiam sebentar. Tatapannya menghindari tatapan Alex. Untuk sesaat, dokter itu bahkan seolah ingin kabur dari ruangan tersebut serta menelan kembali semua ucapannya sendiri. Setelah masa-masa ragu tersebut hilang, dia membuat senyuman lain yang begitu berbeda. Sebuah senyum yang menyembunyikan kesedihan. Tatapan itu tak berbohong sebaik bibirnya.


“Aku kehilangan putriku.”


“Apa? Kupikir kamu belum—”


“Menikah?” tebak dokter Vanessa. “Situasinya rumit. Tapi, aku kehilangan putirku ketika dia seusiamu. Dan, kupikir… Aku hanya tidak ingin melihat ada anak lain seperti dirinya. Aku peduli padamu. Pada keselamatanmu, pada kejiwaanmu. Semua. Kupikir awalnya Nadira hanya bercanda ketika bilang akan merekrutmu.”


“Itu hanya kecelakaan. Sebuah kebetulan.”


“Aku percaya segala sesuatu terjadi karena alasan.” Alex berkata lirih. Dia tak bisa lebih setuju lagi dengan pendapat Nadira dan dokter wanita tersebut. Semuanya memang hanya kebetulan. Mungkin justru karena itu, dia yakin dia bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan orang lain sebagai Zetta Sonic.


“Kamu terpilih sebagai Zetta Sonic. Tugas kami adalah mendukungmu.”


“Kita kehilangan Jayden dan sekarang profesor.” Alex berhenti di sana. Melanjutkan kalimatnya hanya akan membuat hatinya terasa lebih pedih.


“Kamu merasa gagal?”

__ADS_1


Alex mengalihkan tatapannya. Dia tidak perlu menjawab pertanyaan itu. Dia justru mengatakan hal yang lain. “Tanpa adanya Jayden, kita kekurangan tenaga. Emil… Dia tidak sebaik itu. Dia unggul dalam hal lain.” Alex berusaha memuji rekan lainnya. “Tiger… Lalu, profesor… Aku tidak menjalankan tugasku dengan baik.”


“Tanpa Jayden dan Tiger, membiarkanmu berkeliaran di luar sana memang terlalu berbahaya. Kita juga harus mengakui kalau Emil tidak sebaik Jayden. Lalu, profesor Otto. Rasanya sedikit sepi sekarang. Tapi, kamu tahu? Mungkin ini semua memang harus terjadi untuk suatu alasan.”


“Apa?” Alex berpaling, berharap adanya jawaban dari sang dokter.


“Sayangnya, aku tidak bisa memberikan jawabannya. Satu hal yang pasti. Kami peduli padamu. Kita akan melewati masa-masa ini bersama-sama. Aku tidak akan membuat janji yang tidak bisa kutepati seperti kita pasti akan menemukan Jayden atau Damon akan tertangkap. Tapi, kami di sini untukmu. Emil, Tiger, Nadira, bahkan Fergus.”


Alex mengernyit. “Aku bahkan belum mengenal baik Fergus.”


“Sejauh ini, aku yakin dia orang yang bisa dipercaya. Jayden pernah masuk di tim yang dia pimpin. Dia tipe yang bisa bisa melihat hal baik pada orang lain. Hal yang sulit dilihat di permukaan.”


“Menurutmu, dia ingin Jayden kembali juga?”


“Kita semua ingin dia kembali, Alex. Kamu tidak sendirian. Jangan berjalan sendirian.”


Alex mengigit bibirnya, menahan kepedihan lain yang mulai terasa. “Maafkan aku.”


Hanya itu yang mampu dia katakan. Dia merasa buruk karena memang bekerja dengan buruk. Namun, lebih dari itu. Dia merasa buruk karena kembali terjebak untuk beraksi sendirian. Di lapangan, Zetta Sonic adalah ujung tombak untuk melawan para kriminal. Kemenangan selalu dia dapat dengan mudah. Damon membuktikan kalau dia salah. Dia butuh orang lain. Mereka harus saling melindungi kalau ingin lolos dari semua masalah ini.


Dokter Vanessa membungkuk. Dia mendekap Alex yang mulai terisak. Tak ada kata yang perlu diucapkan. Mereka tahu masa ini buruk. Mereka juga tahu kalau masa ini juga akan bisa dilewati bersama.

__ADS_1


Tanpa Alex sadari, di ujung pintu, sepasang mata mengawasi keduanya.


__ADS_2