
Jauh di atas kepala mereka, Alex bisa melihat sebuah drone dari stasiun TV bergerak mendekat. Alex mendapatkan jawabannya. Satu-satunya alasan kenapa Damon ingin bertarung di area terbuka memang adalah berita. Dia ingin menunjukkan kalau bisa mengalahkan Zetta Sonic. Dia ingin menebar teror. Dia ingin membuktikan kalau dirinya lebih baik dari Alex.
Sekarang, kengerian mulai merambati dirinya. Tangannya menggenggam erat seragam pelindung yang masih berupa silinder panjang bak peluru. Itu seragam terbaik yang dia miliki saat ini. Berkemampuan sama seperti biasa meski hanya bisa satu kali pakai. Itu adalah seragam pelindung terakhirnya.
“Emil. Tolong bilang kalau kamu punya seragam pelindungku yang biasa,” ujar Alex, mengetahui kalau Emil di markas bisa mendengar percakapan mereka di mobil.
Emil tak menjawab seperti keinginan Alex. [Negatif.]
“Kapan seragam pelindungnya selesai?”
[Tidak hari ini. Mungkin besok. Atau lusa. Aku butuh bantuan. Nadira melarang.]
“Ada seragam cadangan lagi untuk Zetta Sonic?”
[Aku tidak yakin. Sepertinya itu yang terakhir.]
“Kalau begitu, kamu punya alat bantuan lain?” Alex tahu kali ini dia tidak akan dapat bantuan dari Jason. Si drone tidak bersamanya. Padahal terkadang drone itu bisa membantu memberikan tembakan laser kecil. Mungkin kurang ampuh tetapi masih lebih baik daripada tidak ada.
[Maaf, Alex. Tak ada waktu. Terlalu banyak hal untuk dilakukan. Saat ini.] Emil berhenti untuk menguap. [Setidaknya, Tiger di sana. Selesaikan cepat, ya. Aku mengantuk.]
Alex hendak protes, tapi Tiger lebih cepat.
“Oh, bocah nerd yang lain.” Tiger berdecak kesal. “Aku merindukan Jayden. Dia bisa menangani banyak hal sekaligus. Emil perlu belajar banyak darinya. Bahkan, Jason lebih ahli membuat sesuatu daripada dia.”
Alex hendak bertanya sebenarnya apa yang dibuat Jason, namun dia tahu ini bukan kesempatan yang baik untuk ngobrol. Dia harus mengalahkan Damon sekarang atau tidak akan ada lagi kesempatan.
__ADS_1
Sebelum mengaktifkan seragam pelindungnya, Alex melempar pandangan pada Tiger lalu pada Damon yang sedang menggeretakkan tangan. Saat ini, mereka berada cukup jauh dari Damon. Damon sendiri sepertinya tak berniat mendekat meski sudah melihat ke arah mereka. Dia menantikan Alex sendiri datang padanya.
“Jangan bilang kalau kamu takut.” Tiger mendengus.
Alex menggeleng. Hatinya sudah bulat. Ketika tak ada lagi yang bisa diandalkan, Alex tahu dia harus jadi jawaban bagi mereka. “Dia hanya monster yang lain.”
Tiger tersenyum simpul. Anak laki-laki di sampingnya itu telah mengaktifkan salah satu teknologi terbaik ICPA. Peluru tersebut luruh menjadi kepingan-kepingan berbentuk segi enam. Mereka merambati setiap permukaan, membentuk celana, jaket, sepatu, bahkan helm. Seragam pelindung yang ringan dan kuat. Cocok untuk bergerak bebas demi meringkus penjahat atau monster seperti Damon.
[Fergus sudah mengirim agen untuk berjaga.]
“Aku akan berjaga di sini.” Tiger ikut bicara tanpa diminta. “Dengan popcorn.” Tiger mengambil popcorn dari bangku belakang.
Di balik helm, Alex ikut tersenyum.
“Halo, nak!” Damon mendekat. “Aku penasaran apa kamu bisa berkembang sepesat diriku dalam semalam.”
Seolah menyambut Damon, Alex ikut berjalan mendekat. “Percayalah, satu malam tidak akan bisa mengalahkan latihanku, Damon. Tidak perlu repot-repot kabur, aku akan membawamu pulang ke penjara hari ini.”
Damon tertawa. Guratan-guratan muncul di wajahnya. Entah hanya sugesti atau bukan Alex merasa kalau otot-otot lawannya membesar. Itu jelas bukan sesuatu yang wajar. Entah apa yang terjadi semalam pada Damon. Namun, apa pun itu, Alex tak membiarkan dirinya gentar. Dia senior. Setidaknya dalam masalah Dragon Blood.
Pemandangan di hadapan Alex berkilat hijau. Kekuatannya merespon perintahnya. Alex berlari tanpa banyak bicara lagi. Kecepatannya sudah bukan kecepatan manusia biasa. Kalau tanpa seragam pelindung, angin pasti tengah menampar-nampar wajahnya.
Melihat Alex datang, Damon menyeringai. “Kemari, Sonic! Biar kuhancurkan dirimu!”
Alex mengerjap. Dia yakin melihat Damon menyeringai lebih lebar. Damon melihat dirinya padahal kecepatannya sudah meningkat tinggi. Mungkinkah Dragon Blood berhasil memberikannya kemampuan sehebat itu dalam semalam?
__ADS_1
Alex langsung mengayunkan tinjunya di depan Damon. Seharusnya serangan itu masuk. Alex yakin telah mengarahkan serangannya ke posisi yang tepat, bagian dagu. Kalau memang kena, tangan itu seharusnya mampu membuat Damon robot. Kenyataannya tidak. Tangan Alex mengenai tangan Damon. Lawan berhasil menangkap tinju tersebut dengan mudah.
“Kaget?” Damon bertanya. Suara rendah ditambah seringai itu menyalurkan teror tersendiri bagi Alex.
Alex tak lantas meronta lepas. Karena tangannya terkunci, Alex melakukan tendangan berputar dengan cepat. Gerakan itu memaksa Damon melepaskan tangannya. Damon bertahan dengan menyilangkan tangan di depan kepalanya. Alex tak membuang kesempatannya. Dia melakukan tendangan lagi dan lagi. Melihat kesempatan, Alex mengepalkan tangannya lalu memberikan tinju lain.
Damon masih bertahan. Hingga pada satu kesempatan, Damon kembali menangkap pergelangan tangan Alex. “Kamu tidak menggunakan kekuatanmu dengan benar, Sonic! Aku jauh lebih baik darimu!”
Alex berusaha melepaskan diri. Namun, Damon lebih kuat. Jauh lebih kuat. Alex mendapati peringatan di layar helm. Damon berusaha menghancurkan pergelangan tangannya. Dan, itu seharusnya tidak mungkin terjadi. Panik, Alex mengulurkan telapak tangannya pada lawan. Kalau Dragon Blood tidak berhasil memberikannya kekuatan tambahan untuk pertarungan fisik, maka serangan itu harus bisa.
Asap hijau meliuk-liuk di sekitar telapak tangannya. Segera saja mereka bersatu, memancarkan hawa panas serta warna hijau neon mematikan. Ketika serangannya siap, Alex menembakkan kekuatannya. Serangan itu kembali merusak sarung tangannya. Mereka memancar keluar dari dirinya tepat ke muka Damon.
Serangan itu tepat mengenai sasaran!
Suara raungan Damon terdengar kencang. Bersamaan dengan itu, ada percikan api disusul asap tebal mengepul dari tangan Alex. Ketika cahaya hijaunya mulai lenyap, Alex berpikir akan melihat sosok Damon yang terluka atau mungkin berubah jadi gumpalan tanah seperti monster dinosaurus. Alih-alih melihat kerusakan di sana, Alex terbelalak.
Sosok di dekatnya hanya lecet. Wajah Damon memerah karena panas tinggi dan berdarah oleh goresan-goresan tipis. Hanya itu. Sisanya adalah bekas luka lama yang disebabkan oleh tumpahan Dragon Blood pertama kalinya. Alex mengerjap tak percaya. Bukannya kesakitan, Damon malah tertawa lagi.
“Hahaha… Itu serangan terbaikmu, Sonic? Sangat mengecewakan!”
Damon masih menggenggam pergelangan tangan lawan. Dia menarik tangan itu dan melemparkannya menjauh.
Alex yang tak siap hanya bisa terkesiap. Badannya melayang di udara. Damon melemparkannya seperti melemparkan boneka begitu saja. Untungnya, Alex segera bisa mengendalikan diri. Dia berhasil mendarat di atas kakinya. Tangan kanan membantunya juga untuk menyeimbangkan diri dan tak terseret terlalu jauh. Dia berhenti di depan pertokoan yang sepi. Kobaran api di belakangnya membawa hawa panas serta debu hitam.
Damon tertawa lagi. “Hahaha… Sudah kubilang, bukan? Aku lebih baik darimu.”
__ADS_1