Zetta Sonic

Zetta Sonic
Cursed


__ADS_3

Alex pernah melihat wanita berjalan anggun di pesta. Wanita itu sama seperti mereka, hanya saja dia tidak mengenakan gaun panjang. Semakin wanita itu melangkah ke depan, Alex bisa melihat jelas sosoknya.


Tesiana mengenakan gaun selutut dengan motif wajik aneka warna. Jubah putih panjang tergantung menutupi bahu, punggung, dan jatuh ke tanah. Ekornya menyapu lantai perlahan setiap Tesiana melangkah. Rambut hitam legamnya dikepang lalu digulung ke belakang. Di atas kepalanya, wanita itu mengenakan semacam bandana besar dari bulu unggas putih dan merah. Sekali lagi, wanita itu tidak seperti wanita suku pedalaman seperti bayangan Alex. Begitu pula kondisi sekelilingnya. Tempat itu terlihat jauh lebih modern.


Wanita itu berdiri di sana untuk beberapa saat sampai semua tarian itu selesai dilakukan dan gendang berhenti bermain. Para penduduk suku bersorak sementara para penari bergeser ke samping. Kemudian, Alex mendapati kalau tinggal mereka saja yang ada di sekitar api unggun. Dirinya, Gavin, dan Tesiana. Para penduduk telah meninggalkan area tersebut. Mereka berdiri dalam pola lingkaran lain jauh dari mereka. Dan, semuanya menunduk.


“Dua orang agen ICPA. Aku tidak bisa bilang bila kalian diterima di sini,” ujar Tesiana dari tempatnya. Suaranya lantang dan logatnya sedikit berbeda. Ada logat sukunya tercampur di sana, memberi aksen manis setiap dia bicara. “Bagaimanapun, kalian tetap tamu di sini. Selamat datang di Kloster.”


Alex berbisik pada Gavin, “Kukira kamu bilang menyambut kita.”


“Sepertinya menyambut dan menerima itu dua hal berbeda,” balas Gavin lirih. Matanya mengawasi si kepala suku. Dia melihat bagaimana si kepala suku melambai pada mereka. “Kupikir dia mengundang kita masuk. Jangan buat masalah, Alex.”


“Seharusnya aku yang bicara begitu.”


Bersama Gavin, Alex melangkah mengitari api unggun yang masih menyala. Setiap pasang mata mengawasi mereka tanpa suara dari kejauhan. Setelah mereka selesai menapaki tangga dan masuk ke dalam bangunan itu, barulah keriuhan kembali terjadi. Alex menyempatkan diri menoleh ke belakang. Para penari kembali ke tempat mereka dan musik mulai dimainkan. Para penduduk kembali mendekat lalu ikut menari pula.


“Mereka tahu cara menikmati diri mereka,” ujar Tesiana.


Wanita itu berdiri di ambang pintu kayu besar. Tanpa diperintah, dua penjaga membukakan pintu itu bagi mereka. Di baliknya ada ruangan luas dan tinggi. Atapnya berbentuk kerucut dan setiap sisi langit-langitnya dihiasi ornamen wajik aneka warna. Dindingnya dihiasi jendela-jendela gemuk dengan ujung lancip. Setiap jendela juga dilengkapi tirai yang tengah terbuka. Dari sana, terlihat cahaya dari api unggun besar. Meski begitu, mereka tak bisa mendengar keramaian lagi. Begitu para penjaga menutup pintu, suara dari luar pun lenyap.

__ADS_1


Tesiana mengambil posisi di ujung ruangan, di mana sebuah kursi besar dan tinggi berada. Kursi itu sendiri berada di tas panggung besar. Kain beraneka warna diletakkan sebagai alas. Di belakang kursi, berdiri sepasang panji gagah bertuliskan aksara asli Kloster. Posisi itu mengingatkan Alex pada ruang tahta kerajaan.


“Selamat datang sekali lagi di Kloster, tuan-tuan.” Suara itu bukan datang dari Tesiana, melainkan seorang pria kulit hitam bertato, si penasihat. Dia pun menepukkan tangannya dua kali.


Gavin bertukar pandang dengan Alex. Dari balik pintu rahasia di balik dinding, muncul deretan pelayan. Setiap orang membawa meja kayu berisikan beraneka hidangan. Mereka meletakkannya di depan Tesiana juga di depan Alex dan Gavin yang masih bergeming. Saat itu, langit-langit di atas mereka mendengung. Alex menengadah melihat bagaimana lampu gantung megah turun dari langit-langit. Sementara Gavin tak berkedip melihat bagaimana lantai di hadapan mereka menganga, menampakkan tempat api unggun besar. Salah seorang pelayan menyalakan api unggun tersebut menggunakan tongkat panjang. Setelahnya, semua pelayan meninggalkan ruangan dengan cara bagaimana mereka masuk.


“Kalian boleh duduk, tuan-tuan.” Si penasihat memberi isyarat dengan tangannya.


Alex dan Gavin sekali lagi bertukar pandang sebelum akhirnya duduk di lantai. Lebih tepatnya di atas karpet yang tadi juga dibawakan oleh pelayan. Tesiana tersenyum. Wanita itu juga beranjak dari kursinya dan ikut duduk pula. Si penasihat mengambil posisi di samping panggung, berhadapan dengan kedua tamu mereka.


Setidaknya lima menit pertama dihabiskan Alex untuk mengamati sekelilingnya. Lagi. Dia melihat jendela-jendela berkaca tebal, api unggun dengan api yang terkontrol, luas serta tingginya ruangan itu, dua orang dari Kloster yang menikmati makanan mereka, Gavin yang mulai ikut menikmati makanannya, lalu barulah dia melihat makanannya sendiri. Ada lebh dari selusin makanan di hadapannya, disajikan dalam piring berbeda sesuai dengan jenis makanannya. Tempat itu bukan hanya memberi kesan modern tapi menunjukkan otak di balik semuanya. Alih-alih suku terpencil, justru kesan yang ditangkap Alex adalah bangsa berpikiran maju yang menyembunyikan diri.


“Tidak. Aku hanya—”


“Pembicaraan akan dilakukan setelah kita makan. Jadi, silahkan habiskan makananmu, tuan Alex.”


Alex mengernyit. Dia menoleh pada Gavin yang tak peduli. Pria itu melahap makanannya dengan tenang. Akhirnya Alex pun melakukan hal sama. Beraneka masakan kaya rempah itu menggoda lidahnya. Dia sampai lupa kalau ada masalah penting di balik alasan mereka berada di sana hingga makanannya habis.


“Kamu menikmatinya. Aku senang.” Tesiana melempar senyum.

__ADS_1


Alex baru sadar kalau tiga pasang mata tengah menatapnya. Dia buru-buru menyeka mulutnya dan menatap ke depan karena pembicaraan yang akan segera dimulai.


“Aku Tesiana. Kepala suku di sini. Dan, ini pengawal sekaligus penasihat pribadiku, Bounura.” Tesiana melambai dan si pria bertato itu mengangkupkan kedua tangan di depan wajah sembari menunduk, memberi salam pada kedua tamu mereka. “Sudah lama kami tidak kedatangan agen ICPA sejak kalian berusaha mencuri apa yang jadi milik kami.”


Alex mengerjap.


“Aku percaya itu sebuah kesalahpahaman yang fatal. Karena itu, aku berharap suku Kloster bisa berbesar hati dan mengesampingkan masalah itu sejenak. Dunia ini membutuhkan bantuanmu,” ujar Gavin.


“Kehancuran dunia bukan urusanku. Kami punya alasan kenapa tidak menunjukkan diri pada dunia luar.” Tesiana mendengus geli. “Apa anak ini yang kamu maksud sebelumnya?” tanya Tesiana lagi pada Gavin.


“Benar. Dia Alex.”


Alex buru-buru menimpali, “Kalau ini bicara soal kesalahpahaman, aku sadar telah membuatnya lebih parah. Percayalah, aku tidak bermaksud membunuh siapapun. Itu hanya kecelakaan.” Kalimat itu terasa pahit di bibirnya namun dia tahu telah bicara jujur. Alex tidak pernah berniat membunuh Naray.


Tesiana menyunggingkan senyum lagi yang membuat Alex terasa ganjil. “Kamu tidak bisa memakai kalungmu, bukan? Batu itu hanya ada di Kloster, sebuah berkah dari para dewa untuk mengusir monster. Kalau tidak bisa menyentuhnya, artinya hanya satu. Kamu monster. Kamu terkutuk. Kamu tidak diterima di sini.”


Alex membuka mulutnya namun tak menemukan kata-kata yang tepat.


“Jadi,” lanjut Tesiana, “kamu harus membuktikan diri apakah kami memang layak membantumu. Kamu akan menjalani ujian dari para dewa.”

__ADS_1


__ADS_2