
Dia tahu apa yang akan terjadi setelah videonya selesai. Alex berteriak, “Lari! Tempat ini dipasangi bom!”
Tiger begitu sigap. Dia menarik lengan Emil, melupakan protes yang terjadi. Jason terbang mengikuti. Alex sengaja berlari paling akhir. Dia ingin memastikan teman-temannya di depan selamat lebih dulu.
Sesuai dugaannya, ledakan-ledakan pun terjadi. Dimulai dari komputer itu, lalu dari ranjang, dari meja, dan terus bergerak mengejar mereka di lorong. Alex bersyukur menemukannya lebih cepat meski sedikit kesal karena telah memutar video yang tidak seharusnya. Biasanya Killer Bee akan paham agar tidak menekan sembarang tombol, risikonya virus. Masalahnya, dalam dunia Zetta Sonic, salah menekan tombol berarti ledakan.
Mereka berhasil kembali ke dalam kapal selam. Ketika api membara, melahap apa pun yang ada, kapal itu bahkan sedang dalam perjalanan mereka kembali melalui lorong kelam. Kapal selam bergerak dalam autopilot selagi ketiga agen itu mengistirahatkan fisik dan mental mereka.
“Itu tadi… pemikiran… cepat, bocah!” Tiger masih terengah-engah.
Emil merosot di kursinya, tak mampu bicara lagi. Peluh menuruni dahinya, kakinya gemetar, tubuhnya lemas karena rasa takut. Selagi dokter Vanessa pergi mengambilkan air untuk mereka semua, Alex merasa terpuruk.
“Maafkan aku,” ujar Alex begitu lirih seolah tak ingin didengar.
“Hah? Untuk apa?” Tiger menyahut. “Selain mengambil barang tanpa bilang pada kami… Kamu menyelamatkan kami.” Tiger melompati semua detail ceritanya.
“Aku seharusnya masuk ke sana sendirian. Aku… Aku seharusnya pahlawannya.”
“Tunggu! Apa itu maksudnya?” Nada suara Tiger meninggi.
Emil terlalu lengah untuk bertengkar. Walau begitu, dia masih menyempatkan diri bicara. “Itu namanya kerja sama. Tidak ada salahnya menerima bantuan orang. Kita satu tim. Berhenti membawa kita satu langkah mundur.”
Alex pernah mendapat teguran serupa. Benar. Dirinya tidak sendirian sekarang. Tak seorang pun berniat melanjutkan pembicaraan tersebut. Jadi, Alex mulai memeriksa isi plastik buram tersebut. Isinya adalah secarik kertas terlipat dan sebuah benda mungil seukuran kelingking berlapis metal.
“Itu flash drive buatan ICPA.”
Alex berjingkat. Ucapan dokter Vanessa membuat dirinya terkejut. Dia tak menyangka kalau dokter itu sudah ada di sana. Tangannya membawa botol berisi air dingin dan beberapa kaleng. Dia meletakkan satu botol dan satu kaleng di depan Alex. “Te— Terima kasih, dok.”
__ADS_1
“Apa itu?” tanya dokter Vanessa.
“Aku tidak tahu. Mungkin surat dan…” Alex berhenti, tak ingin menyebutkan benda satunya.
“Di mana kamu menemukannya?” Dokter Vanessa berjalan berkeliling, membagikan minuman pada Emil dan Tiger.
“Dalam ruangan tempat Jayden disekap. Di balik kamera tersembunyi.”
Emil langsung menoleh. “Itu bukan dari Jayden.”
Alex setuju. “Dari Camilla, pastinya.”
Surat yang terlipat itu pun dibuka. Alex mengira akan menemukan curahan hati atau penjelasan akan apa yang terjadi. Namun, apa yang ada di sana tidak lebih dari dua baris deret acak, kombinasi angka dan huruf.
Alex menggunakan panel kontrol di hadapannya. Dia menemukan slot mungil untuk memasukkan benda tersebut. Layar persegi semi-transparan pun muncul, melayang di udara, persis di depan wajahnya. Jemari Alex mengutak utik layar tersebut, berharap bisa mendapatkan apa isinya. Tak perlu waktu lama, Alex mendesah panjang.
“Hei, bocah! Dari mana kamu tahu cara mengaksesnya? Flash drive ICPA berbeda dari flash drive pada umumnya. Kemampuannya dan desainnya, tentu saja. Sangat polos. Orang awam tidak akan tahu benda apa itu,” kata Tiger. Dia baru saja membuka kaleng minumannya yang kedua lalu menegaknya cepat-cepat. Butiran air menuruni bibir dan leher, membasahi bajunya lagi. “Kupikir Jayden tidak pernah mengajarimu hal semacam itu. Atau, aku salah?”
“Bukan dia. Aku pernah menggunakannya. Dulu,” aku Alex.
“Di mana?” Tiger memburu.
Alex memutar bola matanya, “Di rumah. Waktu itu, aku penasaran apa yang dilakukan ayahku. Jadi, aku mengintipnya di ruang kerja. Aku melihatnya membuka flash drive ini di laptop. Jadi… Ya, aku membukanya saat ayah keluar.”
“Apa? Coba ulangi lagi! Kamu membuka isinya? Apa yang kamu temukan?”
Pembicaraan Tiger dan Alex membuat Emil dan dokter Vanessa menaruh perhatian penuh pada mereka. Ini bukan pengakuan yang akan dibuat Alex dengan mudah.
__ADS_1
“Angka-angka,” jawab Alex. “Isinya laporan. Keuntungan perusahaan, nilai jual saham, nilai tukar, semacam itu. Kupikir itu flash drive rahasia perusahaan.” Alex mendesah. Sambil menarik dirinya agar bisa bersandar ke kursi, dia mematikan seragam tempurnya. Wajahnya terasa lebih sejuk tanpa helm menutupi. “Aku merasa bodoh. Maksudku, saat itu aku benar-benar termakan kebohongan ayahku.”
Tiger mendengus geli. “Sudah kubilang kalau ayahmu agen yang baik.”
“Kurasa tidak terlalu baik.” Dokter Vanessa bergerak ke sisi Alex. “Kalau kamu dapat kebiasaan berbohong itu dari ayahmu, sekarang buang itu jauh-jauh! Kita keluarga. Tidak ada kebohongan di sini! Paham, Alex?”
Entah kenapa, Alex malah mendapati dirinya tersenyum. Dokter Vanessa bertindak tegas dan lembut di saat bersamaan. Benar-benar persis seperti sosok ibu yang sedang menegur putranya. Alex tak menjawab, hanya mengangguk pelan.
“Bagus,” kata dokter Vanessa, “sekarang, minum airmu! Sementara flash drive ini akan jadi pekerjaan buat Emil.”
“Jadi, sekarang bagaimana?” Tiger ganti bertanya. “Pulang?”
Alex tersenyum. “Itu kedengaran menyenangkan.”
“Tentu saja!” Tiger berpaling menghadap panelnya. “Memasang tujuan akhir. Markas Special Force Zetta Sonic. Ayo, pulang.”
Dokter Vanessa mengambil alih. Wanita itu mematikan sistem di depan Alex. Dia mengeluarkan flash drive, melipat surat, memasukkannya kembali ke dalam plastik buram, lalu membawa paket mungil tersebut pada Emil.
Alex bersandar pada kursinya. Dia membiarkan dirinya dibantu kali ini. Dibantu oleh bala bantuan dari ICPA kota, dibantu oleh dokter Vanessa, dibantu oleh Emil dan Tiger.
Masih banyak misteri belum terpecahkan. Siapa Roban? Kenapa dia bisa membuat markas yang sama persis seperti milik ICPA? Apa tujuannya? Dan, pertanyaan tersulit untuk dijawab. Di mana Jayden?
Matanya terasa berat sekarang. Rasa kantuk datang begitu cepat. Dia tak yakin apa yang akan terjadi. Dia juga tidak tahu di mana dia akan terbangun nanti, entah di rumah, entah di markas. Dia tidak akan mendapati Jayden di sisinya saat terbangun. Nanti, dia harus mencari caranya sendiri memulihkan Zetta Sonic. Bukan skenario ideal yang dia inginkan. Meski begitu, Alex bersyukur masih punya tim yang bisa diandalkan meski Jayden tak bersamanya lagi saat ini.
Satu hal yang bisa dipastikan Alex dalam kondisi tak menentu ini. Dia akan terbangun di tempat yang aman. Saatnya berhenti bersikap manja. Saatnya mempersiapkan diri sebagai agen ICPA. Saatnya melakukan segala sesuatu dengan lebih serius. Zetta Sonic akan siap saat Jayden ditemukan nanti.
Iya, nanti. Sekarang, saatnya tidur.
__ADS_1