
Tangannya mengepal tanpa sadar. Ada kalanya dia kesal karena tidak bisa melakukan sesuatu padahal bisa. Alex menyadari bagaimana tangannya mulai gemetar. Dia terkesiap ketika menyadari. Saat itu, tangannya pun berhenti gemetar. Sambil menggelengkan kepala, dia membuang semua perasaan tak nyaman dalam dirinya.
Alex buru-buru mengenakan dasi dan blazer lalu menghambur keluar bersama Willy. Mereka kembali ke kelas bersama.
“Jam pelajaran selanjutnya apa, ya? Biologi, bukan?” Willy membuka percakapan.
“Ya. Kenapa? Enggak ada tugas atau kuis, ‘kan?”
“Enggak ada, kok. Sekalipun ada kuis dadakan, kamu juga selalu bisa dapat nilai tinggi, kan.” Willy melirik Alex yang masih kesal pada dirinya sendiri. “Hei, Al. Cuma perasaanku atau mukamu agak pucat, ya?”
“Masa? Cuma perasaanmu, deh. Aku merasa baik-baik saja, kok.”
“Jangan pingsan gara-gara kena tinju tadi, ya!”
“Sembarangan!” Alex masih bisa tertawa di balik kebohongannya. Dia mulai merasakan badannya tak enak. Jantungnya berdebar, badannya terasa lemas, tangannya mulai gemetaran lagi. Kalau ini karena Dragon Blood, maka dia ada dalam masalah.
Pada jam pelajaran berikutnya, Alex sama sekali tak bisa berkonsentrasi. Badannya terasa tak karuan. Dia berusaha menghubungi Jayden, namun tak ada jawaban balasan. Akhirnya, dia memutuskan pulang duluan. Begitu jam pelajaran selesai, Alex memberi tahu Willy kalau dia ada kursus tambahan. Tanpa menunggu pertanyaan lebih lanjut, Alex menghambur keluar.
Sekolah Wood Peak tidak punya penjagaan ketat seperti sekolah lainnya. Mengingat kalau mereka menerima anak orang-orang terkenal yang punya jadwal ketat, mereka membebaskan siswanya keluar masuk. Alex bisa mencapai gerbang dengan mudah. Jemputannya telah menunggu.
Preston ada di dalam. Dia mendapat pesan dari majikannya yang merasa tidak enak badan. Setelah berunding dengan Mrs. Bellsey, Preston memutuskan ikut menjemput majikannya. Wajah Alex membuat alisnya langsung bertautan.
“Kupikir lebih baik kita ke rumah sakit.” Preston tidak bicara padanya. Dia menepuk bahu sang sopir dan mobil langsung melaju.
Alex sendiri tak punya tenaga untuk menyangkal atau berbohong. Kelopak matanya berat. Dia tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Akankah dia sampai ke rumah sakit, apakah dia akan sampai ke rumah, akankah dia terbangun di atas kasur dalam kapsul dengan pengikat, atau apakah dia akan terbangun.
Kegelapan pun perlahan sirna. Alex tak mengenali ruangan serba putih dan dipenuhi aroma antiseptik itu. Jelas bukan ruang generator atau bagian lain dalam markas ICPA. Ruangan itu seperti kamar rumah sakit dengan sedikit kejanggalan.
Dia melihat dokter Vanessa tersenyum lembut padanya. Sang dokter tidak mengenakan jas putih dokter, hanya cardigan coklat. Dia membawa PC tablet dan sedang mencatat sesuatu di sana. “Hai, Alex. Lama tak berjumpa.”
__ADS_1
“Dokter Vanessa? Apa yang terjadi?”
“Kamu pingsan di dalam mobilmu sendiri.”
Alex memegangi kepalanya. Menurutnya, dia hanya tidur bukan pingsan. Sepertinya Preston bertindak cepat dan langsung membawanya ke sana. “Setidaknya, aku tidak pingsan di sekolah,” bisiknya lirih.
“Ada hal yang terjadi di sekolah hari ini? Sesuatu yang membuatmu tertekan?”
Alex menggeleng. “Tidak. Hanya pelajaran olahraga biasa.” Alex tak berniat menceritakan sama sekali apa yang terjadi pada jam pelajaran tersebut. Ring tinju dan semua turnamen itu lebih baik tidak sampai di telinga dokter Vanessa.
“Bagaimana perasaanmu?”
“Aneh.” Dia tak bisa menemukan kata yang lebih tepat untuk menjelaskan perasaannya.
“Pusing?”
“Ya. Kepalaku terasa berat. Agak pusing juga. Badanku lemas.”
“Anemia?” Alex mengulangi kata asing tersebut. Bukan asing karena dia tidak tahu artinya melainkan karena dia bahkan tidak tahu kalau dia punya anemia. Sepertinya Alex lebih menerima alasan kalau dia pingsan karena Dragon Blood. “Apa yang sebenarnya terjadi padaku, dokter?”
“Kuharap aku bisa menjawabnya. Sejauh ini, aku hanya bisa mengatakan kalau itu salah satu efek samping dari Dragon Blood dalam dirimu. Kamu masih punya banyak fase yang harus dilalui sampai tubuhmu bisa benar-benar menerima keberadaan benda asing itu.”
“Berapa lama?”
“Kuharap aku bisa menjawabnya juga, Alex. Hal ini bergantung pada kondisi fisik dan mentalmu. Semakin stabil emosimu, seharusnya semakin cepat kamu bisa menguasainya.”
“Intinya, aku akan lebih sering pingsan? Itu sangat … sangat enggak keren!” Alex mendesah. Pengetahuan ini bukan sesuatu yang membuatnya lega justru resah. Indikator energi di Zet-Arm tidak membantu pula. Kapasitas energi dalam tubuhnya dan kapasitas tubuhnya membiasakan diri adalah dua hal berbeda.
“Kita akan membantumu melalui masa-masa ini.” Dokter Vanessa mendekat, memegangi tangan kanan Alex dan mengusapnya lembut. “Kamu akan baik-baik saja.”
__ADS_1
Alex bisa merasakan dahinya berkerut. Mudah bagi orang lain untuk bicara. Mereka tidak punya Dragon Blood dalam diri mereka. Alex tak mengenali dirinya sendiri sejak cairan itu masuk ke dalam tubuhnya secara tak sengaja. Kalau mau diruntut, itu juga kesalahannya sampai Dragon Blood tumpah atas dirinya.
Alex menatap dokter Vanessa. “Apakah aku akan mati, dok?”
[Enggak! Jadi berhentilah berpikir terlalu melankolis!]
Alex terkesiap. Suara tersebut datang dari Zet-Arm. Suara seram sang pemimpin perempuan mereka, Nadira.
[Kamu membuat kami cemas dengan mendadak pingsan seperti itu. Jaga kondisimu! Dalam tubuhmu mengalir cairan berharga yang dibuat dengan susah payah. Jangan menyia-nyiakan uang pajak, nak!]
Di antara semua orang, mendengarkan omelan Nadira di saat seperti ini jelas yang terburuk. Alex tak mau terlalu mendengar ocehannya. Alex mendesah kesal, membuang jauh-jauh tatapannya padahal dia tak bisa melihat Nadira di sana, begitu pula sebaliknya.
Dokter Vanessa balik menatapnya sambil bicara tanpa suara. Alex setidaknya bisa menangkap kalimat dari gerak bibirnya. “Jangan masukkan ke hati.”
Nadira dan dokter Vanessa bagaikan dua kubu sangat berbeda. Alex tak memihak salah satunya. Dia menarik tangannya dari sang dokter dan memutuskan menanggapi ucapan Nadira. “Kalau bisa memilih, aku juga enggak mau pingsan. Aku mau kehidupan normal.” Alex buru-buru menambahkan. “Kehidupan agen rahasia. Tapi, yang normal.”
Dokter Vanessa mendengus geli. Itu membuat Alex merasakan wajahnya memerah karena malu. Memangnya ada yang normal dalam kehidupan agen rahasia.
[Baik. Aku punya misi untukmu. Misi ini bernama training.]
“Kamu mau aku berlatih dengan teori yang dikirimkan Jayden? Itu tidak efektif” Alex secara tak sengaja menunjukkan kalau dia hanya membaca sambil lalu semuanya tanpa pernah mempraktikkan latihannya sungguhan. “Jujur saja, kupikir kalian sudah lupa denganku. Aku menganggur selama seminggu. Lebih.”
[Tepat. Karena itu, mulai besok malam, kamu akan berburu. Di pinggiran kota, ada bekas gedung terbengkalai. Staf ICPA sudah memasang kamuflase di sekitar gedung, jadi tidak akan ada yang tahu kalau Zetta Sonic sedang berlatih di sana.”
“Training macam apa?”
[Sebelumnya, beritahu aku. Kamu hanya takut pada lebah, ‘kan?]
“Enggak. Aku hanya menghindari mereka.”
__ADS_1
[Bagus. Setidaknya kamu tidak akan mati dalam training itu.]
Alex melirik dokter Vanessa yang sama melongo sepertinya. “Apa ini sesuatu yang perlu kucemaskan, dok?”