
Jayden duduk di balik komputer canggih. Memang tidak secanggih yang ada di markas Special Force, namun tidak semua anggota ICPA bisa mendapatkan fasilitas serupa. Komputer itu dilengkapi dua monitor ganda berlayar sentuh dan dipersenjatai prosesor tertinggi di kelasnya. Bukan milik ICPA.
Hampir semua barang ICPA adalah buatan tim mereka sendiri. Komputer itu bukan milik ICPA melainkan barang yang dibuat sebaik mungkin agar dia bisa menjalankan keinginan Jayden. Siapa pun penyedia perlengkapan di sana harus diacungi jempol. Jayden mengapresiasi komputer dan fasilitasnya. Tentu saja, kecuali metode mereka membawanya ke sana.
Dirinya sendiri masih tak percaya bisa berada dalam ruangan itu. Kemarin dia terbangun di sana menghadap langit-langit putih yang familiar. Terlalu familiar, bahkan. Dia tahu jelas kalau tempat itu tak lain adalah markas ICPA. Hanya saja, dia tidak tahu di markas ICPA mana dirinya berada. Semua markas ICPA punya desain yang seragam. Sebagian bilang itu untuk sebagai identitas, sebagian lagi bilang kalau mereka hanya terlalu malas memikirkan konsep yang baru. Jayden tak pernah ambil pusing soal itu hingga hari ini.
Hingga saat ini, dia tak bisa menentukan bila tempat itu benar-benar di dalam markas ICPA atau sekadar ruangan imitasi dari markasnya. Ukurannya sesuai dengan ruang rapat standar.
Pada umumnya, ruang rapat ICPA punya deretan meja komputer di sisi kiri, meja rapat oval di sisi tengah, serta proyektor di langit-langit. Di ruangannya saat ini, meja komputer juga berjajar di sisi kiri meski hanya satu meja saja yang sungguhan memuat komputer. Sisanya kosong. Ruangan itu tak memiliki jendela seperti aslinya, hanya lubang angin pada keempat sudut ruangan. Ukurannya kecil, hanya dua puluhan centimeter. Meja rapat di tengah lenyap sementara proyektor masih tergantung di langit-langit. Sebagai gantinya, ada ranjang. Dia terbangun di sana kemarin.
Saat ini, dia berada di sana bersama dua orang laki-laki bertubuh kekar. Keduanya memang tidak ada apa-apanya dibandingkan Tiger. Sekalipun otot kekar mereka terekspos oleh kaos ketat lengan pendek, Jayden yakin Tiger bisa mengalahkan mereka dalam sekejap. Dua orang itu sedang bermain kartu di sisi lain ruangan. Ada meja kecil merapat ke dinding dengan tiga kursi usang. Situasi itu tampak kontras dengan situasi di depan Jayden.
“Sudah selesai, hah?” Salah seorang bicara padanya.
Jayden tak menjawab. Sorot matanya seharusnya sudah bisa memberikan jawaban pada mereka.
Lawan bicaranya melemparkan kartunya di atas meja, mengumpat. Sementara orang lainnya tertawa puas karena menang. Orang pertama bangun dengan kasar. Kursinya nyaris jatuh ketika dia tiba-tiba berdiri.
Jayden paham kalau dia bisa jadi pelampiasan kekesalan. Dia sudah pernah berada dalam kondisi serupa. Beberapa kali. Terjebak dengan orang berotot pemarah. Jayden pun bicara sambil mengawasi orang itu mendekat. “Kalian pikir aku siput? Tentu saja aku sudah selesai.”
__ADS_1
Orang itu mendengus geli. Suaranya kencang seperti banteng. Anting pada hidungnya membuatnya lebih mirip lagi. “Bagus. Kalau begitu, lanjutkan!”
Jayden berputar di atas kursi putarnya agar bisa melihat lebih jelas. “Tidak.”
“Lakukan! Kalau enggak, kamu tahu apa akibatnya, ‘kan?” Orang itu menggeretakkan jemarinya.
Melihat itu, Jayden menggelengkan kepala. Tiger bisa membuatnya bergidik ngeri dengan tatapan mata. Sementara orang di depannya saat ini bahkan tidak bisa membuatnya berpikir dua kali untuk bicara.
“Dengar,” kata Jayden, “kamu bukan bos di sini. Aku tamu bos kalian. Aku melakukan permintaannya, bukan kalian.”
“Dia mau kamu merampok bank.”
Jayden menggeleng dengan santai. “Dia hanya minta daftar nama nasabah dan nominal uang mereka. Tidak pernah ada kata merampok.”
Pria di depannya mendengus lagi. “Itu hanya masalah waktu.”
Ketika pria itu hendak berbalik, gantian Jayden bertanya. “Kenapa kamu mau bekerja untuk bos semacam dia? Uang?”
“Kenapa bertanya?”
__ADS_1
“Hanya penasaran. Kupikir uang tidak akan ada artinya kalau dia membuang kalian pada akhirnya. Kamu melihat bagaimana teman-temanmu tewas, ‘kan?” Jayden bicara soal empat penembak massal yang juga disewa oleh orang yang sama.
“Aku enggak kenal mereka.”
“Bukan berarti kalau kalian akan diperlakukan berbeda. Paham maksudku? Dia bisa membuang kalian begitu saja seperti orang-orang itu. Saat itu terjadi, kupikir uang kalian tidak akan bisa membayar nyawa kalian.”
“Kamu bicara seolah paham.”
“Sebenarnya, aku paham.”
Malas melanjutkan pembicaraan, orang itu pun kembali pada temannya tanpa memberikan respon apa pun. Temannya mencibir. Seolah ingin mengingatkan kalau mereka tidak seharusnya ngobrol dengan tawanan mereka.
Jayden berputar kembali menghadap layar di depannya. Tangan kanannya meraba tempat dirinya ditembak kemarin. Dia sudah pernah ditembak. Bahkan pertemuan pertamanya dengan Alex juga memberikannya luka tembak. Anehnya, tak pernah ada bekas luka tembak di punggungnya. Jayden yakin benar kalau dirinya tertembak kemarin. Dia ingat rasa tajam dan terbakar di punggungnya. Namun, saat dia bangun kemarin, dia hanya mendapati luka lecet di tempat yang seharusnya jadi luka tembak.
Dia sebenarnya punya tebakan. Tembakan itu tembakan palsu. Bukannya menggunakan peluru sungguhan, peluru itu hanyalah semacam tabung berisi darah palsu. Ketika tabung mengenai dirinya, pecahannya sukses memberi rasa sakit seperti luka tembak. Ditambah dengan darah palsu, tak seorang pun akan mencurigainya dalam kepanikan. Itu dugaannya.
Terlepas dari dugaan itu, Jayden tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dia hanya tahu kalau jadi korban penculikan. Dia diberikan fasilitas memadai dan ruangan mirip kondisi ICPA. Dia dijaga dua tukang pukul. Dia butuh rencana untuk melarikan diri. Dan, dia sudah melakukannya.
Alex akan tahu soal virus itu.
__ADS_1
Jayden sempat mengirimkannya ketika meretas server bank. Dia seharusnya bisa melakukan lebih kalau seandainya saja komputer itu tidak dipasangi program aneh. Maksudnya, sebuah program yang membuatnya bisa ketahuan. Jayden sadar kalau komputernya diawasi dari jauh. Siapa pun dalangnya tahu jelas kemampuan Jayden. Dia orang yang cukup jeli dan mungkin dekat dengan ICPA atau bahkan Special Force. Virus itu hanya satu-satunya cara agar tak dicurigai pengawasnya. Dia mengirimkan virus serupa pada beberapa komputer lain juga secara acak.
Seandainya Jayden pada akhirnya bisa bebas dari sana, hal pertama yang akan dia lakukan adalah menyebarkan hal paling memalukan dari dua penjaganya saat ini. Selanjutnya, mengirimkan semua data kriminal mereka pada ICPA. Dia akan memastikan para pelaku yang menyekapnya saat ini mendekam di penjara selama mungkin. Mereka tidak boleh bermain-main dengan orang-orang Special Force. Terutama, dirinya.