Zetta Sonic

Zetta Sonic
Feline


__ADS_3

Alex menghabiskan waktunya di lagi di kamar itu. Suasananya sedikit berbeda kali ini. Dia merasa sehat, tidak ada kelelahan, tidak ada rasa kantuk. Dokter Vanessa sempat datang mengunjunginya sore itu untuk melakukan pemeriksaan. Menurutnya, kondisinya memang sudah stabil. Begitu pula dengan Rover.


Paginya, Jayden mengantarkan Alex keluar. Ini pertama kalinya Alex keluar dari bawah tanah. Matahari menyambutnya. Dia melewati lorong-lorong yang sebelumnya dia lewati dengan pakaian khusus pesanan. Hari ini, dia mengenakan kaus biru di bawah jaket. Caitlin membawakannya malam sebelumnya. Ukurannya pas.


“Green screen. Cara cerdas!” Jayden mendengus geli mengingat pertemuan pertama mereka. Alex tak menjawab. “Kamu tahu, saat kamu datang ke sini, kukira kami kemasukan agen rahasia dari sindikat kejahatan. Kamu bahkan menumbangkan Tiger.”


“Dia masih kesal soal itu.”


“Dia bilang sesuatu padamu?”


Alex menggeleng. “Aku melihat matanya saat mengirimkan sarapan tadi pagi.”


Jayden tertawa. Dia memimpin jalan menuju bagian belakang waduk. Bagian ini bukan bagian yang dimasuki Alex. Sisi ini berbeda. Sisi ini terlihat lebih kumuh oleh sampah, peti kayu rusak, dan tong bekas. Anehnya, tempat itu tidak memberikan aroma sampah.


Alex tahu alasannya ketika Jayden menggerakkan tangannya melewati salah satu tong. Tangan itu menembusnya seolah angin. Alex pun mencoba melakukan hal sama. Melihat itu, Jayden melempar senyum tipis.


“Hologram?” tebak Alex.


“Tempat ini aman dari orang awam. Tapi, tidak cukup aman dari kucing-kucing penasaran seperti kamu atau penjahat-penjahat super kita.”


“Kalian kurang personel.”


“Nadira ingin operasi ini berjalan sangat rahasia. Semakin sedikit personel artinya semakin kecil risikonya bocor. Itu saja masih membuat kita masih bisa ketahuan.”


“Kamu sudah melacak Damon?”


Jayden menangguk. Dia berhenti di depan sebuah bangunan tua. Dindingnya sudah retak, pintu besinya berkarat, nama ruangannya sudah buram. Itu semua tak lebih dari ilusi. Jayden bekerja ekstra agar bisa memberikan kesan gedung tua. Kakinya melangkah melewati pintu. Dia berpaling pada Alex, “Kamu enggak tanya kenapa kita harus melewati pintu padahal seluruh dinding ini palsu?”

__ADS_1


“Supaya yang melihat rekaman CCTV berpikir kalau ini glitch?”


“Aku senang bicara dengan orang yang paham.” Jayden tertawa.


Setelah melewati hologram tersebut, Alex melihat gedung sungguhan. Gedung ini punya tinggi yang sama tapi kegunaan berbeda. Jayden membuka pintu kembar dan lebar dengan satu tombol dari alat mungilnya. Deretan lampu menyilaukan segera menghujani seluruh penjuru ruangan. Tempat itu menyimpan semua alat transportasi untuk operasi Zetta Sonic. Sebuah helicopter, satu truk container, dua mobil SUV, dan beberapa motor lengkap dengan lemari peralatan serta tangki bensin mandiri.


Alex pun tergoda bertanya. “Kenapa semuanya berwarna serba putih?”


“Karena hitam terlalu mainstream. Coba pikirkan, warna itu dipakai banyak orang. Pejabat, penjahat, politikus, artis, mata-mata. Kupikir ICPA ingin tampil beda. Lagipula, kami tidak perlu sungguhan menyembunyikan identitas. Mereka akan selalu tahu. Seperti Damon.”


“Kamu dapat sesuatu dari mantan bosmu?”


“Dia mempekerjakan hacker yang cukup baik sebagai penggantiku. Dia curiga soal truk supplier yang datang minggu lalu dengan samaran truk sampah. Damon mengirim orang untuk memeriksa lalu melihat Dokter Vanessa. Kurang lebih begitu.”


“Menurutmu, akan ada musuh kalian yang datang lagi?”


“Pasti. Saat itu datang, Sonic seharusnya sudah siap. Bukan begitu, Alex?”


Jayden mendatangi salah satu mobil SUV. Dia menempati posisi di belakang kemudi sementara Alex duduk di sampingnya. Menggunakan alat yang sama, Jayden membuka pintu belakang gedung. Mobil melintas mulus dalam lorong gelap. Lorong tersebut berakhir di bawah jembatan dekat waduk. Mereka keluar dengan menembus hologram dinding. Alex meliriknya lewat kaca spion.


“Kamu melakukan ini semua sendirian?” tanya Alex, penasaran.


“Tidak juga. Nadira minta bantuan dari beberapa rekan ICPA secara acak. Mereka mengerjakan per bagian dalam waktu berbeda.”


“Jadi, operasi ini ilegal, toh.”


Jayden terbelalak. “Apa!? Tentu saja tidak. Kenapa kamu berpikir begitu? ICPA pusat memberikan kita izin secara resmi. Aku lihat sendiri surat keputusan mereka. Zetta Sonic bukan keinginan Nadira semata.”

__ADS_1


“Apa kamu tahu bagaimana Dragon Blood dibentuk?”


“Enggak.” Jayden merasakan dahinya berkerut. Tanpa sadar, tangannya ikut mencengkram kemudi. “Aku hanya tahu kalau Dragon Blood ditemukan Profesor Otto saat melakukan ekspedisi. Aku tahu kalau dia tidak mungkin menciptakannya saat itu. Tidak mungkin dia membawa berbagai peralatan dan bahan. Itu helas hanya kiasan. Mungkin dia mendapatkan inspirasinya saat ekspedisi.”


Alex melemparkan pandangannya ke luar jendela. Dia melihat bagaimana mereka mulai masuk ke jalan tol. Hari masih cukup pagi, masih tidak banyak mobil berkeliaran. “Mobil ini hanya diberi GPS tanpa perekam suara, ‘kan?” Alex bertanya tapi tak mengharapkan jawaban karena selanjutnya dia bicara lagi. “Buatku, lebih masuk akal kalau Profesor menemukan sesuatu di tengah ekspedisi itu lalu menyempurnakannya sebagai Dragon Blood.”


Jayden terdiam sejenak. “Baiklah. Jangan salah, Alex. Aku sendiri sempat berpikir sepertimu. Anggaplah itu benar. Apa ada dampaknya bagi kita sekarang?”


Alex angkat bahu. “Semoga tidak.”


Jayden melihat bagaimana Alex terus melihat keluar sejak masuk mobil. Sesuatu dalam diri anak itu membuatnya tak nyaman. Anak itu tidak menolak status barunya sebagai agen ICPA dan tidak juga menerima terang-terangan Dragon Blood dalam dirinya. Dia seperti spons yang siap menyerap informasi apa pun. Jayden hanya berharap kalau Alex tidak menggunakan informasi tersebut untuk melawan mereka.


Mobil mereka turun ke tengah kota setelah perjalanan sepuluh menit di jalan tol.


Alex yang sedari tadi diam, bertanya lagi. “Apa yang akan kita lakukan di sini? Kamu enggak sekadar mengajakku jalan-jalan, ‘kan?”


“Aku sudah bilang sebelumnya. Ini karyawisata.”


“Omong kosong. Aku pembohong yang lebih baik darimu, jadi aku tahu.”


Jayden memaksakan dirinya tertawa. “Hahaha… Ya, ini memang bukan karyawisata sungguhan. Kita akan mencoba kekuatanmu.”


“Kekuatan apa maksudmu? Sonic?” Alex mengernyit. “Kamu mau aku menggunakannya di tengah kota dilihat banyak orang?”


“Tidak ada orang. Tenang saja. Ada permohonan bantuan yang dikirim ke markas ICPA Sinde pagi tadi. Kebetulan, pimpinannya kenal Nadira. Orang ini lebih memilih menghubungi kita daripada polisi. Menurutnya, kalau polisi tahu, masalahnya akan jadi lebih pelik.”


“Permohonan apa?”

__ADS_1


PIIIP…


Jam Alex berbunyi diiringi layar berkedip. Saat Alex mengusapnya, muncul deskripsi misi yang dimaksudkan Jayden. Tidak perlu membaca seluruh isinya, Alex sudah bisa menebak dari bagian topik. Pendek dan jelas. “Harimau melarikan diri dari sirkus? Kamu mau aku melawan harimau?”


__ADS_2