Zetta Sonic

Zetta Sonic
Video Call


__ADS_3

Seperti perkataan Alex, kebakaran dermaga menjadi tajuk utama di berbagai berita, baik nasional maupun internasional. Bersanding dengan berita tersebut, rumor perselingkuhan ibunya menghiasi berita selebriti.


Tentu saja, porsi kebakaran dermaga memakan porsi lebih besar. Di berita, hampir semua mengatakan penyebabnya merupakan kebocoran pipa gas. Hanya mereka yang terkait dengan ICPA tahu jelas kalau itu bohong.


Di kantornya yang besar dan lapang pada puncak gedung pencakar langit, Mark Hill duduk membelakangi meja besar. Pemandangan di belakangnya spektakuler sekaligus menyilaukan. Bagi Nadira yang baru saja terhubung dengannya, itu justru menyebalkan. Mark tidak ambil pusing. Pria itu justru membiarkannya dengan sengaja.


Nadira muncul dengan muka cemberut pada layar melayang di atas meja. ICPA menanam proyektor mungil setipis penggaris pada meja mewah pemimpin itu. Sangat memudahkan untuk melakukan panggilan. Nadira mengernyit melihat latar belakang Mark Hill yang membuat matanya sakit. Setelah memberi aba-aba dan Henrietta melakukan sedikit pengaturan, Nadira berdehem pada Mark.


[Tidak ada berita baik saat pimpinan ICPA menghubungi pemimpin ICPA lain. Apa yang mau kamu bicarakan, Mark? Apa ini soal kelompok pembunuh yang kutangkap? Orang-orang Kloster itu sudah kukirim padamu tanpa terluka.]


“Aku berterima kasih soal itu. Kamu membantu kami menjaga hubungan baik dengan suku Kloster. Kita tahu kalau suku ini memiliki potensi besar, baik sumber daya manusia maupun sumber daya alamnya. Mereka milik benua Regis.”


[Mereka lebih banyak membuat masalah daripada memberikan keuntungan.]


“Benarkah? Kupikir kamu justru jadi salah satu pihak yang dapat paling banyak keuntungan.” Mark memperhatikan lawan bicaranya dengan seksama. Ada banyak hal yang tidak bisa Nadira tutupi dari raut wajahnya. Mark membacanya dengan tepat. “Kamu masuk ke teritoriku lalu menyalahgunakan penemuanku.”


Nadira tergelak. [Oh, Henrietta. Kamu dengar itu? Tuduhan macam apa itu?] Kemudian, tawa singkat Nadira lenyap. [Dengar, Mark. Aku tidak pernah menyuruh Otto diam-diam masuk ke Regis untuk membuat Dragon Blood. Semua dia lakukan sendirian. Aku hanya mendapat hasil terakhirnya saja.]


“Kamu baru saja mengakuinya.”


[Mengakui apa?]


“Kamu mengakui kalau kamu tahu asal muasal Dragon Blood tapi membiarkannya tetap diciptakan. Kamu sudah terlanjur menghabiskan banyak dana untuk itu juga membuat para agen meregang nyawa.”


Nadira mendengus kesal. Dia menjentikkan jari. Henrietta yang ada di belakangnya mengangguk dan keluar dari ruangan. Nadira mendesah panjang lalu mengatupkan kedua jarinya di depan wajah. [Langsung saja ke intinya, Mark. Apa yang kamu inginkan? Zetta Sonic?]


“Aku yakin apa yang terjadi di desa Kloster sudah sampai di telingamu. Apa itu yang biasanya kamu lakukan sebagai pemimpin? Membiarkan anak buahmu bergerak sendirian, berjuang tanpa bantuan menghadapi masalah, bahkan tewas tanpa diketahui siapa pun? Kamu benar-benar berhati dingin.”


[Langsung ke intinya, Mark! Apa kamu ingin merebut Zetta Sonic dariku?]


Mark terdiam sejenak lalu menjawab, “Kamu tahu aku tidak bisa melakukannya sekalipun mau.”

__ADS_1


Baik Nadira maupun Mark tahu itu bukan hal yang bisa dilakukan oleh seorang pemimpin tingkat benua sekaligus. Mark telah lama menjadi pemimpin ICPA di Regis. Dia tidak seharusnya ikut campur urusan Sinde sekalipun keluarganya tinggal di sana bahkan putranya jadi agen di Sinde. Garis bawahi ‘tidak seharusnya’. Mark memilih menuruti regulasi ICPA.


Mark pun melanjutkan. “Sebagai teman dan rekan, aku hanya memberimu saran, Nadira. Zetta Sonic punya potensi besar untuk menolong dunia ini. Kamu seharusnya lebih menaruh perhatian padanya juga pada agenmu yang lain. Mungkin dengan begitu, angka kematian agen di Sinde tidak akan jadi yang tertinggi lagi dibandingkan benua lainnya.”


Nadira pun berdecak kesal. Keriput di wajahnya makin jelas setiap kali dia terusik. [Dia juga berpotensi menimbulkan banyak masalah.]


Mark malah tersenyum geli mendengarnya. “Sepertinya dia sudah membuatmu pusing.”


[Persis seperti ayahnya.]


Senyum Mark justru mengembang lebih lebar. “Aku titip Alex padamu.”


[Hei, apa aku tidak salah dengar? Coba katakan itu lagi supaya aku bisa merekamnya.]


Mark menggeleng. Dia melihat bagaimana Nadira ikut tersenyum pula gara-gara dirinya. “Tidak. Aku tidak akan mengulanginya. Kamu sudah mendengarnya cukup jelas tadi. Sampai nanti Nadira.”


[Sampai nanti, Mark Hill.]


 


 


Seperti Nadira, wajah Alex juga muncul pada layar semu yang melayang di atas meja.


Di mansion kediamannya, matahari telah terbenam. Sementara di kantornya saat ini, matahari masih baru akan terbenam. Dengan satu sentuhan tombol, Mark menutup tirai di belakangnya tanpa diminta. Dia tak ingin Alex tak nyaman.


“Jadi, apa yang kamu butuhkan untuk sekolah besok?” tanya Mark, membuka percakapan.


[Tidak ada.] Pembicaraan mereka sudah berlangsung beberapa menit sebelumnya namun keduanya masih merasa canggung. Alex sendiri heran kenapa tiba-tiba ayahnya menelepon.


Lagi-lagi, Mark memahami hal itu. “Aku khawatir padamu,” katanya. “Kamu sudah lama tidak masuk sekolah.”

__ADS_1


[Aku akan mengejar ketertinggalanku. Aku janji.]


“Kita tahu ini bukan soal nilai, Alex.”


Alex terdiam. Dia malah menghindari tatapan ayahnya di layar.


“Kamu bisa bicara soal kesulitanmu padaku atau Preston.”


Alex mengangguk. [Aku akan baik-baik saja. Hanya butuh istirahat.]


“Benar. Baiklah, kabari aku jika ada masalah atau kamu butuh sesuatu.” Mark tak ingin mengganggu jam istirahat putranya.


Alex sedikit menyesal mengatakan itu. Dia bukannya ingin segera memutus komunikasi dengan ayahnya. Itu hanya respon yang biasa dia keluarkan ketika merasa canggung atau memang ingin kabur dari sebuah pembicaraan. Agaknya, ini menjadi sebuah kebiasaan yang salah. [Bagaimana dengan ayah?] Alex balik bertanya. [Bagaimana dengan pekerjaan?]


“Seperti biasa, membosankan, monoton. Banyak masalah.” Mark meniru ucapan Nadira beberapa saat yang lalu.


[Kamu baca berita akhir-akhir ini, ayah? Apa itu masuk salah satu masalahmu saat ini?]


Mark mengedikkan bahu. “Jangan khawatirkan soal itu. Aku akan membereskan masalah dengan ibumu.”


[Tapi, bagaimana kalau itu benar?] kali ini Alex bertanya lebih kepada takut, bukan penasaran. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan ayahnya kalau seluruh rumor itu benar. Dan, dia sendiri sebenarnya tahu kebenaran di balik itu semua.


Setelah hening panjang, Mark hanya menjawab singkat. “Kami akan baik-baik saja.”


Jawaban itu membuat Alex memutar bola matanya. Dia tidak mendapat jawaban atas pertanyaan yang diinginkan. Ayahnya seolah tak ingin menjawab dan membiarkan masalah bergulir begitu saja. Alex pun berniat mengakhiri percakapannya di sana. [Aku tahu. Baiklah, ini saatnya istirahat.]


“Alex, satu hal lagi.”


[Ya, ayah?]


“Aku bangga padamu. Jangan pernah lupakan itu.”

__ADS_1


__ADS_2