
Gala dinner kali ini diselenggarakan oleh sebuah perusahaan internasional. Tetra telah mengeluarkan banyak film yang meraih penghargaan. Membintangi film besutan Tetra biasanya memang jadi harapan kebanyakan aktris. Termasuk Alicia Remnant, ibu Alex.
Untuk gala dinner malam itu, ibunya memilih gaun rancangan seperti biasa. Dibubuhi ratusan kristal, gaun hitam one shoulder itu membuatnya nampak menawan. Alicia rela make up dari pagi hari agar penampilannya maksimal. Rambutnya digelung ke samping untuk menunjukkan anting berlian bentuk air. Dia bukan hanya nampak cantik tapi juga mewah.
Alex tak begitu suka tampilan ibunya dalam pesta seperti itu. Dia lebih suka ibunya tampil biasa, rambut terurai, gaun longgar bermotif bunga seperti biasa. Meski begitu, dia tetap suka aroma parfum ibunya. Lembut dan membangkitkan rindu.
Preston mengantar keduanya ke lokasi pesta di City Hall. Lagi. Alex tak ingat berapa kali dia telah ke sana dan hampir selalu berakhir dengan masalah. Ibu kali ini bersamanya. Ini benar-benar waktu yang tidak tepat untuk terjadinya masalah.
Bersama dengan ibunya, Alex bahkan tak perlu menunjukkan undangan. Petugas keamanan membiarkannya lewat begitu saja, malah membantu mereka turun dari mobil agar tidak terganggu oleh para wartawan. Alicia melambai pada para fotografer. Dia memberikan mereka kesempatan untuk mengambil gambar gaya terbaiknya. Sementara Alex hanya tersenyum palsu, mematung agak jauh.
Kondisinya sudah cukup canggung. Alex tak bisa membayangkan bila ayahnya datang. Mereka berjanji untuk langsung bertemu di lokasi pesta. Mark sibuk. Selalu sibuk, seperti basa. Alex tidak akan menuntutnya hadir lebih awal. Mengingat banyaknya masalah kriminal di dunia, Alex kini lebih menghargai kehadiran Mark. Sekalipun, ya, seharusnya Mark bisa tiba di kota pagi hari sehingga mereka bisa berangkat bersama.
Tunggu. Tapi, itu sepertinya akan lebih canggung lagi.
Ruangan di dalam City Hall begitu berbeda. Meja-meja bulat telah tersusun rapi dengan alat makan beserta nama. Musik merdu nan lembut mengalun dari orkestra di sisi kanan dan kiri panggung. Susunan mejanya masih cukup longgar, memberikan kelegaan bagi mereka yang ingin saling menyapa.
Willy dan Alex bertukar pandang. Temannya itu berdiri dekat jendela di seberang ruangan. Alex langsung menghampirinya tanpa bicara apa pun. Ibunya sendiri sibuk ngobrol dengan rekan-rekan sesama aktris dekat pintu masuk.
“Kamu kelihatan sempurna,” ujar Willy. “Ibumu lebih lagi.”
Alex mengangguk. Ibunya memberikan dia tuxedo terbaru warna biru gelap dengan aksen hitam. Alex menyukainya, lebih daripada situasinya saat itu. “Sebenarnya,” kata Alex, “banyak yang ingin kuceritakan padamu.”
Willy meliriknya lalu kembali melihat Alicia. “Tentang ibumu?”
__ADS_1
“Mimpi buruk yang belakangan ini menghantuiku.” Alex membetulkan tebakan Willy. “Apa kamu pernah berpikir bagaimana kalau orang tuamu sampai, entahlah, berpisah?” Alex menghindari kata ‘bercerai’.
Willy kini menatap sahabatnya lekat-lekat. “Kamu tidak berpikir kalau mereka…” Willy sengaja tidak melanjutkan ucapannya. Dia tak tega melihat bagaimana Alex akan bereaksi.
“Semuanya bisa terjadi. Semua bisa berubah lebih buruk,” bisik Alex lirih. Dia sama sekali tak mau menoleh ke arah Willy.
“Tapi, kondisi juga bisa lebih baik. Ngomong-ngomong, di mana ayahmu? Dia tidak ke sini?”
“Masih di bandara. Seharusnya, dia tiba sebentar lagi di sini.”
Kedua anak itu masih berdiri di tempatnya, ketika mereka melihat seorang pria jangkung menghampiri Alicia. Pria itu memberikan kecupan manis pada pipi sang aktris. Willy mengenali wajah pria itu dari tajuk berita utama. Alex yakin pernah melihatnya di sini sebelumnya. Itu pria yang bersama ibunya di hotel.
Willy bereaksi duluan. “Tunggu. Orang itu… Dia di sini? Ah, tentu saja. Dia CEO perusahaan internasional. Kudengar dia bergerak di bidang perhiasan atau batu permata atau sejenisnya.”
Melihat itu, Willy pun setuju. “Mimpi buruk.”
Alex menggeleng. “Pikiranku selalu terasa penuh belakangan ini. Aku bahkan enggak tahu apa yang kupikirkan. Skandal ibu yang terus memanas dan ayahku yang sepertinya tidak peduli.”
“Mereka jarang bertemu, ‘kan?”
“Lebih dari itu. Menurutku, mereka bahkan tidak peduli satu sama lain. Kadang aku bahkan merasa mereka menghadiri pesta semacam ini hanya untuk formalitas. Apa yang harus kulakukan?”
“Maaf, tapi jujur saja aku enggak tahu apa jawabannya, Alex.” Willy berkata jujur. Kedua orang tuanya hidup harmonis. Mereka menjalankan bisnis rumah sakit dengan lancar. Semua berjalan lancar. Bagi Alex, itu kehidupan yang jauh lebih manis darinya.
__ADS_1
Mengingat kondisi ibu dan ayah sering membuat Alex merasa buruk. Rasanya seperti gagal. Seolah dia bisa menyelamatkan dunia tapi tidak bisa menyelamatkan keluarganya sendiri. Alex menggeleng lagi, mengusir semua pikiran buruk darinya.
“Aku enggak seharusnya cerita soal ini.” Alex memaksakan dirinya tertawa kecil. “Ini hanya ketakutan pada hal yang belum pasti terjadi. Lupakan saja.”
“Hei. Tidak masalah. Aku temanmu. Kamu bisa cerita apa pun padaku, oke?” Willy melempar senyumnya. “Aku mungkin enggak selalu bisa membantu. Tapi, cerita saja kalau kamu mau.”
Alex mengangguk. Kemudian, dia melihat tamu lain baru datang. Pasangan ini mengenakan warna cokelat muda senada. Kalau si pria mengenakan setelan jas, si wanita mengenakan gaun backless yang memamerkan punggung indah. Rambutnya diatur dengan style messy bun berhiaskan ornamen bunga kristal.
Pasangan itu membuat Alex spontan melotot. Baron dan Caitlin!
“Kamu mengenal mereka?” tanya Willy yang melihat perubahan raut di wajah Alex. “Pasangan muda itu katanya punya banyak saham di berbagai perusahaan.”
“Kami pernah bertemu beberapa kali. Kenapa mereka ada di sini?”
“Sepertinya mereka menawarkan sponsorship atau semacamnya. Aku sendiri tidak begitu paham. Aku juga enggak akan kaget kalau mereka punya saham di Tetra.”
Kalau Baron memang memegang saham di Tetra, situasinya semakin memburuk. Namun, itu juga menjelaskan bagaimana Baron bisa mendapatkan agenda ibunya dengan mudah.
Merasa dipandangi, Baron menoleh pada Alex. Pria itu melempar senyum padanya. Alex sama sekali tidak tersenyum, dia masih memelototinya. Baron bahkan dengan sengaja menyapa ibu dan ayah setelahnya.
Caitlin berdiri di samping Baron. Gadis itu juga melihat Alex. Ketika pandangan mereka bertemu, Caitlin menyentuh anting mutiaranya. Gerakan itu nampak seperti Caitlin sedang membetulkan anting, namun Alex menangkap kesan lain.
Kalau bukan karena Jayden sudah cerita soal telepon Caitlin kemarin dan isi chip yang mereka terima, Alex tidak akan paham. Sekalipun, dia tidak percaya kalau Caitlin ada di pihak mereka, Alex setuju ada yang aneh. Dan, dia sadar kalau gadis itu baru saja memberinya isyarat. Tapi, isyarat apa?
__ADS_1