Zetta Sonic

Zetta Sonic
Mess


__ADS_3

Waktunya belum lewat dari dua menit. Zet-Arm akan berbunyi bila waktunya sudah lewat dari dua menit. Meski begitu, si robot berhasil menangkap basah dirinya yang sedang mengintip. Alex tak membuang waktu untuk kabur. Sambil berlari, dia mengaktifkan bom asap yang tadi sudah dia sebar. Alarm kebakaran meraung. Situasinya mirip dengan yang terjadi di pabrik pengalengan ikan kecuali bagian bau amis.


Alex mendengar kekacauan dari kejauhan. Para pegawai pabrik dibuat panik oleh alarm tersebut. Tak peduli mereka membuat robot pembunuh atau apa, pabrik tetaplah pabrik dengan protokol keamanan. Kalau pemiliknya Filip, Alex tak heran protokol itu akan bersinggungan dengan faktor kerahasiaan.


[Mereka menutup pintu atas. Bersiaplah dengan gelombang orang-orang.]


“Apa maksudmu?”


Alex menyadari bagaimana suara keributan itu kian mendekat. Kini, dia menyadari kalau pintu atas yang tadi dimasukinya telah terkunci. Harus diakui mungkin itu cukup praktis, mengingat kebakaran tidak akan merambat ke sisi lain pabrik dan mempertahankan kerahasiaannya. Dalam kondisi darurat seperti itu, para pegawai harus berlari ke pintu lain.


Pintu tersebut tidak terhubung ke darat melainkan ke laut. Alex tahu lorong tempatnya berada itu mengarah ke dermaga kapal selam. Itu satu-satunya jalur kalau mereka mau selamat dari kebakaran palsu ini. Alex merapat ke dinding selagi orang-orang itu berlari melewatinya. Setidaknya mereka tidak melihat Alex dari asap tebal tersebut.


Sebaliknya, Alex melihat kilau bola mata merah dalam kepulan asap. Milik si robot. Robot yang berhasil bangun dari tidurnya dan mendeteksi posisi Alex dalam kondisi kasat mata. Saat ini, robot itu sedang mencarinya. Dia mengidentifikasi Alex sebagai penyusup. Apalagi mengingat kalau Nikola Shah tertangkap karenanya, Alex cukup yakin kalau dia sudah masuk dalam kategori target bagi si robot pembunuh.


[Robot itu model baru. Aku tidak bisa menemukan datanya dari sini.]


“Akan kubawakan datanya padamu. Dalam kepingan.”


[Jangan hancurkan dia. Tidak sekarang, Alex.]


Alex memahami apa maksud Jayden. Dia melihat robot tersebut bergerak ke arahnya. Orang-orang kurang beruntung yang sedang berlari di depannya langsung jadi korban. Si robot mengangkat tangannya. Alex tak melihatnya dengan jelas, tapi dia cukup yakin melihat semacam pedang panjang muncul di sana. Tanpa belas kasihan, dia menyingkirkan siapa pun yang menghalangi dirinya menghampiri Alex.

__ADS_1


“Dia membunuh mereka!” seru Alex.


[Lari dari sana! Jangan libatkan mereka!]


“Orang-orang itu bisa mati.”


Menghiraukan perintah Jayden, Alex menarik salah seorang yang hampir terkena tebasan. Si robot menyadari kehadiran Alex. Sebelum robot menebas dirinya, Alex memberikan tendangan keras ke kepalanya. Benda bulat telur itu berputar hingga ke belakang. Namun, belum cukup untuk membuatnya rusak. Perlahan, benda itu kembali ke posisinya. Alex tak menantinya.


Dia melanjutkan menolong orang lain. Seorang peneliti tergeletak di tanah. Kakinya berdarah. Alex tak tahu apa yang harus dia lakukan selain membopong orang itu menjauh. Sayangnya, bila dia melakukannya, si robot justru akan menyerangnya pula.


Mau tak mau, Alex harus berlari kembali ke bagian mesin. Ruangan besar itu kini seharusnya sudah lebih kosong dibandingkan sebelumnya. Masalahnya, ruangan itu masih dipenuhi asap palsu. Jarak pandangnya terbatas. Dia hampir menabrak rel mesin karenanya.


Dengung peringatan terdengar dari helm. Sebuah tembakan mengarah lurus padanya. Alex menyadari kumpulan peluru. Setidaknya robot itu masih menggunakan tipe peluru yang sama seperti robot Nikola. Mereka selalu berjumlah lima, sesuai jari si robot. Sedikit lebih kecil dari peluru sig sauer tapi tetap mematikan. Ketika Alex bersembunyi di balik mekanisme, peluru lawan melaju kencang, menghancurkan panel mesin.


“Bagus! Kalau begitu, dia akan membantuku menghancurkan tempat ini.”


[Hati-hati. Tubuhnya yang sedikit berbeda dari robot biasa itu pasti menyembunyikan sesuatu. Mereka enggak mengubah desain tanpa tujuan.]


Alex mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia membiarkan sensor panasnya bekerja. Ada beberapa sumber panas di sana, tapi tak satu pun dalam siluet manusia. Tempat itu sudah ditinggalkan. Pertarungannya dengan si robot tak akan makan korban siapa pun.


Dirinya bergulung di tanah, menghindari tembakan lain si robot. Sambil bersembunyi di balik mekanisme lain, Alex balas menembak. Senjata laser di tangannya memuntahkan sinar hijau mematikan. Serangan itu bergerak lurus, ******* apa pun yang ada di depannya, termasuk melelehkan dinding logam penutup mesin.

__ADS_1


Alex menyadari kalau tembakannya tidak mengenai sasaran. Tempat itu dipenuhi asap yang membutakan seperti kabut. Namun, itu bukan alasan kenapa tembakannya memeleset. Tadi dirinya yakin telah membidik dengan benar, ternyata si robot berhasil menghindar. Menghindar dengan sangat cepat. Dia tak bisa menemukan lawannya berlari ke mana.


“Jayden, sedikit bantuan. Di mana dia? Aku kehilangan jejaknya.”


[Tunggu sebentar.] Jayden melihat dari posisi Jason. Si drone tengah melayang tinggi mendekati langit-langit. Kameranya juga tertutup asap, tapi ketinggian tersebut memberikan pemandangan lebih baik daripada Alex. Jayden bisa menemukan pergerakan kecil lebih cepat. [Ketemu! Dia ada di arah jam sebelas.]


Alex membidik.


Dari jarak jauh, Jayden memberikan bantuan. Jason ikut mengeluarkan moncong kecil senjata laser. Sama seperti Alex, senjata tersebut juga membidik ke titik yang sama. Laser milik Jason tak bisa dibandingkan dengan Alex. Namun, akurasinya baik dan kekuatannya cukup untuk melubangi permukaan logam. Dua tembakan dilepaskan berbarengan pada titik yang sama tanpa hasil.


“Dia lolos lagi?! Bagaimana bisa?” Alex memprotes.


[Awas, dia ada di dekatmu!]


Alex menyadari pergerakan cepat di sampingnya. Semua seperti ucapan Jayden. Robot itu sudah berada di dekatnya dengan pedang kembar mencuat dari setiap tangan. Kecepatannya di luar prediksi. Tebasan tersebut mengarah pada lengan dan leher Alex, membuat serangan menyilang mematikan. Untung saja, Alex sempat melompat menjauh. Meski begitu, serangan tersebut berhasil menggores seragamnya. Percikan kecil muncul ketika serangannya masuk. Sekarang ada bekas garis sebagai akibat serangan tersebut.


“Dia cepat!”


[Dan bisa melompat tinggi! Secara teknis, kemampuan fisikmu bisa lebih baik darinya dibantu Dragon Blood dan teknologi ICPA.] Jayden mengingatkan kalau dia Zetta Sonic yang didukung organisasi canggih.


Alex melihat si robot kini berada di udara. Seandainya warnanya hitam, sosok itu seperti ninja yang ada di film. Hanya saja ini berwarna kelabu dengan mata merah menyala dalam gelap. Kedua pedangnya saling menyilang. Alex tak berniat menghindar. Dia justru berniat menggunakan terobosan baru dari ICPA.

__ADS_1


Ketika dirinya mengenakan seragam tadi, Alex menyadari ada tambahan kecil di sisi kirinya. Di sana, ada sebuah tabung hitam dengan ujung kembar cincin hijau menempel di sabuknya. Alex menyambarnya. Dengan sedikit hentakan, tabung tersebut memanjang. Bersamaan dengan itu, bagian ujung atasnya memancarkan cahaya hijau disertai kemunculan bilah bening. Seperti kristal atau kaca. Tapi, tajam. Dan, mematikan. Bilah tersebut terus memanjang hingga berhenti pada panjang tertentu. Bobotnya pas, tidak terlalu berat juga tidak terlalu ringan..


Alex menggenggam erat pedangnya. “Sekarang kita seimbang.”


__ADS_2